
Tangan Tu Long kini sedang memegang bola kecil bewarna merah seperti Bom waktu.
Lang Zai dan Pixiu ikut juga memegang benda tersebut.
Sementara Gi Lian memegang batu seperti sebuah remot kontrol untuk meledak_kan bola kecil bewarna merah.
Bola kecil bewarna merah ini adalah inti dari iblis murni yang Lang Zai dapat dan kumpulkan dulu, daya ledaknya cukup besar.
Lang Zai dulu hampir mati oleh inti iblis ini saat seorang Raja Iblis Kerajaan Tingkat Tinggi meledakkan dirinya karena menolak untuk tundduk.
Setelah tahu inti iblis ini sangat berguna Lang Zai langsung mengumpulkannya.
Saat sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakan inti iblis murni ini.
Tu Long langsung maju setelah melihat ratusan ahli Dewa Abadi kini mulai bergerak.
“Haha,, sekumpulan semut mulai bergerak juga, ayo maju, ayah akan memberikan kalian beberapa kejutan yang tak akan pernah kalian lupakan di neraka nanti,” teriak Tu Long.
Seketika amarah tetua luar dari ketiga gabungan klan langsung meledak. Bahkan para tetua luar klan Du ikut marah sampai melupakan rencana patriark mereka.
Semua tetua tersebut seketika langsung maju menyerang Tu Long terlebih dahulu.
Tu Long juga tak mau kalah, ia langsung melesat maju, tapi ia tidak menyerang. Melainkan hanya menghindar sambil melepas satu atau dua bola kecil bewarna merah di sekitar tetua tersebut.
Tidak ada yang menyadari apa yang Tu Long lempar ke tanah.
Bahkan ketiga patriark pun tidak menyadarinya, hanya leluhur klan Du yang menyadari benda apa yang di lepas oleh Tu Long.
Lang Zai dan Pixiu juga tak mau kalah, mereka ikut maju lalu melempar bola kecil bewarna merah tersebut.
Leluhur klan Du awalnya ingin membiarkan beberapa tetua luarnya mati begitu saja, karena ia berpikir mencari tetua seperti mereka cukup gampang.
Tapi leluhur klan Du langsung berteriak melalui telepati saat melihat Lang Zai bergerak cepat ke arah sekumpulan tetua inti dan Lang Zai juga berniat bergerak ke arah para patriark dan tetua agung mereka.
“Cepat mundur, suruh para tetua juga ikut mundur bersama patriark Qin dan patriark Mu,” teriak Leluhur klan Du.
Walau bingung, patriark klan Du langsung menyuruh kedua patriark mundur bersama tetua inti.
Lang Zai yang melihat itu langsung berteriak keras.
“Ledakan.”
Gi Lian yang mendengar itu tanpa ragu menekan batu hitam yang ia pegang hingga hancur.
__ADS_1
Bom..!!
Bom..!!
Duar..!!
Ledakan langsung mengguncang seisi Hutan Tanpa Nama.
Lang Zai, Pixiu, Tu Long dan Gi Lian baik-baik saja karena mereka semua menggunakan sebuah batu perisia yang Pixiu dapatkan dulu saat ia berada di dunia setengah dewa bersama Fanghu.
Patriark Du, Qin, dan Mu langsung berteriak marah saat melihat banyak tetua luar mati dan beberapa terluka parah.
Bahkan beberapa tetua inti yang terlambat mundur juga ikut mati dan terluka parah.
“Tidaaakk, aku akan membunuh kalian semua,” teriak Patriark Du, Qin dan Mu.
Patriark Du adalah orang yang paling marah, karena rencananya gagal akibat ulah para saudara Bai An. Padahal ia yakin juga bisa mengambil kesempatan ini untuk menghabisi patriark Qin dan Mu.
Tu Long langsung menyeringai bahagia melihat hasil karyanya.
“Woahh..!! Aku tak tahu jika bola kecil ini bisa membuat ledakan yang sangat dahsyat, sungguh sebuah maha karya jika kita melakukannya lagi,” teriak Tu Long.
Lang Zai dan Pixiu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Tu Long.
Pixiu juga sempat terkejut melihat ledakan dari bola kecil yang ia lempar, bahkan ia sempat meragukan perkataan Lang Zai tadi, tapi karena ia adalah saudaranya. Jadi mau tidak mau pixiu harus percaya terhadap Lang Zai.
Tu Long takut jika Lang Zai dan Pixiu lebih dulu membunuh mereka. Jadi Tu Long langsung bergerak lebih cepat.
Pedang Tu Long langsung terayun ke arah tetua luar dari klan Du yang terlihat duduk berusaha untuk bangun.
Slash..!!
Kepala tetua luar tersebut langsung melayang.
Tu Long kembali melesat ke arah tetua luar yang hanya terluka ringan.
Dengan cepat pedang Tu Long melesat ke arah jantung musuhnya.
Tetua luar dari klan Du tersebut langsung terkejut dan berusaha menarik tetua luar dari klan Qin untuk melindungi dirinya.
Jlep..!!
Tetua luar klan Qin langsung mati dengan mata melotot ke arah tetua luar klan Du. Ia tak percaya jika dirinya di tumbalkan.
__ADS_1
Tu Long langsung mendengus.
Tangan Tu Long kembali terayun ke arah tetua luar klan Du.
Dengan cepat tetua luar klan Du ikut mengayunkan pedangnya.
Trank..!!
Tu Long langsung tersenyum sinis, karena tetua tersebut tidak melihat gerakan kaki kanan Tu Long melesat ke arah dadanya.
Bam..!!
Tetua luar klan Du langsung terpental dengan dada berlubang, ia langsung mati seketika.
Lang Zai, Pixiu dan Gi Lian yang melihat Tu Long bergerak cepat membunuh para tetua yang terluka, mereka juga ikut maju karena tak mau ketinggalan.
Membunuh lebih banyak musuh dan mengurangi mereka adalah hal terbaik menurut mereka.
Tu Long, Lang Zai, Pixiu dan Gi Lian dengan sadis membantai mereka semua tanpa memberikan kesempatan untuk mengatakan sesuatu atau kesempatan kedua.
Sementara Patriark Du, Patriark Qin, Patriark Mu dan Leluhur klan Du langsung marah.
Para patriark langsung menyuruh para tetua inti mereka bergerak untuk membantu para tetua luar yang terluka untuk mundur, sementara ketiga patriark langsung maju menuju ke arah Lang Zai, Pixiu, Tu Long dan Gi Lian.
...__________...
Bai An dan Bai En yang mendengar suara ledakan langsung melirik ke arah asal suara ledakan.
“Hmmm...!! Sepertinya mereka sudah mulai bermain-main,” kata Bai An langsung mengedarkan kesadarannya.
Bai An langsung cemberut setelah mengetahui kini pihak musuh banyak yang mati.
Sementara Bai En cukup bingung melihat para saudara angkat adiknya mampu membunuh begitu banyak para ahli Dewa Abadi.
Bagaimana tidak, pasalnya ia sendiripun mungkin akan langsung mati jika di kepung begitu banyak ahli Dewa Abadi seperti itu.
Bai En bahkan lebih bingung melihat wajah cemberut adiknya kini.
“Kenapa kau cemberut An'er?” Tanya Bai En dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Kakak tahu kan aku menyuruh mereka untuk bermain-main bersama mereka lebih dulu, tapi kakak lihat dari kesadaran yang kakak edarkan tadi bahwa mereka sudah membunuh banyak sekali ahli Dewa Abadi. Jika seperti ini kita akan ketinggalan juga untuk berlatih melawan mereka. Ayo kita kesana kak, nanti kita akan kehabisan karena para saudaraku terlihat sangat bersemangat hari ini.” Kata Bai An menjelaskan lalu mengajak Bai En.
Bai En kini berbalik cemberut saat mendengar jawaban adiknya, ia tidak tahu mengapa adiknya sangat suka dalam hal membunuh.
__ADS_1
“Apa ayah dulu tidak memberitahu jika tidak baik membunuh sembarang? Apalagi membunuh terlalu banyak. Karena itu akan menambah banyak musuh,” gumam Bai En dalam hati.
Tanpa menunggu waktu lama, Bai En langsung ikut mengejar Bai An.