
Seketika To Gel langsung bertatap muka dengan Dhu Lan.
Dhu Lan yang ketahuan selalu menatap To Gel langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah sedikit merah karena malu.
Bai An, Duan Du, Bo Long dan Tu Long langsung terkekeh kecil.
Dhu San yang melihat itu juga ikut tersenyum saat melihat cucunya malu kepada seorang pemuda, padahal selama ia hidup, ia tak pernah melihat cucunya ini malu.
Sama halnya dengan Dhu Yan dan Dhu Qin, mereka awalnya menganga kaget, tak lama mereka ikut tersenyum.
To Gel yang menyadari ada yang salah dari tatapan semua orang langsung tersadar, ia langsung menunduk malu juga.
“Heh,, seorang laki-laki harus terlihat jantan, masa kau malu di depan wanita yang menyukaimu, terlebih kau terlihat lembek,” kekeh Duan Du dengan nada ejekan.
“Hm..!! mulai sekarang kau harus terlihat tangguh seperti diriku ini,” kata Tu Long dengan bangga.
Hanya dengan beberapa kata semangat, To Gel langsung mengangkat kepalanya dengan wajah teguh.
Setelah itu To Gel mendekati Dhu Lan.
Dhu Lan yang menyadari itu hanya diam saja, setelah To Gel mendekat ia langsung bicara dengan Dhu Lan, walau awalnya malu, tapi lama kelamaan mereka kini terlihat cukup akrap, walau masih malu-malu.
Setelah istirahat cukup lama, Bai An dan yang lainnya melanjutkan perjalanannya.
Tap tap..!!
1 bulan berlalu, kini mereka melihat sebuah hutan yang terlihat memiliki aura yang cukup menyeramkan.
“Ini adalah hutan yang membatasi Daratan Barat dan Daratan Timur,” kata Dhu San memberitahu Bai An dan para saudaranya.
“Hutan ini bernama Hutan Berapi,” kata Dhu San menambahkan.
Bai An dan yang lainnya mengangguk.
Sedangkan Tu Long kini cemberut.
“Tuan muda, kenapa tidak kita bunuh saja orang ini, menambah beban saja dari tadi,” kata Tu Long sambil menatap ke arah pemimpin berjubah merah yang kini di rantai.
Tubuh pemimpin langsung berkeringat dingin, selama sebulan ini ia sudah di siksa tubuh luar maupun dalam, terlebih lagi jiwanya kini sudah tersiksa membuat ia selalu ingin bunuh diri, tapi saat mendengar ancaman Tu Long jika ia berniat bunuh diri, maka Tu Long akan mencarinya di neraka sekalipun lalu menyiksanya. Maka dari itu pemimpin berjubah merah kini tidak berniat bunuh diri lagi.
“Tu.. Tuan,” belum selesai pemimpin berjubah merah yang bernama Ken Tong itu mengatakan sesuatu.
Tu Long menatap tajam ke arah Ken Tong sambil berkata.
“Aku belum mengizinkanmu bicara,” kata Tu Long dengan nada dingin.
Ken Tong langsung berkeringat dingin.
__ADS_1
Ia dengan cepat mengangguk-angguk patuh, hal itu membuat Duan Du terkekeh.
Tu Long kini terlihat beringas di mata musuh, namun lucu di mata para saudaranya, hal itulah yang membuat Duan Du cekikikan.
Bai An yang dari tadi diam langsung berkata. “Jangan di sentuh lagi, mulai saat ini ia akan berguna,” dengan senyum lebar Bai An menatap Tu Long.
Tu Long yang paham langsung mengangguk patuh.
Trank..!!
Suara rantai yang mengikat tangan maupun kaki Ken Tong langsung hancur.
“Kau carikan kami beberapa buruan karena kita akan istirahat di sini sambil makan siang sebelum kita masuk hutan,” kata Tu Long.
Tu Long kembali berkata. “Jangan pernah mencoba untuk lari, karena kemanapun kau lari aku akan mencarimu ke seluruh dunia ini, jika kau matipun aku akan mencarimu ke neraka dan membawamu ke sini lagi.”
Ken Tong mengangguk patuh tanpa bersuara.
Dengan segera Ken Tong melesat ke arah tertentu.
Setelah itu Bai An dan yang lainnya langsung mempersiapkan bahan-bahan untuk hewan buruan yang akan di bawa Ken Tong nanti.
2 jam telah berlalu, kini Bai An dan kelompoknya melesat melalui semak-semak Hutan Berapi.
Sepanjang jalan yang Bai An lihat adalah hutan tanpa penghuni bercampur hawa panas yang sangat menyengat. Namun itu tidak masalah bagi Bai An dan yang lainnya.
Menurut perkataan Dhu San dan Ken Tong, dulu ada seorang Ahli Dewa Surgawi. Ahli Dewa Surgawi itu adalah tingkatan yang lebih tinggi dari Dewa Abadi.
Seorang Ahli Dewa Surgawi tersebut terjatuh ke sini hingga menyebabkan hawa panas tersebut, hingga sampai saat inipun Ahli Dewa Surgawi tersebut tidak di ketahui keberadaannya apakah sudah mati atau hidup.
Jika mati, mayatnya belum di temukan oleh ahli-ahli dari dunia setengah dewa yang ada di sini.
Wuss wuss..!!
Bai An melesat sambil melirik ke atas, ia melihat matahari sudah terbenam.
Tap tap..!!
“Kalian di sini saja lebih dulu untuk istirahat, aku akan pergi sebentar saja,” kata Bai An.
Tanpa memperdulikan atau menunggu jawaban dari yang lainnya, Bai An menghilang dari sana.
Wuss wuss..!!
Bai An berhenti di ketinggian yang bisa melihat seluruh area Hutan Berapi.
Hutan Berapi terlihat sangat luas di pandangan mata Bai An.
__ADS_1
Pandangan mata Bai An terlihat melihat seluruh area secara rinci, namun belum menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Bai An mencoba mengedarkan kesadarannya, ia belum menemukan hal yang menarik juga karena merasa kesadarannya seperti terhalangi, jadi ia terbang ke atas untuk melihat dengan mata telanjang.
Setelah puluhan menit mencari, kini pandangan mata Bai An tertuju ke arah gunung yang paling kecil.
“Hmm..!! Ada yang aneh di balik gunung kecil ini,” gumam Bai An, karena ia tidak merasakan sedikitpun hawa panas di sana.
Wuss..!!
Dalam sekejap Bai An muncul di gunung kecil tersebut, saat ini Bai An menatap ke arah sedikit celah kecil di depannya.
Bai An tanpa menunggu langsung melangkahkan kakinya.
Wuss..!!
Pandangan Bai An langsung buram saat ia memasuki celah tersebut.
Buk..!!
Bai An terjatuh tepat di samping aliran sungai yang terlihat jernih.
Percikan air sungai langsung mengenai wajah Bai An hingga membuatnya tersadar dari pingsannya.
Ukhh..!!
Bai An langsung memegangi kepalanya yang masih pusing akibat memasuki celah tersebut.
“Dimana ini?” Gumam Bai An melihat ke sekelilingnya, Bai An saat ini merasakan hawa di sini sangat sejuk dan tekanan aura yang cukup menindasnya.
“Ini? Apakah ini dimensi kecil buatan manusia?” Gumam Bai An saat melihat keindahan tempat ini.
Setelah puas melihat sekelilingnya, Bai An langsung bangun lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah yang merasa ada sesuatu yang memintanya untuk kesana.
Tap tap..!!
10 menit Bai An berjalan, ia kini merasa di permainkan karena tempat yang ia tuju ada di depan matanya, tapi ia tak pernah sampai ke tempat tersebut.
“Hmm..!! Apakah ada ilusi di tempat ini?” Gumam Bai An mencoba menembakkan energinya, namun Bai An tidak bisa mengeluarkan energinya sedikitpun.
“Hukum energi spesial,” gumam Bai An terkejut.
Bai An tiba-tiba mengeluarkan senyum lebar yang jarang terlihat, Bai An kemudian berlari ke arah gubuk kecil yang membuatnya selalu ingin kesana.
3 Hari berlalu, sampai saat ini Bai An masih belum sampai, malah ia merasa semakin menjauh.
“Hukum gravitasi terbalik,” gumam Bai An tidak bisa tidak terkejut.
__ADS_1