Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Membunuh Semua Monster dan Hei Niu


__ADS_3

“Kau cukup kuat juga, padahal kau jauh di bawahku. Bahkan mampu mebuatku mundur,” kata monster berwujud seperti Tu Long, setengah monster setengah manusia.


Monster itu menggerakkan tangannya.


Crak..!!


Crak..!!


Setelah menggerakkan tangannya seolah bersiap-siap. Ia kini melirik Bai An dengan senyum bahagia. Semangatnya yang telah lama hilang kini bangkit lagi.


Bai An yang melihat monster di depannya ini cukup unik. Tak lama kemudian, Bai An langsung tersenyum. “Dia harus berada di bawah kendaliku,” gumam Bai An terhasrat menginginkan monster setengah manusia itu.


Bai An langsung memikirkan cara bagaimana ia bisa menundukkan monster di depannya. Jika nama itu akan terasa sulit, karena ia tidak tahu namanya. Walau ia tahu sekalipun, belum tentu pengucapan nama yang ia sebut benar. Jadi Bai An hanya memikirkan cara terahir.


Bai An dengan cepat memasang sikap waspada. Saat ia melihat monster tersebut berubah seperti banteng dengan 3 tanduk.


Aooo...!!


Monster banteng itu berlari dengan ganas ke arah Bai An.


Bai An langsung mengayunkan pedangnya. Lalu berteriak. “Teknik kedua, Tebasan Pengoyak Langit.”


Kali ini energi yang melesat berbeda yang pertama ia gunakan. Lesatan energi pedang tersebut di aliri oleh petir dan jumlahnya ada 3.


Setelah itu Bai An berlari lagi tapi ia berlari ke tempat yang berbeda. Yaitu membunuh monster sebanyak mungkin.


Melihat serangan Bai An. Monster banteng itu langsung waspada, karena ia tadi melihat betapa kuatnya serangan Bai An.


Dengan cepat monster banteng tersebut mengeraskan tangannya hingga berubah bentuk menjadi coklat.


“Amukan Tinju Banteng.”


“Menghancurkan Bumi.”


Monster banteng itu mengayunkan tangannya ke arah lesatan energi pedang tersebut sambil berteriak keras.


Bom..!!


Bom..!!


Monster banteng itu mundur satu langkah, ia langsung melihat ke arah Bai An dimana ia menyerangnya tadi. Tapi yang ia lihat sudah tidak berada di tempatnya.

__ADS_1


Dengan cepat ia mengalihkan pandangnya untuk mencari Bai An. Saat ia melihat Bai An sedang asik membantai bangsa. Ia langsung marah, tapi bukan marah karena kematian bangsanya. Melainkan ia marah seperti di anggap lemah lalu di abaikan.


“Kau,, aku akan membalas penghinaan ini,” teriak monster banteng itu mengamuk lalu berlari ke arah Bai An. Saat berlari ke arah Bai An. Monster itu membunuh monster yang menghalangi jalannya, sehingga banyak monster yang melihat bangsanya di bunuh oleh sesama membuat mereka mengalihkan pandangannya lalu menyerbu Monster banteng tersebut.


Bai An kini tertawa bahagia. “Haha, memang benar jika monster yang belum sepenuhnya berubah menjadi manusia, mereka masih belum berpikir layaknya manusia. Pikiran mereka masih liar dan polos. Tapi di balik itu bisa mengundang bencana jika tidak bisa di kendalikan. Contohnya, seperti di hadapannya ini.


Bai An mundur beberapa langkah. Lalu pandangannya teralihkan ke arah Tu Long. Melihat Tu Long di kepung puluhan monster setingkat dengan Tu Long sendiri tidak membuat Bai An khawatir. Itu karena Bai An dapat melihat jika Tu Long masih belum menggunakan kekuatan penuhnya.


Bai An kembali mengarahkan pandangannya ke arah monster banteng tersebut. Saat melihat monster banteng tersebut kini hampir selesai membunuh semua bangsanya sendiri. Bai An cukup terkejut dengan kecepatan membunuh monster tersebut.


“Sudah saatnya,” gumam Bai An. Lalu melesat ke arah monster banteng itu.


Wuss..!!


Baru saja ia selesai membunuh semua bangsanya, saat ia ingin mengangkat kepalanya untuk melihat dimana Bai An. Tiba-tiba ia merasa ada yang menyentuh punggungnya.


Saat ia membalikkan badan, ia melihat Bai An kini sedang tersenyum lebar ke arahnya.


“Apa yang kau lakukan terhadap punggung ku?,” teriak monster banteng tersebut.


Bai An tersenyum lalu menjawab dengan mengangkat kedua pundaknya.


Melihat itu, monster tersebut semakin marah lalu berlari ke arah Bai An sambil mengayunkan tinjunya dengan amarah.


“Apa yang terjadi? Apa yang telah kau lakukan kepadaku, berengs*k. Cepat hentikan.” Teriak monster tersebut kepanasan.


Tapi Bai An dengan acuhnya pergi ke arah sisa monster yang menjadi pemimpinnya saja.


Saat ini Tu Long dengan semangatnya melawan para pemimpin monster ini. Tapi semangatnya langsung hilang saat ia merasakan Bai An sedang menuju ke arahnya.


“Sampai di sini dulu kita main-main. Waktunya serius karena nanti Tuan muda akan mengambil bagian untuk membunuh kalian. Jika itu terjadi. Maka aku tidak akan mendapatkan minuman lagi,” kata Tu Long sambil menjilat bibirnya seperti merasakan bekas arak tersebut masih menempel di mulutnya.


Tang Tu Long dengan cepat membentuk cakar. Lalu ia mengubah kakinya juga berbentuk cakar. Lalu menghilang.


Wuss..!!


Wuss..!!


Saat Tu Long muncul lagi. Seluruh tubuh pemimpin monster itu sudah tercabik-cabik. Bertepatan dengan datangnya Bai An. Tubuh para monster tersebut berjatuhan dengan mata melotot tidak percaya.


“Oohh,, gabungan kaki dengan teknik cahaya yang di berikan Xia'er rupanya sangat cocok untukmu,” kata Bai An tersenyum.

__ADS_1


Tapi bukan jawaban yang Bai An terima. Tapi uluran tangan seperti meminta jatah.


Bai An dengan acuh membalikkan badannya lalu pergi ke arah monster yang telah ia pasangkan segel budak.


Akkhh..!!


Akkhh..!!


“Cepat bunuh saja aku,” teriak monster tersebut saat ia melihat Bai An kini telah sampai ke tempatnya.


Mata monster itu dengan ganas menyuruh Bai An membunuhnya.


Bai An menanggapi dengan sebuah senyuman. “Apakah aku akan membiarkan mu mati dengan mudah? Tentu saja tidak.” Kata Bai An menyeringai dingin.


Tu Long langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat Tuan mudanya kini menjadi lebih kejam.


“A.. Ampuni aku. Tolong cepat bunuh aku.” Kata monster tersebut kini sedikit lebih tenang dengan sedikit merintih menahan rasa sakit yang luar biasa.


“Kau tidak akan mati. Aku membutuhkanmu menjadi pengikutku.”


Mendengar ucapan manusia yang ia tidak kenal, apalagi ia kini tahu jika rasa panasnya ini pasti karena sebuah segel budak yang ia sering dengar di bicarakan oleh para pemimpin tingkat tinggi bahkan tetua.


Amarah monster banteng tersebut langsung mengganas. “Aku tidak akan pernah menjadi budak mu,” teriaknya dengan keras kepala. Lalu mencoba untuk membunuh dirinya dengan sekuat tenaga.


Melihat itu. Bai An tentu saja langsung membuat monster itu tidak bisa bergerak dan menambah rasa sakitnya.


Akhh..!!


2 Jam telah berlalu. Bai An kini kesal melihat monster banteng itu sangat keras kepala. Di sisi lain ia menjadi semakin semangat untuk membuatnya menjadi pengikutnya.


“Jika kau tidak menyerah, aku akan menambah 100 kali lipat rasa sakit dari yang kau alami sekarang,” kata Bai An dengan nada dingin.


“Baiklah aku menyerah,” teriak monster banteng itu dengan pasrah. Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang setiap menit bertambah.


“Hehe, rupanya dengan sedikit kebohongan ia langsung mau menurut,” gumam Bai An sambil tertawa dalam hati.


“Hei Niu menyapa Tuan,” teriak monster banteng itu kini berlutut, ia kini tidak merasakan rasa sakit lagi, jadi ia dengan suka rela menyebut namanya. Karena pada umumnya monster yang masih belum bisa berpikir layaknya manusia masih terlalu naif dan polos.


“Hei Niu, yang artinya Banteng Hitam. Nama yang cocok, berbeda dengan monster seperti Tu Long yang dulu memiliki nama sangat jelek,” kata Bai An tersenyum mengejek ke arah Tu Long.


Tu Long yang mendengar itu tidak marah sama sekali, karena ia tidak terlalu memikirkan nama. Melainkan kini ia membayangkan ia sedang berenang di lautan arak.

__ADS_1


Bai An langsung jijik melihat tingkah Tu Long. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Hei Niu yang masih berlutut.


“Kau bisa bangun.”


__ADS_2