
“Lindungi keluarga.”
“Lindungi orang yang kita sayang.”
“Hancurkan musuh yang datang.”
Teriakan orang orang langsung menggema saat mendengar dorongan dari Bai An.
Mereka semua langsung mengeluarkan senjata mereka kemudian menatap Bai An. Entah apa yang ada di pikiran semua orang kini mereka menunggu Bai An memimpin mereka untuk memulai perlawanan.
Po Hen juga ikut menatap Bai An dengan tatapan hormat, ia kini mengerti mengapa Pemimpinnya sangat menghormati Bai An. Walau Bai An masih muda, namun pembawaannya membawa semua orang semangat, bahagia, dan nyaman.
Lang Zai dan Pixiu kini berdiri di samping Bai An dengan bangga. Seolah olah mereka mengatakan jika Bai An adalah saudaranya.
Di tempat Panglima Gon, ia kini menggeram mencoba menahan amarah saat melihat pemuda yang menyerang kapal perang milik mereka. Tentu Panglima Gon sangat mengenalnya. Bai An adalah daftar buronan yang akan mati juga karena Bai An bisa membawa masalah untuk Penguasanya dan Pemimpin kelompok Teratai Hitam.
“Po San, Bu Tan, Bu Hongyan...! kalian bunuh anak itu, ia akan menjadi batu sandungan untuk Penguasa suatu saat nanti jika tidak langsung di bunuh.”
Teriakan Panglima Liu Gon menggema sangat keras.
Fanghu yang mendengar itu tetap santai, walau ia tidak bisa melihat tingkat kekuatan Bai An. Tapi ia yakin jika Bai An dapat menghadapi para Jendral tingkat rendah itu dengan mudah. Tapi beda cerita jika Jendral Besar yang menyerangnya.
Po San langsung maju dan membusungkan dadanya dengan bangga.
“Kalian dengar yang di katakan Panglima Besar? Bunuh semua orang, jangan biarkan siapapun pergi dari sini.”
Po San langsung menatap Bai An dengan tatapan tajam.
“Serang...!”
Bai An yang mendengar teriakan musuh yang menyerang kesini, mereka melesat dengan haus darah dan sangat ingin membunuh.
“Bersiap, tunggu mereka lebih dekat dan tunggu aba aba dari ku,” teriak Bai An.
“Hoahh,,”
Teriakan menggema langsung di kapal tempat Bai An, yang membuat para pedagang, kultivator tingkat rendah, anak anak ingin sekali ikut melawan musuh.
Bai An langsung menarik busurnya, 4 anak panah langsung melesat di aliri elemen api bercampur sedikit energinya.
Ciut...!
Bom..!
Duar..!
Puluhan prajurit langsung ikut meledak saat mengenai salah satu dari mereka, daya ledak anak panah Bai An cukup besar.
Bom..!
Bom..!
Bai An terus mengurangi jumlah musuh yang mendekat. Jumlah kapal mereka ada ratusan dan mereka melesat dari kapal ke kapal. Bai An menembak anak panahnya ke kapal perang paling depan dan tengah saja, karena anak panahnya masih belum bisa sampai ujung.
__ADS_1
Po San, Bu Tan, Bu Hongyan. Melihat banyak sekali pasukannya mati sia sia langsung marah.
Tanpa pikir panjang ketiganya langsung melesat dengan kecepatan penuh ke arah Bai An.
“Serang,,” teriak Bai An tersenyum licik saat melihat ketiga Jendral tingkat rendah yang melesat ke arahnya.
Po Hen kini menatap tajam ke arah adik tirinya Po San.
Saat Po San sudah hampir sampai ke kapal tempat Bai An, ia langsung mengayunkan pedangnya untuk menghancurkan kapal.
Trank,,
“Lawan mu adalah aku,” kata Po Hen dengan nada dingin.
Po San melayang mundur sejauh 10 meter, ia langsung tersenyum sinis.
“Anak haram sepertimu bukanlah lawan ku,” kata Po San mengejek sinis.
Po Hen mendungus, dengan cepat ia melesat ke arah Po San.
Bom..!
“Ukkhh,, sangat cepat dan kuat,” gumam Po San.
“Kurang ajar, ternyata kau menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya,” raung Po San marah karena dirinya selama ini di tipu.
Po Hen membalas dengan tertawa mengejek.
“Sialan kedua orang ini mempermainkan kita,” gumam kedua Jendral Bu tersebut.
“Jangan meremehkan kami, walau kau lebih kuat,” bersamaan dengan ucapan kedua Jendral Bu tersebut.
Tiba-tiba kekuatan mereka meningkat dari Dewa Alam Menengah melonjak ke Dewa Berlian Ahir. Satu tingkat di bawah Lang Zai dan Pixiu.
Lang Zai dan Pixiu langsung mundur.
Mereka membakar energi kehidupan mereka sendiri. Walau tahu jika umur mereka akan berkurang drastis.
“Wah hebat sekali,” kata Lang Zai bertepuk tangan. Sangat jarang orang bisa menguasai cara menggunakan metode mengorbankan energi kehidupannya. Kecuali, metode ini keturunan atau ia latih dengan teliti. Jika salah sedikit maka orang yang membakar energi kehidupannya akan langsung mati karena tidak bisa cara mengatur sampai mana mereka akan mengurangi umurnya.
Kedua Jendral Bu itu langsung mendengus dingin, saat menanggapi ucapan Lang Zai. Tak ingin menunggu terlalu lama kedua jendral tersebut melesat lebih dulu menyerang Lang Zai dan Pixiu.
Sementara di tempat Bai An berada. Saat ini ia melesat beberapa anak panah sambil berlari kecil dari kapal perang 1 ke kapal perang 2, itu terus berlanjut. Karena tujuannya adalah pergi ke kapal perang paling besar.
Kapal perang besar itu juga tidak bisa di hancurkan oleh serangan anak panah Bai An.
Wuss,,
Bom...!
Merasa tidak menarik karena terlalu cepat membunuh musuh. Bai An kini tidak menggunakan elemen apinya saat ia melesatkan anak panahnya.
Jlep..!
__ADS_1
Jlep..!
Dua anak panah Bai An tepat mengenai leher dan jantung musuhnya.
Melihat Bai An kini tidak menggunakan elemen apinya untuk meledakkan mereka maupun menenggelamkan kapal, seorang komandan langsung berteriak.
“Dia sudah tidak menggunakan elemen apinya untuk meledakkan kita, dia pasti sudah melehan dan kehabisan energi. Serang bersama-sama, walau kita mati. Penguasa pasti bangga jika kita bisa membunuhnya.”
Teriakan komandan tersebut membuat semangat para komandan maupun para prajurit, mereka kini mengeluarkan niat membunuh yang kental.
Serang...!
Bai An yang melihat itu langsung tersenyum kecil, inilah yang ia tunggu. Tidak perlu mencari musuh, namun musuh sendiri yang mendatanginya.
Salah satu kultivator bebas melihat Bai An akan di kepung, ia langsung maju untuk membantu Bai An. Melihat itu, para pengikut Fanghu juga ikut bersatu untuk membantu Bai An.
Bai An langsung menarik 5 anak panah untuk mencoba keberuntungannya. Karena ia masih belum bisa menembakkan 5 anak panah sekaligus.
Wuss,,
Jlep..!
Jlep..!
Melihat kelima anak panahnya dapat membunuh secara acak. Bai An menarik 10 anak panah.
Wuss,,
Jlep..!
Jlep..!
Adegan tersebut kini seperti ladang pembantaian yang membuat para kultivator bebas dan pengikut Fanghu terpana dan bergidik ngeri.
“Bantu Tuan itu,” teriak salah satu kultivator bebas tak mau ketinggalan, ia langsung menembakkan puluhan belati kecil.
Wuss,,
Slash..!
Bom..!
Bai An langsung tertawa kecil saat melihat wajah ketakutan dari para pengikut Liu Wang. Apalagi saat melihat komandan yang tadi berteriak dengan berani kini ia yang pertama melarikan diri saat melihat para prajurit di bantai oleh Bai An. Bai An sengaja membunuh para prajurit karena ia masih belum mampu membunuh para komandan dengan panahnya.
Maka dari itu ia sengaja membunuh para prajurit untuk membuat nyali para komandan langsung menurun.
Bai An kembali menarik 4 anak panahnya sambil berlari ke kapal perang paling besar.
Wuss,,
Jlep..!
Jlep..!
__ADS_1