
“Katakan siapa yang memulai?” Tanya Ling Mei dengan nada kesal.
Namun dari pertanyaan itu ada rasa khawatir tapi ia tidak memperlihatkannya agar terlihat tegas di depan putranya, jika ia memperlihatkannya maka putranya pasti akan tidak takut lagi kepadanya dan ia takut putranya akan semaunya sendiri hingga melakukan kesalahan.
Itulah yang Ling Mei tak inginkan jika putranya melakukan hal semena-mena dan terlihat ia tak pernah di ajarkan sopan santun oleh ayah maupun ibunya.
Terlebih Ling Mei tahu di dunia luar sangatlah licik maupun tidak adil, Ling Mei takut putranya akan di manfaatkan maupun di jebak oleh ahli tertentu.
Tapi ia tak tahu jika putranya saat ini adalah orang terkuat yang namanya menggema di seluruh Alam Semesta Kecil.
Ling Mei mengira putra-putranya maupun para saudaranya itu ikut-ikutan bertarung untuk keadilan. Padahal ialah dalang di balik ini semua.
Ling Mei juga tak tahu jika nama Raja Para Dewa itu adalah putranya, walau ia mendengar nama itu, ia mengira itu adalah orang tua yang tak ingin di sebutkan namanya.
Kini Bai An dan yang lainnya mendengar pertanyaan dari orang no 1 menurut mereka masing-masing hanya terdiam.
Tapi Duan Du yang nakal ini sungguh licik, ia mengirim pesan telepati kepada semua orang yang berlutut di aula agar memandang ke arah Bai An.
Benar saja, semua orang memandang ke arah Bai An, walau awalnya semua orang ragu-ragu, namun berkat bujukan manis Duan Du, mereka semua mau.
Bai An saat ini tidak menyadari jika pandangan semua orang mengarah kepada dirinya.
Sementara Ling Mei yang melihat itu menjadi ganas, mata biru Ling Mei melotot ke arah Bai An.
Saat itulah Bai An sadar jika ada yang salah, ia kemudian melirik ke arah samping maupun belakang.
Tak lama wajah Bai An berubah kesal, ia ingin berteriak. Tapi sudah ada yang berteriak duluan.
“An'er, kau ini tidak bisa di ajarkan dengan cara halus, lebih baik di ajarkan dengan cara keras,” teriak Ling Mei.
Wajah Bai An seketika cemberut, ia ingin menjelaskan namun ibunya seketika mengomel membuat Bai An menutupi telinganya.
Sementara Xi Xing yang melihat itu menutup mulutnya menahan tawa saat melihat wajah imut Bai An saat cemberut.
3 Jam telah berlalu.
Saat ini Bai An masih mendengar ceramah ibunya, sementara Duan Du, Cen Tian, Liu Fang dan yang lainnya sudah pergi entah kemana.
Hingga terdengar suara terahir Ling Mei.
__ADS_1
“Huuff,, ibu tahu jika kau tidak mendengarkan suara ibu, jika begini agar kau mau berubah lebih baik ibu memper cepat pernikahanmu dengan Xi Xing.” Kata Ling Mei melihat reaksi Bai An yang biasa-biasa saja Ling Mei kembali menambahkan.
“Jika kau sudah menikah, itu akan merubah sikapmu menjadi lebih dewasa dengan sendirinya, apalagi jika kau sudah mempunyai seorang anak.”
Bai An mengangguk mendengar itu dan menjawab. “Baik bu, jika itu untuk kebaikanku, aku akan menurut. Tapi ada satu hal yang aku minta,” kata Bai An.
Ling Mei yang mendengar itu menaikkan alis kanannya, ia merasa ada yang tidak beres dengan permintaan Bai An sehingga menaikkan alisnya.
“Apa itu? Jika permintaanmu berlebihan, ibu tidak akan menyetujuinya,” tanya Ling Mei.
Bai An langsung menguatkan hatinya lalu berkata akan menikahi Jing Ling juga jika ingin menikahi Xi Xing.
Bai An juga langsung menjelaskan semua hal tentang Jing Ling dan juga mengapa ia ingin menikahi Jing Ling.
Butuh beberapa waktu hingga Ling Mei mengangguk dan berkata akan memberitahu Xi Xing terlebih dahulu, Ling Mei tak mungkin akan mengambil tindakan seorang diri yang bisa membuat pihak lain sakit hati.
Setelah itu Ling Mei pergi, tapi ia tak lupa memberikan beberapa ceramah kepada Bai An sebelum pergi.
Bai An hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum kecut, tapi tak lama bibirnya mengeluarkan senyum jahat.
“Du'er, tunggu saja pembalasan kakak,” kekeh Bai An tersenyum menyeramkan.
Lebih tepatnya di Alam Dewa Rendah.
Saat ini Duan Du sedang bersama Tu Long dan Bai En.
Mereka bertiga duduk sambil memandang Kaisar Dewa Kegelapan yanh di buat seperti hewan buruan.
Huacciih..!!
“Siapa yang membicarakanku ya? Terlebih mengapa juga tubuhku tiba-tiba merinding,” gumam Duan Du berpikir dengan keras hingga terdengar sebuah suara.
“Hei, bocah nakal. Kau kenapa?” Tanya Tu Long dengan wajah bingung.
Duan Du langsung tersadar lalu melirik ke arah Tu Long. “Tidak ada, lebih baik kita siksa saja dia dulu sebelum kita bawa ke tempat kakak,” kata Duan Du dengan santai.
Tu Long dan Bai En mengangguk santai lalu memandang ke arah, tepatnya lokasi Kaisar Dewa Kegelapan berada.
Wuss..!!
__ADS_1
Bom..!!
Tubuh Kaisar Dewa Kegelapan kembali terlempar, ini sudah kesekian kalinya ia terlempar, namun tetap saja Kaisar Dewa Kegelapan kembali bangun lalu berlari lagi sekuat tenaga tanpa berani melihat ke arah atas.
Duan Du dan Tu Long yang melihat itu tertawa terbahak-bahak melihat semangat juang Kaisar Dewa Kegelapan.
Sementara Bai En yang melihat itu kini mulai bicara. “Tu Long, Du'er, apakah ini tidak terlalu berlebihan, ia sudah lumpuh dan kalian berdualah yang menghancurkan Dantiannya.”
Mendengar itu Duan Du tersenyum lembut dan dengan santai berkata.
“Kakak En, tidak kah kakak En lihat perbuatannya melebihi yang kita lakukan saat ini? Kakak En lihat sendiri di istananya ada jutaan budak yang siap ia tumbalkan, terlebih sudah miliaran tulang sudah ia tumbalkan. Jadi kakak En jangan terlalu berbelas kasih kepada farasit seperti dia.”
Mendengar itu Bai En hanya bisa tersenyum kecut, ia tahu jika dirinya saat ini terlalu naif. Dan ia tahu jika ia pasti akan kalah berdebat dengan Duan Du.
Jadi Bai En hanya bisa menghela nafas, melihat prihatin kepada Kaisar Dewa Kematian.
Sementara untuk Tu Long, ia hanya acuhb saja sambil mengayunkan bola kecil berisi energi ke tempat Kaisar Dewa Kematian berlari.
Hal tersebut terus berlanjut selama 3 hari hingga terdengar sebuah suara menggelegar.
“Bocah nakal, dimana kau.”
Duan Du langsung terdiam, tubuhnya kini berkeringat dingin.
“Gawat, aku harus kabur dari sini,” gumam Duan Du saat mendengar suara kakaknya yang terdengar lembut, namun Duan Du tahu jika ia akan di hukum.
Dengan cepat Duan Du mengayunkan tangannya merobek ruang.
Srekk..!!
Saat Duan Du akan masuk, ia kembali mendengar suara.
“Mau kemana kau bocah naka,” kekeh Bai An langsung melambaikan tangannya melempar benang energi untuk mengikat Duan Du.
“Ahh kakak,, apa salah ku hingga kau menindas adikmu,” teriak Duan Du dengan wajah memelas.
Namun Bai An hanya acuh, lalu tatapan Bai An mengarah ke arah Tu Long yang kini berkeringat dingin, bahkan tubuhnya kini seolah ia baru selesai mandi.
Tapi Bai An dengan santai pergi membawa Duan Du yang terdengar merengek.
__ADS_1