
“Ehem..!! Bo Long, apakah yang lain masih belum selesai berkultivasi?”
Mendengar pertanyaan dari Bai An. Bo Long dengan cepat menjawab.
“Iya, mungkin beberapa hari atau minggu lagi mereka satu persatu akan keluar.”
Bai An mengangguk.
“Tolong siapkan kami kamar,” kata Bai An.
Bo Long langsung menjalankan perintah Bai An.
Setelah kamar telah siap, mereka semua langsung istirahat, kecuali Bai An, Duan Du dan Tu Long.
Mereka kini sedang duduk di ruangan yang terbilang cukup sunyi.
Setelah cukup lama diam, Duan Du langsung berkata.
“Untuk orang-orang di bawah, mereka adalah para ahli dewa abadi yang ingin bergabung ke kelompok pembantai, tahap pertama adalah nama dan asal usul mereka, setelah di data ulang, kelompok informasi yang di pimpin paman Fanghu akan mencaritahu kebenarannya dengan sangat detail dan teliti agar tidak terjadi kesalahan seperti pengkhianatan atau sifat yang sewenang-wenang dan masih banyak lagi.
“Aku sengaja memindahkan tempat pendaptaran karena saat ini, Paman Yu Fan dan Fanghu sedang meningkatkan kekuatannya, sedangkan kelompok pembantai sedang berlatih keras untuk meningkatkan pemahaman bertarung maupun membunuh dengan cepat.”
Duan Du memberikan banyak sekali informasi kepada Bai An termasuk klan yang di buat oleh Yu Fan, yang menjaga mereka juga bekas anggota perampok.
Setelah mendapat informasi, Bai An mengangguk, ia lalu melirik ke arah Tu Long yang kini asik dengan minumannya.
“Huff..!! Lama-lama kau mirip dengan tong yang kau pegang,” kata Bai An sedikit mengejek.
Tapi Tu Long tetap asik dengan minumannya, saking nikmatnya ia berkhayal membunuh jutaan musuh seorang diri demi membuat Bai An bangga dan membuat Gi Lian menyukainya.
Bai An dan Duan Du langsung jijik saat melihat Tu Long tersenyum-senyum sendiri.
“Kakak,, kenapa kau bawa orang gila ini, lebih baik kita tinggalkan dia dengan khalayannya yang tak pernah tercapai itu,” dengus Duan Du langsung berdiri mengajak Bai An pergi.
Tu Long yang melamun langsung tersadar mendengar teriakan Duan Du.
“Siapa yang berkhayal aah, aku tidak berkhayal melainkan sedang melihat kenyataan,” dengus Tu Long dengan cepat ikut berdiri.
Saat keduanya ingin beradu mulut.
Bai An langsung berkata.
“Ayo, kita lebih baik keluar, karena aku menemukan hal yang menarik tadi di bawah,” Bai An langsung tersenyum misterius.
Duan Du dan Tu Long langsung menatap ke arah Bai An dengan wajah penuh pertanyaan.
Tapi Bai An langsung berjalan keluar, dengan cepat Duan Du dan Tu Long mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Tap tap..!!
Setelah keluar dari ruangan tersebut. Bai An langsung menarik Tu Long dan Duan Du untuk pergi.
Wuuss..!!
Mereka bertiga langsung menghilang dalam sekejap.
Tak lama mereka muncul tidak jauh dari penginapan Naga.
Setelah itu mereka bertiga menyamar menggunakan topeng palsu.
Wajah ketiganya kini berubah, tidak ada yang bisa mengenali mereka saat inj, mereka bertiga juga melepaskan jubah yang mereka kenakan.
“Ayo kita masuk,” ajak Bai An.
Hal itu membuat mereka berdua heran, tapi mereka tidak bertanya karena pasti akan mengetahui apa maksud dari Bai An menyuruh mereka menyamar.
Tap tap..!!
Saat Bai An dan yang lainnya masuk, tidak ada yang memandang mereka saat ini, karena semua orang sibuk masing-masing.
Lalu pandang Bai An menuju ke arah dua orang yang sedang duduk menggunakan tudung untuk menutupi identitas mereka.
Mereka berdua tak lain kakak beradik yang menjadi ahli terkuat saat di turnamen Ahli Dewa Abadi beberapa tahun lalu.
“Tentu saja boleh, silahkan, karena ini tempat umum bukan tempat kami,” jawab pemuda yang lebih tua dengan badan kekar.
Pemuda tampan yang lebih muda hanya menjawab dengan seutas senyum hangat.
Bai An, Tu Long dan Duan Du kini duduk.
Duan Du yang cukup cerdas langsung membuka suara lebih dulu.
“Ehem,, jika boleh tahu, apakah para senior ini datang kesini untuk mendaptar atau hanya ingin mampir melihat-lihat?” Tanya Duan Du.
“Itu,, kami datang kesini sebenarnya ingin bertarung dengan salah satu anggota kelompok pembantai, yaitu no 1 atau wakil ketuanya terlebih dahulu, jika kami kalah maka kami berdua akan langsung bergabung.” Jawab pemuda tampan dengan jujur.
Tapi orang-orang yang berada di sekeliling kedua kakak beradik langsung menatap dengan tatapan tajam.
“Hmm..!! Begini saja, jika kalian sangat ingin mencoba beradu tinju sambil medapatkan masukan dari pertarungan tersebut, kalian berdua boleh melawan mereka berdua juga.” Kata Bai An santai melirik ke arah Tong dan Duan Du yang kini menyeringai kejam.
Sementara kakak beradik yang bernama Hu Tang dan Hu Jat langsung mengerutkan keningnya.
Tak lama sang kakak yaitu Hu Tang langsung tertawa cukup keras hingga menyebabkan semua orang mau tak mau melirik karena penasaran.
“Bagaimana? Apa kalian berdua berani?” Tanya Bai An dengan santai.
__ADS_1
Hu Tang dan Hu Jat lngsung mengubah ekspresi wajah mereka saat mendengar pertanyaan santai Bai An tanpa takut kepada Kelompok Pembantai, yang berarti mereka yang cukup cerdas langsung mengetahui siapa Bai An dan kedua saudaranya.
Hu Jan langsung maju.
“Apa yang kami dapat jika bertarung melawan kedua orang ini?” Tanya Hu Jat dengan sopan.
“Banyak manfaat yang kau dapatkan,” jawab Bai An tersenyum misterius.
“Heng..!! Aku tidak ingin jika tidak mengetahui apa yang kami dapatkan terlebih dahulu,” dengus Hu Jat.
“Ini yang kau dapatkan,” kata Duan Du langsung melempar cincin penyimpanan yang ia dapatkan.
Hap..!!
Dengan cepat Hu Tang menangkapnya lalu memeriksa isinya.
Hu Tang lngsung terpana saat melihat isinya.
“Aku setuju,” teriak Hu Tang tanpa basa basi setelah melihat tumpukan sumberdaya yang bisa membantu dirinya beserta adiknya untuk meningkatkan kekuatan mereka.
Hu Jat langsung mengerutkan keningnya saat melihat kakaknya setuju lebih dulu tanpa bertanya lebih dulu kepadanya.
Hu Jat pun langsung merebut cincin penyimpanan tersebut dari tangan kakaknya lalu mengalirkan sedikit energinya.
Saat melihat isinya, Hu Jat tercengang.
“I.. Ini, jika kami menggunakan semberdaya ini maka kekuatan kami yang lama macet pasti akan meningkat pesat, dan juga sudah lama aku bersama kakak mencari-cari sumberdaya langka ini,” gumam Hu Jat dalam hati.
Hu Jat pun melirik ke arah Bai An dan dua orang di belakangnya.
“Apa kalian yakin akan memberikan kami ini jika kami menang?” Tanya Hu Jat memastikan.
“Siapa bilang aku memberikan itu jika kalian menang,” kekeh Duan Du.
“Eh..!! Terus untuk apa kalian memperlihatkan kami cincin ini?” Tanya Hu Tang bingung.
“Tentu saja itu bayaran kalian karena mau melawan mereka berdua, untuk menang kalah bukanlah masalah.” Kata Bai An menjawab, lalu menambahkan. “Bagaimana, apa kalian setuju?”
Hu Tang dan Hu Jat tertegun beberapa saat sebelum mereka sadar dari lamunannya dan tanpa sadar berteriak kencang.
“Tentu saja kami mau.”
Teriakan Hu Tang dan Hu Jat langsung membuat orang-orang menjadi geram.
Tapi mereka tidak ada yang berani menegur karena larangan adanya provokasi dan pertarungan di penginapan Naga.
Sementara Duan Du dan Tu Long saling melirik sambil tertawa dalam hati.
__ADS_1