
Sementara Bai An dan Duan Du saat ini bergumam dalam hati.
“Kota sebesar ini dia bilang kota kecil? Apakah mata orang ini buta, terlebih lagi saat aku mengedarkan auraku, kota ini sama dengan setengah Daratan Barat di dunia setengah dewa.”
“Hei-hei anak muda, kalian jangan terlalu melamun, itu akan bahaya karena di sini banyak perampok anak-anak muda yang terbilang lemah seperti kalian,” kata penjaga tersebut dengan terang-terangan seolah mengejek Bai An dan Duan Du.
Bai An dan Duan Du seketika tersadar sambil mengerutkan keningnya menatap tajam ke arah penjaga tersebut.
“Hmm..!! Dari pada kalian menatap ketampananku. Mumpung aku libur berjaga, maka aku akan membawa kalian berkeliling mengenal kota kecil ini,” kata penjaga tersebut lalu menambahkan.
“Oh ya, nama klan ku adalah Pin dan nama belakangku adalah Cang, jadi Pin Cang, tapi kalian boleh memanggilku Paman Cang saja,” kata Pin Cang lalu berjalan.
Bai An dan Duan Du mengangguk lalu sambil melirik, setelah Bai An mengangguk, mereka lalu mengikuti Pin Cang karena merasa orang tersebut tidak memiliki niat jahat.
Beberapa saat kemudian..!!
Saat ini Bai An, Duan Du dan Pin Cang berjalan di kerumunan orang.
Selama di perjalanan Bai An melihat para pejalan kaki maupun pedang memiliki tingkatan yang setara dengannya, ada juga yang jauh lebih tinggi dengannya, bahkan sampai-sampai Bai An tidak bisa melihat tingkatan kultivasi orang tersebut.
Terlebih Bai An dan Duan Du tak henti-hentinya terkejut saat Pin Cang banyak menceritakan tentang kota atau daratan tempatnya ini.
Sementara Pin Cang selalu bertanya-tanya dalam hati saat melihat reaksi mereka.
Pasalnya ia menceritakan tentang para pedagang ini yang tak lebih seperti orang biasa yang tak bisa berkultivasi menurutnya jadi mereka semua memilih menjadi pedagang dan kuli pasar.
Tentu saja Bai An dan Duan Du terkejut, jika orang-orang ini di dunia setengah dewa, maka mereka akan hidup enak selamanya dan menjadi penguasa.
Tap tap..!!
“Hmm..!! Ini adalah rumah makan terenak di tempat ini, apakah kalian memiliki beberapa koin perak, karena aku hanya memiliki dua keping perak yang bisa membeli roti panggang,” kata Pin Cang sambil menggaruk kepalanya sedikit malu.
Bai An yang mendengar itu mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Jadi di tempat ku terdampar ini memggunakan koin perak dan pastinya ada koin emas,” gumam Bai An, setelah itu ia mengeluarkan senyum cerah memikirkan beberapa niat tertentu untuk kedepannya.
Duan Du yang melirik ke arah Bai An langsung bersemangat karena dapat menebak apa yang Bai An pikirkan.
Bai An langsung melirik ke arah Pin Cang.
“Tentu saja,, apakah ini cukup untuk membuat kita makan sampai kenyang?” Kata Bai An bertanya.
Melihat satu koin emas mengkilat, Pin Cang langsung melototkan matanya tak percaya. “Seorang anak yang bahkan tak bisa melawan hewan buruan memiliki koin emas? Hmm..!! Benar dugaanku jika kedua anak muda ini pasti kabur dari rumah, mereka pasti anak Bangsawan kaya raya atau anak kultivator ternama,” gumam Pin Cang dalam hati.
“Satu koin emas setara dengan 100 koin perak, jadi ini lebij dari cukup untuk membuat kita makan enak, ayo masuk,” ajak Pin Cang setelah menyambar koin emas di tangan Bai An.
Bai An langsung terkekeh melihat betapa gesitnya Pin Cang mengambil koin emas di tangannya, apalagi jika Pin Cang tahu Bai An memiliki gunungan koin emas, maka ia pasti akan mati terkejut.
Sementara Duan Du tersenyum cerah. “Untung saja kakak menyimpan koin emas yang aku kira tak berguna dulu,” gumam Duan Du dan terlihat ia sedikit menyesal tidak menyimpan koin emas juga dulu, karena ia hanya mengambil kristal saja karena sebagai mata uang.
Tap tap..!!
“Senior Cang, siapa yang anda bawa ini?” Tanya seorang laki-laki terlihat berusia 40 tahunan.
“Ehh Do Dhol,, ternyata kau di sini, aku mencarimu kemana-mana karena aku memiliki beberapa tugas untukmu, tapi nanti saja karena aku ingin mengajak keponakan jauhku makan terlebih dahulu.” Kata Pin Cang melirik ke arah Bai An dan Duan Du sambil mengedipkan sebelah matanya memberi sebuah isyarat.
“Hmm..!! Salam senior kami berdua adalah keponakan paman Cang,” sapa Bai An dengan cepat tanggap.
“Nama klan ku Bai dan nama belakangku An, ini adik ku, nama klannya Bai dan nama belakangnya Duan Du,” kata Bai An memperkenalkan diri.
Do Dhol mengangguk percaya saja, karena memang benar ada saudara Pin Cang dari klan Bai dan itu di kota besar.
Sementara Pin Cang tertegun menatap ke arah Bai An dan Duan Du dengan teliti.
Walau Bai An dan Duan Du masih menggunakan jubah penutup kepala. Pin Cang dapat meliahat dengan jelas wajah Bai An.
Beberapa saat ia sedikit tertegun. “Apakah dia anak patriark Bai Ling, yang di kabarkan selalu di kurung?” Gumam Pin Cang sedikit ketakutan karena jika patriark Bai Ling tahu ia membawa anaknya maka ia pasti akan di cincang jadi makanan hewan peliharaannya.
__ADS_1
Melihat raut wajah Pin Cang, Bai An merasa heran beberapa saat sambil melirik ke arah Duan Du.
Tak lama kemudian mereka berdua tersenyum licik.
Tap tap..!!
Bai An langsung melangkah ke depan Pin Cang sambil berbisik.
“Paman,, jangan ungkapkan identitasku lagi di depan orang lain ya, tapi jika paman ingin mengungkapkan identitasku maka itu tidak masalah karena bukan aku yang mendapat akibatnya,” kata Bai An sedikit berhati-hati dalam mengambil kata, karena takut jika ia salah biacara maka ia bisa mati disini ketahuan menipu.
Pin Cang langsung lemas mendengar itu, tapi dengan cepat ia menjadi normal sambil melirik ke arah Do Dhol.
“Jangan ungkapkan identitas Tuan muda, jika tidak maka kita berdua akan mati, karena orang ini adalah anak patriark Bai Ling dari klan besar di ibukota,” bisik Pin Cang.
Do Dhol yang mendengar itu awalnya linlung, tapi tak lama ia melirik ke arah Pin Cang apakah perkataannya itu serius atau hanya bercanda.
Tapi setelah melihat wajah Pin Cang yang serius.
Tubuh Do Dhol langsung bergetar keras sambil menatap ke arah Bai An dengan ketakutan.
Bai An yang melihat itu seketika tersenyum karena tebakannya tidak salah.
Tak menunggu lama mereka semua makan, namun terjadi kecanggungan di antara Bai An dan Pin Cang saat ini.
Bai An yang melihat itu dengan cepat mempercair suasana.
“Paman, aku memiliki beberapa arak dari klanku, mungkin ini bisa membuatmu lebih segar,” kata Bai An mengeluarkan arak buatan Duan Du.
Melihat arak yang lumayan besar, Pin Cang dan Do Dho awalnya ragu untuk meminum karena mereka tahu jika arak-arak milik klan besar itu pasti enak dan harganya sangat mahal, karena harga mahal itu membuat mereka agak ragu.
“Jangan ragu, jika tidak aku akan pulang dan,” sebelum Bai An menyelesaikan ucapannya.
Pin Cang dengan cepat mengambil arak tersebut dengan tangan sedikit gemetaran.
__ADS_1