
Melihat putranya berjalan dengan tubuh bergetar. Ling Mei juga merasakan hal yang sama seperti putranya saat ia pertama kali melangkahkan kakinya.
Saat ini Bai An berjalan, dan di setiap langkah kakinya terasa berat. “Ibu, apakah ini kamu?” kata Bai An sambil terisak tangis.
Ling Mei mengangguk-anggukan kepala berkali-kali sambil menutup mulutnya.
Saat ini langkah kaki Ling Mei terhenti karena saking beratnya rasa bahagia, rasa rindu, kebahagian yang mungkin tak akan bisa ia lupakan adalah hari ini.
Saat Ling Mei akan terjatuh. Bai An sudah ada di sampingnya. Dengan cepat ia membantu ibunya agar tidak terjatuh.
“Maafkan aku bu. Aku baru bisa pulang sekarang.” Kata Bai An memeluk ibunya dengan erat agar ibunya tidak berlutut di depannya. Ia tahu ibunya tadi ingin berlutut untuk minta maaf.
Tapi, apakah Bai An membiarkannya? Tentu saja tidak, bagaimana mungkin seorang ibu yang telah melahirkannya dengan susah payah ia biarkan berlutut minta maaf. Dan juga ini bukan kesalahan siapapun. Bai An juga merasa walau ibunya bersalahpun, ia tidak akan membiarkannya ibunya melakukan hal tersebut kepadanya maupun orang lain.
“Kau tidak salah, ibu yang salah. Ibu tidak bisa melindungimu, ibu tidak bisa menjagamu dengan baik. Ibu adalah ibu yang buruk,”
Ucapan Ling Mei di potong oleh Bai An.
“Kau adalah ibu terbaik bagiku. Walau kau tidak membesarkan dan melihat pertumbuhan ku. Tapi kau dengan susah payah melahirkan ku. Anugrah terbesar bagiku adalah itu, bisa terlahir di dunia ini.”
“Aku juga bahagia bisa bertemu lagi denganmu bu. Karena masih banyak seorang anak di seluruh semesta ini merindukan sosok ibu kandungnya saat mereka terpisah. Tapi sampai ia matipun, ia masih belum bisa bertemu sosok yang melahirkannya. Bagaimana wajah ibunya pun mereka tidak tahu.”
“Aku awalnya marah dan dulu sempat berpikir yang tidak-tidak. Tapi aku sadar saat berkeliling dunia. Di dunia ini masih ada seorang anak yang merindukan kasih sayang ibunya. Tapi sayang, ibunya, ayah dan seluruh keluarganya telah meninggal. Anak tersebut bertahan hidup di tempat yang keras.” Kata Bai An bercerita, ia ingat sekali tentang Duan Du yang berusaha untuk tetap kuat.
Bai An sengaja membiarkan Duan Du nakal karena itu mungkin caranya dia agar bisa bertahan untuk tetap ceria. Walaupun Bai An sibuk tapi ia selalu memperhatikan adik angkatnya itu. Dari itu Bai An sadar. Apapun kesalahan seorang ibu, jangan pernah membencinya.
Di kejauhan, Mu Xia'er ikut bahagia melihat pertemuan mengharukan tersebut. Bahkan ia ikut meneteskan air matanya.
Sementara di tempat yang lebih jauh lagi, kini ada 9 orang sedang mengintai dengan wajah bergelinangan air mata.
Mereka tak lain adalah keluarga Bai An. Yaitu, Bai Chen, Bai Luan, Bai Lin Yin, Bai Yin, Bai Shan, Bai Shao, Bai Lian, Bai Yan, Bai Yun.
“Apakah kalian tidak bisa menangis lebih kecil? Nanti kita ketahuan jika kalian menangis terisak-terisak dengan keras.” Kata Bai Luan sambil menangis lebih keras.
“Bukankan itu kau yang menangisnya lebih kencang,” gumam semua orang dengan kesal.
Waktu Bai Yin kembali, ia cukup khawatir dengan ibunya sehingga ia memanggil ayahnya. Tapi Bai Yin tidak menduga jika semua keluarganya kemari. Saat mereka akan ke tempat Ling Mei. Bai Chen dan Bai Luan langsung menghentikannya karena merasakan aura yang familiar, saat melihat Bai An muncul dari semak-semak, dengan cepat Bai Chen memasang formasi di sekitarnya agar tidak ketahuan mengintip.
__ADS_1
Lalu mereka semua melihat kejadian antara ibu dan anak yang mana membuat mereka ikut meneteskan air mata.
Kembali ke Bai An.
Bai An dan Ling Mei masih berpelukan dan Ling Mei dengan perasaan hangat mendengar Bai An bercerita keluh kesahnya.
1 jam berlalu, Bai An mulai melepaskan pelukannya, wajah Bai An kini memerah karena lama menangis. Begitupun dengan Ling Mei.
Ling Mei langsung memegang pipi Bai An dan berkata. “Ayo pulang nak, mereka semua pasti aka,” Ling Mei langsung diam lalu melirik ke salah satu tempat.
“Oohh..!! Jadi begini tingkah kalian seperti seorang pencuri yang sedang mengintip,” kata Ling Mei dengan dingin.
Bai An langsung tersenyum melihat jika sebenarnya ibunya tidak marah atau berkata dengan dingin. Itu karena agar ia tidak merasa di rendahkan oleh seorang laki-laki.
Tapi anehnya kenapa ibunya melakukan hal ini kepada ayah, paman, dan kakaknya?. Itulah yang membuat Bai An masih bingung.
“Ibu, kau tidak boleh marah-marah. Nanti kau cepat tua, aku tidak ingin ibuku di katakan tua karena sering marah-marah. Aku ingin tetap melihatmu tersenyum, itu adalah kebahagian terbesarku bisa melihat kau tetap tersenyum.” Kata Bai An mencoba meredakan amarah Ling Mei.
Wajah Ling Mei seketika berubah dari dingin menjadi senyum hangat. “Ibu janji akan tetap tersenyum mulai saat ini,” kata Ling Mei.
“Hmmm.. Jadi ibu dari dulu tidak pernah tersenyum? Apakah ini karena aku. Aku sangat sedih,” kata Bai An tertunduk lesu.
Semua orang langsung muncul. Lalu Bai Chen yang mendengar itu langsung tersenyum.
“Anak ini sangat licik. Siapa yang mengajarnya?” Gumam Bai Chen sambil menatap Bai Luan lekat-lekat.
“Apa kau lihat-lihat,” kata Bai Luan tidak terima, karena ia sadar tatapan dari Bai Chen bahwa ia menuduh mengajarkan yang tidak-tidak.
Saat Bai An dan Ling Mei melihat semuanya dengan senyum cengar cengir. Bai An menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apakah aku akan lama di sini?” Gumam Bai An dalam benaknya.
Sementara Ling Mei menatap tajam semua orang saat ia melihat Bai An tidak melihat ke arahnya.
Tubuh semua orang bergidik ngeri kecuali para wanita dan Bai Luan.
Saat Bai An mengangkat kepalanya, ia bingung melihat tingkah aneh semua orang. “Ibu, mereka kenapa?” Tanya Bai An dengan polos.
“Mereka senang bisa melihat putra kesayangan ibu sudah pulang. Di tambah kau sangat tampan, berbeda dengan mereka semua sangat jelek.” Kata Ling Mei tertawa kecil.
__ADS_1
Bai An ikut tertawa saat mendengar itu.
Sementara wajah para laki-laki kini sangat jelek untuk di pandang.
Bai Yin langsung maju bersama Bai Lin Yin ke tempat Bai An dan Ling Mei berdiri.
“An'er, apakah kau adik kecilku,” teriak Bai Yin langsung berlari karena tidak bisa menahan rindu.
Buk..!!
Dengan cepat Bai Yin memeluk Bai An dengan erat yang langsung membuat Bai An kesulitan bernapas.
“Bibi, aku tidak bisa bernafas,” teriak Bai An.
Semua orang langsung tertawa saat mendengar ucapan Bai An.
“Aku kakakmu Bai Yin, bukan bibimu,” kata Bai Yin kesal sambil menginjak tanah dengan kaki kanannya dua kali.
Bai An langsung tersenyum, ia sengaja melakukan itu agar semua orang tertawa.
“Maafkan aku Kakak ku yang cantik.” Kata Bai An merayu agar Bai Yin berhenti cemberut. Dan benar saja, Bai Yin langsung tersenyum.
“Tentu saja kakakmu ini sangat cantik.” Kata Bai Yin dengan bangga sambil menepuk dadanya.
Mereka semua mengobrol dengan bahagia. Bai An bercerita yang membuat semua orang langsung tertawa.
Sementara untuk Mu Xia'er ia kembali ke dunia jiwa, dengan alasan masih malu untuk bertemu banyak orang.
Setelah bercerita banyak. Ling Mei langsung memegang tangan Bai An lalu mengajaknya ke kediaman Klan Bai.
“Ayo kita pulang nak,” kata Ling Mei dengan bahagia.
Wajah Bai An langsung sedih, ia terlihat ragu-ragu mengatakan niat sebenarnya ia datang kesini.
“Ikut saja dulu An Gege, jangan buat ibu Ling yang kini bahagia menjadi sedih.”
Bai An mendengar suara Mu Xia'er di pikirannya langsung menatap ibunya dan yang lain.
__ADS_1
“Ibu, Ayah, Kakek, Paman, Bibi, Kakak. Apakah kau bisa merahasiakan kedatanganku kepada semua orang, kecuali kalian yang sudah tahu lebih dulu?” Kata Bai An.
Walaupun bingung, semua orang tetap menagngguk.