Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Bai An tersadar dari pingsan


__ADS_3

Setelah Bai An pingsan, Lang Zai dan Pixiu langsung menghancurkan markas anggota kelompok teratai hitam, tak lupa pula mereka berdua menguras semua harta dan sumber daya yang ada di sana karena suruhan Bai Luan.


Beberapa saat setelah kepergian Bai Luan, Pixiu dan Lang Zai yang kini menggendong Bai An, muncul lubang hitam di atas reruntuhan yang tak lama keluarlah seorang pemuda tampan yang seperti manusia biasa muncul, seandainya Mo Shen disini ia pasti mengenal pemuda tersebut.


Pemuda tersebut mengenakan pakaian sederhana, tapi lambang teratai di dada sebelah kanan dengan 8 kelopak bunga yang mekar cukup mengerikan jika ada yang mengetahuinya. Pemuda itu menatap kemana arah Bai An dan yang lainnya pergi.


Pemuda tampan tersebut adalah tangan kanan Kaisar Dewa Kegelapan.


“Jendral Ceng,” kata pemuda tersebut, tak lama muncul lubang hitam dan muncullah jendral yang di lawan Bai An tadi, ia kemudian berlutut di hadapan pemuda tersebut.


“Ya Tuan,” jawab Jendral Ceng yang kini memperlihatkan lambang 6 kelopak bunga yang mekar di dada kirinya.


“Ambillah barang Tuan lalu pergi serahkan ke markas pusat,” setelah pemuda tersebut mengatakan itu, ia langsung menghilang seperti di telan bumi.


Jendral Ceng langsung mengangguk dan melirik sebuah lubang hitam yang muncul di depannya dan tak lama muncullah dua komandan yang pernah Bai An lawan tadi.


“Komandan, apa kau tahu mengapa Tuan Mo melarang kita membunuh anak tersebut?” tanya Jendral tersebut setelah merasakan aura pemuda tampan tersebut benar-benar lenyap ia langsung bertanya kepada dua komandannya.


“Aku tak tahu jendral Ceng, aku juga tadi di larang menggunakan kekuatan penuh saat melawan anak tersebut,” jawab Komandan yang menggunakan senjata tombak.


“Tapi, ada kata terahir yang di ucapkan Tuan tadi saat membawa kami pergi tadi,” kata Komandan yang menggunakan senjata kapak.


“Apa itu?” tanya jendral dan komandan bersamaan dengan rasa penasaran yang amat tinggi.


“Bawahannya anak itu jauh lebih kuat dari kita, jika ia mau, kita bisa mati tanpa mengetahui siapa yang membunuh kita, terutama pemuda paling muda yang tidur-tiduran saat kami melawan dua di antara mereka.”


Mendengar kata-kata komandan yang menggunakan sejata kapak, komandan yang menggunakan senjata tombak langsung tertegun, tiba-tiba merasa tubuhnya merinding saat ia mengingat lehernya terasa dingin saat ia melawan Lang Zai tadi.


Berbeda dengan jendral Ceng yang heran, karena ia tidak melawan Lang Zai, dan Pixiu jadi ia tidak mengetahui apa-apa, dan juga ia tidak melihat Bai Luan yang di maksut pemuda yang tidur-tiduran.

__ADS_1


“Apa ucapanmu benar? komandan,” tanya Jendral Ceng tidak yakin.


“Bukannya kami sombong, lebih baik kami berdua lawan anda dari pada salah satu dari mereka, mereka seperti menyimpan kekuatan yang sangat besar,” jawab komandan yang menggunakan tombak, kini ia sadar perkataan komandan kapak tadi benar.


Jendral Ceng tidak merasa tersinggung sama sekali, ia mengetahui betul bagaimana kekuatan kedua komandannya ini, ia juga tahu sifatnya, mereka akan tunduk dan merasa bersalah jika tidak menjalani perintah dengan benar, dan akan tegas jika ia benar.


“Oh ya, terus mengapa kalian berlutut di hadapanku tadi saat kalian di serang anak tersebut?” inilah yang jendral Ceng ingin tanya dari tadi, ia juga merasa cukup berwibawa saat itu.


“Itu perintah dari Tuan Mo, kami harus takut saat melihat anda,” jawab kedua komandan bersamaan dengan nada cemberut.


“Baiklah, lebih baik kita ambil barang tersebut lalu pergi, ayo,” kata Jendral Ceng sambil terkekeh.


Jendral Ceng dan dua komandan sampai di reruntuhan, dengan satu kibasan tangan, reruntusan tersebut langsung lenyap dan maju kedepan, disana ada tanda lambang teratai. Jendral Ceng langsung menekan tombol yang tepat berada di tengah lambang tersebut hingga tanah bergetar beberapa saat.


Setelah tanah bergetar, muncul pintu untuk menuju ruang bawah tanah, Jendral Ceng dan dua komandan langsung masuk kedalam.


**


Di tengah hutan, kini sedang melesat 3 pemuda dan 1 di antaranya berada di punggung seseorang.


Sambil melesat terbang dari pohon ke pohon, mereka berbincang-bincang.


“Leluhur, mengapa kita tidak boleh membunuh dua orang yang datang menyerang kami tadi?” tanya Lang Zai cukup heran.


“Hmm,, jika kau ingin tanya seperti itu, lebih baik kau tanya kepada Xia'er, karena ia yang lebih tahu mengapa ia melarang kita membunuh mereka semua.” Jawab Bai Luan mendengus kesal, ia juga tidak di beritahu oleh Xai'er apa yang terjadi, yang di beritahu hanya biarkan Bai An bertarung sendiri.


Lang Zai langsung tersenyum kecut, sedangkan Pixiu langsung terkekeh.


Mereka terus melesat ke arah selatan selama beberapa jam, hingga malam hari tiba Bai An belum juga sadar.

__ADS_1


Hal tersebut membuat Bai Luan, Lang Zai dan Pixiu sangat khawatir.


Bai Luan langsung berhenti, “Xia'er mengapa An'er belum juga sadar? apa yang terjadi?” tanya Bai Luan setelah berhenti.


Lang Zai dan Puxiu yang melihat itu langsung ikut berhenti, “Ada apa?” tanya Lang Zai.


Pertanyaan Lang Zai tidak di jawab, karena Bai Luan sedang fokus menunggu jawaban Mu Xia'er.


Mu Xia'er saat ini sedang melihat apa yang terjadi dengan Bai An dan ia melihat jika Energi Biru ( Energi Semesta ) sedang berevolusi ketahap dua, hal itu membuat Mu Xia'er cukup bahagia, karena segel di tubuhnya juga ikut melemah dan ia bisa ke dunia nyata dalam wujud manusia dengan waktu yang cukup lama.


“Tidak terjadi apa-apa kek, An'Gege terlalu capek karena ia menggunakan seluruh energinya saat bertarung, ia cuman butuh istirahat saja,” Jawab Mu Xia'er.


Bai Luan langsung bahagia saat mendengar itu, kemudian ia melirik ke arah Lang Zai dan Pixiu yang sedang menunggunya dengan sabar.


“An'er saat ini sedang kelelahan saja, karena ia menggunakan seluruh energinya saat bertarung tadi, jadi ia butuh istirahat. Jadi, mari kita cari tempat nyaman untuk mengistirhatkan An'er,” kata Bai Luan lalu melesat mencari tempat yang cocok.


Lang Zai dan Pixiu langsung mengikuti dari belakang.


Beberapa saat kemudian, Bai Luan, Lang Zai dan Pixiu kini sedang membakar ayam hutan.


“Leluhur, kita ke Benua Hongcu mau ngaapain disana?” Saat terjadi keheningan, Pixiu langsung membuka suara.


Mu Xia'er langsung muncul, “An'Gege kesana untuk bertemu saudaramu Long Yuan, dan sebentar lagi An'Gege akan sadar, jadi seperti biasalah,” kata Mu Xia'er menjawab lalu dengan santai ikut duduk dan mengambil penuh 1 ayam bakar.


Lang Zai dan Pixiu langsung bergidik, ia masih membayangkan saat-saat di siksa waktu di dunia jiwa, walaupun hasilnya sangat memuaskan bagi mereka berdua. Namun tetap saja membuat mereka saat melihat Mu Xia'er segan bercampur takut


Mu Xia'er tersenyum saat melihat kelakuan Lang Zai dan Pixiu, “Tenanglah, pelatihan kalian kan sudah selesai, jadi tidak perlu takut, atau apa perlu aku melatih kalian lagi jika kalian merindukan pelatihanku bilang saja, tidak usah malu-malu.”


“Jauh-jauh, lebih baik aku berada di neraka saja, dan tidak akan pernah merindukan hal tersebut,” gumam Lang Zai dan Pixiu dalam benaknya.

__ADS_1


“Ukhh,, aku dimana?”


Tiba-tiba sebuah suara membuat mereka semua mengalihkan ke arah asal suara.


__ADS_2