
“Kau tahu jika aku punya istri, yaitu Mu Xia'er, salah satu orang yang akan kita selamatkan.”
Mendengar itu Jing Ling tersenyum lebar.
“Baiklah jika aku bertemu dengannya nanti maka aku akan mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya, untuk masalah ia menerima, menolak atau marah, aku siap menanggung apapun.” Kata Jing Ling yang kini sudah tidak canggung lagi terhadap Bai An.
Jing Ling kini sadar, jika ia selalu menyembunyikan perasaannya, maka ia akan begini saja selamanya. Jadi ia sangat senang dan berterimakasih kepada Tu Long dan Duan Du.
Sementara Bai An yang mendengar itu hanya memijit keningnya, tak lama ia hanya mengangguk tidak peduli.
***
Cukup jauh dari lokasi Bai An dan Jing Ling.
Tap tap..!!
Duan Du dan Tu Long kini melirik ke arah istana yang sangat besar dan megah.
Duan Du tanpa menunggu lama langsung mengedarkan kesadarannya.
“Emm,, paman Lang Zai saat ini sedang mengadakan pertemuan, apa kita menunggu sambil bermain-main dengan mereka atau langsung menemui paman Lang Zai?” Tanya Duan Du ke arah Tu Long.
“Tentu saja kita bermain-main lebih dulu, karena sudah cukup lama mereka mengikuti kita dari saat pertama kali menginjakkan kaki di alam dewa ini,” kekeh Tu Long.
Duan Du langsung mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Ayo kita pancing mereka keluar,” kekeh Duan Du.
Duan Du dan Tu Long langsung melesat ke sebuah bangunan yang bertulis rumah judi.
Tanpa menunggu lama Duan Du dan Tu Long langsung masuk tanpa halangan.
Sementara orang-orang yang mengikuti Duan Du kini menyeringai lebar.
“Hehe,, niatnya menunggu waktu yang tepat untuk menangkap mereka, tapi aku tak menduga mereka masuk ke kandang singa,” kekeh salah satu di antara mereka.
“Kau benar, tapi kenapa mereka hanya berdua? Bukankah mereka bertiga, dan kita tidak pernah kehilangan jejak saat mengikuti mereka?” Kata salah satu di antara mereka bertanya-tanya.
“Sudah lupakan saja, jika kita menangkap mereka, maka kita bisa memancing teman mereka,” kata pria bertubuh paling pendek lalu berjalan masuk.
Tap tap..!!
Melihat rombongan pria tadi masuk, semua orang langsung tertawa licik.
__ADS_1
Mata mereka semua langsung tertuju ke arah Duan Du dan Tu Long yang duduk di kelilingi wanita cantik.
Sadar akan di tatap layaknya makanan, Duan Du dan Tu Long malah menyeringai sambil berkata. “Hei, hei, tatapan kalian itu, apakah tidak bisa sedikit menutupi nafsu kalian yang berlebihab,” kekeh Duan Du.
Seketika tawa dari orang-orang yang ada disana langsung pecah.
“Haha..!! Kenapa kami harus menutupinya, makanan sudah di dalam kandang,” kekeh pria bertubuh besar.
“Hehe para pengikut Kaisar Dewa Jahat di alam dewa sungguh terang-terangan, aku suka, aku suka,” kekeh Tu Long bangun lalu menggeliat.
Melihat mangsa mereka bangun, orang-orang tersebut langsung maju mengepung Duan Du dan Tu Long.
“Hehe,, menyerah dan serahkan saja jiwamu, aku yakin jiwa seorang perjaka sungguh nikmat,” kekeh pria berambut silver.
Duan Du terkekeh kecil, “Sebenarnya aku ingin menunggu pemimpin atau yang paling kuat muncul, tapi apa boleh buat, hanya tikus-tikus kecil saja yang berdatangan.”
Tanpa menunggu lama, Duan Du langsung menggerakkan jari-jari tangannya.
Wuss...!!
Tubuh semua orang langsung terdiam tanpa bisa berggerak sedikitpun.
Tu Long langsung menghilang dan dengan cepat bergerak kesana kemari.
Wuss..!!
“Lemah, ternyata terlalu kuat itu tidak enak karena tidak bisa merasakan sensasi perlawanan,” dengus Tu Long.
Tanpa menunggu waktu lama Duan Du dan Tu Long menatap ke seluruh ruangan yang menyisakan para budak wanita, mereka semua di pekerjakan secara paksa.
“Pulanglah kalian ke tempat asal kalian atau bisa di bilang kalian sudah bebas pergi kemanapun,” kata Duan Du dengan nada santai.
Seketika semua budak tersebut langsung berhamburan pergi.
Melihat semua budak sudah pergi, Duan Du dan Tu Long langsung menghilang juga.
***
Jauh di sebuah pusat istana bewarna hitam pekat di selimuti aura jahat bercampur kematian.
Kaisar Dewa Jahat kini mengerutkan keningnya karena baru kali ini ia meraskan para prajuritnya mati bersamaan, walau Kaisar Dewa Jahat tidak peduli akan ribuan kematian para prajuritnya, tapi karena mereka mati bersamaan. Hal itu membuat Kaisar Dewa Jahat harus menyelidikinya.
“Hong Ti,” kata Kaisar Dewa Jahat.
__ADS_1
Seketika muncul manusia berkepala anjing. “Saya di sini Yang Mulia,” kata Hong Ti dengan suara berat.
“Selidiki Kerajaan Xin, ada beberapa semut yang mati secara bersamaan, jika dugaanku tidak salah, mungkin ada orang kuat atau pengikut dari para Kaisar Dewa yang memancing peperangan,” kata Kaisar Dewa Jahat memberi perintah Hong Ti.
Hong Ti langsung mengangguk lalu menghilang dari sana.
***
Duan Du dan Tu Long kini duduk santai di balik pilar aura, mereka bukan duduk, melainkan melayang dengan posisi duduk.
“Kenapa lama sekali, apa perlu kita langsung membubarkan mereka agar cepat selesai?” Tanya Tu Long sedikit tidak sabar sambil melirik ke arah Raja Kerajaan Xin yang masih bicara tentang pajak yang akan mereka bayar kepada Kaisar Dewa Jahat.
Pajak tersebut berupa manusia yang masih muda dan belum menikah.
Duan Du terkekeh. “Benar juga, idemu cukup bagus,” kata Duan Du.
Wuss..!!
Seketika Aula Kerajaan Xin langsung berguncang hebat, hal itu membuat semua orang berlarian keluar menyelamatkan diri, sementara Lang Zai bersama para jendral melindungi Raja lalu membawanya keluar.
Saat ini Lang Zai merasa familiar, ia tahu ini bukan gempa bumi biasa, melainkan ulah seseorang, terlebih Lang Zai merasakan aura samar-samar.
“Huuff,, ini tidak mungkin bocah nakal itu, aku yakin bocah nakal itu tidak sekuat ini,” gumam Lang Zai menggelengkan kepalanya.
“Penasehat, apa yang akan kita lakukan? Aku yakin ini ulah Kaisar Dewa Jahat yang marah karena kita ketahuan ingin memberontak,” kata Raja Xin bersama salah satu Jendral.
Mendengar itu, Lang Zai terdiam sambil memikirkan beberapa rencana.
“Jangan takut, walau ketahuan, aku yakin kita mampu menghadapinya,” kata Lang Zai melirik ke Raja maupun orang di sekelilingnya kini menjadi ragu.
Lang Zai langsung berteriak. “Mana yang kalian pilih, anak dan keturunan kalian yang akan mati menjadi tumbal atau kita lebih baik berjuang sampai mati melawan kekejaman Kaisar Dewa Jahat yang menganggap kita sebagai hewan ternak.”
Seketika semua orang diam dengan wajah memerah, mereka bukan marah akibat ucapan Lang Zai, melainkan marah saat mengingat jika anak cucu mereka di bawa lalu di bunuh.
“Tentu saja kami akan berjuang sampai mati,” kata Raja Xin bangkit dari ketakutannya selama ini.
Tak lama semua orang ikut berteriak dengan semangat.
Lang Zai langsung tersenyum kecil. “Hanya tinggal menunggu Tuan muda maka rencana maupun tugasku telah selesai,” gumam Lang Zai.
Sementara Duan Du dan Tu Long kini melayang di atas mereka tanpa di sadari hanya terkekeh kecil.
“Paman Lang Zai sungguh hebat bisa mengendalikan kerajaan besar di alam Dewa dengan begitu cepat.” Kata Duan Du.
__ADS_1