
Bai An kembali menarik 4 anak panahnya sambil berlari ke kapal perang paling besar.
Wuss,,
Jlep..!
Jlep..!
Semua anak panah Bai An menancap di setiap tubuh para prajurit penguasa Liu Wang.
Seakan kurang puas. Bai An kini kembali melesat kemudian muncul di depan komandan yang berusaha melarikan diri.
Bai An dengan cepat menarik busurnya, anak panah Bai An langsung di aliri oleh elemen api dan elemen petir dengan sedikit energinya Bai An kemudian melepaskan anak panahnya.
Wuss,,
Jder..!
Bom..!
Ukhh..!
Melihat komandan tersebut masih hidup. Tapi terluka cukup marah. Bai An terlihat tersenyum kecut.
Jika ia bisa mengalirkan lebih banyak energinya ke anak panahnya. Bai An yakin komandan tersebut akan hancur menjadi bubur. Tapi karena ia masih pemula atau bisa di bilang teknik panah yang ia kuasai masih berada di tingkat dasar ia masih belum bisa mengalirkan lebih banyak tenaga dalam, jika ia memaksa. Maka, anak panahnya akan langsung hancur.
Bai An dengan cepat memuncul anak panah di tangannya kemudian menariknya busur yang di aliri elemen api dan petir.
Wuss..!
Komandan yang sedang terluka dan berusaha memulihkan diri kini hanya bisa tersenyum pahit melihat anak panah dengan tekanan cukup kuat melesat ke arahnya.
Dengan cepat ia mengalirkan seluruh energi dan memusatkan energinya kepada pedangnya untuk melawan anak panah tersebut.
“Aku tidak akan bisa mati semudah itu.”
Teriakan komandan itu cukup keras sambil mengayunkan pedangnya ke arah anak panah yang kini berada di depannya.
Haahh..!
Bom..!
Komandan tersebut terpental jauh menabrak dek kapal.
Baru saja ia bangkit. Sebuah anak panah lagi melesat ke arahnya.
Sialan..!
Bom..!
Tubuh komandan tersebut langsung hancur, bersamaan dengan meledaknya kapal yang membuat kapal perang tempat komandan tersebut kini mulai tenggelam secara perlahan.
Bai An tersenyum masam karena ia harus menggunakan 3 kali serangan anak panah untuk membunuh seorang komandan.
Tapi berbeda dengan para komandan dan prajurit yang kini sedang berusaha melawan para pengikut Fanghu. Tubuh mereka kini berkeringat dingin kemudian salah satu di antara mereka berbalik melarikan diri, di susul oleh yang lain.
Lari..!
Bai An kini kembali melesat.
“Xia'er apa kau yakin jika di dalam kapal besar itu ada seseorang yang sangat berharga bagi saudara Fanghu dan ia sedang di tahan?”
__ADS_1
Ini sudah ke 5 kalinya Bai An bertanya kepada Mu Xia'er.
“Jika kau tidak percaya maka jangan kesana.” dengus Mu Xia'er.
Bai An langsung tersenyum masam.
Wuss..!
Tap,, tap..!
“Disini tidak ada orang cukup kuat dan hanya ada beberapa komandan berada di dalam sedang menjaga seseorang? Apakah itu yang di maksud Xia'er.” Bai An langsung bergumam saat ia sampai.
Setelah menyebarkan kesadarannya, ia langsung masuk kedalam.
Wuss..!
Duar..!
Duar..!
“Siapa yang menyerang? keluar,” teriak komandan tersebut yang kini tidak tahu kondisi di luar. Jadi ia dengan arogan berkata seperti itu.
“Eeh,, maaf anak panah ku tadi meleset,” kata Bai An tersenyum licik.
Komandan tersebut langsung mendengus. “Seorang anak kecil ingusan berani sekali masuk dan menyerang tempat ini. Potong kedua tanganmu maka aku akan membiarkan mu pergi.”
Setelah selesai mengucapkan perkataannya dengan sombong. Komandan tersebut tiba tiba merakan hawa dingin di lehernya.
Saat ia memegang lehernya.
Buk..!
4 komandan yang berada di sampingnya langsung waspada.
“Siapa di sana? cepat keluar.”
Mereka tidak percaya jika Bai An yang membunuh teman mereka, jadi para komandan tersebut langsung berteriak.
Bai An kini matanya sangat dingin.
“Apa kalian mencari ku?”
Pertanyaan Bai An membuat keempat komandan tersebut melirik Bai An. Mereka langsung melihat pedang yang di penuhi oleh darah.
Bai An sengaja di membersihkan darah tersebut. Agar mereka tahu jika Bai An lah yang membunuhnya.
“Kau,, kau dasar anak kecil ingusan. Berani sekali kau membunuh temanku.” Teriak komandan tersebut menunjuk Bai An.
Wuss,,!
Buk..!
Tangan kanan komandan yang menunjuk Bai An langsung terjatuh.
“Aku paling benci orang memanggil ku anak kecil.”
Bai An langsung menghilang.
Akhh..!
Akhh..!
__ADS_1
Teriakan menggema menyedihkan langsung menggema di ruangan tersebut.
Bai An menyiksa mereka berempat dengan sadis. Tubuh mereka kini terlihat berceceran dimana mana.
Ada yang kedua tangannya terpotong, ada yang kedua kakinya terpotong. Ada juga yang secara bersamaan kedua tangan dan kakinya di potong Bai An.
Mereka kini menjerit kesakitan dengan raut wajah ketakutan saat melihat Bai An yang kini terlihat seperti Dewa kematian.
“Ampun, bunuh aku. Aku mohon,” jerit salah komandan tersebut.
Bai An tersenyum dingin. “Kau tunggu dulu di sini, jangan kemana mana.”
Tanpa menunggu jawaban mereka. Bai An berjalan ke arah pintu terlihat begitu kokoh dan sulit di hancurkan oleh kekuatan Dewa Berlian Puncak sekalipun.
Bai An tersenyum, ia kini sedang memegang kunci yang ia dapat dari salah satu komandan tersebut.
Bai An memasukkan kunci tersebut.
Cklek..!
Saat pintu tersebut terbuka, aura yang cukup kuat langsung menerpa wajahnya.
Bai An cukup heran saat ia tadi belum membuka pintu, ia tidak dapat merasakan aura apapun di dalam. Tapi saat pintu terbuka ia merasa sedikit merinding merasakan aura tersebut.
Saat masuk. Bai An langsung kaget melihat seorang perempuan dewasa di rantai dan terluka cukup parah. Bai An dapat menduga jika luka tersebut di dapat dari siksaan.
“Wanita ini sangat kuat jika ia tidak terluka. Tapi siapa dia?” gumam Bai An bertanya tanya.
Wanita itu membuka matanya saat merasakan ada orang yang masuk. Dengan tatapan dingin wanita itu menatap Bai An dengan kebencian yang tidak bisa di lupakan.
Bai An langsung mengerutkan keningnya saat melihat wanita itu membenci dirinya.
“Siapa wanita ini Xia'er? Aku mohon jawab kali ini saja.”
Mendengar pertanyaan Bai An. Mu Xia'er hanya mendengus kecil.
“Dia adalah adik Fanghu sekaligus istri Yu Fan yang mereka kira telah mati sekian lama. Tapi Pemimpin kelompok Teratai Hitam menangkapnya jutaan tahun lalu dan menyerahkannya kepada Liu Wang. Karena menduga wanita ini pasti berguna suatu saat nanti untuk mereka.”
Bai An langsung memancarkan niat membunuh yang sangat kuat saat mendengar itu. Ia langsung tahu jika wanita ini akan di jadikan umpan agar dapat memubunuh Fanghu. Tentu saja Bai An marah, karena Fanghu kini menjadi saudaranya.
“Siapa kau?”
Mendengar suara yang sangat dingin keluar mulut wanita tersebut.
Bai An seketika tersadar.
“Kau tenanglah Nyonya. Aku kesini untuk membebaskan dan membawamu keluar dari sini. Karena kau akan di jadikan umpan oleh para baj*ngan itu agar dapat membunuh saudara angkat ku yang mana itu adalah kakakmu He Shang.”
Wanita itu langsung tertegun, ia awalnya tidak akan percaya apapun yang di ucapkan oleh siapapun yang datang kesini.
Tapi saat mendengar nama He Shang, yang mana tidak ada yang mengetahui nama kakaknya selain mereka bertiga yaitu dirinya dan suaminya Yu Fan. Ia kini tahu jika pemuda di depannya tidak mungkin berbohong.
Wanita itu dengan tegas mengangguk.
Bai An langsung mengayunkan tangannya asal. Sebenarnya ia tidak bisa menghancurkan rantai tersebut, dan Mu Xia'er menyuruhnya berpura pura mengayunkan tangan agar wanita itu tidak terlalu curiga saat Mu Xia'er menghancurkan rantai tersebut.
Crak..!
Blarr..!
Wanita tersebut langsung tertegun.
__ADS_1