
Wuss,,
Bom,,
Tubuh ketua anggota teratai hitam langsung terlempar dan menabrak beberapa pohon.
“Kau jangan perlihatkan wajah sombong mu di hadapan ku,” kata Bai An melangkah maju menuju tempat ketua tersebut yang kini sedang meringis kesakitan.
Wajahnya tetap angkuh dan menatap tajam Bai An dengan tatapan merendahkan, hal tersebutlah yang membuat Bai An jengkel tadi, Bai An kemudian memukulnya lagi.
Bam,,
Bam,,
Entah mengapa Bai An sangat marah melihat wajah merendahkan dari ketua tersebut.
Bai An kini menarik kerah bajunya dan berkata, “Apa kau masih angkuh dan sombong?” tanya Bai An dengan suara dingin.
“Ha,, ha,,”
“Ha,, ha,, ha,,”
“Kalian mencari musuh yang salah, kalian menunggu ajal kalian tiba,” ucap ketua tersebut lalu tiba-tiba ia menggigit lidahnya sendiri, tak lama keluar busa dari mulutnya dan mati.
Bai An yang melihat tersebut langsung menghela nafas, kemudian melirik yang lain kini sedang menunggunya.
“Kita cari markas mereka, ayo,” kata Bai An melesat ke arah aura kegelapan yang pekat Bai An rasakan.
Wuss,,
Bai An bersama yang lainnya kini melihat sebuah benteng yang terlihat sangat kokoh berada di depannya.
Bai An juga merasakan ada beberapa yang setara dengan Leng Cung berada di dalam.
Tiba-tiba dua orang datang melesat menghampiri Bai An yang berdiri di depan gerbang.
“Siapa kalian? ini bukan taman permain, pergilah atau kalian akan menyesal seumur hidup,”
Baru saja salah satu dari mereka selesai bicara, Bai An sudah mengayunkan tangannya membentuk sebuah panah transparan dari energinya dan melesat ke arah leher yang bicara.
Jlep,,
Penjaga yang gerbang tersebut memegang lehernya sebelum mati.
Penjaga yang satunya langsung melotot dan langsung melesat melarikan diri untuk memberitahukan ada kelompok yang menyerang mereka.
Bai An membiarkan saja dan langsung mengayunkan tangannya.
“Tapak Api Surgawi,” gumam Bai An, lalu muncul api di sertai energi berbentuk tinju lalu melesat ke arah pintu yang terlihat sangat kokoh.
Duar,,
Setelah pintu gerbang hancur.
“Siapa yang berani menyerang kelompok teratai hitam, cari mati.” ucap seorang komandan dengan lambang 2½ kelopak teratai yang mekar.
Karena tak ingin terlalu berlama-lama Bai An langsung maju.
__ADS_1
“Tebasan Ashura,” gumam Bai An langsung mengayunkan pedangnya saat orang yang bicara tadi baru muncul.
Wuss,,
Komandan tersebut langsung terkejut dan berusaha mengeluarkan pedangnya lalu menangkis sebisa mungkin.
Bom,,
Komandan tersebut langsung terpental dengan luka tebasan di dada.
Bai An lalu muncul di samping komandan tersebut lalu mengayunkan pedangnya di sertai energi yang cukup untuk membunuhnya.
“Aku adalah malaikat pencabut nyawa mu,” ucap Bai An.
Slaass,,
Mata komandan tersebut melotot dengan kepala menggelinding, ia seperti tidak percaya mati secepat ini.
Tak lama terdengar suara ledakan.
Duar,,
Bom,,
Bai An melirik jika Lang Zai, Pixiu dan Bai Luan langsung membantai kelompok anggota teratai hitam.
Bai An langsung melesat ke dalam, karena ia merasakan orang yang setara dengan Leng Cung berada di dalam.
Wuss,,
Saat ingin membuka pintu, Bai An langsung di hadang oleh dua orang komandan teratai hitam.
Komandan yang menghadang Bai An cukup terkejut melihat kecepatan Bai An yang hanya setingkat True God Puncak, untung ia merasa sudah siap dengan segala situasi dengan cepat komandan tersebut mengeluarkan sebuah kapak yang agak panjang dan sedikit mirip pedang, entah apapun itu, Bai An tak mau tahu.
“Mati,” teriak komandan tersebut ikut mengayunkan kedua kapaknya ke arah Bai An.
Duar,,
Bai An yang melihat komandan tersebut terpental ke arah pintu hingga hancur tak berhenti di situ saja, ia langsung mengejar. Tapi, komandan yang satunya menghalangi.
“Apa kau menganggap ku tidak ada bocah?” dengus komandan tersebut lalu melesatkan tombaknya dengan ujung nya mirip seperti pedang.
Trank,,
Bai An langsung menangkis tombak yang mengarah kepadanya, lalu mundur beberapa langkah dengan dengusan kecil.
Bai An langsung berlari ke arah komandan yang memegang tombak tersebut, namun sebuah kapak tiba-tiba melayang ke arahnya dengan cepat Bai An menangkis pedang tersebut menggunakan pedangnya.
Trank,,
Langkah Bai An sedikit goyah.
Hal tersebut di manfaatkan oleh komandan yang menggunakan tombak untuk menyerang Bai An.
“Tombak Halilintar,”
Teriak komandan tersebut yang mengeluarkan elemen petir bewarna putih yang di ayunkan ke arah Bai An.
__ADS_1
Bai An yang melihat petir di ujung tombak tersebut langsung bergumam, “Orang ini menguasai elemen petir,”
Bai An langsung mengayunkan pedangnya.
“Tebasan Api Surgawi,”
Bersamaan dengan teriakan Bai An, elemen api Bai An yang berwarna merah langsung keluar dari pedangnya.
Duar,,
Saat pedang bertemu tombak dan api bertemu petir membuat daya ledak yang cukup besar.
Bai An langsung mundur, “Aku menyesal tidak mempelajari Elemen Api, elemen api ku masih berada di tingkat satu dan masih di anggap dasar, dapat terlihat dari warnanya,” gumam Bai An.
“Oh lumayan juga kau mengusai elemen api tingkat dasar,” kata komandan yang memegang tombak, karena sangat jarang seseorang yang bisa menguasai elemen api dan di dunia ini sangat jarang sekali orang menguasai ilmu Alchemy. Kerena orang yang menguasai elemen api itu ibarat 1 per 1000.
“Jika kau bersujud minta maaf, maka Jendral kami akan memaafkan mu,” ujar komandan yang memegang kapak angkuh.
Bai An yang mendengar itu langsung tersenyum sinis, “Melawan anak kecil seperti ku saja kalian keroyokan, apa kalian tidak tahu malu,” kata Bai An tertawa mengejek.
Namun provokasi Bai An seperti tidak berguna untuk kedua komandan tersebut.
Karena merasa tidak ada gunanya, Bai An langsung serius dan mengambil ancang-ancang siap menyerang.
Melihat Bai An yang serius, kedua komandan saling memandang lalu mengangguk.
Komandan yang memegang kapak berada di depan dan komandan yang memegang tombak di belakang, Bai An yang melihat itu seperti sebuah formasi menyerang dan bertahan langsung tanpa pikir panjang melesat menyerangnya.
“Tebasan Ashura,” gumam Bai An di sertai energi yang lumayan besar langsung melesat ke arah kedua komandan tersebut.
Komandan yang memegang tombak langsung memutar mutar tombaknya, lalu tercipta sebuah pusaran yang menghisap apa saja yang ada di sekitarnya dan komandan yang memegang kapak langsung memasang sebuah rantai di ujung tumpuan kapaknya.
Komandan yang memegang kapak tersebut langsung mengayunkan salah satu kapaknya.
Bai An yang menyerang tadi iti sebenarnya hanya pengalihan agar ia melihat bagaimana formasi serangan mereka, dan kini ia tahu bagaimana mereka menyerang dan bertahan.
Bai An langsung merobek ruang dan mengayunkan pedangnya di celah yang ia robek.
Wuss,,
Muncul energi berbentuk pedang dari celah yang tiba-tiba muncul di depan kedua komandan tersebut.
“Sialan,” teriak kedua komandan bersamaan dan berusaha menghindar.
“Formasi,” teriak komandan yang memegang tombak, lalu komandan yang memegang kapak tiba-tiba melepas kapaknya dan membuat gerakan susunan formasi pertahanan.
Bai An yang melihat itu agak bingung siapa yang bertahan dan siapa yang menyerang sebenarnya.
Tapi, ia tidak mau tahu dan melesat menyerang kedua komandan yang sedang fokus.
“Tebasan Ashura,” gumam Bai An kini menciptakan pedang yang lebih besar dari energinya, lalu mengayunkannya ke arah kedua komandan tersebut.
Wuss,,
Saat sedang fokus melihat serangan Bai An yang tiba-tiba muncul dan cukup cepat, ia tidak sadar Bai An menyerang mereka lagi.
Tiba-tiba, energi yang cukup besar mengarah kepada mereka.
__ADS_1
Saat melihat itu, wajah mereka langsung pucat.