
“Baik Tuan muda,” jawab semua bawahan Bai An.
Setelah itu, semua bawahan Bai An pamit pergi satu persatu hingga terahir Jing Ling.
Kini Jing Ling mulai menundukkan kepalanya di depan Bai An.
Bai An yang melihat itu langsung tersenyum, tangan Bai An langsung menyentuh rambut Jing Ling.
“Ada apa saudari Jing? Kenapa kau malu seperti ini, biasanya kau tidak pernah malu.” Tanya Bai An.
“Hmm..!! I.. Itu, Tuan muda kau berhati-hatilah aku juga tidak ingin kau terluka,” kata Jing Ling dengan wajah mulai memerah.
Bai An yang masih tersenyum langsunh menjawab. “Kau tenangalah, saat aku kembali nanti kamu bisa melihatku dalam keadaan sehat dan utuh, kau juga harus pulang dalam keadaan selamat dan utuh.”
Bai An kembali mengusap rambut Jing Ling.
Wajah Jing kini semakin memerah. “Te.. Terimakasih Tuan muda, aku pergi dulu. Permisi,” kata Jing Ling langsung melesat pergi karena tak tahan jika ia terus di sana itu akan membuat ia akan terlena oleh sentuhan Bai An.
Bai An langsung menghela nafas panjang saat melihat Jing Ling pergi.
“Ehem..!! An Gege, kenapa kau semakin membuat wanita itu semakin berharap, apa kau tidak tahu jika hati wanita itu sangat rapuh? Apalagi saat jatuh cinta. Jadi, jika kau selalu menggantungnya seperti itu, aku akan marah lo.”
Bai An langsung melompat ke depan saat mendengar suara sedikit dingin dari orang yang ia tunggu-tunggu selama ini.
“Xi.. Xia'er, kapan kau datang,” kata Bai An kini sedikit gagap dan takut jika Mu Xia'er akan marah kepadanya dan mengira jika Bai An di kira mengingkari janjinya dulu.
Tapi Mu Xia'er sama sekali tidak marah, ia marah lantaran Bai An menanggapi seorang wanita seperti memberikan harapan palsu. Mu Xia'er juga tidak marah jika Bai An memiliki wanita lebih dari satu, asal itu wanita yang benar menurut Mu Xia'er seperti Jing Ling, Mu Xia'er melihat Jing Ling baik dan tulus terhadap Bai An, walaupun Jing Ling tidak berani mengungkapkan perasaannya, itu adalah hal yang wajar karena yang seharusnya adalah seorang laki-laki harus memulai lebih dulu dalam mengungkapkan isi hati, baru setelah itu wanita.
“Aku datang sebenarnya sudah cukup lama, tapi aku tak ingin mengganggu An Gegr dan juga jangan bertanya balik, cepat jawab pertanyaanku yang tadi,” kata Mu Xia'er kini mulai melipat kedua tangannya di bawah dadanya.
“I.. Itu, huuff, itu karena aku tak ingin mengecewakanmu dan tak ingin kau mengira aku mengingkari janjiku yang dulu, kau tahu bukan sumpah ku dulu? Jika aku melanggarnya maka aku akan langsung di sambar petir,” kata Bai An dengan jujur.
__ADS_1
Mu Xia'er langsung tersenyum. “Sebenarnya aku tak mempermasalahkan jika kau mempunyai banyak wanita, itu adalah hak mu, aku tidak boleh melarangmu karena aku sebagai istri hanya ingin bahagia dan tentunya ingin melihatmu bahagia juga.” Gumam Mu Xia'er dalam.
“Terimakasih Gege,” kata Mu Xia'er tersenyum lalu berjalan ke arah Bai An.
Buk..!!
Mu Xia'er langsung memeluk Bai An dan Bai An juga ikut memeluk Mu Xia'er dengan wajah sama-sama bahagia.
Sementara Tu Long kini entah pergi kemana, tadi sebenarnya ia ada di sana dan lebih dulu bertemu Mu Xia'er. Tapi Jing Ling dan Bai An tidak tahu jika Tu Long sempat bicara dengan Jing Ling.
Cukup lama mereka berpelukan hingga Mu Xia'er lebih dulu melepas pelukan dan berkata. “Yang lain telah menunggu di Dunia Jiwa, aku sengaja menjemput An Gege terahir, dan juga apakah Dewa Es akan ikut bersamamu An Gege?” Kata Mu Xia'er memberitahu jika para saudara Bai An telah menunggu dan bertanya sambil melirik ke arah Zin Ho.
Zin Ho langsung keluar dan menunduk hormat. “Nona memang dari dulu selalu mengetahui dimanapun aku sembunyi, dan juga Nona di juluki Dewi Cahaya memang mengerikan,” kata Zin Ho sedikit merinding.
Pasalnya, walaupun Mu Xia'er di segel dan kini setengah kekuatannya telah kembali, Mu Xia'er masih jauh lebih kuat darinya walau hanya setengah kekuatan Mu Xia'er, perbedaannya berbanding ia hanya danau kecil dan Mu Xia'er lautan tak terbatas.
Mendengar itu Mu Xia'er tersenyum. “Kau adalah pengikut ibu mertuaku yang paling lama mengikutinya, kemampuan bersembunyimu tetap saja mengerikan, bahkan tambah mengerikan, walaupun Dewa Kegelapan sekalipun di depanmu, jika kau bersembunyi, aku yakin ia tak akan mengetahui keberadaanmu,” kata Mu Xia'er tersenyum dan menyanjung Zin Ho.
Sementara Bai An kini mulai bergelut dengan pikirannya. Saat ia mendengar Zin Ho bicara tadi, berarti istrinya ini jauh lebih kuat dari Zin Ho. Jadi seberapa kuat istrinya ini?
Itulah yang Bai An pikirkan saat ini.
“An Gege, ayo kita ke Dunia Jiwa, Tu Long juga telah berada di sana,” ajak Mu Xia'er.
Dengan semangat Bai An mengangguk dan mencoba mengayunkan tangannya untuk merobek Dunia Jiwa.
Srekk..!!
Suara robekan terdengar nyaring dan muncul lubang hitam.
“Ayo,” ajak Bai An dengan semangat sambil memegang tangan Mu Xia'er.
__ADS_1
Mereka bertigapun masuk.
Wuss..!!
Saat Bai An muncul di depan Benteng yang ia bangun dulu dan melihat semua prajurit Monster yang dulu Lang Zai ambil. Ia tercengang, karena kekuatan setiap monster prajurit tersebut semua sama.
Yaitu tahap Kesatria Dewa ⭐ 1 Awal. “Sungguh mengerikan, mereka semua yang dulu lemah kini rata-rata mereka setingkat komandan jika di dunia setengah dewa dan jika di Heavenly Chaos, salah satu dari mereka saja sudah bisa menguasai dunia tersebut,” gumam Bai An kagum sambil melirik Jing Ling, entah bagaimana cara Jing Ling melatih mereka, tapi yang pasti itu sangat keras dan bisa membuat mereka menderita.
Tap tap..!!
Saat Bai An melangkah dan sampai di depan pintu, ia kini melihat Tu We monster berkepala kadal kini telah menjadi pemuda yang tampan. Bai An mengetahuinya dari auranya masih sama tapi kini lebih kuat. Bai An juga tersenyum melihat kekuatan Tu We yang kini berada di tingkat Raj Dewa Berlian ⭐ 1 Puncak.
“Bagaimana kabarmu Tu We,” sapa Bai An.
“Sangat baik Tuan,” kata Tu We menunduk hormat dan sangat tegas.
Bai An kagum melihat sifat Tu We sedikit lebih tegas.
“Bawa aku masuk,” kata Bai An memberi perintah.
Tu We langsung masuk membawa Bai An, Mu Xia'er dan Zin Ho.
Tap tap..!!
Saat Bai An dan yang lain masuk, Bai An melihat semua saudaranya kini sedang mengobrol dan tepat saat itu juga semua saudara Bai An melirik ke arah dimana Bai An.
Semua saudara Bai An, Long Yuan, Lang Zai, Pixiu, Yu Fan, Fanghu dan Tu Long langsung berdiri dengan wajah bahagia bercampur hari.
“Tuan muda,” teriak semua saudara Bai An menyapa dengan perasaan bercampur aduk.
''
__ADS_1