
“Sial jika begini, aku harus mencari mereka,” gumam Gi Lian kemudian menghilang.
Setelah kehilangan Gi Lian, keributan kembali terjadi di Restaurant Mawar, mereka semua saling berbisik.
Tak dapat 5 menit semua informasi tentang pemilik Restaurant Mawar yang turun tangan di Restaurantnya langsung membuat gaduh seisi kota, bahkan para ahli Dewa Abadi sampai berkumpul di klan mereka masing-masing tentang apa yang menyebabkan Gi Lian Sang Dewi Mawar muncul.
Klan Sa.
“Apakah Dewa Mawar muncul karena ingin menghabisi klan kita Patriark?” Tanya salah satu tetua yang memiliki kekuatan setara dengan patriark klan Sa.
“Itu tidak mungkin, karena saat ini Klan Gi sedang di tekan oleh 3 Klan Besar,” jawab patriark dengan memikirkan apa yang membuat Gi Lian muncul.
“Tapi bisa saja mereka sengaja menghancurkan kita agar bisa membuat 3 Klan Besar berpikir ulang untuk menekan klan Gi,” kata tetua pertua.
“Apa yang di pikirkan tetua pertama itu ada benarnya juga,” kata tetua yang memiliki kekuatan setara dengan patriark klan Sa. Ia adalah tetua agung klan Sa.
“Apa yang di katakan tetua Agung dan tetua pertama ada benarnya, lebih baik kau membuat keputusan untuk memberitahu semua anggota klan untuk bersiap-siap terlebih dahulu.”
Salah satu Leluhur Klan Sa muncul memberikan mereka masukan.
“Salam Leluhur,” sapa semua orang yang berada di ruangan tersebut.
Leluhur Klan Sa mengangkat tangannya.
“Lebih baik kau suruh putra ketigamu pulang dan jangan membuat masalah terlebih dahulu sebelum situasi aman, aku dengar ia sedang bersitegang dengan Sekte Iblis Sesat,” kata Leluhur Klan Sa.
“Dia lagi,” kata patriark klan Sa menggeram marah melihat kelakuan putra ketiganya.
Patriark klan Sa melirik tetua ke 3 lalu berkata. “Tetua, aku minta bantuan seret Sa Bun pulang bila perlu lumpuhkan dia jika dia keras kepala.”
“Baik patriark,” kata Tetua ke 3, lalu melirik Leluhur Klan Sa. “Saya izin pamit Leluhur,” kata Tetua ke 3, setelah Leluhur Klan Sa mengangguk. Tetua ke 3 langsung melesat pergi.
Tak menunggu lama seorang tetua luar datang.
Brak..!!
__ADS_1
Pintu langsung di banting, hal itu membuat Patriark klan Sa dan beberapa tetua marah besar.
“Apakah kau tidak lihat jika kami sedang rapat, terlebih kau masuk dengan tidak sopan,” teriak Patriark Klan Sa.
Hanya Leluhur Klan Sa yang tenang di antara semua orang yang ada di ruangan tersebut.
“Kau tenanglah, mungkin dia ada informasi yang cukup penting,” kata Leluhur Klan Sa.
Semua orang langsung patuh.
Sementara tetua luar yang tadi masuk dengan tergesa-gesa kini berkeringat dingin.
Ia langsung berteriak. “Leluhur, patriark dan semua tetua, ada masalah besar.” Setelah itu tetua luar diam mengambil nafas beberapa saat.
Tapi Patriark Klan Sa langsung berteriak. “Jika bicara jangan setengah-tengah, apakah kau ingin mati hah.”
“I.. Itu aku mendapat kabar jika ada dua orang berjubah hitam menyeret Tuan muda ke tiga ke pintu gerbang klan Sa, mereka berdua meminta uang kompensasi karena Tuan muda ke 3 telah menyinggungnya, jika kita tidak memberikan kompensasi yang memuaskan maka Tuan muda ke 3 dan klan kita akan di hancurkan,” kata tetua luar tersebut kini mulai keakutan.
“Kurang ajar, berani sekali mereka berbuat seenaknya di klan ku, terlebih mengancam klan Sa,” teriak Patriark klan Sa lalu melesat ke arah tetua luar.
Crak..!!
Kini patriark klan Sa melirik ke arah Leluhur Klan Sa.
“Apakah ada yang ingin Leluhur katakan?” Tanya Patriark Sa dengan sopan dan hati-hati.
“Hmm,, jangan biarkan mereka merendahkan klan Sa kita, bunuh orang yang mengacau dan merendahkan klan Sa kita,” kata Leluhur Klan Sa kemudian menghilang.
****
Sekte Iblis Sesat.
“Haha,, aku tak tahu apa yang membuat Dewi Bunga muncul, tapi ini kesempatan kita untuk menekan Klan Sa karena kematian Sang Kematian berarti kekuatan Klan Sa dengan Sekte Iblis Sesat kini setara,” kata Master Sekte tertawa bahagia.
“Hmm..!! Aku dengar satu jam yang lalu, Tuan muda ke 3 klan Sa, yaitu Sa Bun sedang mencari masalah dengan sekte kita, lebih baik kirim beberapa orang untuk membunuhnya atau kita menangkapnya untuk rencana awal,” kata Penetua Agung Sekte Iblis Sesat tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Master Sekte dan beberapa penetua ikut setuju dengan pendapat Penetua Agung.
“Baiklah Penetua ke 2 dan ke 3 langsung pergi bunuh Tuan muda ke 3 mereka, aku yakin jika klan Sa pasti mengirim tetua mereka untuk menjaga Sa Bun, jadi untuk mengantisipasi lebih baik kalian berdua langsung pergi,” kekeh Master Sekte.
Penetua ke 2 dan ke 3 langsung mengangguk lalu menghilang dari tempatnya.
Setelah itu Master Sekte langsung bicara. “Aku mendapat beberapa informasi jika ada beberapa orang berjubah sedang mencari masalah dengan kita, kau cari tahu kebenarannya, jangan sampai bertindak gegabah.” Setelah mengatakan itu, Leluhur Klan Sa langsung menghilang dari tempatnya.
***
Sementara jauh dari Kota Chu, tepatnya Kota yang bersebelahan dengan kota Chu yaitu Kota Li, disana berkumpul 3 patriark klan besar.
“Hmm,, Patriark Mu, apakah kau tahu mengapa Dewi Mawar muncul di Restaurantnya?” Tanya Patriark Qin.
“Bukankah itu hal yang biasa, karena dia yang memiliki Restaurant tersebut. Jadi wajar saja Dewi Mawar muncul,” dengus patriark Du, ia kesal dengan patriark Qin, ternyata dia di suruh berkumpul karena masalah sepele seperti ini.
“Hmm,, tenang dulu patriark Du, aku merasa ada yang tidak beres dengan Dewi Mawar, mungkin pemikiranku sama dengan patriark Qin,” kata patriark Mu mencoba menenangkan patriark Du, lalu ia menambahkan. “Apakah wajar jika seorang Dewi Mawar turun tangan menghentikan keributan yang di lakukan para tikus-tikus kecil? Sangat tidak wajar bukan?”
Patriark Qin langsung mengangguk. “Itulah yang ada di dalam pikiranku selama ini, mungkin saja ada sesuatu yang di sembunyikan dari beberapa informasi yang tersebar,” kata patriark Qin mendengus ke arah patriark Mu.
“Heng..!! Kalian ini, begitu saja harus repot, walaupun Dewi Bunga meminta bantuan itu tak akan menjadi masalah, leluhur kita masing-masing bisa mengalahkan mereka,” dengus patriark Du kemudian berdiri dengan sombong dan menghilang.
Patriark Qin dan patriark Mu hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
“Hmm..!! Lebih baik kita agresif dalam menekan klan Gi sebelum mereka mendapatkan bantuan yang bisa membuat kita kerepotan,” kata patriark Mu.
Patriark Qin mengangguk setuju. Mereka berdua langsung bangkit kemudian menghilang dari tempat mereka berkumpul.
...********...
Kembali ke Kota Chu, kini Bai An dan Pixiu sedang duduk di kedai kecil menggunakan jubah bewarna biru muda, untuk Pixiu menggunakan jubah Merah Darah.
“Hmm..!! Kekacauan di Kota Chu telah di mulai,” gumam Bai An menyeringai jahat.
“Hmm,, saudara Long Yuan dan Lang Zai cukup pintar membuat kegaduhan, apalagi saat di Restaurant tadi. Keributan semakin besar saat munculnya wanita tadi,” kata Pixiu meneguk araknya.
__ADS_1
“Oh ya Tuan muda, yang mana kita datangi telebih dahulu, tempat Saudara Lang Zai dan Tu Long, atau Long Yuan dan para saudara yang lainnya?” Tanya Pixiu sambil melirik ke arah Bai An.
“Kita ke klan Sa terlebih dahulu, tapi hati-hati dalam bergerak, karena wanita itu akan mencium keberadaan kita nanti,” kata Bai An, lalu bergumam. “Wanita itu cukup merepotkan, kenapa sifat semua wanita yang ku kenal agak mirip semua?”