Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Dimensi Kecil Milik Bai Luan


__ADS_3

“Hmm,, mungkin Tuan muda mencari kita kesana karena berpikir kita masih ada di sana,” kata Yu Fan berasumsi.


“Itu benar juga, aku jadi ingin bertemu Tuan Lang Zai,” kata Son Teng.


“Ayo kita kesana saja,” ajak Sin Ting dengan bersemangat.


Fanghu yang mendengar pembicaraan mereka semua langsung berkata.


“Untuk saat ini aku mendapat jawaban dari Tuan muda jika ia dan para saudara akan meningkatkan kekuatan selama beberapa tahun baru Tuan muda dan para saudara akan keluar lalu ke kota Chen ini.”


Mendengar itu Yu Fan, Sin Ting dan Son Teng langsung menghela nafas kecewa.


Tapi mereka kembali bersemangat. “Jika begitu kita akan membunuh lebih banyak target untuk mendapatkan uang agar kita bisa membeli banyak sumberdaya, untuk meningkatkan kekuatan.” Kata Sin Ting.


Semua orang mengangguk.


...___________...


Sementara di kota Li.


Bai An dan para saudaranya kini sedang duduk bersama di sebuah rumah yang cukup besar dan mewah.


“Kakak, apakah ini rumahmu?” Tanya Bai An basa basi.


“Benar, aku dulu membeli rumah ini untuk membuat markas saja, saat ini kakak punya 1 bawahan saja yang mengikuti kakak dari kecil.” Jawab Bai En.


Bai An mengerutkan keningnya.


“Dimana dia? Terus saat kakak bertarung melawan kami kenapa dia tidak keluar?” Tanya Bai An.


“Hehe,, itu karena paman Tu sangat sulit mau turun tangan, apalagi yang aku lawan tingkat kekuatannya di bawahku,” kata Bai En tersenyum canggung. Lalu menambahkan. “Saat ini dia mungkin sedang keluar minum-minum, dia memang sulit di kendalikan karena setiap dia ingin melatihku, aku selalu melarikan diri.”


“Siapa yang sulit di kendalikan? Bukannya itu kamu Pangeran ke 3,” dengus pria tua sedikit cebol dan perutnya buncit.


Bai An yang melihat itu mengerutkan keningnya, karena ia tak bisa merasakan tingkat kekuatan pria tua ini.


Apalagi Bai An juga tidak bisa merasakan kehadirannya, padahal ia dari tadi selalu waspada.


Begitu juga dengan Lang Zai, dan Pixiu.


Sementara Bai En langsung terkekeh.


“Itu karena kau selalu marah-marah saat melatihku, terlebih lagi latihan yang kau terapkan itu bukanlah latihan, tapi kau mau menyiksa aku,” kata Bai En.


Pria tua yang bernama Tu Kul itu langsung mendengus. Lalu pandangannya beralih ke arah Bai An yang masih mengenakan tudung.


Setelah ia melihat dengan teliti, Tu Kul cukup terkejut, ia langsung membungkuk.

__ADS_1


“Maaf terlambat memberi hormat kepada Tuan muda ke 5,” kata Tu Kul.


Bai An melambaikan tangannya. “Tak usah terlalu formal paman Tu,” kata Bai An sambil tersenyum hangat.


Setelah itu Bai An membuka tudungnya yang langsung membuat Tu Kul terpana.


Bai An dan Bai En sangatlah mirip dan terlihat kembar, cuman perbedaan adalah segi usia.


Gi Lian yang melihat itu tak kalah terkejut.


“Eh..!! Apakah An Gege kembar?” Gumam Gi Lian.


“Apakah nama Tuan muda ke 5 adalah Bai An?” Tanya Tu Kul kini kembali sadar.


“Hmm..!! benar paman Tu,” jawab Bai An.


Tu Kul langsung serius dan berkata. “Apa saja yang Zin Ho itu perbuat? Apkah Tuan muda terluka oleh pengkhianat itu?”


Bai An menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja.”


“Aku akan membunuhnya jika Tuan muda terluka walau hanya tergores,” aura membunuh langsung keluar dari tubuh Tu Kul.


“Tidak usah, biarkan aku saja yang memhunuhnya bersama kakak, kakak juga mulai saat ini harus berlatih dengan giat agar ia bisa menang melawanku nanti saat latih tanding,” kata Bai An sambil terkekeh mengejek Bai En.


Bai En langsung cemberut.


Tapi di samping itu Bai En tahu ini adalah dorongan dari adiknya, agar ia berlatih lebih giat lagi.


Sedangkan Tu Kul tertawa terbahak-bahak saat mengetahui Bai En kalah dari Bai An.


Cukup lama mereka berbincang-bincang.


Setelah itu Tu Kul langsung membawa semua orang ke dimensi kecil tempat ia biasa melatih Bai En dulu.


Bai An, Bai En, Tu Kul, Lang Zai, Pixiu dan Gi Lian kini telah sampai di sebuah celah.


Celah tersebut ada di sebuah pohon tersembunyi.


Tu Kul menyembunyikannya karena ia takut akan ada orang yang masuk nanti.


Tu Kul tampa menunggu waktu lama langsung mengayunkan tangannya untuk membuka penghalang yang ia buat.


“Ayo masuk,” ajak Tu Kul.


Bai En lebih dulu masuk, lalu di susul Bai An dan para saudaranya.


Wuss..!!

__ADS_1


Tap tap..!!


Saat Ba An masuk, ia merasakan udara di sini jauh lebih sejuk dan energi dewa di sini jauh lebih padat.


“Hmm..!! Dimensi ini mempunyai banyak energi dewa yang melimpah, siapa yang membuat dimensi ini?” Tanya Bai An ke arah Tu Kul.


“Dimensi kecil ini di buat oleh Kakek dari ayah Tuan muda,” jawab Tu Kul.


“Eh..!! Apakah ini buatan Kakek Luan?” Tanya Bai An cukup terkejut.


“Benar, dulu ia membuat cukup banyak dimensi kecil, tapi hanya beberapa saja yang masih bertahan dan di sembunyikan. Sisanya di ambil paksa oleh musuh dan di hancurkan.” Jawab Tu Kul.


Bai An yang mendengar itu langsung kagum oleh kakeknya Bai Luan.


Dulu sewaktu Bai Luan hilang ingatan dan berpura-pura masih hilang ingatan Bai An selalu memanggil kakeknya dengan sebutan Luan'er.


Memikirkan itu, Bai An tersenyum canggung tapi juga kesal karena Bai Luan masih menyembunyikan identitasnya saat ingatannya kembali.


Sementara Lang Zai dan Pixiu kini bersemangat karena menyadari energi dewa di sini sangat padat, jika mereka berdua berkultivasi, maka kekuatan mereka pasti meningkat pesat.


Untuk Gi Lian ia masih melihat-lihat, setelah cukup lama melihat, Gi Lian langsung menatap Bai An.


“An Gege, apakah di dimensi ini waktunya lebih lambat dari dunia kita? Karena aku merasakan waktu di sini lebih lambat.” Tanya Gi Lian.


Bukan Bai An yang menjawab, melainkan Tu Kul.


“Apa yang kau ucapkan itu tepat sekali, waktu di sini dan waktu di dunia mu waktunya cukup jauh berbeda. Perbedaan waktunya 1 tahun di luar sana maka di demensi ini 5 tahun. Jadi ini cukup baik untuk kalian semua berkultivasi.” Kata Tu Kul.


Bai An, Lang Zai, Pixiu dan Gi Lian mengangguk, sementara Bai En yang sudah tahu itu dari awal biasa-biasa saja.


“Baiklah kalian bisa mencari lokasi Energi Dewa yang melimpah di dimensi ini untuk kalian serap, sementara aku akan berjaga di sini.” Kata Tu Kul memberitahukan mereka semua jika pergi berkultivasi sekarang agar mereka tidak menunda lagi.


Bai An dan para saudaranya saling melirik satu sama lain.


Setelah itu mereka langsung melesat ke arah yang berbeda-beda.


Bai An saat ini melesat ke arah utara bagian timur.


Wuss..!!


“Hmm..!! Energi Dewa di sini jauh lebih padat, lebih baik aku menyerapnya di sini,” gumam Bai An langsung duduk bersila.


Sementara Bai En kini sampai di sebuah gua tempat ia biasa dulu.


“Lebih baik aku tidur saja dulu, untuk masalah berkultivasinya nanti saja,” gumam Bai En mengoam.


Tak lama kemudian Bai En langsung menjatuhkan dirinya lalu tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2