
“Baiklah ayo kita bakar daging ayam roh iblis ini,” kata Bai An berjalan ke arah ayam yang telah mati.
Bai An dan Tu Long langsung mencabut semua bulu ayam tersebut. Setelah bersih dan siap untuk di bakar.
Bai An langsung mengerluarkan elemen apinya.
5 menit berlalu, kini ayam tersebut telah matang. Tapi Tu Long tidak ikut makan. Ia langsung mengayunkan tangannya dan mengeluarkan daging manusia.
“Eehh..!! Apakah kau telah mempersiapkan ini sebelum kita kesini?” Tanya Bai An tidak jadi memakan ayam bakarnya.
“Hehe, satu bulan sebelumnya aku meminta 1000 mayat manusia yang telah di potong-potong. Tu We lalu memberikannya bersama Cincin penyimpanan ini,” kekeh Tu Long.
“Jadi kau tahu jika kita datang ke dunia Setengah Dewa ini? Terus kenapa kau tak beritahu dari awal.” Kata Bai An kesal.
Tu Long menggeleng. “Aku juga tidak tahu. Tapi yang aku tahu dari Nona Xia, jika kita tidak di kirim ke dunia Guan 02. Melainkan dunia yang sama bahayanya dengan para saudaramu.” Jawab Tu Long.
Wajah Bai An kini berubah, ia menjadi tenang. Seditaknya Mu Xia'er melakukan ini demi kebaikannya. Itulah pikir Bai An.
“Setelah makan kita akan keluar dan mencari petunjuk, saat ini kita ada di dunia mana? Daerah yang kita tempati bernama apa?” Kata Bai An sambil memakan ayam bakar tersebut dengan lahap.
Tu Long tidak menjawab, karena ia sedang lahap memakan daging yang ada di tangannya. Daging tersebut masih di penuhi oleh darah. Tapi Bai An tidak merasa jijik melihatnya, karena ia telah terbiasa.
“Arrkk,,,!! Ah kenyangnya, apalagi jika di tambahan dengan minuman pencuci mulut,” kata Tu Long melirik Bai An penuh harap setelah ia bersendawa.
Bai An langsung mengayunkan tangannya lalu mengeluarkan 2 botol kecil berisi arak.
Dengan santai Bai An melempar satu botol ke arah Tu Long. Tu Long dengan senyum bahagia menangkapnya lalu meminumnya.
“Eehh..! Kenapa rasanya sedikit berbeda dengan yang biasa ku minum?” Kata Tu Long kini melirik Bai An.
“Hmm..! Arak ini memang bukan yang biasa kau minum. Stok arak klan Duan sudah menipis, jadi lebih baik mengirit dan minum arak biasa saja dulu.” Kata Bai An dengan tenang.
“Tidak apa-apa rasanya berbeda dikit. Terus kenapa cuma ada 1? Bukankah arak biasa ini pasti banyak di dalam cincin penyimpananmu Tuan muda. Rasanya agak tanggung jika hanya di beri rasa penasaran.” Kekeh Tu Long tersenyum licik.
“Jika kau banyak minum kau akan malas, sekarang ini kita dalam situasi dalam wilayah musuh. Jika kita telah benar-benar aman aku akan memberikanmu lebih banyak lagi,” kata Bai An sambil berdiri.
Wajah Tu Long langsung kusut, mencoba memelas ke arah Bai An. Tapi Bai An tetap acuh dan berjalan keluar dari gua.
Tu Long yang mengikuti tidak menyerah begitu saja, ia menampilkan ekpresi sangat menyedihkan, sehingga Bai An hanya bisa menghela nafas.
“Jika kau minta lagi, maka aku tidak akan memberikanmu untuk selamanya,” kata Bai An mencoba dengan ancaman sambil memberikan botol berisi arak yang lebih kecil.
Dengan cepat Tu Long mengangguk patuh.
Bai An kini melirik ke sekelilingnya. Ia mencoba mencari jalan keluar dari gurun ini. Tapi seluad matanya memandang, yang ia lihat hanyalah gurun pasir.
__ADS_1
“Kita tidak bisa menggunakan energi kesadaran. Jika itu terjadi, para monster akan mengetahui posisi kita,” kata Tu Long.
Tentu saja Bai An mengetahui itu, jadi ia hanya mencoba peruntungannya.
“Kita ke arah sana, ayo.” Ajak Bai An langsung memimpin jalan.
Wuss..!!
Baru saja 10 km mereka melesat. Bai An melihat ada beberapa monster langsung mengepung mereka.
“Sialan, mereka ternyata sedang menunggu kita keluar,” kata Bai An langsung mengeluarkan busur panahnya.
Bai An tanpa menunggu dirinya di serang. Ia lebih dulu menarik 3 anak panah kemudian melesatkannya.
Wuss..!!
Jlep..!! Jlep..!!
Duar..!!
Tubuh monster tersebut langsung meledak. Itu karena Bai An menaruh sesikit Elemen Apinya di ujung anak panahnya beserta Elemen Petirnya, agar daya ledaknya semakin besar.
Untung para monster yang mengepung Bai An dan Tu Long masih monster di bawah tingkatannya. Hanya ada beberapa yang setara dengan Tu Long, mereka terlihat sebagai pemimpin.
Setelah Bai An membunuh tiga monster. Mereka bukannya takut, mereka malah semakin mengganas seperti kesurupan.
“Kurang ajar, akan ku makan dagingmu tanpa sisa,” teriak salah satu monster paling depan saat melihat temannya mati. Monster tersebut setara dengan Bai An yaitu Dewa Langit Puncak.
Bai An langsung tersenyum. “Di sini tidak ada jebakan atau monster yang kuat bersembunyi,” gumam Bai An semangat. Kini ia tidak perlu takut lagi saat melawan ratusan monster di hadapannya.
Tu Long yang sudah berpisah dengan Bai An kini sedang berlari ke arah puluhan monster yang tingkat kekuatannya setara dengannya. Yaitu Dewa Penguasa Puncak.
“Ha ha kini aku bisa bertarung dengan puas.” Teriak Tu Long langsung berubah wujud. Tubuhnya langsung membesar setinggi 7 meter.
Bai An yang melihat itu tak mau kalah. Ia dengan cepat menarik anak panahnya. Seketika terjadi pertempuran.
Wuss..!!
Bom..!!
Duar..!!
Bai An kini semakin jauh dari Tu Long. Itu karena ia selalu mundur saat para monster ingin menyerangnya. Bai An hanya menggunakan busurnya karena ia ingin meningkatkan teknik berpanahnya.
“Jangan biarkan pengecut ini lari lagi, ia sudah membunuh bangsa kita,” teriak monster yang setara dengan Bai An.
__ADS_1
Bai An tersenyum, ia kini tidak berlari mundur lagi. Melain langsung berlari ke arah puluhan monster yang mengejarnya.
Melihat Bai An menerjang ke arah mereka. Tentu saja mereka terkejut, tapi tak lama mereka semakin bersemangat karena berpikir Bai An menyerahkan nyawanya.
Bai An langsung memasukkan busur panahnya. Ia langsung mengeluarkan pedang pemberian ibunya.
“Tebasan pengoyak langit,” teriak Bai An langsung mengayunkan pedangnya.
Seketika lesatan bilah pedang muncul dari ayunan pedang Bai An, energi dari lesatan tersebut sangat tipis, sehingga para monster pasti mengira Bai An sedang main pedang-pedangan.
“Ha ha ha, anak kemarin sore,” teriak salah satu monster tersebut dengan percaya diri mengayunkan tinjunya ke arah energi dari lesatan pedang tersebut.
Crash..!!
Lesatan tersebut langsung memotong tangan berserta tubuhnya menjadi dua. Energi lesatan pedang Bai An tidak berhenti sampai di sana. Ia bahkan membunuh para monster yang ada di belakng monster yang pertama mati.
Crash..!!
Crash..!!
Bai An tersenyum melihat itu, teknik-teknik yang ibunya ajarkan waktu di dunia jiwa sangatlah kuat.
Melihat itu, Bai An tidak langsung berpuas diri, kini ia tidak menggunakan energinya lalu menembakkannya seperti tadi. Melainkan melapisi seluruh pedang tersebut dengan sedikit energi.
Bai An berlari lalu mengayunkannya ke arah monster yang masih terpana melihat beberapa dari teman mereka mati dengan cepat.
“Jika bertarung kau harus waspada, jadi sesalilah ini di neraka. Dan berbanggalah karena yang membunuhmu adalah aku,” kata Bai An langsung mengayunkan pedangnya ke arah pinggang monster tersebut.
Slash..!!
Bruk..!!
Bai An langsung pergi ke arah monster yang masih dalam kondisi bingung, ia memanfaatkan ini untuk membunuh sebanyak mungkin.
Saat Bai An mengayunkan pedangnya ke arah leher monster setengah berwujud manusia setengah monster di depannya.
Dengan cepat monster tersebut sadar kemudian menutup kepalanya dengan kedua tangannya untuk menangkis.
Trank..!!
Wuss..!!
Monster tersebut terlempar beberapa meter.
Sedangkan Bai An kini terkejut. “Eeh.. Tanganya seperti baja saja, bahkan setara dengan pedang ini,” gumam Bai An melihat ke arah pedangnya terlihat masih bergetar bersama tangannya ikut bergetar.
__ADS_1
“Kau cukup kuat juga, padahal kau jauh di bawahku. Bahkan mampu mebuatku mundur,”