
Satu minggu telah berlalu, Jing Ling dan Tu Long masih belum selesai berkultivasi.
Bai An kini sedang melesat bersama keempat Binatang Roh Iblis.
Terlihat Bai An sedang mengejar segerombolan Heyna.
Wuss..!!
Tap tap..!!
“Hei Heyna jelek, menyerahlah Tuan ku tidak akan menyakitimu jika kau mau tunduk,” kata Gorilla dengan kesal kepada pemimpin Heyna yang setara ahli suci.
“Heh,, mana mau aku mendengar ucapanmu, dulu kau menyuruhku tunduk, tapi kau malah membantai para rakyatku,” dengus Heyna yang paling besar.
Hanya dia saja yang bisa bicara layaknya manusia, sementara gerombolan Heyna yang di belakang pemimpin Heyna itu tidak ada yang bisa bicara karena tingkatan mereka masih belum ada yang setara ahli suci.
Bai An yang dari tadi diam kini mulai mengamati mereka. “Bunuh mereka semua,” kata Bai An dengan dingin melalui telepati.
Mendengar perintah dari Bai An, keempat Binatang Roh Iblis langsung dalam sekejap membantai mereka.
Bom..!!
“Ke.. Kenapa kau membunuh kami semua?”, teriak pemimpin Heyna kini terluka parah.
“Hmm.. Seorang tikus dari pengikut musuh ibuku tak pantas di berikan kesempatan,” kata Bai An kemudian menghilang dan muncul di depan Pemimpin Heyna.
Dengan santai Bai An menembak energinya ke arah kepala Pemimpin Heyna tersebut.
Bom..!!
Tapi sebelum kematiannya ia bicara sambil tersenyum mengejek.
Bai An dapat mendengar dengan jelas ucapan Pemimpin Heyna tersebut.
“Aku tak tahu siapa kau, tapi yakinlah mereka yang lebih kuat akan datang membalaskan dendam ku, karena aku memiliki banyak kontrubusi di dunia ini,” itulah kata-kata yang Bai An dengar.
Bai An acuh dan tak mau memikirkan hal merepotkan seperti itu, jika ada yang ingin menganggu keluarganya atau ingin melukai keluarganya. Bai An tidak segan-segan melawan dan membunuhnya, siapapun dia Bai An tak akan peduli.
Bai An kini melirik keempat Binatang Roh Iblis lalu berkata. “Ayo kita cari yang lain, jangan ragu membunuh mereka yang menjadi musuh kita, jika kita membiarkan mereka hidup, mereka lambat laun akan menjadi parasit.”
__ADS_1
Keempat Binatang Roh Iblis langsung mengsngguk tanpa ragu, mereka tidak perlu menanyakan apa yang membuat Bai An menyuruh mereka membunuh para Heyna tadi karena mereka yakin ini adalah yang terbaik.
Selama satu minggu ini Bai An dan keempat Binatang Roh Iblis terus memburu semua penghuni Hutan Kematian dan menundukkannya, jika melawan langsung bunuh, jika tunduk langsung di buat menjadi bawahan oleh Gorilla dan ketiga saudaranya.
“Ayo kita cari lagi,” ajak Bai An kemudian melesat dengan santai.
Beberapa jam telah berlalu, Bai An sampai tak sadar jika ia kini telah sampai di sebuah kuil kuno yang ia temukan dulu saat berburu bersama Tu Long.
Melihat itu, Bai An langsung melesat tanpa ragu dan di ikuti oleh keempat bawahan Bai An.
Tap tap..!!
Saat Bai An mengedarkan kesadarannya, hal yang sama terulang kembali.
Dulu waktu bersama Tu Long, ia juga tak bisa menembus dan melihat apa yang ada di dalam. Kini saat Bai An telah menembus ranah Dewa Abadi, ia juga tetap tak bisa menembus apa yang ada di dalam.
Bai An merasa seperti ada sebuah penghalang yang membuatnya tak bisa melihat hal apa yang ada di dalam.
Bai An kembali memaksa menembus apa yang ada di dalam. Bai An dari dulu selalu waspada apapun langkah yang ia ambil, tapi tak ada yang merasakan kewaspadaan Bai An.
“Hmmm..!! Aku merasa ada aura yang cukup kuno berada di dalam, seperti seorang manusia, tapi aku tak tahu apakah ia telah mati atau masih hidup,” gumam Bai An.
“Kalian sisirlah semua area Hutan Kematian ini dan buat yang belum tunduk menjadi tunduk, tapi jika mereka keras kepala jangan ragu untuk membunuh mereka, kalian juga jangan sampai keluar dari perbatasan Hutan Kematian atau mengejar para Binatang Roh Iblis yang keluar dari Hutan Kematian,” kata Bai An memberi perintah dan larangan keluar dari Hutan Kematian.
“Baik Tuan muda, tapi,” kata Gorilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menunduk malu mengutarakan niatnya.
“Ini ambil lah, jika kalian lebih bekerja keras lagi, aku pasti akan memberikan lebih banyak arak. Jangan ragu untuk meminta kepadaku jika kalian telah bekerja keras dan aku lupa memberikan kalian hadiah arak,” kata Bai An melempar 4 kendi berukuran sedang berisi arak.
“Hehe,, terimakasih Tuan muda, jika begitu aku tak akan sungkan lagi,” kata Gorilla sambil cengar cengir. Mereka berempat langsung pergi setelah pamit kepada Bai An.
Bai An kini mulai melangkahkan kakinya menuju kuil kuno yang ada di depannya.
Tap tap..!!
Saat telah sampai pintu yang mempunyai lonceng di samping pembuka pintunya. Bai An langsung mengulur tangannya.
Cklek..!!
Saat pintu terbuka, tubuh Bai An langsung merasakan aura yang dingin, semua bulu kuduk Bai An langsung berdiri.
__ADS_1
“Apakah ini yang ibu bicarakan dulu,” gumam Bai An berpikir.
Ling Mei pernah bercerita kepadanya sebelum ia kesini. Jika ada seorang bawahannya yang paling lama mengikuti dirinya bahkan dari belum berdirinya klan ibu Bai An ia telah mengikuti Kakek Bai An atau ayah Ling Mei.
“Ah,, mungkin cuma perasaanku saja,” gumam Bai An kembali.
Tap tap...!!
Setiap Bai An melangkahkan kakinya, ia semakin merasakan tekanan yang lebih besar.
Tapi Bai An tidak menyerah begitu saja, saat Bai An membuka semua pintu, yang ia lihat hanyalah ruangan kosong.
Bai An langsung melihat ke arah tangga, ia langsung berjalan selangkah demi selangkah menggunakan murni tubuh fisiknya. Entah mengapa Bai An saat masuk ia tidak bisa menggunakan energinya.
Ukhh..!!
Bai An memuntahkan seteguk darah saat ia naik ke anak tangga ke 50.
“Aku tak boleh menyerah begitu saja,” gumam Bai An menyemangati dirinya.
Tap tap..!!
Saat Bai An menaiki anak tangga ke 51, ia sedikit merasakan beban yang ia rasakan berkurang.
Saat Bai An mencoba untuk senang, dengan cepat Bai An berpikir ini mungkin hanya sementara dan yakin jika anak tangga yang di depannya mungkin jauh lebih dari yang ia duga.
Tap tap..!!
Bai An kini semakin merasa beban yang rasakan jauh lebih ringan lagi, tapi dengan cepat Bai An menggelengkan kepala dan berpikir positif.
Hal yang sama terulang kembali, tapi Bai An tidak mencoba untuk senang dan bangga, kini Bai An mulai berpikir ini adalah cobaanya untuk melihat apakah Bai An merasa sombong jika melalui sesuatu dengan mudah, itulah yang ada di dalam benak Bai An.
Hingga Bai An menapakkan kakinya di anak tangga keseratus.
Bai An masih terlihat biasa saja, ia malah tidak terlihat senang atau bahagia, malah sebaliknya. Bai An merasa kecewa karena tidak ada cobaan yang lebih berat untuk ia jalani.
Pok pok pok..!!
“Anda sama persis dengan Beliau, Pangeran. Anda tidak merasa sombong atau berpuas diri saat menjalani sesuatu dengan mudah.”
__ADS_1