
“Tang De,, kau bereskan mayat-mayat ini, tapi jangan lupa ambil semua barang beharga yang ada di seluruh tubuhnya termasuk pakaiannya. Itu lumayan juga.” Kata Bai An melalui telepati sambil terus melesat mengejar sisa-sisa assasins.
“Sialan..! Kenapa tugasku yang paling menderita. Hanya memungut mayat dan menjarahnya. Semoga mereka semua tidak menghantuiku.” Kata Tang De cukup kesal setelah mendapat pesan suara telepati dari Bai An.
“Kalian semua,, cepat bantu aku bereskan beberapa mayat dan kumpulkan semua barang beharga mereka termasuk baju yang masih layak pakai. Mayat-mayat ini adalah musuh Kota Han. Mereka ingin menyerang kita dan ingin mengambil alih Kota kita. Jadi jangan pernah berbelas kasih kepada musuh. Paham.”
Mendengar suara tegas Jendral mereka. Mereka pun berteriak keras.
“Paham.”
Tang De langsung mengajak semua prajurit elit dan prajurit kota pergi ke tempat Bai An membunuh semua assasins tersebut.
**
Sementara Bai An berhasil mengejar para assasins yang sedang menyamar menjadi penduduk biasa.
Tanpa menunggu, Bai An melesat ke salah satu rumah lalu menarik 4 anak panahnya.
Wuuss..!!
Jlep..!!
Jlep..!!
Setelah itu Bai An dengan cepat berpindah ke rumah lain agar ia tidak ketahuan membunuh para assasins.
Bai An melakukan ini karena ia dapat melihat jika masih banyak kultivator bebas dan para penduduk juga berada disana. Jika ia terang-terangan membunuh. Maka rencananya pasti tidak akan bershasil.
“Ada yang mati.” Teriak salah satu penduduk.
Keributan langsung terjadi. Bai An tersenyum sambil memiringkan kepalanya.
Bai An yakin mereka pasti akan waspada. Sedangkan para kultivator bebas dan penduduk pasti akan panik.
Beberapa detik setelah teriakan.
Benar saja, dugaan Bai An para assasins langsung waspada. Jadi ini memudahkan Bai An untuk membunuh mereka.
Bai An langsung menarik 4 anak panahnya lalu membidiknya ke 4 orang assasins yang mengenakan jubah berwarna biru 2 orang bermotif Naga, Phoenix dan putih 2 orang.
Wuss..!!
Jlep..!!
Jlep..!!
“Ahhkk,,”
Teriakan assasins memakai jubah biru tersebut cukup keras saat mengenai keningnya. Kemudian terjatuh.
“Siapa di sana? Cepat keluar,” teriak salah satu assasins waspada, ia melirik ke salah satu rumah tempat berasalnya anak panah.
“Berani sekali kalian membunuh para penduduk dan tamu dari luar kota ini,” pemimpin assasins ikut menambahkan dan mencoba menipu para penduduk dan kultivator bebas.
Namun tetap saja tidak ada yang keluar setelah pemimpin assasins tersebut berteriak.
“Hei kau. Coba periksa kesana.”
assasins tersebut mengangguk saat mendengar perintah dari assasins yang pertama kali berteriak tadi.
Namun, baru saja ia ingin melangkah.
__ADS_1
Sebuah anak panah melesat dengan cepat dari arah yang berbeda lagi.
“Awas,,”
Wuuss..!!
Jlep..!!
Jlep..!!
Assasins tersebut terlambat menghindar, begitu juga dengan ketiga assasins di belakangnya.
“Sialan, cepat kesana. Mereka pasti ada banyak.” Teriak pemimpin assasins tersebut.
Assasins yang pertama kali berteriak menghampiri pemimpinnya. Kemudian membisikkan sesuatu.
Setelah pemimpin assasins tersebut mengangguk. Terlihat assasins yang membisikkan sesuatu menggerakkan tangannya.
Semua assasins yang paham kode tersebut langsung berpencar.
Bai An yang melihat itu dari kejauhan tersenyum menyeringai.
Ini yang ia tunggu dari tadi. Makanya ia tidak cepat cepat membunuh mereka.
Wuss..!!
Bai An melesat ke beberapa assasin yang berlari ke arah selatan.
Tanpa menunggu waktu. Bai An menarik lagi busurnya dan melesat anak panahnya.
Jlep..!!
Jlep..!!
Wuss..!!
Bai An kembali melesat ke arah pemimpin assasins tersebut. Saat ia merasakan aura pemimpin assasins tersebut keluar kota. Bai An semakin menyeringai karena ini memudahkannya untuk membunuh mereka.
Bai An tidak peduli ini jebakan atau tidak. Walau ia dapat merasakan beberapa aura yang cukup kuat itu setingkat Dewa Alam Awal.
Setelah cukup jauh dari kota, Bai An melihat ia di giring ke hutan yang cukup sepi.
Tak lama Bai An melihat mereka.
Wuss..!!
Tap tap..!!
Tanpa sungkan lagi Bai An langsung mendarat di hadapan mereka.
“Ka.. Kau,” tunjuk salah satu orang terkuat.
“Ooh, apa kau mengenalku? Jika kau mengenalku berarti kau pengikut Liu Wang,” kata Bai An semakin menyeringai.
Tubuh orang yang tadi menunjuk Bai An langsung merinding. Tapi ia melihat kelompoknya banyak, ia merasa yakin.
“Kau menyerahlah dan bunuh dirimu sendiri, itu adalah hukuman paling ringan karena kau membunuh banyak sekali para prajurit Penguasa kami. Aku dari klan Liu salah satu Jendral tingkat rendah sudah berbaik hati kepadamu.” Dengan sombong ia berkata sambil menatap Bai An dengan tajam.
“Oh,, apakah kau yakin dapat membunuhku,” jawab Bai An menyeringai.
Wuss..!!
__ADS_1
Bai An muncul di depan yang menyebut dirinya jendral klan Liu. Lalu mengayunkan tangannya santai.
Bam..!!
Jendral Liu tersebut melesat menabrak beberapa pohon.
“Hoek,, hoek..!!”
“Kau pengecut, menyerang di saat aku tidak siap.” Teriak jendral Liu tersebut penuh amarah.
“Hei, Jendral Shau mengapa kau diam saja. Cepat suruh anggota klan dari Benua Hongcun untuk menyerang mereka.” Teriak Jendral Liu semakin marah.
Jendral Shau mendengus dingin. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan tugas ini. Apalagi di perintah oleh orang yang setara dengannya semakin membuatnya kesal.
“Kepung dia. Dia hanya seorang diri.” Kata Jendral Liu lagi baru sampai.
Bai An kini dengan santai mengorek-ngorek teringanya. Terlihat Bai An sama sekali tidak memandang mereka sebagai musuh.
“Apakah kalian sudah selesai berdiskusi? Jika belum, maka cepatlah. Karena aku masih banyak urusan penting.” Kata Bai An santai melihat ke arah mereka yang saling memandang satu sama lain.
“Ka... Kau terlalu meremehkan kami, aku tidak perlu menggunakan rencana untuk membunuhmu.” Teriak jendral Liu melesat sambil bersiap mengayunkan pedangnya.
“Teknik Pedang Naga Api,”
“Tebasan Seribu Api.”
Teriakan jendral Liu sangat keras, beserta ribuan api berbentuk pedang melesat ke arah Bai An.
“Ha ha ha...!! Kau pasti akan mati, aku pasti akan naik pangkat jika berhasil membawa kepalamu.” Teriak jendral Liu seperti orang gila saat melihat serangannya tidak di halau oleh Bai An.
Bai An hanya tersenyum dengan tenang saja. Saat pedang pedang api tersebut hampir mengenai Bai An. Bai An dengan cepat merobek ruang di sekitarnya.
Wuss..!!
Bom..!!
Bertepatan dengan lenyapnya Bai An. Suara ledakan besar terjadi. Ledakan api tersebut bahkan terdengar sampai ke Kota Han.
“Ha ha ha..!! Dia benar benar mati. Aku berhasil, aku menang.”
“Apakah begitu, kau cukup sombong dengan tingkat kultivasi rendah seperti itu di depanku. Matilah dengan bangga karena aku tidak menyiksamu.”
Bai An dengan cepat mengeluarkan pedangnya lalu mengayunkannya ke arah sembarang di tubuh jendral Liu di sertai sedikit energi agar mampu membelah tubuhnya.
Crasshh..!!
Tubuh Jendral Liu terbelah dua, ia mati dengan mata melotot. Seperti tidak terima mati di tangan Bai An.
Bai An melirik para assasins dan Jendral Shau dari Benua Hongcun.
“Bunuh diri atau aku yang membunuhmu. Setidaknya tubuhmu akan utuh jika bunuh diri.” Kata Bai An berdiri dengan tenang.
Bukannya bunuh diri atau melawan.
Mereka semua melempar senjata ke sembarang arah lalu berlutut.
“Tuan muda, kami melakukan ini karena di paksa penguasa Hongcun. Jika kami tidak tunduk, maka klan kami akan di hancurkan, keluarga kami akan di jadikan budak.”
Mendengar tidak ada kebohongan dari nada suara pemimpin assasins tersebut. Bai An jadi pusing.
“Kalau kau,” kata Bai An melihat ke arah Jendral Shau.
__ADS_1
“Aku dari klan Hong. Sama seperti Penguasa Hongcun, aku melakukan ini karena anak dan istriku di sandra.”
“Bagaimana jika An Gege pasangkan saja mereka segel budak ke tubuh mereka masing masing. Mereka berkata jujur,” tiba-tiba Mu Xia'er mengutarakan pendapatnya kepada Bai An.