
Dua bulan telah berlalu. Ling Mei kini genap 10 bulan berada di dunia jiwanya Bai An.
“Nak, hati ibu sedang dalam suasana baik. Lebih baik kau berangkat sekarang.”
Mendengar ibunya tiba-tiba mengatakan hal tersebut. Bai An cukup terkejut. “Ibu..!” Kata Bai An sedikit sedih.
“Tidak apa-apa. Kau juga tidak perlu pamit kepada kakek, ayah, paman, bibi, serta kakakmu. Mereka pasti mengerti.” Ling Mei tersenyum hangat saat melihat putranya merasa bersalah.
“Ta.. Tapi,” kata-kata Bai An langsung terpotong.
Ssttt..!!
“Jangan ada tapi-tapian. Ingatlah pesan ibu. Jangan pernah gunakan Energi Semestamu. Kau masih belum bisa mengendalikannya. Terlebih lagi Energi Semestamu masih berada di tingkat Awal 2, itu masih lemah.”
“Ingat juga apa yang pernah ibu ajarkan, latihlah secara perlahan cara menguasai Energi tersebut dan cara menggunakannya agar bisa berevolusi ke tingkat Puncaknya.”
“Ibu juga sudah memberitahu istrimu. Mulai sekarang ia tidak akan membantumu apapun kecuali dalam keadaan hidup dan mati. Jika kau menyanginya, jangan pernah bergantung kepada seorang wanita. Ingat kau itu laki-laki, akan sangat memalukan seorang laki-laki selalu bergantung kepada seorang wanita.” Kata Ling Mei dengan nada tegas.
Wajah Bai An langsung menunduk malu.
Dengan cepat Ling Mei mengusap rambut putranya.
“Itu masa lalu, jangan di ingat lagi. Jadi mulai sekarang, berjalanlah dengan keyakinanmu sendiri. Ibu tidak akan menghentikan jalan apapun yang kau akan ambil. Mau jahat, baik, apapun itu. Seorang ibu pasti akan mendukung putranya.”
“Terimakasih Bu..!! Kau adalah yang terbaik,” kata Bai An mulai mengangkat kepalanya. “Mulai sekarang aku akan mencoba mencari jalan ku sendiri, berdiri di puncak bersama para saudaraku tanpa bantuan orang lain.”
Melihat putranya tersenyum saat mengucapkan hal tersebut. Ling Mei ikut tersenyum.
Tap tap..!!
Tak lama Mu Xia'er datang dengan Xiao Dan, Tu Long dan Tu We membawa beberapa makanan hasil masakan Mu Xia'er sendiri.
“Makanan telah tiba,” kata Mu Xia'er sambil tersenyum ke arah Ling Mei dan Bai An.
“Ayo kita makan, kalian bertiga juga ikut,” ajak Bai An kepada Xio Dan, Tu Long dan Tu Wei.
__ADS_1
Walau Xio Dan agak ragu, tapi saat ia melihat Tu Long dengan cepat duduk. Xio Dan ikut duduk bersama Tu We.
Mereka langsung makan tanpa suara sedikitpun.
Selesai makan. Seperti biasa, Bai An mendapat ceramah dari Ling Mei. Bai An dengan semangat bersama Xio Dan, Tu Long dan Tu Wei mendengar ceramah Ling Mei tentang kultivasi.
Mereka semua mendapatkan banyak masukan dari ceramah Ling Mei. Walau ucapannya sangat sederhana. Tapi manfaatnya sangat banyak.
Itu yang di rasakan oleh Bai An, Xio Dan, Tu Long dan Tu We.
Sedangkan Mu Xia'er hanya tersenyum cengar cengir saja saat melihat tingkah ketiga bawahan Bai An.
2 Bulan yang lalu mereka bertiga awalnya enggan untuk ikut. Tapi saat membuktikan ucapan Ling Mei benar, mereka semua berebut seperti anak kecil untuk jadi yang terdepan agar bisa mendengar ceramah dengan baik.
“Baiklah sampai di sini saja. Ini adalah ajaran terahirku. Karena mulai hari ini kita akan terpisah. Kalian temanilah Tuan muda kalian dalam perjalanannya.” Kata Ling Mei lalu pergi ke kamarnya.
Bai An langsung menyusul ibunya bersama dengan Mu Xia'er. Untuk Xio Dan, Tu Long dan Tu We mereka langsung keluar dari aula.
Tap tap..!!
“Hmm..!! Jangan sedih, laki-laki itu harus terlihat kuat di depan seorang wanita. Apalagi di depan istrimu. Kau harus terlihat tangguh, jangan lembek seperti itu,” kata Ling Mei meneteskan air mata. Ia juga merasa enggan berpisah. Tapi apa boleh buat, ini jalan yang di pilih putranya, ia harus mendukungnya. Bukan mengekangnya.
“Baik Buu..!! Aku pasti akan pulang dalam keadaan sehat suatu hari nanti. Ibu jangan sering marah-marah. Bagaimana ayah bisa membuatkan aku adik jika ibu galak,” kata Bai An mengajak ibunya bercanda.
“Kau ini semakin lama, semakin nakal. Jangan ikuti jejak ayahmu yang buruk itu.” Dengus Ling Mei tapi sebuah senyum muncul di wajahnya.
“Hehe,, ibu jangan pernah bersedih lagi. Jika ibu bersedih, An'er pasti akan merasakannya. An'er tidaka akan pernah tenang jika ibu sedih.” Kata Bai An langsung memeluk ibunya.
“Iya..!! Ibu tidak akan bersedih lagi, kau jangan terlalu gegabah saat di dunia lain. Ibu akan pergi sekarang, jika berlama-lama. Ibu nanti akan sedih.” Tanpa menunggu jawaban dari Bai An. Ling Mei langsung menghilang dari pelukan Bai An.
Wajah Bai An bukannya sedih. Ia langsung tegar dan menatap Mu Xia'er terlihat sedih. Bai An berjalan ke arah Mu Xia'er lalu menghapus air matanya.
“Ssttt..!! Jangan bersedih lagi, nanti ibu akan ikut sedih.” Bai An langsung memeluk Mu Xia'er.
“Hmm..! Ya gege, apa Gege akan pergi sekarang?” Tanya Mu Xia'er dalam pelukan Bai An. Mu Xia'er merasa nyaman dan hangat saat ia di peluk. Jadi kesedihannya langsung hilang dalam sekejap.
__ADS_1
“Iya, langsung sekarang saja. Lebih cepat lebih baik.” Kata Bai An tegas dan serius.
Mu Xia'er mengangguk lalu keluar dari kamar dan di ikuti oleh Bai An.
Setelah keluar dari Benteng. Mu Xia'er melirik Bai An kini sudah bersama Tu Long yang tadi ikut.
“Apa kau sudah siap Gege?”
Bai An mengangguk tanda telah siap. Begitu juga Tu Long mengangguk dengan semangat.
Dengan cepat Mu Xia'er menggerakkan tangannya seperti biasa membuka Gerbang Dimensi.
Setelah cahaya terang menghilang. Sebuah gerbang muncul dengan aura yang cukup menindas. Tentu Bai An mengerutkan tangannya. Karena ia dulu mengira jika Dunia Guan 02 itu memiliki Qi yang sangat tipis. Jadi ia tak bertanya banyak tentang dunia yang ia tuju kepada Tu Long. Karena merasa tidak ada yang spesial kecuali para monster yang sangat banyak.
“Masuk,” teriak Mu Xia'er.
Lamunan Bai An langsung hancur setelah mendengar teriakan Mu Xai'er. Dengan cepat Bai An mengangguk.
Ia melihat jika Tu Long telah masuk lebih dulu. Bai An langsung melesat ke arah gerbang tersebut. Tepat saat Bai An masuk dan tak terlihat. Gerbang tersebut juga ikut lenyap.
“Huuff..!! Baik-baik di sana Gege, karena setiap dunia memiliki hal-hal yang tak terduga,” gumam Mu Xia'er lalu memegang sebuah batu komunikasi unik.
“Ibu, An' Gege telah pergi,” kata Mu Xiaer bicara ke arah batu tersebut.
“Iya, tetap pantau dia. Apabila ia mengikuti jejak ayahnya yang mata keranjang, tegur saja. Tapi jika kamu rela dan mau berbagi itu terserah karena kau istrinya sekarang.” Terdapat suara balasan. Tapi di dalam suara itu sangat serak seperti baru selesai menangis.
Saat Mu Xia'er ingin membalas dan bertanya. Batu komnukasi tersebut langsung terputus.
“Huff..!! Ibu ternyata masih sedih dan pura-pura tegar di hadapan An'Gege,” gumam Mu Xia'er kemudian menghilang dari tempatnya berdiri.
Di tempat Bai An. Saat ia masuk ke dalam gerbang dimensi tersebut. Ia melihat cahaya yang sangat terang sehingga membuatnya menutup mata.
Tepat saat Bai An merasa cahaya tersebut menghilang. Ia perlahan membuka matanya.
“Eeh..!! Apakah sudah sampai Dunia Guan 02? Tempat para monster berkuasa?” Gumam Bai An sambil melihat sekelilingnya. Ia tidak pernah menduga jika hanya butuh beberapa detik untuk sampai.
__ADS_1
Saat Bai An melihat jika ia berada di tengah dataran tandus. Atau Gurun pasir.