Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Kematian Adalah Pengampunan Terbaik


__ADS_3

Sementara di sebelah utara, tepatnya dekat dengan kediaman pemimpin kota. Kini sedang terjadi pertarungan.


Bai Luan terlihat sedikit penuh luka disekujur tubuhnya. Ia kini sedang kesal kepada Bai An.


Bai An memberitahunya untuk jangan meremehkan lawan dan harus sungguh-sungguh dalam pertarungan, tapi malah sebaliknya. Gurunya itu sedang bermain-main melawan No 06. Itulah yang membuatnya kesal, dimana ia kini sedang terpojok, gurunya malah asik menikmati pertarungannya.


"Guru, aku sudah sebisa mungkin melawan orang ini. Tapi tetap saja aku tidak bisa menang melawan orang yang 2 tingkat penuh dari tingkatanku!" teriak Bai Luan, meminta pertolongan kepada Bai An.


"Jangan suka mengalihkan pandangan mu saat kau bertarung." No 07 langsung menyerang Bai Luan dengan kesal karena merasa diremehkan.


Wuuussshhh...


No 07 langsung berada di sebelah kanan Bai Luan dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, berharap Bai Luan langsung mati.


Bai Luan yang di serang secara tiba-tiba. Langsung menyilangkan pedangnya untuk menahan tebasan yang mengarah ke lehernya, ia reflek menangkis secara asal karena instingnya cukup peka.


Trang....


Duarrr...


"Hooeeekkk...!"


Bai Luan yang terlempar cukup jauh langsung mendarat setelah menabrak tembok ke 7 dan memuntahkan seteguk darah.


"Sangat kuat, telat sedikit aku pasti akan mati." gumam Bai Luan.


***


Disisi Bai An berada, ia melihat muridnya yang sudah tidak bisa bertahan melawan No 07, kini mulai serius. Ia tadi sengaja membiarkan Bai Luan berjuang keras seorang diri tanpa bantuan. Agar ia dapat mengalami pertarungan hidup dan mati.


Bai Luan melirik ke arah No 06 yang penuh luka, tatapan Bai An sangat tajam saat melihat No 06. Karena apa yang ia pikirkan kini terjadi juga.


"Kau mengirim pesan kepada ketuamu, tentang keberadaan kami? itu sudah terlambat. Karena suatu hari nanti, kami sendiri yang akan berkunjung ke markas kelompok mu dan membunuh mereka semua, di mulai dari mu."


Setelah mengatakan itu, Bai An langsung melesat dengan sangat cepat, No 06 bahkan tidak bisa melihat gerakan Bai An, sampai kepalanya terputus dan menggelinding layaknya bola.

__ADS_1


Setelah membunuh No 06, Bai An melirik ke arah No 07 yang langsung kabur setelah melihat Bai An membunuh No 07 tadi dengan begitu mudahnya.


"Ingin kabur? mimpi."


Bai An langsung melesat dengan kecepatan dua kali lipat dari yang tadi dan kini muncul di depan No 07 dengan menyeringai kecil.


No 07 langsung gemetaran melihat betapa cepatnya Bai An mengejarnya.


"Ja... Jangan bunuh aku Tu.. Tuan!" No 07 langsung bersujud di depan Bai An, meminta pengampunan.


"Ooh orang-orang Klan Lee bisa takut juga ternyata!" ucap Bai An melihat ke arah No 07 bersujud, lalu menambahkan. "Cobalah mencari hidup damai di masa depan, jika kau berenkernasi."


Wuusshh..


Sring..


Badan No 07 langsung terbelah menjadi dua oleh tebasan Bai An. Ia tidak mau memberikan kesempatan kepada orang-orang yang akan mencoba menjajah dunianya dan mencelakai keluarganya. Pengampunan terbaik bagi mereka hanyalah kematian bagi Bai An.


Setelah membunuh No 07, Bai An langsung melesat ke arah dimana Bai Luan terlempar.


Wuussshhh...


Kini Bai Luan sedang duduk mencoba mengobati semua luka-lukanya dengan bantuan pil pemberian Bai An, sambil melihat ke arah Bai An yang baru saja datang dengan tatapan cembrut bercampur kesal.


"Guru sengaja tidak membantumu, agar kau bisa tahu apa itu pertarungan yang sesungguhnya. Seandainya guru tidak disini dan kau melawan orang yang jauh lebih kuat lagi dari mu." Bai An menjeda kata-katanya sambil melirik ke arah Bai Luan yang kini sedang serius menatapnya.


Bai An lalu menambahkan. "Jika kau bertemu dan melawan orang yang jauh lebih kuat dari mu, maka. Kau akan tahu cara menghadapinya dan mencoba kabur."


Mendengar penjelasan Bai An, kini Bai Luan paham mengapa gurunya tadi tidak mau membantu. Tapi ia teringat akan kata-kata Bai An yang jangan meremehkan lawan dan selalu serius saat bertarung, ia pun langsung bertanya.


"Terus kenapa guru yang meremehkan lawan dan seperti sedang bersenang-senang?"


Mendengar pertanyaan itu, Bai An langsung mendesah panjang. Ia melihat ke arah langit lalu menjawab. "Itu karena aku ingin melihat kemampuan musuh dan melihat jika gerakan dan teknik yang aku dan kamu lawan. Menggunakan teknik yang sama."


Mendengar itu, Bai Luan langsung menunduk malu, karena ia tidak berpikir sampai ke arah sana.

__ADS_1


Saat Bai Luan akan bertanya lagi, Lang Zai datang bersama dengan Kaisar Xiao Chu.


Wuusshh..


Wuusshh..


"Tuan Muda!"


"Junior Luan!"


Dengan cepat Lang Zai langsung memberi hormat kepada Bai An dan menyapa Bai Laun dengan tersenyum senang.


Bai An mengangguk dan membalas senyum Lang Zai, lalu melirik ke arah Kaisar Xiao Chu.


Menyadari tatapan dari Bai An, Xiao Chu langsung memperkenalkan dirinya dengan sedikit gugup, karena ia juga mendengar Lang Zai memanggil Bai An dengan sebutan Tuan Muda.


"Nama ku Xiao Chu, Tuan Muda!"


Bai An mengeryitkan alisnya saat mendengar nama Xiao Chu, "Apakah kamu Kaisar Xiao? yang bernama Xiao Chu?" tanya Bai An langsung.


Xiao Chu langsung kaget, karena orang sekuat ini mengenal dirinya. "Benar Tuan Muda, dari mana Tuan Muda tahu?" Xiao Chu memberanikan dirinya untuk bertanya.


Lang Zai langsung menatap mata Xiao Chu dengan tajam.


"Saudara Lang Zai, jangan mengintimidasi orang sembarangan." Bai An yang melihat Lang Zai begitu terhadap Xiao Chu langsung menegurnya.


Tubuh Lang Zai langsung merinding, "Ba.. Baik Tuan Muda, saya tidak akan mengulanginya lagi," dengan cepat Lang Zai membalas ucapan Bai An dengan kepala menunduk.


Xiao Chu menutup mulutnya menahan tawa saat melihat orang yang ia takuti, sedang takut kepada seorang pemuda yang lebih muda.


Bai An melihat itu tidak terlalu mempermasalahkannya lagi dan melihat ke arah Xiao Chu. "Saat ini kami bersama Xiao Lee Tan, dan aku menyuruhnya bersembunyi di suatu tempat agar ia aman, dari Xiao Lee Tan lah aku mengetahui jika kamu seorang Kaisar." Jawab Bai An.


Tubuh Xiao Chu bergetar, saat putra yang ia cari-cari tadi ternyata masih hidup. Xiao Chu setelah pembantaian yang ia lakukan tadi, sempat mencoba mencari Xiao Lee Tan, apakah masih hidup atau sudah mati. Namun hasilnya, ia tidak menemukan putranya tersebut dan berpikir jika putranya telah meninggal.


"Di.. Dimana Tan'er Tuan Muda?" Xiao Chu dengan tubuh masih bergetar bertanya kepada Bai An dimana putranya.

__ADS_1


Bai An melirik Bai Luan yang masih memulihkan diri.


Seakan paham apa maksut Bai An, Bai Luan langsung berdiri, "Aku sudah tidak apa-apa guru, luka kecil ini tidak dapat menahanku," ucap Bai Luan ke arah Bai An. Lalu ia melirik ke arah Xaio Chu. "Ayo ikuti aku Yang Mulia."


__ADS_2