
Bai An langsung melirik Tu Long. “Kau sudah mendengarnya, mulai sekarang kalian adalah teman, jangan sampai saling membunuh,” kata Bai An santai.
Setelah itu Bai An dan Jing Ling langsung pergi ke arah puncak bukit paling timur.
Tap tap..!!
Jing Ling berhenti di sebuah pohon besar, Bai An yang melihat pohon tersebut langsung mengangguk paham.
Jing Ling langsung maju lalu menekan sesuatu yang langsung membuat batang pohon bergeser membentuk sebuah pintu kecil berukuran manusia.
Jing Ling langsung melirik Bai An dan berkata. “Ayo masuk, aku menaruh semua harta tersebut di dalam.”
Bai An langsung mengikuti Jing Ling masuk kedalam.
Tap tap..!!
Setelah masuk Bai An di perlihatkan pemandangan yang tidak biasa. Bai An seperti melihat sebuah hotel, pandangan pertama Bai An adalah di dalam pohon ini sangat luas.
Setelah itu Bai An melihat Jing Ling menaiki tangga. Bai An pun ikut menaiki tangga tersebut.
Setelah tangga pertama, Bai An melihat hal yang sama dan itu terus hingga lantai ke sepuluh.
Tap tap..!!
Bai An langsung melihat ruangan kosong. Tapi di tengah-tengah ada sebuah meja.
Jing Ling langsung berjalan menuju meja tersebut.
Lalu Jing Ling menarik sebuah laci kemudian mengambil sebuah cincin penyimpanan bewarna hitam.
“Tangkap,” kata Jing Ling melempar Cincin penyimpanan bewarna hitam elegan.
Dengan sigap Bai An menangkapnya dan bergumam. “Hmm..!! Cincin Penyimpanan Tingkat Dewa, ini pertama kali aku melihatnya secara nyata setelah di beritahu oleh ibu.”
Bai An tanpa menunggu lama langsung mengalirkan energinya ke dalam cincin tersebut.
Setelah melihat isinya Bai An mengangguk puas karena isinya tidak mengecewakan.
“Kau sungguh sesuatu saudari Jing, aku tidak menduga kau menyimpan begitu banyak harta berharga di dalam cincin ini. Aku yakin jika kita ke Alam Dewa, mereka juga pasti merebut beberapa isi yang ada di dalam cincin penyimpananmu ini,” kata Bai An memuji.
__ADS_1
Jing Ling langsung melambaikan tangannya. “Itu tidak di jual, tapi untuk saudara kita agar bisa meningkatkan kekuatannya. Kaulah yang akan membagi rata semua isi cincin penyimpanan tersebut.” Kata Jing Ling.
Bai An mengangguk mengerti. Mereka berdua kemudian turun.
Setelah keluar dari pohon tersebut. Bai An dan Jing Ling langsung melesat ke arah Tu Long dan para Binatang Roh Iblis.
Tap tap..!!
Setelah sampai, Bai An dan Jing Ling melihat Tu Long dan Singa Merah kini berlatih, lebih tepatnya Singa Merah sedang menghajar Tu Long.
Saat ini tubuh Tu Long banyak sekali luka cakaran.
“Menyerahlah jika kau keras kepala, kau akan terluka parah. Aku juga tidak ingin melukai temanku seperti ini, tapi apa boleh buat karens kau memaksa dari tadi,” kata Singa Merah sedikit kasihan.
“Tidak, ini belum berahir. Aku tidak akan menyerah sebelum bisa menyentuhmu,” kata Tu Long keras kepala.
Dengan cepat Tu Long melesat maju ke arah Singa Merah.
Tu Long langsung mengayunkan cakarnya saat melihat sedikit kesempatan.
Tapi Singa Merah dengan cepat melompat ke atas, kemudian mundur beberapa langkah.
Kekuatan yang sangat jauh berbeda.
Tu Long kini memikirkan beberapa cara agar ia bisa menyentuh Singa Merah. Cukup lama ia berkipir, tetap saja Tu Long tidak menemukan cara.
Hingga ia dengan tiba-tiba melesat ke arah Singa Merah yang sedang melamun karena memikirkan apa yang di rencanakan Tu Long.
Bam..!!
Tubuh Singa Merah langsung terpental dua meter.
Tu Long seketika menjadi semangat.
“Haha,, akhirnya aku bisa menyentuhmu,” teriak Tu Long kegirangan.
Singa Merah langsung cemberut, ia merasa tertipu oleh Tu Long. Tapi ia mengerti jika di pertatungan hidup dan mati kita tidak boleh melepas kewaspadaan. Sementara Singa Merah tadi sempat melepas kewaspadaannya. Maka dari itu ia tidak siap hingga terkena pukulan Tu Long.
Bai An dan Jing Ling langsung muncul sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Eehh.. Tuan muda, kau sudah kembali, aku kira kalian bakalan lama,” kekeh Tu Long.
Mata Jing Ling langsung melotot ke arah Tu Long karena ia mengerti arah pembicaraan Tu Long.
Tu Long semakin terkekeh lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil bersiul-siul tak jelas.
Bai An hanya diam saja walau ia juga paham maksud Tu Long. Hanya saja wajah Bai An terlihat pura-pura polos saat ia diam.
Jika semua orang tahu mereka selama ini di tipu oleh Bai An dengan wajah polosnya.
Mereka para wanita mungkin akan langsung mengejar dan menguliti Bai An hidup-hidup. Tentu mereka melakukan tersebut karena alasan malu, bagaimana tidak. Mereka tentu malu saat melihat Bai An pura-pura polos saat mereka berharap. Padahal harapan mereka telah di ketahui oleh Bai An.
“Ehem..!! Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Bai An tersenyum hangat.
“Ti.. Tidak ada,” jawab Jing Ling sedikit gugup lalu menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jarinya.
“Apa kau yakin?” Tanya Bai An memastikan.
“I.. Iya yakin,” jawab Jing Ling kini dengan wajah merona saat melihat Bai An mendekati wajahnya.
Bai An langsung mengangguk lalu melirik ke arah Tu Long.
“Ambil ini, gunakan untuk meningkat kekuatanmu di sini. Aku juga akan kembali berkultivasi dan meningkatkan kekuatanku setinggi mungkin,” kata Bai An melempar sebuah cincin penyimpanan ke arah Tu Long.
Sementara Jing Ling kini kesal karena langsung di abaikan oleh Bai An. Padahal ia sangat berharap mendapatkan sebuah perhatian Bai An dari dulu. Tapi karena sibuk, Jing Ling memakluminya.
Saat melihat ada kesempatan seperti ini tentu Jing Ling tidak menyia-nyiakannya. Tapi Bai An mengabaikannya.
Kaki kanan Jing Ling langsung menginjak tanah berkali-kali karena saking kesalnya.
“Ada apa Saudari Jing?” Tanya Bai An kembali.
Tu Long langsung terkekeh lalu saat ingin mengatakan sesuatu. Jing Ling langsung mengangkat kepalanya kemudian menatap Tu Long. “Kau lebih baik pergi berkultivasi sana, menganggu saja,” kata Jing Ling dengan dingin.
Bukannya takut, Tu Long malah semakin menggoda. “Tuan muda hati-hati ya, karena jika wanita sedang menyimpan sesuatu di dalam hatinya. Maka wanita itu mudah marah jika tidak kesampaian,” kekeh Tu Long kemudian melesat pergi dengan kekuatan penuhnya. Karena takut di kejar Jing Ling.
Jing Ling yang mendengar itu langsung mendengus kesal, ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah 4 Binatang Roh Iblis. “Kalian kenapa di sini? Cepat pergi juga,” kata Jing Ling sambil mendengus.
Dengan cepat mereka berempat menyusul Tu Long.
__ADS_1
Sementara Bai An kini menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kenapa kau mengusir mereka semua Saudari Jing?” Tanya Bai An pura-pura polos.