Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Pertarungan Saudara Bai An Melawan Para Patriark


__ADS_3

Tanpa menunggu waktu lama, Bai En langsung ikut mengejar Bai An.


Wuss..!!


Tap tap..!!


Bai An dan Bai En langsung mendarat menggunakan jubah bertudung, agar wajah mereka tidak di kenali oleh musuh. Karena saat ini Bai An menyadari akan cukup berbahaya jika ia memperlihatkan wajahnya.


Bai An tahu jika dirinya, Bai En dan para saudaranya sedang di incar oleh musuh yang jauh lebih kuat.


Bai An menatap para patriark yang sedang bergerak ke arah Lang Zai, Pixiu, Tu Long dan Gi Lian.


Tapi pandangan mata Bai An langsung beralih ke arah Leluhur klan Du sambil menunjukkan senyum cerah. Lebih tepatnya pandangan mata Bai An menatap ke arah cincin penyimpanan yang terselip di jari manis Leluhur klan Du.


“Kakak, kau lawan salah satu patriark itu, jangan terlalu cepat membunuh mereka, bermain-main saja lebih dulu sambil meningkatkan pengalaman bertarungmu karena aku melihatmu sangat malas berlatih, itu terlihat saat aku bersama para saudaraku mengeroyokmu, kau bahkan tak mampu melukai kami sedikitpun,” kata Bai An serius.


Bai En langsung tersenyum kecut saat mendapatkan ceramah dari adiknya.


“Lama-lama kau sama seperti ibu, dulu ia juga selalu menceramahiku saat malas berlatih. Aku jadi merindukan kata-kata ceramah seperti ini,” kata Bai En sedikit senang karena kata-kata adiknya telah mengingatkannya kembali masa lalu.


Bai An terkekeh kecil lalu berteriak kepada Tu Long dan Gi Lian.


“Tu Long, Lian'er, kalian bunuh para tetua dari gabungan ketiga klan, bairkan kakak ku, saudara Lang Zai dan Pixiu yang akan melawan para patriark.”


Tu Long dan Gi Lian langsung mengangguk dengan semangat.


Tu Long bersemangat karena bisa membunuh lebih banyak musuh dari Lang Zai dan Pixiu.


Berbeda dengan Gi Lian, Gi Lian bersemangat karena senang di perintah oleh kakak angkatnya.


Sementara para patriark langsung menggeram marah karena merasa di rendahkan oleh musuh mereka, terutama patriark Du yang dari tadi mencari Bai An.


Setelah patriark Du melihat Bai An, ia langsung melesat ke arah Bai An sambil mengayunkan pedangnya tanpa ragu.


Tapi dengan cepat Bai En muncul sambil tertawa kecil di balik tudungnya.


Trank..!!


“Hehe,, lawanmu adalah aku,” kata Bai En.


Patriark Du langsung mendengus seperti meremehkan Bai En. Karena Bai En terlihat sangat biasa-biasa saja, tidak ada kelebihan apapun dari Bai En.


Tapi sesaat kemudian ia langsung membeku karena ada sedikit darah menetes di pipi kirinya.

__ADS_1


Patriark Du langsung mundur beberapa langkah sambil mengambil posisi waspada, ia tak tahu apa yang membuat pipinya terluka, tapi ia yakin jika ini adalah perbuatan Bai En.


Bai En yang melihat itu langsung tersenyum, Bai En tahu jika patriark Du tidak menyadari ia melempar belati tadi karena terlalu merehkan dirinya. Jika ia waspada seperti ini, tentu patriark Du akan melihat belati yang ia lempar. Tapi inilah yang ia inginkan karena ia ingin bermain-main lebih dulu mengikuti perkataan adiknya sambil melatih pengalaman bertarungnya yang kini sudah dumpul.


Bai En tanpa menunggu lama langsung melempar belatinya yang keluar dari balik jubahnya.


Wuss..!!


Belati Bai En langsung melesat dengan cepat ke arah patriark Du.


Patriark yang melihat satu belati melesat ke arah dirinya langsung tahu jika belati inilah yang membuat pipinya tergores tadi. Patriark Du juga tahu jika Bai En tadi bersungguh-sungguh mungkin kepalanya akan terlepas tadi. Tapi ia kini marah karena merasa di remehkan oleh Bai En.


“Tidak orang itu, sekarang kau yang merehkanku, aku akan membuatmu betapa menakutkannya diriku ini jika di remehkan,” kata patriark Du dengan keras sambil menebas pedangnya ke arah belati Bai En.


Trank,, crak..!!


Belati Bai En langsung hancur oleh ayunan pedang Patriark Du.


Tapi Bai En tetap tersenyum cerah, karena sifatnya memang murah senyum.


Dengan cepat Bai En melempar dua belatinya, kini kedua belati Bai En sedikit lebih cepat dari sebelumnya.


Patriark Du langsung mengerutkan keningnya saat melihat kecepatan kedua belati mengarah kepadanya.


Trank..!!


Wuss..!!


Patriark Du langsung menghindar setelah menghalau satu belati Bai En.


Kini patriark Du lebih waspada saat melihat kecepatan lemparan belati Bai En.


...___________...


Sementara di tempat Lang Zai kini ia sedang mengayunkan tangannya yang berbentuk cakar.


Patriark Qin langsung menghindar ke arah samping sambil mengayunkan kakinya ke dada Lang Zai.


Dengan cepat Lang Zai menggunakan tangan kirinya untuk menangkis.


Bam..!!


Benturan yang di sertai energi dari Lang Zai dan Patriark Qin langsung terdengar cukup keras.

__ADS_1


Lang Zai langsung menyeringai kejam karena kini ia sadar jika lawannya adalah pengikut Kaisar Dewa Kegelapan, Lang Zai mengetahui itu dari Energi Patriark Qin yang keluar di sertai sedikit Energi Kegelapan.


“Heh.. Mengapa kau menahan diri, ayo keluarkan Energi Kegelapanmu sebelum kau menyesal karena terlambat menggunakan kekuatan sejatimu,” kata Lang Zai terkekeh kecil.


Patriark Qin langsung mendengus. “Tidak perlu menggunakan kekuatan sejati, dengan kekuatan biasaku pun kau akan mati mengenaskan,” kata Patriark Qin meremehkan.


Mendengar itu, Lang Zai sama sekali tidak marah.


“Benarkah, aku ingin tahu apakah perkataanmu itu terbukti atau tidaknya jika aku menyerangmu sekarang,” kata Lang Zai.


Lang Zai langsung melesat dan muncul di samping Patriark Qin.


Dengan cepat tangan kanan Lang Zai terayun membentuk sebuah cakar di sertai tekanan energi yang cukup besar.


Patriark Qin yang melihat itu langsung mengayunkan tinjunya di sertai energi yang besar juga.


Bam..!!


Saat tinju Patriark dan cakar Lang Zai beradu, patriark Qin langsung membelalakkan matanya di sertai dirinya terlempar jauh dan menabrak beberapa tetua, tapi itu tidak menghentikan patriark Qin yang terpental.


Bom..!!


Patriark Qin berhenti saat ia menabrak bukit bebatuan.


Tubuh patriark Qin kini terluka cukup parah karena berturan saat melawan Lang Zai maupun menabrak para tetua, pohon-pohon dan terahir bukit kecil.


Patriark Qin langsung bangun beserta aura kegelapan yang melonjak menyebabkan area sekelilingnya langsung bergetar hebat.


Sementara Lang Zai kini terkekeh kecil, ia sengaja tidak mengejar Patriark Qin tadi, maupun langsung membunuhnya saat beradu tangan kosong tadi.


Kini Lang Zai melesat ke arah Patriark Qin karena di sana menurut Lang Zai cukup sepi dan tak ada yang menganggunya saat bertarung.


Wuss..!!


..._____________...


Sementara Tu Long kini terlihat sibuk tertawa sambil menunjukkan kekejamannya ke arah para tetua dari ketiga klan yang kini lari ketakutan saat Tu Long mengejar mereka.


“Selamatkan hidup kalian dari Monster ini,” teriak salah satu tetua inti dari klan Mu.


“Hahaha,, kalian sungguh pengecut, sudah menang jumlah dan tingkat kekuatan kalian jauh melebihi diriku yang masih di puncak setengah abadi tapi masih saja melarikan diri,” kata Tu Long tertawa jahat, Tu Long juga mencoba memprovokasi mereka agar mereka kembali menyerang Tu Long, jika begitu Tu Long tidak capek mengejar mereka lagi seperti tadi.


Tapi provokasi Tu Long tidak di dengar karena sadar walaupun kekuatan mereka lebih tinggi tapi teknik bertarung mereka jauh lebih lemah dari Tu Long, terlebih lagi mereka kuat karena instan bantuan dari Kaisar Dewa yang mereka ikuti masing-masing. Berbeda dengan Tu Long yang berusaha menggunakan sumberdaya dan berlatih dengan cara berlatih melawan musuh seperti saat ini.

__ADS_1


Tu Long langsung kesal bercampur cemberut karena provokasinya tidak berguna.


__ADS_2