
Setelah Cen Tian memanggil Lang Zai, kini mereka semua berkumpul.
Lang Zai langsung mengeryitkan alisnya, saat melihat Cen Tian duduk bersama seorang gadis. Namun ia tidak bertanya lebih lanjut.
Kini pandangan Lang Zai ke arah Xiao Chu. "Apakah kita akan berangkat sekarang?" Lang Zai langsung bertanya ke intinya.
"Tunggu satu atau dua jam lagi Senior, kita akan makan malam terlebih dulu!" Xiao Chu langsung menjawab dengan sedikit gugup.
Lang Zai langsung mengangguk, dan melirik ke arah Cen Tian lagi, yang tidak melihat ke arahnya atau berbiacara sama sekali. Namun ia sibuk malah dengan seorang gadis.
Xiao Chu yang sadar akan hal itu, ia seketika menjadi gugup, "Junior Tian, Yi'er, ayoo kita makan lebih dulu," dengan cepat ia menyuruh kedua remaja itu untuk makan, agar tidak membuat Lang Zai menjadi marah.
Namun Lang Zai tidak marah, melainkan berpikir apakah kini kepribadian Cen Tian berubah lagi?, dari harta ke wanita. Itulah yang ada dalam pikiran Lang Zai.
Mereka semua yang awalnya makan dengan agak tegang, karena situasi yang mana Lang Zai selalu melirik Cen Tian, kini menjadi cair. Karena Cen Tian selalu menjadi pencair suasana.
Setelah makan malam, Cen Tian, dan Kaisar Xiao Chu kini berpamitan kepada semua orang.
Sedangkan untuk Lang Zai hanya diam saja, menunggu mereka semua.
"Tian Gege, hati-hati dijalan ya. Aku titip ayah bersamamu dan tolong jaga dia." Yi'er langsung memeluk Cen Tian, yang mana kini semua orang sedang tercengang melihat kedua remaja itu sedang mabuk asmara.
Kaisar Xiao Chu dan Permaisuri Yin, kini sedang tersenyum melihat apa yang dilakukan Yi'er. Tentu saja mereka akan bahagia, karena bisa mendapat menantu yang kuat.
Setelah berpamitan, Cen Tian dan Xiao Chu kini melirik ke arah Lang Zai, yang sedari tadi menunggu mereka berdua.
"Ayo!"
Tanpa menunggu jawaban dari Cen Tian dan Xiao Chu, Lang Zai langsung melesat lebih dulu, lalu mereka mengikuti Lang Zai.
Satu menit kemudian, Lang Zai tiba-tiba berhenti. Hal itu membuat Cen Tian dan Xiao Chu heran.
"Kenapa kau berhenti Senior?" Cen Tian langsung bertanya.
Lang Zai langsung mendengus saat mendengar pertanyaan Cen Tian, lalu mengalihkan pandangan pada Xiao Chu, dan bertanya, "Dimana tempatnya?"
"Ke arah selatan Senior!" jawab Xiao Chu dengan cepat menunjuk tempat yang akan mereka tuju.
__ADS_1
Lang Zai langsung menyelimuti tubuh Cen Tian dan Xiao Chu dengan energinya. Lalu melesat dengan kecepatan 70% menuju lokasi yang telah ditunjuk.
30 menit kemudian mereka telah melihat kota tempat markas para pemberontak. Namun mereka cukup terkejut, Xiao Chu melihat salah satu komandannya tengah membawa beberapa penduduk kota menyelinap keluar.
Wuusshh...
Lang Zai langsung berhenti di depan para pebduduk yang dipimpin oleh Yun Cho.
Dengan sigap Yun Cho bersiaga sambil mengeluarkan tombaknya, "Siapa kalian?" Teriak Yun Cho.
"Eh.. Yang Mulia!" Dengan cepat Yun Cho mengenali Kaisar Xiao dan berteriak cukup keras hingga di dengar oleh para penduduk.
"Bagaimana cara kalian bisa membawa para penduduk dengan selamat?" Xiao Chu cukup penasaran. Karena ia yakin kota ini pasti dijaga dengan ketat.
"Itu, Yang Mulia.. Para penjaga sedang berkumpul untuk pemeriksaan."
Yang menjawab bukan Yun Cho. Namun pemimpin Kota, yang baru saja datang bersama penduduk lainnya dan para tahanan.
Xiao Chu mengangguk, "Apakah semua penduduk kota telah kalian amankan?"
Yun Chu dan pemimpin Kota secara bersamaan menjawab pertanyaan Xiao Chu.
"Kalian pergilah lebih jauh dari sini, karena kota ini mungkin akan hancur karena akan terjadi pertarungan," ucap Xiao Chu, setelah ia mendengar semua penduduk kota telah di amankan.
"Ta.. Tapi Yang Mulia," Yun Cho agak ragu, karena ia meninggalkan Bai An dan Bai Luan disana. Dan ia juga ingin ikut berjuang bersama.
"Tidak ada tapi-tapian. Ini adalah perintah." Dengan tegas Xiao Chu berkata.
Mendengar itu, Yun Cho langsung menunduk dan hanya pasrah lalu mengangguk.
Setelah Yun Cho dan yang lain pergi. Xiao Chu melirik Lang Zai, Lang Zai langsung mengangguk.
Xiao Chu langsung lebih dulu melesat, lalu di ikuti oleh Lang Zai dan Cen Tian. Setelah sampai gerbang Kota, tanpa menahan diri, Xiao Chu langsung menghancurkan gerbang kota dengan kekutan penuhnya.
Ayunan tangan Xiao Chu yang dialiri energi putih kebiruan langsung menghantam gerbang.
Duaaarrr...
__ADS_1
"Anak durhaka, keluar dan lepaskan adikmu!"
Xiao Chu langsung berteriak menggunakan energinya. Agar suaranya bisa menggema ke seluruh pelosok kota.
Sedangkan Lang Zai dan Cen Tian, dapat merasakan aura dari Bai An dan Bai Luan, walaupun agak samar-samar. Karena mereka mereka menekan auranya.
Di tempat Bai An, Bai Luan dan Xiao Lee Tan berada.
"Guru, apakah kita akan kesana?" Tanya Bai Luan.
"Tunggu dulu, kita tunggu para orang berjubah hitam keluar. Aku bisa saja membunuh mereka langsung, tapi aku takut mereka dengan cepat mengirim informasi tentang kekuatan kita. Sebelum kita membunuhnya."
Bai An langsung memberitahukan maksutnya. Bai An berpikir, mungkin gampang membunuh mereka, tapi ia takut mereka lebih dulu mengirim pesan kepada ketua mereka sebelum Bai An membunuh mereka.
Bai Luan dan Xiao Lee Tan langsung mengangguk, walau Xiao Lee Tan agak ragu dengan kata-kata Bai An. Namun ia ikut mengangguk.
***
Di ruangan yang lumayan megah, Pangeran pertama, kedua, ketiga, dan kelima sedang asik berpesta. Namun pesta mereka harus rusak saat mendengar suara teriakan dari seseorang yang mereka kenal.
"Hari ini kau harus mati ayah!" Pangeran pertama langsung menyeringai, ia berpikir ayahnya datang hanya untuk menyerahkan nyawanya.
Pangeran pertama lalu melirik dua pria berjubah hitam sedang bersama gadis-gadis kota yang mereka tangkap saat mereka pertama kali datang ke kota ini.
"Tu.. Tuan, itu ayahku. Jika anda bisa membunuhnya sekarang, maka wilayah timur ini 100% akan langsung menjadi milik anda." Pangeran pertama agak terbata-bata saat mengucapkan kata-katanya. Ia takut orang berjubah hitam ini akan marah.
Orang berjubah hitam tersebut langsung menyeringai, yang mana jika dilihat akan sangat mengerikan bagi Pangeran pertama. Namun orang-orang berjubah hitam ini menutup wajah mereka dengan kerudung dan cadar. Hanya mata mereka saja yang dapat terlihat.
"Kalian semua sambutlah mayat hidup itu keluar!" Suara serak dari orang berjubah hitam itu cukup membuat Pangeran pertama dan yang lainnya merinding.
Mereka langsung mengangguk dengan cepat. "Baik Tuan."
"Nomer 15, kau ada dimana?" Orang berjubah hitam tersebut bertanya melewati telepati yang sama dengan Bai An.
Nomer 15 yang dimaksut adalah orang tadi ditemui oleh Bai An dan Bai Luan.
"Aku sedang menuju ke arah asal suara teriakan, No 07." Jawab No 15.
__ADS_1