
“Sialan,,” teriak kedua komandan tersebut tidak sempat menghindar.
Duar.
Kepulan asap langsung memenuhi tempat tersebut, Bai An yang melihat tersebut langsung menatap tajam ke arah seseorang yang berdiri di balik kepulan asap tersebut.
“Kekuatan mu lumayan juga nak,” kata Jendral yang terlihat sangat berwibawa sekitar berumur 40 tahunan.
“Oh, apa kau pemimpinnya?” tanya Bai An santai.
Pertanyaan Bai An tidak di jawab, ia melirik ke arah kedua komandan yang kini sedang bersujud dengan tubuh bergetar.
“Kalian berdua uruslah semut-semut yang membuat onar di luar, sudah terlalu banyak anggota kita di bunuh,” kata Jendral tersebut.
“Baik jendral,” jawab kedua komandan lalu pamit pergi, namun Bai An menghalanginya.
“Sudah mengabaikan ku, seenaknya saja kalian ingin pergi,” kata Bai An langsung melesat ke arah kedua komandan tersebut, kemudian mengayunkan pedangnya.
Trank,,
Pedang Bai An di tahan dengan mudah oleh Jendral tersebut, hingga membuat Bai An terpental mundur.
Bai An yang melihat kekuatannya berbeda jauh tidak merasa gentar sedikitpun.
“Lawan bermainmu adalah aku nak, ku temani kau bermain hingga bertemu penjaga neraka.”
Mendengar kata-kata jendral tersebut, “Neraka? apa kau pernah bertemu penjaga neraka? jika tidak aku akan mewujudkannya,” kata Bai An langsung melesat ke arah jendral tersebut.
“Tebasan kilat cahaya,”
Bai An langsung mengayunkan pedangnya di sertai energi berbentuk cahaya yang mengarah ke tubuh jendral tersebut.
Jendral tersebut yang melihat serangan Bai An cukup lambat di matanya, kemudian mengayunkan tinjunya ke arah pedang Bai An.
Duar,,
Saat tinju dan pedang Bai An beradu, Bai An langsung terlempar mundur, dan menabrak tembok.
“Hoek,”
__ADS_1
Bai An langsung mengelap darah di bibirnya menggunakan tangan kirinya.
“Oh, lumayan. Kau bisa bertahan dari tinju sederhana ku,” kata jendral tersebut terlihat santai dan tidak langsung menyerang Bai An.
Bai An tidak membalas ucapan jendral tersebut, tatapan mata Bai An tertuju ke arah jubah jendral tersebut. Tepatnya mengarah ke lambang teratai, ia melihat hanya 3 kelopak bunga yang mekar, namun Bai An merasa kekuatan jendral di depannya tidak seperti yang ia bayangkan saat melawan Leng Cung dan Leng San.
“Orang ini jauh lebih kuat dari dua orang yang ku bunuh sebelumnya, ia seperti menyembunyikan kekuatannya,” gumam Bai An.
Bai An kemudian memasukkan pedangnya dan mengeluarkan pedang lekuhur klan Bai.
“Oh pedang yang lumayan, itu akan menjadi milik ku,” ujar jendral tersebut tersenyum penuh makna.
Bai An yang mendengarnya langsung mendengus, “Langkahi dulu mayat ku,” kata Bai An langsung berlari dengan bergerak zig zag.
Setelah Bai An sampai di depan jendral tersebut, Bai An langsung mengerahkan separuh energinya.
“Tebasan Ashura,”
Teriak Bai An mengayunkan pedangnya, namun tidak di situ saja, Bai An diam-diam mengeluarkan energi birunya untuk menyerang tubuh jendral tersebut.
Jendral tersebut yang tadi tenang langsung merasakan bahaya, ia langsung mundur.
Duar,,
Lalu sebuah energi kegelapan cukup pekat dan murni keluar dari tangan jendral tersebut saat melihat energi bewarna biru melesat ke arahnya.
Duar,,
Saat kedua energi tersebut bertemu dan meledak, Bai An yang tidak mengetahui apa-apa langsung terpental dan menabrak beberapa tembok saat ia terkena dampak dari tabrakan energi tersebut.
“Ukhh,, hoek,, hoek,,”
Bai An langsung terluka parah, tak lama energi birunya langsung berusaha menyembuhkan Bai An.
Jendral tersebut yang mempunyai banyak pengalaman tahu akan hal tersebut lalu melindungi dirinya dengan auranya.
Jendral tersebut langsung bergumam, “Aku tak menyangka akan bertemu anak yang bisa mengusai energi semesta, energi yang terkuat dari seluruh energi, namun anak ini masih belum mengusainya dengan sempurna. Jika ia menguasainya dengan sempurna, maka aku akan langsung mati, walau kekuatannya lemah.”
“Anak ini harus mati, atau ia akan menjadi batu sandungan untuk Tuan,” kata jendral tersebut menambahkan dan melihat Bai An yang terluka parah.
__ADS_1
Namun saat jendral tersebut akan pergi membunuh Bai An, ia tiba-tiba mendengar suara yang mengerikan hingga membuatnya merinding.
“Pergilah dari sana atau kau akan mati, biarkan anak tersebut hidup sementara waktu, dan suruh yang lain saja mencoba membunuhnya, asal kalian para jendral jangan ikut turun tangan.”
Jendral tersebut tanpa meununggu lama langsung merobek ruang lalu memasuki celah, tapi sebelum memasuki celah, ia melirik ke arah Bai An dengan heran, padahal ini adalah kesempatannya membunuh anak tersebut, tapi kenapa tangan kanan Tuannya melarang dan jika tidak ia akan mati.”
Wuss,,
Jendral tersebut langsung lenyap dengan berbagai pertanyaan dalam hatinya, namun ia tidak mungkin untuk melawan perintah.
Bai An yang melihat Jendral tersebut tiba-tiba menghilang langsung menghela nafas, ia tidak mau tahu mengapa ia tiba-tiba pergi.
Tak lama Lang Zai, Pixiu, dan Bai Luan datang, sebenarnya mereka bertiga sudah dari tadi membunuh musuh-musuhnnya, namun untuk kedua komandan yang tadi lawan Bai An tiba-tiba menghilang karena campur tangan kanan yang bicara kepada jendral tersebut.
Lang Zai yang melihat Tuan Mudanya terluka cukup parah merasa bersalah, namun mereka berdua kecuali Bai An tidak bisa bergerak untuk membantu Bai An, Lang Zai tahu ini ulah Mu Xia'er dan ia tahu juga ini untuk kebaikan Bai An, agar tidak terlalu bergantung kepada sesuatu yang membuatnya terlalu terlena tanpa usahanya sendiri.
“Tuan Muda, anda tidak apa-apa?” tanya Lang Zai basa basi.
Bai An melirik Lang Zai, Pixiu dan Bai Luan dengan tersenyum pahit, “Aku tidak apa-apa,” jawab Bai An dengan suara getir.
“Guru, ambil saja kekalahan guru jadi pelajaran, aku yakin jika orang yang guru lawan tadi mau membunuh guru, maka dengan mudah ia membunuh guru, tapi aku tidak tahu apa alasannya pergi.”
“Yang di katakan junior Luan itu benar, menang kalah itu biasa, ambil saja hikmahnya. Jangan berkecil hati,” kata Lang Zai membenarkan perkataan Bai Luan.
“Benar Tuan Muda, terlebih lagi yang kau lawan tadi jauh lebih kuat darimu, jika kekuatan Tuan Muda setara dengannya, aku yakin kau pasti akan menang,” Pixiu ikut menyemangati Bai An.
Bai An yang mendengar itu langsung tersenyum lembut, “Terimakasih, aku beruntung mempunyai keluarga seperti kalian yang bisa menyemangatiku, aku sadar aku terlalu bergantung kepada kalian, aku terlalu naif.”
Bai An diam beberapa saat lalu menambahkan, “Aku mengira dengan adanya kalian disisi ku, aku tidak perlu bertarung sehingga aku terlena akan hal tersebut.”
Bai An yang kini merasa tercerahkan, langsung menyemangati dirinya sendiri, “Aku mulai sekarang akan berusaha sendiri, akan tiba saatnya aku membutuhkan bantuan kalian.” Gumam Bai An lalu terjatuh pingsan saat berusaha berdiri.
Saat Bai An terjatuh, Bai Luan langsung melesat menangkap tubuh Bai An dan melihat ke arah Lang Zai dan Pixiu.
“Kita lanjutkan saja perjalan sambil membawa cucu ku,” ujar Bai Luan.
“Baik Leluhur,” jawab Lang Zai dan Pixiu bersamaan.
“Ingat saat Cucu ku sadar, jalani saja seperti biasa, jangan ada formal-formal seperti ini atau kalian mau di siksa oleh Xia'er,” ancam Bai Luan.
__ADS_1
Dengan cepat Lang Zai dan Pixiu mengangguk patuh.
Entah kapan Lang Zai dan Pixiu mengetahui Bai Luan adalah kakeknya Bai An, dan bagaimana mereka percaya kalau Bai Luan adalah kakek Bai An, hanya Mu Xia'er, Bai Luan, Lang Zai dan Pixiu yang mengetahui rahasia ini bersama dengan Long Yuan. Namun mereka sengaja menutupnya dari Bai An.