
“Kau mau kemana Panglima Gon.”
Suara Fanghu sangat dekat dengan Liu Gon, seperti Fanghu berkata di samping telinga Liu Gon.
Dengan cepat Liu Gon melempar dirinya ke arah kanan.
Wuss..!
Serangan santai Fanghu mampu Liu Gon hindari.
“Orang gila ini sangat cepat sekali sampai disini,” gumam Liu Gon semakin kesal dan kini menyesal mengambil tugas ini.
Ha ha ha..!
Bom..!
Bomm..!
“Ayo lawan, mana keberanianmu Panglima Gon.”
Fanghu terus menerus mempermainkan Liu Gon, ia sangat menikmati hal tersebut.
Kini kondisi Liu Gon sangat buruk. Entah mengapa Fanghu sengaja membiarkan Liu Gon seolah olah seperti bertahan hidup. Agar Liu Gon mempunyai sedikit semangat saat melawannya.
***
Di tempat yang cukup jauh dari Fanghu dan Liu Gon bertarung.
Lang Zai dan Pixiu kini bertarung melawan kedua jendral Bu.
Terlihat jika tubuh Lang Zai sangat bersih. Sedangkan musuhnya Jendral Bu Tan kini tubuhnya banyak luka akibat cakaran.
Untuk Pixiu juga demikian ia masih baik baik saja dan musuhnya Jendral Bu Hongyan terluka jauh lebih parah. Bu Hongyan kini di ambang kematian.
“Saudara Lang! ayo kita selesaikan dengan cepat dan mencari Tuan Muda.”
Lang Zai langsung mengangguk mendengar suara telepati dari Pixiu.
Wuss..!
Aura Lang Zai dan Pixiu langsung berubah.
“Sialan..! Ternyata mereka berdua tidak serius melawan kita dari tadi.” Raung Bu Tan kemudian menambahkan. “Jika aku mati, maka kalian juga harus ikut mati.”
Terpancar rencana licik dari Bu Tan.
Saat melihat Lang Zai dan Pixiu menyerang mereka. Bu Hongyan langsung merapat ke arah Bu Tan kemudian mengangguk bersama.
“Mati..!”
Teriakan Lang Zai cukup keras. Pixiu yang melihat sedikit ke anehan dari Bu Tan dan Bu Hongyan langsung berteriak keras.
“Mundur saudara Lang.”
“Terlambat,” gumam kedua jendral tersebut lansung meledakkan dantian mereka.
Lang Zai yang mendengar itu dengan cepat merobek ruang kemudian masuk.
__ADS_1
Wuss..!
Bom..!
Duar...!
Bersamaan dengan masuknya Lang Zai. Tubuh kedua jendral Bu itu langsung meledak dahsyat. Suara ledakan sangat besar sampai terdengar ke Kota Han.
“Hoek,, walaupun aku menjauh. Tetap saja aku terluka,” gumam Pixiu melihat dimana asal ledakan terjadi.
“Lalu bagaimana dengan saudara Lang Zai?” Pixiu yang khawatir langsung melesat mencari Lang Zai. Ia yakin jika Lang Zai masih baik baik saja.
Liu Ce yang sedang melesat langsung berhenti dan melihat ke arah asal ledakan. “Gagal sudah, mereka telah mati,” gumam Liu Ce tahu jika yang mati adalah kedua Jendral Bu.
Di tempat Fanghu dan Liu Gon juga demikian, mereka berdua melihat ke arah asal ledakan. “Apa kedua saudara baru ku tidak apa apa?” gumam Fanghu sedikit khawatir kemudian menyebarkan kesadarannya.
Fanghu hanya dapat melihat Pixiu kesana kemari seperti mencari sesuatu. Kekhawatirannya semakin bertambah, namun itu langsung menghilang saat ia merasakan celah terbuka di pulau Donglan. Lalu Lang Zai keluar dengan tubuh terluka cukup parah akibat serangan bunuh diri kedua Jendral Bu.
Saat Fanghu akan ke tempat Lang Zai. Ia tiba tiba saja membeku saat tidak sengaja area kesadarannya merasakan aura yang sangat ia kenal.
Fanghu juga melihat Bai An sedang menjaga orang yang sangat ia kenal itu.
Air mata Fanghu langsung keluar dengan sendirinya. Tapi tak lama matanya langsung memerah kembali saat melihat Liu Ce sedang kesana dan hampir sampai.
Bersamaan dengan Liu Gon mencoba merobek celah secara diam diam.
“Aku tidak tahu bagaimana kalian menangkap adik yang ku kira telah mati. Tapi satu hal yang perlu kalian tahu, kalian semua akan mati disini.”
Wuss..!
Kapak Fanghu langsung terayun kemudian mendarat di bahu Liu Gon.
Crash..!
Akhhh..!
“Sialan..! Apa aku akan mati di sini? tidak tidak aku tidak bisa mati, aku harus ke tempat adik orang gila ini.”
Melihat Liu Gon mencoba lari ke arah adiknya. Fanghu tidak tinggal diam.
Fanghu dengan membabi buta menyerang Liu Gon. Dan untuk Liu Ce yang kesana, ia tidak terlalu mempermasalahkannya karena ia tahu Bai An tidak sesederhana yang terlihat. Di tambah jika adiknya sudah pulih walau hanya beberapa persen, adiknya bisa dengan mudah membunuh Liu Ce.
***
“Ada yang datang.”
Dengan cepat Bai An memasukkan busur panahnya, kemudian mengeluarkan pedang pusaka klan Bai.
Bai An dapat merasakan kekuatan musuh yang jauh lebih kuat datang ke tempatnya.
Wuss..!
“Kurang ajar,” teriak Liu Ce marah saat melihat Bai An membantai semua orang yang berada di dalam kapal dan merakan aura kuat dari ruangan formasi. Itu berarti Bai An telah membuka pintu tersebut.
Liu Ce yakin jika Fanghu kini dapat merasakan adiknya, karena mereka sengaja menggunakan artefak tingkat Dewa untuk menutupi aura adik Fanghu.
Bai An kini melihat Liu Ce termenung tidak menyia-nyiakan kesempatan.
__ADS_1
“Tebasan Ashura.”
Wuss..!
Bom..!!
Karena tak siap tangan Liu Ce yang tadi hancur kemudian tumbuh kembali akibat pil Neraka kini terpotong lagi untuk menahan tebasan Bai An.
“Kurang ajar, apa begini cara kalian bertarung seperti seorang pengecut,” mata Liu Ce memerah marah karena di serang saat ia tidak siap.
“Bukankah kau yang lebih pengecut menggunakan seseorang sebagai umpan agar dapat membunuh. Terlebih lagi kekuatan kita jauh berbeda, apa kau tidak tahu malu saat mengatakan aku pengecut.” Kata Bai An dengan tawa mengejek.
Mati..!
Liu Ce muncul di depan Bai An dengan kaki kanan sudah hampir mengenai wajah Bai An.
Bai An dengan cepat menghilang, kemudian muncul di belakang Liu Ce.
Mati..!
Bai An mengayunkan pedangnya tanpa teknik apapun.
Bom..!
Duar...!!
Liu Ce mampu menghindah, pedang Bai An hanya mengenai dek kapal yang ia pijaki hal itu membuat Kapal berguncang hebat. Namun anehnya serangan yang meleset tadi tadi tidak mampu membuat dek kapal rusak terlalu parah, serangan tersebut hanya membuat lubang kecil.
“Kapal ini sangat kuat, aku harus memilikinya.” Bai An langsung menunjukkan wajah keserakahan.
Liu Ce yang melihat itu merasa jijik.
Liu Ce kini muncul di depan Bai An sambil mengayunkan tangan kosongnya ke dada Bai An.
Mati..!
Bai An kembali menghilang, kemudian muncul lagi di depan Liu Ce sambil mengayunkan pedangnya.
“Tebasan Ashura.”
“Sialan ternyata dugaanku benar ia menguasai hukum ruang dan waktu. Menguasai Hukum ruang dan waktu sama dengan bisa berteleportasi.” Liu Ce merutuki nasibnya. Karena sekuat apapun dia jika ia melawan orang yang menguasai Hukum ruang dan waktu maka itu akan sia sia.
Liu Ce langsung memiringkan kepala dan bahunya ke kanan untuk menghindari serangan Bai An.
Crash..!
Ukhh..!!
Bahu kiri Liu Ce menganga lebar saat terkena tebasan Bai An.
Seakan kurang puas. Bai An mengayunkan pedangnya. Tapi terlambat karena Liu Ce sudah mundur lebih dulu.
Bai An kembali menghilang dan muncul di depan Liu. Pedang Bai An kini hanya berjarak setengah meter dari kepala Liu Ce.
Bom..!
Bai langsung mundur 5 meter saat serangannya di halangi.
__ADS_1