
“Dimana harta karunnya,” teriak Tu Long dan Bo Long langsung tersadar dan kembali bugar.
Pletak..!!
“Jangan ikut-ikutan gila,” kata Bai An dengan kesal.
Bai An sudah kewalahan melihat tingkah Duan Du dan Cen Tian yang gila harta, terlebih lagi Tu Long juga gila bertarung kini mau menambah kegilaannya menjadi gila harta.
Tentu saja Bai An langsung kesal karena cukup mereka semua mempunyai masing-masing kepribadian satu saja, jangan lagi menambah yang lain.
Tu Long dan Bo Long langsung mengusap-usap kepalanya beberapa kali.
Melihat Bai An masih menatapnya dengan kesal, Tu Long dan Bo Long bukannya takut atau cemberut, mereka berdua malah cekikikan karena ekspresi Bai An cukup lucu di mata mereka.
Bai An langsung menghela nafas berat.
“Peta ini mungkin tidak berada di dunia ini, coba kau perhatikan,” kata Bai An menyodorkan Peta tersebut ke arah Bo Long.
Bai An sengaja memberikan peta itu ke Bo Long karena ia mengenal dunia ini dengan baik.
Bo Long langsung mengambilnya.
Setelah mengambil dan melihat dengan seksama.
Bo Long mengerutkan keningnya, semakin lama ia melihat tanda titik yang berbeda warna, semakin besar kerutan di keningnya.
Menyadari ada yang aneh di wajah Bo Long. Bai An, Duan Du dan Tu Long menjadi penasaran.
Keheningan langsung terjadi cukup lama.
“Ada apa dengan peta ini? Apa kau mengetahui lokasi di setiap titik peta ini?” Tanya Bai An langsung memecahkan keheningan.
Bo Long yang mendengar itu langsung melirik ke arah Bai An.
Dengan ragu Bo Long berkata.
“Menurut perkiraanku, peta ini adalah peta sebelum dunia ini terpisah, dunia setengah dewa ini dulunya satu, termasuk alam dewa juga, tapi karena suatu kejadian yang di sebut Jaman Kehampaan, dunia setengah dewa tiba-tiba terpisah dengan sendirinya.”
“Aku mengetahui ini dari ayah angkatku Long Yuan, lebih baik tanya dia, karena dia lebih tahu tentang sejarah masa lalu,” kata Bo Long panjang lebar.
“Hmm..!! Terus titik-titik ini, menurutmu apa? dan perkiraanmu, di titik ini lokasi dunia kita saat ini ada di mana?” Tanya Duan Du mencoba menganalisa.
Bo Long langsung menunjuk titik bewarna kuning.
__ADS_1
Duan Du, Bai An dan Tu Long melihat tanda yang Bo Long tunjuk langsung mengangguk.
Bai An dan Duan Du langsung memperkirakan pendapat mereka.
“Hmm..!! Jika lokasi kita saat ini titik kuning ini berarti titik Biru ini adalah alam dewa dan titik hijau adalah 3 dunia setengah dewa terkuat.” Kata Bai An.
Duan Du setuju lalu menambahkan. “Lalu titik bewarna putih ini apa?”
“Inilah yang membuat aku bingung, makanya aku menyuruh kalian bertanya ke ayah angkat,” jawab Bo Long.
Bai An dan Duan Du seketika tersenyum lebar.
Mereka berdua tak perlu bertanya karena dapat memperkirakan apa yang ada di tanda titik-titik putih yang cukup banyak ini.
Tu Long dan Bo Long yang melihat wajah Bai An dan Duan Du langsung bergidik ngeri, tubuh mereka langsung panas dingin sambil memikirkan yang tidak-tidak.
“Apakah di otak mereka berdua isinya hanya harta aja ya?” Gumam Tu Long dan Bo Long dalam hati.
Memang apa yang di pikirkan Tu Long dan Bo Long benar, tapi tidak sepenuhnya benar.
Bai An dan Duan Du memang memikirkan harta, tapi bukan hanya untuk mereka berdua saja, melainkan semua keluarganya agar bisa bersama-sama meningkatkan kekuatan mereka semua untuk menjaga satu sama lain. Itulah yang selalu Bai An pikirkan, ia juga mengajarkan ini kepada Duan Du dan Cen Tian.
Mereka mengumpulkan harta untuk di pakai bersama, bukan untuk diri sendiri.
Bai An dan Duan Du menebak jika tanda titik putih yang ada di peta itu adalah sebuah dunia yang jauh lebih kuat dari alam dewa, mereka berdua membayangkan apa saja sumberdaya yang ada di sana, mungkin melebihi apa yang ada di alam dewa.
Jika Tu Long dan Bo Long tahu isi pikiran mereka. Mungkin Bo Long dan Tu Long akan marah dan juga bersemangat karena mereka berdua berbeda pikiran.
Pikiran Bo Long dan Tu Long lebih mementingkan pertarungan dan masalah harta belakangan.
Cukup lama Bai An dan Duan Du berpikir liar, tak lama setelah itu, suara panggilan terdengar nyaring.
“Tuan muda, apa kita akan berangkat sekarang?” Tanya To Gel sambil mengusap kedua matanya berkali-kali.
Mendengar itu, Bai An langsung melirik ke asal suara, lalu melirik ke atas.
Tanpa sadar pagi hari sudah tiba.
“Hmm..!! Baiklah, ayo kita berangkat.” Ajak Bai An lalu melesat terbang, di ikuti oleh Duan Du, Tu Long, Bo Long dan terahir To Gel.
Wuss wuss..!!
5 hari berlalu..!!
__ADS_1
Tap tap..!!
Bai An dan yang lainnya berhenti karena mendengar suara pertarungan.
Tak jauh dari tempat Bai An dan yang lainnya berhenti kini mereka melihat ada 10 orang sedang mengepung 4 orang.
4 orang ini ada 1 pria sepuh, 1 laki-laki berusia Duan Du, 1 wanita berusia Bai An dan satu wanita yang masih kecil sekitar berumur 9 tahun.
Melihat keempat orang ini sedang terluka dan di kepung oleh orang-orang berjubah merah darah.
Darah Tu Long dan Bo Long langsung mendidih, bukan karena kasihan kepada keempat orang ini, melainkan semangat bertarung mereka mulai bangkit.
Sementara Bai An dan Duan Du cukup marah, tapi mereka berdua lebih mengamati lebih dulu.
Untuk To Gel, ia lebih dulu melesat seperti orang kesetanan.
Walau ia terbilang lemah, tapi jiwa penolongnya sangat tinggi, hal inilah yang membuat Bai An dan Duan Du tersenyum saat melihat itu.
“Hehe,, pura-pura mengamati dan terlihat berpikir adalah hal yang cukup cerdik kakak, kau benar-benar hebat jika bisa menebak To Gel sangat memiliki jiwa penolong yang tinggi.” Kekeh Duan Du.
Sebenarnya mereka berdua pura-pura saja naif tadi karena ingin melihat apa langkah yang di ambil To Gel, walau To Gel juga naif karena yang ia lawan adalah 10 orang yang kekuatannya jauh lebih tinggi dari To Gel.
Tapi itu tak mengapa bagi Bai An, karena Bai An masih mempunyai sumberdaya yang banyak untuk membantu To Gel meningkatkan dirinya.
Untuk Bo Long dan Tu Long kini wajah mereka sangat jelek karena di tekan oleh aura Bai An, mereka berdua sama sekali tidak bisa bergerak.
“Tuan muda,, ayolah, lepaskan kami, kami juga ingin menikmatinya, jangan biarkan To Gel sendirian,” rengek Tu Long.
Bai An diam saja, ia kini sedang pokus melihat To Gel.
To Gel yang baru sampai langsung mengayunkan pedangnya.
“Dasar pengecut, beraninya kepada wanita dan orang tua,” teriak To Gel.
“Mati,” teriak To Gel, pedang To Gel melesat ke arah leher salah satu orang berjubah merah.
Bam..!!
Bukannya musuh yang terlempar, malah To Gel yang terlempar jauh.
Uhuk uhuk..!!
To Gel langsung memuntahkan banyak darah.
__ADS_1
Sementara keempat orang yang ingin To Gel tolong tadi langsung mundur ke arah To Gel.
“Anak muda, larilah bawa ketiga cucuku, biarkan aku yang menghadang mereka sekuat tenaga, dan terimakasih bantuanmu tadi,” kata pria sepuh tersebut.