Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Kebahagian Penduduk Desa


__ADS_3

Saat melihat para penduduk menangis karena bahagia, Bai An langsung terharu.


“Kek, apakah kau yang menjadi kepala desa disini?”, tanya Bai An.


Mendengar itu, pria tau tersebut langsung mengangguk lalu ingin berlutut bersama para warna, namun sebuah aura langsung menekan menekan mereka agar tidak berlutut.


“Tidak perlu berlebihan seperti ini, kita sesama manusia harus saling membantu. Jika kalian ingin berterimakasih maka kalian harus berterimakasih dengan cara hidup bahagia tetap tersenyum.”


Mereka semua langsung terharu saat mendengar ucapan Bai An yang meminta permintaan sederhana.


“Terimakasih Tuan Muda,” semua penduduk langsung berterimakasih dengan rasa hormat yang tulus.


“Kakak apa kami bisa hidup tenang lagi?”, tiba-tiba seorang anak kecil berusia 6 tahun maju dan bertanya kepada Bai An.


Ibu orang tua itu ingin menghentikan anaknya yang menurutnya kurang sopan. Tapi Bai An langsung mengangkat tangannya untuk membiarkan anak kecil tersebut tetap berjalan ke tempat Bai An.


Saat anak kecil tersebut sampai, Bai An tersenyum hangat, “Tentu saja kau akan hidup tenang tenang, bahkan akan bahagia. Apakah kau percaya ucapan kakak?”


Anak kecil tersebut langsung mengangguk penuh semangat. “Tentu saja aku percaya, kakak orang jujur dan baik,” kata anak kecil tersebut.


Bai An tersenyum mendengar kata-kata polos dari anak kecil tersebut, ia langsung teringat dengan muridnya Fang Liu.


Setelah itu Bai An berbincang-bincang kepada kepala desa dan beberapa penduduk sambil menunggu Lin Xue dan Chu Jia.


2 jam Bai An dan yang lainnya menunggu, namun sampai saat ini Lin Xue dan Chu Jia masih belum kembali.


Bai An sempat bertanya kepada kepala desa dimana Lin Xue mandi dan kepala desa menjawab di rumahnya dan disana ada istrinya yang menemani, kepala desa juga memberitahu Bai An jika wajar wanita lama saat sedang mandi karena setiap wanita pasti ingin terlihat cantik dan menarik di hadapan laki-laki.


1 jam kembali berlalu, Bai An, Lang Zai, Pixiu dan beberapa penduduk laki-laki kini sudah menyiapkan beberapa daging buruan dan sayur sayuran.


Para wanita bertugas meracik bumbu.


1 jam lagi berlalu, semua hidangan sudah siap dan kini sudah siang hari. Tapi sampai saat ini Lin Xue belum kembali.


“Xia'er apakah Bibi masih di kamar mandi?”, tanya Bai An penasaran karena ini sudah 4 jam berlalu.


“3 jam yang lalu Bibi Xue sudah selesai mandi dan saat ini ia sedang merias dirinya namun belum selesai,” jawab Mu Xia'er terkekeh kecil.


Alis Bai An langsung berkedut-kedut saat mendengar hal tersebut.

__ADS_1


“Apakah untuk merias diri perlu selama itu?”, tanya Bai An.


“Tentu saja setiap wanita kan harus mempunyai tampilan yang menarik, apalagi wanita yang mempunyai pasangan, mereka pasti akan lebih lama karena ingin terlihat cantik di depan pasangannya,” kata Mu Xia'er cukup kesal karena betapa bodohnya Bai An.


“Eeh,, berarti Xia'er ku juga begitu? pantas setiap aku melihatmu kau selalu tampil semakin cantik,” kata Bai An tersenyum.


Wajah Mu Xia'er langsung memerah, untung saja Bai An tidak dapat melihatnya, jika Bai An melihatnya maka Mu Xia'er pasti akan memukul kepala Bai An.


Bai An yang menunggu jawaban dari Mu Xia'er tetapi tidak ada respon membuatnya langsung tersenyum kecut.


Bai An tiba-tiba teringat sesuatu, “Apa Bibi Xue menyukai Yu Fen ya?, karena baru kali ini aku melihatnya selama ini, di penginapan dan di kediaman Klan Lee, Bibi Xue tidak selama ini,” gumam Bai An.


Bai An langsung tersenyum cerah, kini ia yakin Bibinya Lin Xue berusaha menyembunyikan perasaannya agar ia tidak terlihat terlalu berharap atau di ejek.


“Tuan Muda, Nona sudah kembali. Apakah kita langsung adakan acara makannya?”, kepala desa langsung menghampiri Bai An dan memberitahukan.


Bai An langsung tersadar dari pikirannya dan melirik kepalanya dengan mengangguk sambil tersenyum hangat.


“Ayo,,” kata Bai An langsung berjalan bersama kepala desa.


Saat sampai di tempat lapangan yang cukup luas, Bai An melihat Lang Zai, Pixiu dan Kakek Chu Shen sedang mengobrol bersama.


Bai An langsung menghampiri Lang Zai, Pixiu dan Kakek Chu Shen.


Saat Bai An akan duduk, sebuah teriakan memanggilnya.


“An'er kau duduk bersama bibi mu, cepat kesini,” teriak Lin Xue dengan kesal sambil melirik Yu Fen dengan dingin.


Bai An langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya lalu tertawa lucu.


Tap,, tap,,


Bai An langsung duduk di samping Lin Xue dan Chu Jia.


“An'er ada apa dengan laki-laki itu? apa dia ingin Bibi mu hajar ya?”, tanya Lin Xue pura-pura tidak tahu maksud Yi Fen mendekatinya.


Bai An tertawa dalam hati mendengar bibinya yang tidak mengakui perasaannya juga.


“Memang wanita itu sungguh memiliki harga diri yang tinggi,” gumam Bai An dalam benaknya.

__ADS_1


“Mungkin dia menyukaimu Bibi Xue, kenapa kau tidak mencoba membuka hati?” bisik Bai An yang mana tidak dapat di dengar oleh siapapun kecuali dirinya dan Lin Xue.


Lin Xue langsung mendengus, “Laki-laki bajingan seperti dirinya, Bibi mu tidak akan mau,” kata Lin Xue cukup besar sambil menunjuk Yu Fen dan pura-pura jual mahal.


Yu Fen yang mendengar ucapan Lin Xue langsung tersenyum masam, walau ia tidak tahu apa yang di bicarakan Bai An dan Lin Xue, Yu Fen yakin jika yang di bicarakan adalah dirinya.


Bai An juga ikut tersenyum masam, “Perempuan memang jual mahal,” gumam Bai An.


“Tentu saja, itu harus dan juga seharusnya aku juga jual mahal dulu saat bertemu dengan mu An Gege, namun sudah terlambat,” jawab Mu Xia'er dengan lesu.


Bai An yang mendengar itu langsung mengutuk dirinya, seharusnya ia bergumam dalam benaknya bukan pikirannya.


“Sudahlah An'er biarkan saja laki-laki itu, lebih baik kita makan, karena perut Bibi mu dari tadi sudah bunyi,” kata Lin Xue cukup besar.


Hal itu langsung mengundang gelak tawa bagi para penduduk, hanya Lang Zai, Pixiu, dan Yu Fen menutup mulutnya menahan tawa agar tidak keluar suara tawa mereka.


Lin Xue yang menyadari itu biasa saja, ia juga ikut tertawa kecil melihat kebahagian penduduk.


Tapi di balik tawa Lin Xue tersembunyi maksud tertentu saat melirik para pengikut Bai An.


Bai An hanya menggelengkan kepalanya lalu berkata. “Baiklah kita mulaikan saja makannya dan jangan sungkan untuk makan banyak,” kata Bai An menggunakan sedikit energinya agar suaranya terdengar ke semua penduduk.


Tak lama, mereka langsung mengambil makanan yang tersaji.


Lin Xue dan Chu Jia terlihat paling takus saat mengambil makanan.


Kelakuan keduanya membuat semua penduduk tertawa bahagia.


Chu Shen yang ikut melihat kelakuan cucunya kini ikut terbawa oleh kelakuan Lin Xue hanya menggelengkan kepala, tapi ia tidak menghentikannya karena ia melihat cucunya tersenyum bahagia, dan itu dapat menghilangkan beban pikirannya yang kehilangan kedua orang tuanya.


Bai An kini sedang makan daging bakar, bersama yang lain sambil minum arak.


Entah kapan Bai An berpindah tempat, kini ia bersama Lang Zai, Pixiu, Yu Fen dan Kakek Chu.


“Ayo bersulang,” teriak Yu Fen kini terlihat mabuk ringan.


Bai An dan yang lain langsung ikut mengangkat gelasnya untuk bersulang.


Para penduduk desa laki-laki juga ikut bersulang, Bai An tadi sempat membagikan beberapa arak yang ia dapat dari cincin penyimpanan musuhnya yang di hancurkan semalam.

__ADS_1


Untung Lang Zai sempat mengambil semua cincin penyimpanan musuhnya yang telah mati, karena Bai An sempat melupakan hal tersebut saat ia sampai penginapan ia baru teringat.


__ADS_2