
Seketika tatapan mata jendral Hu langsung mengarah ke arah Hu Qia dan Bai An.
Jendral Hu meraung marah saat mengingat kejadian semalam, jika orang di depannya ini tidak menghentikannya, ia bisa langsung membunuh Bai An.
“Kau,” tunjuk jendral Hu berteriak keras, suara langsung menggema ke seluruh daratan naga besi, bahkan suaranya mendengung ke daratan sebelah.
Seketika jendral Hu langsung melesat, namun sebuah pedang melesat menghentikan Jendral Hu.
Trank..!!
Pedang tersebut langsung terpental, namun pedang tersebut kembali lagi ke pemiliknya.
Terlihat benang tersebut di ikat oleh benang energi. Senyum lebar menghiasi wajah pria berumur 40,an, namun umurnya melebihi itu.
“Hehe,, jangan buat kesenangan keponakanku terganggu,” kekeh pria tersebut.
Mendengar itu, Bai An langsung mengerutkan keningnya.
Sementara Hu Qia langsung berdecak pinggang sambil melotot ke arah Bai An.
“Siapa kau ngaku-ngaku jadi pamanku?” Tanya Bai An masih terlihat mengerutkan keningnya bingung.
Orang yang mengaku paman Bai An tidak tersinggung, ia semakin tersenyum lebar.
“Hehe,, kau mirip dengannya yang suka menggauli wanita, terlebih kau tidak pernah mengakui keluargamu untuk keselamatan mereka semua,” kekeh pria tersebut melalui telepati.
Seketika Bai An semakin bingung siapa orang yang di maksud. Apakah ayahnya? Menurut Bai An ayahnya bukan orang seperti itu, terlebih Bai An yakin ayahnya tidak mengetahui tentang adanya alam semesta lain.
Saat Bai An ingin bertanya, sebuah serangan tak kasat mata datang ke arahnya.
Hal itu membuat Bai An mendengus dingin sambil mengayunkan pedangnya.
“Tebasan Ashura Tingkat Pertama,” gumam Bai An.
Seketika puluhan pedang energi langsung menghalangi pedang energi musuh.
Bam..!!
Puluhan pedang Bai An langsung hancur, namun terlihat pedang energi musuh sudah menipis saat sampai di depan Bai An sehingga ia dengan santai mengayunkan pedangnya.
Trank..!!
Seketika pedang energi musuh hancur.
__ADS_1
Kini pandangan mata Bai An sangat tajam ke arah jendral Hu saat merasakan niat membunuh dari Jendral Hu.
“Heng,, aku tidak tahu siapa kau dan mengapa kau sangat ingin membunuhku, tapi satu hal yang kau tahu, jika kau ingin membunuhku, maka aku akan membuatmu menyesal seumur hidup,” kata Bai An dengan dingin.
Mata jendral Hu langsung memerah, ia seolah di rendahkan oleh kata-kata Bai An.
“Kau akan mati hari ini juga, walau aku harus mengobarkan nyawaku,” raung jendral Hu, seketika api muncul di seluruh tubuh Jendral Hu.
Bai An yang melihat itu langsung tersenyum licik, sementara Hu Qia yang diam dari tadi kini menatap ke arah Bai An sambil bergumam.
“Apa yang di rencanakan si mesum ini?” Tanya Hu Qia dalam hati.
Saat Jendral Hu ingin menyerang, Bai An memberi isyarat lebih dulu kepada orang yang mengaku pamannya untuk diam dan jika ada waktu orang tersebut bisa membunuhnya.
Dengan cepat Bai An menarik Hu Qia ke pelukannya sambil menodongkan senjata ke leher Hu Qia.
Hal tersebut membuat Hu Qia bengong, sementara jendral Hu langsung terdiam sambil menahan amarah saat melihat Tuan Putri pertama di buat menjadi sandera.
Bai An yang melihat itu seketika tersenyum lebar. “Benar dugaanku jika kau bukan wanita sembarangan sayang,” kekeh Bai An mencium bau leher Hu Qia sambil melirik ke arah Jendral Hu untuk memanasinya.
Jendral Hu langsung termenung, ia memikirkan bagaimana cara membunuh Bai An, sehingga jendral Hu tidak sadar sebuah serangan sangat kuat mengarah kepadanya.
Hu Qia yang melihat itu ingin berteriak, namun Bai An langsung menyumpal mulut Hu Qia.
“Diamlah, jika kau memilihku lebih baik kau diam, tapi jika kau memilihnya, maka aku akan meninggalkan mu selamanya,” ancam Bai An.
Kini Jendral Hu merasakan serangan kuat dan ingin menghindar, namun sayang serangan bola energi sudah beberapa meter di depannya membuat Jendral Hu berusaha menahan bola energi menggunakan seluruh api yang ada di sekitar tubuhnya.
“Matahari Lava,” teriak Jendral Hu.
Seketika kobaran api di sekitar tubuh Jendral Hu semakin besar dan panas, hutan yang tadinya di penuhi oleh pohon langsung hangus, walau jarak Jendral Hu jauh di atas langit dengan Hutan di bawahnya, tetap menghanguskan seisi hutan.
Bahkan seluruh Daratan Naga Besi merasakan kepanasan.
Bom..!!
Walau sudah menggunakan kekuatan penuhnya, jendral Hu tetap terlempar cukup jauh.
Belum sampai jendral Hu jatuh ke daratan, pria berambut biru muncul di bawahnya sambil mengayunkan pedangnya.
“Tebasan Ashura tahap pertama,” gumam pria berambut biru.
Seketika pedang energi yang mirip pedang nyata muncul bergerak sendiri menyerang jendral Hu.
__ADS_1
Jendral Hu yang melihat itu tak tahu harus bagaimana sehingga ia hanya berteriak.
“Jika aku mati, maka aku akan membawamu mati,” kata Jendral Hu sambil menggerakkan tangannya lalu menekan dantiannya.
Pria berambut biru yang melihat itu langsung tersenyum. “Ingin meledakkan diri dan membawaku mati, itu takkan bisa karena aku sudah mengantisipasi ini dari awal,” kekeh pria berambut biru sambil menggerakkan puluhan pedang.
Puluhan pedang tersebut langsung membuat perisai menutupi sekeliling jendral Hu.
Setiap pedang seolah terhubung lalu sebuah cahaya muncul di setiap bagian pedang membuat perisai tak kasat mata.
Bom..!!
Ledakan dahsyat langsung mengguncang dunia tersebut.
Bai An dan Hu Qia sudah mundur sejauh mungkin agar tidak terkena dampak ledakan.
Tapi pandangan mata Bai An tak henti-hentinya melotot kagum melihat teknik pedang yang ia gunakan sama, tapi teknik pedang orang tersebut lebih sempurna daripada teknik pedang yang ia gunakan.
Beberapa menit setelah ledakan mereda, dan pedang-pedang energi pria berambut biru yang sudah retak kini mulai hancur langsung memperlihatkan hanya asap mengepul.
Pria berambut biru yang melihat itu langsung mendengus karena tahu jendral Hu berhasil di selamatkan.
“Heng aku tak menduga seorang Penguasa Alam Semesta bahkan turun tangan membantu jendralnya,” dengus pria berambut biru langsung menghilang.
Tak lama ia muncul di samping Bai An seorang diri.
“Apakah kau tidak apa-apa keponakan?” Tanya pria berambut biru sedikit khawatir.
Bai An melambaikan tangannya sambil menatap tajam ke luar dunia ini, “Aku tak menduga jika aku di rendahkan seperti ini,” gumam Bai An dengan nada dingin.
Bai An mengatakan itu karena ia tersinggung saat memegang Hu Qia, namun Hu Qia menghilang sambil sebuah suara terdengar di telinga Bai An.
Suara tersebut berkata. “Orang lemah seperti dirimu tidak pantas menyentuh putriku.”
Suara tersebut selalu terngiang-ngiang di ingatan Bai An.
Bai An kini menatap ke arah orang berambut biru, lalu pandangan matanya mengarah ke mata biru pria tersebut.
“Mata ini sangat mirip dengan jiwa yang aku temui di dimensi kecil,” gumam Bai An.
“Apakah orang ini adalah dia, yang tak lain kakek ku?” Tanya Bai An dalam hati.
“Siapa kamu?” Tanya Bai An sambil meningkatkan kewaspadaannya.
__ADS_1
Pria tersebut hanya tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya santai.
Seketika Bai An dan pria tersebut menghilang dari tempat mereka berdiri.