Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Sampai Perbatasan Daratan Tengah dan Barat


__ADS_3

Huang Feng langsung melihat Cen Tian dan Duan Du kini berebut mengumpulkan hasil jarahan.


“Hei, kalian cepatlah, kita tidak bisa terlalu lama di sini,” kata Hei Long sedikit mendengus.


“Tunggu dulu, tanggung tinggal dikit lagi,” teriak Duan Du sambil melepas cincin penyimpanan salah satu mayat yang tak utuh.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Cen Tian dan Duan Du selesai menjarah semua mayat perampok tersebut.


Terlebih jika ada orang yang melihat mayat perampok ini, maka orang tersebut pasti akan mengutuk siapa yang menjarah mereka.


Pasalnya, Cen Tian dan Duan Du juga melucuti pakaian mereka yang masih bagus, sehingga mereka yang mayatnya masih utuh kini telanjang bulat.


Setelah menjarah semua harta perampok, mereka semua langsung melesat ke arah barat.


Saat ini kelompok Cen Tian ada di daratan tengah, daratan terkuat kedua, untuk daratan terkuat ada di wilayah daratan timur dan daratan barat, kedua daratan ini selalu memperebutkan siapa yang terkuat.


Wuss..!!


Tap tap..!!


Setelah 2 hari terbang, Hei Long, Huang Feng, Cen Tian, Fang Liu dan Duan Du istirahat di tengah hutan.


Mereka sebenarnya tidak ingin istirahat, tapi karena desakan Duan Du yang selalu merengek, terpaksa yang lain menuruti.


“Ayo kita cari ayam hutan, aku lapar,” ajak Duan Du ke arah Cen Tian dan Hei Long.


“Tidak perlu mencari makan, di sini aku ada banyak,” kata Cen Tian mengeluarkan ayam goreng yang sangat banyak.


“Wuahh..!! Dari mana kakak Tian mendapatkan ayam goreng ini?” Tanya Duan Du dan Fang Liu bersamaan dengan air liur menetes.


Cen Tian langsung tersenyum bangga. “Tentu saja dari hasil jarahan tadi, coba kau lihat mungkin saja banyak makanan yang kau dapat,” kata Cen Tian sambil menyuruh Duan Du.


Duan Du seketika bersemangat dan memeriksa semua isi cincin penyimpanan hasil jarahannya.


Cukup lama Duan Du memeriksa, ia langsung mengeluarkan beberapa ayam goreng dengan wajah berseri-seri.


Setelah itu mereka semua makan dengan lahap sampai kenyang.


Setelah makan Cen Tian langsung melirik ke arah Hei Long.

__ADS_1


“Senior Hei, apakah tempat adik Bai masih jauh?” Tanya Cen Tian penasaran.


Hei Long tidak langsung menjawab, melainkan mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi dan di tengah-tengah benda tersebut ada sebuah jarum kecil.


Hei Long langsung mengalirkan energinya, seketika benda tersebut bersinar, lebih tepatnya jarum di benda tersebut bersinar dan menunjukkan arah barat.


“Hmm..!! Aku tidak tahu masih jauh atau tidak, tapi benda ini cukup berguna, untuk Nona Xia memberikan benda ini kepada kita sebelum melempar kita kesini,” kata Hei Long sedikit menghela nafas.


Semua orang seketika mengepalkan tangannya erat-erat, sama halnya dengan Cen Tian.


Matanya kini mulai memerah saat mengingat kejadian waktu itu.


”Sudahlah, jika di ingat maka akan membuat kita merasa semakin rendah dan bersalah, lebih baik kita menemukan Tuan muda terlebih dahulu baru kita bicarakan rencana membebaskan Tuan dan Nyonya besar termasuk membalaskan dendam.” Kata Huang Feng kini mulai bangkit dari tempat duduknya.


Seketika Cen Tian, Hei Long, Fang Liu dan terahir Duan Du ikut bangun.


“Ayo kita berangkat,” teriak Duan Du berteriak.


“Ayo tapi mulai saat ini lebih baik kita menghindari pertarungan sejauh mungkin agar tidak terlibat,” kata Hei Long, tapi tatapan matanya tertuju kepada Fang Liu dan Duan Du, karena ia tahu tadi adalah ulah mereka berdua dan menjadi dalangnya adalah Cen Tian yang sengaja menyuruh Duan Du berhenti lalu melempar batu.


Seketika Cen Tian, Fang Liu dan Duan Du mengalihkan pandangan mereka karena tidak berani menatap tatapan tajam Hei Long.


Setelah itu mereka langsung melesat ke arah barat dengan kekuatan penuh Duan Du.


Pengalaman bertarung mereka pun meningkat akibat pertarungan yang telah mereka lakukan.


Kelompok Cen Tian bahkan di juluki kelompok Penjarah Harta, karena setiap musuh yang mereka hadapi semua pakaian atau barang yang bisa di jual di ambil semua, betapa rakusnya kelompok Cen Tian.


“Kota ini sangat besar, bahkan bisa menyamai Benua Naga,” kata Cen Tian kagum.


“Hmm..!! Kota ini besar seperti namanya yang sempat kita dengar dari perampok yang kita bunuh beberapa saat tadi,” kata Duan Du mengangguk.


“Kota Benua ini cocok seperti namanya, kota Benua ini juga perbatasan sekaligus satu-satunya kota yang bisa kita lewati jika ingin ke daratan Barat,” lanjut Fang Liu.


“Dari pada kalian mengobrol di sini, lebih baik kita masuk,” ajak Hei Long berjalan masuk ke arah gerbang yang memiliki banyak penjaga kota.


Seketika Cen Tian, Fang Liu, Duan Du dan terahir Huang Feng langsung mengikuti dari belakang.


Tap tap..!!

__ADS_1


Setelah membayar biaya masuk tanpa kendala mereka kini mulai masuk dan mencari sebuah rumah makan.


Kini kelompok Cen Tian sedang duduk makan sambil bicara.


“Kita sudah 9 bulanan dalam perjalanan menuju ke perbatasan saja, Daratan Tengah sangatlah luas, untuk Daratan Barat lebih luas lagi menurut para perampok yang kita bunuh,” kata Cen Tian menghela nafas panjang.


“Tidak apa-apa, asal kita bisa menemui Tuan muda berapapun lamanya itu tidak penting,” kata Huang Feng.


“Ya, setelah kita makan, kita langsung pergi ke Daratan Barat, agar tidak menunda lagi,” kata Duan Du terkekeh kecil.


Seketika semua kelompok Cen Tian mendengus kesal, bagaimana tidak. Karena Duan Du lah biang masalah sehingga mereka menempuh perjalanan lebih lama.


Cukup lama mereka mengobrol, setelah itu kelompok Cen Tian langsung keluar dari rumah makan lalu berjalan ke arah gerbang besar menuju Daratan Barat.


...________________...


Sementara di dimensi kecil waktu terus berlalu kini Bai An tak mengetahui berapa lama ia menyerap energi Dewa yang ia serap.


Tak menunggu lama terdengar suara dari dalam tubuh Bai An bersama tekanan aura yang keluar menyebar ke segala arah.


Bam..!!


Bam..!!


Bai An langsung membuka matanya lalu mengeluarkan kristal tingkat tinggi untuk membantu menyetabilkan energi yang ada di dalam tubuhnya kini sedang berputar-putar.


Setelah energi di dalam tubuhnya stabil dengan cepat karena bantuan Energi Semesta juga, Bai An melihat jika kekuatannya kini masih lemah menurutnya.


“Huff..!! Sekian lama aku berkultivasi maka lautan energiku akan semakin membesar dan membutuhkan lebih banyak energi untuk menaikkan tingkat kultivasiku,” gumam Bai An karena saat ini kekuatannya telah berada di Dewa Kuning ⭐ 2 Awal.


Tanpa menunggu waktu lama, Bai An kembali memejamkan matanya kembali untuk menyerap energi Dewa.


Sementara untuk Bai En, kini ia baru bangun tidur.


“Hoam..!! setiap hari tidur bangun, tidur bangun, lama-lama aku menjadi lapar, hmm.. Bagaimana caranya aku keluar dari sini ya, aku yakin Paman Tu saat ini berjaga di sana,” gumam Bai En menghela nafas sambil mengusap-usap perutnya.


“Huff..!! Lebih baik aku berkultivasi saja, aku takut jika adik ku melihat aku tidak meningkat maka ia akan mengomel seperti ibu lagi,” gumam Bai En mulai serius berkultivasi.


Jauh di puncak gunung paling tinggi, kini Lang Zai baru membuka matanya dan nelihat jika kekuatannya kini cukup memuaskan.

__ADS_1


Tingkat kekuatan Lang Zai kini Dewa Kuning ⭐ 3 Puncak.


Setelah itu Lang Zai memejamkan matanya lagi untuk menyerap energi Dewa di sekitarnya.


__ADS_2