
“Anak muda, larilah bawa ketiga cucuku, biarkan aku yang menghadang mereka sekuat tenaga, dan terimakasih bantuanmu tadi,” kata pria sepuh tersebut.
Melihat pria sepuh yang tidak di kenal sedang tersenyum ke arahnya, terlebih lagi mempercayai dirinya untuk membawa ketiga cucunya. To Gel langsung luluh.
Padahal mereka tidak saling mengenal satu sama lain, tapi To Gel sudah di percayai seolah mereka sudah saling mengenal lama.
“Tidak, kami tidak akan meninggalkan kakek, biarkan kami bertiga ikut mati bersama,” teriak wanita seusia Bai An.
“Benar,, kami tidak ingin terpisah, kita pergi bersama maka pulang bersama, mati bersama,” kata wanita berusia 9 tahun.
“Tidak..!! Aku tak ingin kehilangan kakek dan kalian berdua, jadi biarkan aku saja yang menahan mereka, kalian semua larilah,” kata pemuda seusia Duan Du.
To Gel yang kini melihat perdebatan mereka langsung bingung sesat, karena ia merasakan bahaya yang mengarah ke tempat mereka.
Wuss..!!
Trank..!!
Bam..!!
Lagi-lagi To Gel terpental setelah menangkis pedang musuhnya, hal itu langsung membuat keempat orang tersebut langsung sadar.
Saat mereka melirik ke arah To Gel yang terluka karena tadi berusaha menahan serangan musuh yang mengarah kepada mereka. Mereka langsung merasa bersalah.
Saat mereka ingin kesana untuk membantu, sebuah pedang datang melesat dengan cepat.
Wuss..!!
Dengan cepat pria sepuh tersebut memiringkan badannya ke samping.
“Heng,,!! Kalian semua akan mati di sini, tidak ada yang boleh pergi tanpa seizinku,” kekeh salah satu pria berjubah merah.
Dengan cepat ia menghilang dari tempatnya.
Pria sepuh tersebut langsung waspada, karena ia tahu jika yang bicara tadi adalah pemimpinnya, sekaligus orang terkuat dari mereka ber 10.
Wuss..!!
Crash..!!
Bom..!!
Tubuh pria sepuh tersebut langsung terkena tebasan pria berjubah merah yang menjadi pemimpinnya.
Uhuk-uhuk,, dengan cepat pria sepuh bangun dari tempat ia terpental.
Baru saja ia berdiri, sebuah pedang melesat ke tubuhnya.
Sementara ketiga cucunya masih tertegun saat melihat kakeknya terpental, dengan cepat mereka tersadar dan langsung melesat sambil berteriak keras.
Kakek..!!
Baru saja mereka melangkah 3 meter, 6 orang berjubah merah menghalangi jalan mereka sambil tertawa mengejek.
“Nikmati saja kematian kakekmu,” kekeh salah satu dari 6 orang tersebut.
Laki-laki muda seusia Duan Du, langsung bergerak dengan mata memerah.
__ADS_1
“Aku akan membunuh kalian,” teriak pemuda yang bernama Dhu Yan.
Wuss..!!
Pedang Dhu Yan terayun dengan cepat ke arah orang yang tadi bicara.
Sementara orang berjubah merah hanya tersenyum mengejek sambil melambaikan pedangnya santai untuk menangkis pedang Dhu Yan.
Trank..!!
Dhu Yan tidak menyerah begitu saja, ia kembali mengayunkan pedangnya dari samping, gerakan Dhu Yan cukup unik, ia menarik pedangnya ke belakang terlebih dahulu sambil memajukan kepalanya dan memutar-mutar tubuhnya, setelah itu menebas pedangnya.
Orang berjubah merah awalnya santai saja karena Dhu Yan sangat lemah, namun saat ia ingin menangkis.
Crash..!!
Pipi orang berjubah merah langsung tergores oleh tipuan yang Dhu Yan lakukan tadi.
Dhu Yan langsung tersenyum senang saat bisa melukai musuhnya.
Untuk orang berjubah merah kini matanya memerah sambil mengerutkan keningnya beberapa kali.
“Aku akan membunuhmu,” teriak orang berjubah merah sambil mengeluarkan auranya untuk menekan Dhu Yan.
Wuss..!!
Ukhh..!!
Suara Dhu Yan terdengar saat mencoba menahan tekanan dari orang berjubah merah.
***
Saat ini kedua wanita yang lebih tua bernama Dhu Lan dan yang muda bernama Dhu Qin sedang di permainkan oleh kelima pria berjubah merah.
Terlihat jika gaun yang mereka kenakan sudah ada bekas sayatan pedang, itu membuat tubuh mereka terlihat di beberapa bagian.
Untuk To Gel ia kini sedang berhadapan dengan 1 orang berjubah merah yang selalu memukulnya dari pertama ia datang.
To Gel cukup mengenaskan, wajahnya sudah di penuhi darah, tapi semangat To Gel tak pernah surut, ia malah semakin bersemangat karena tahu ia tak akan mati.
Tentu saja To Gel berpikir tidak mungkin Bai An dan yang lainnya membiarkannya mati konyol.
Dhu San, pria sepuh itu kini di kepung oleh 3 orang berjubah merah, ia tak kalah tragis dengan To Gel, semangatnya juga tak memudar, bahkan semakin bersemangat saat melirik To Gel yang selalu tersenyum saat di tebas musuhnya.
***
“Hehe,, kakak, lepaskan saja paman Tu Long dan paman Bo Long, lihat wajah mereka sangat jelek,” kekeh Duan Du melirik ke arah Tu Long dan Bo Long.
Bukannya senang di bantu Duan Du agar bebas, Tu Long dan Bo Long semakin memasang wajah jelek karena melihat senyum mengejek dari Duan Du.
Bai An hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah ketiga saudaranya ini.
Dengan cepat Bai An menarik auranya.
Wuss..!!
Bo Long dan Tu Long langsung terkekeh sambil menggerak-gerakkan anggota tubuh mereka.
__ADS_1
Tanpa memberitahu Bai An lebih dulu, Bo Long dan Tu Long langsung menghilang dari tempatnya.
Bom..!!
Tubuh salah satu dari orang berjubah merah langsung terlempar dengan tubuh tidak utuh.
Kesembilan orang berjubah merah langsung melirik ke arah teman mereka yang mati begitu saja, pandangan mereka tertuju ke arah To Gel lebih dulu, lalu melirik ke arah Tu Long yang sedang membawa To Gel di atas punggungnya.
Saat ini To Gel sudah pingsan karena kehabisan banyak darah.
Wuss..!!
Tekanan lebih besar datang dari tubuh Bo Long.
“Hoho,, berani sekali kalian melukai keluargaku,” kekeh Bo Long menyeringai kejam.
Saat salah satu dari orang berjubah merah ingin berteriak marah.
Pemimpin mereka yang memperhatikan jubah Bo Long maupun Tu Long lebih dulu berteriak.
“Mundur sejauh yang kalian bisa.”
Walau bingung, 7 orang langsung bergerak mundur.
Sementara dua orang dengan arogan maju ke arah Tu Long.
Tu Long menyeringai kejam, saat ia ingin bergerak.
Bom..!!
Tubuh dua orang berjubah merah langsung meledak.
Melihat kedua kawan mereka mati begitu saja, 6 orang itu merasa beruntung, mereka langsung melirik ke arah pemimpin mereka.
Tanpa melihat mereka, pemimpin mereka langsung berkata.
“Larilah sejauh yang kalian bisa, jika tertangkap jangan bocorkan rahasia apapun, karena mereka adalah penguasa Daratan Barat, Kelompok Pembantai.”
Dengan segera pemimpin berjubah merah membalikkan badannya lalu melesat melarikan diri ke arah Daratan Timur.
Tak mau ketinggalan keenam kelompok berjubah merah ikut melarikan diri.
Di tempat Tu Long, Tu Long kini berdiri di tempatnya cukup lama hingga pandangan Tu Long langsung ke arah Bo Long dengan tatapan tajam.
“Kenapa kau mengambil mangsaku? Kau kan bisa melawan mereka yang di sana,” teriak Tu Long tidak terima.
“Hehe,, siapa cepat dia dapat,” kekeh Bo Long lalu melesat ke arah 7 orang yang kini melarikan diri.
Tu Long bingung mau melepas To Gel di sini atau membawanya.
Saat sedang berpikir, Duan Du muncul di atasnya.
“Serahkan dia padaku,” kata Duan Du menembakkan benang energi ke tubuh To Gel.
Tu Long langsung tersenyum lebar.
“Terimakasih bocah nakal,” kata Tu Long langsung melesat dengan kekuatan penuhnya karena tak ingin kalah cepat dari Bo Long.
__ADS_1