
“Heh,, kenapa aku harus repot-repot memikirkan hal tersebut,” gumam Bai An dalam hati.
Bai An langsung bangkit dan berkata. “Ayo kita pergi.”
Pixiu langsung bangkit lalu membayar makanan yang mereka pesan.
Setelah itu, mereka keluar dari kedai.
Tap tap..!!
Bai An dan Pixiu saling melirik, kemudian mengangguk.
Wuss..!!
Bai An dan Pixiu langsung menghilang.
Beberapa menit kemudian, Bai An dan Pixiu muncul tidak jauh dari asal suara ledakan.
Bai An tahu lokasi klan Sa dari Pixiu yang bisa mencium keberadaan Lang Zai.
Saat ini Bai An dan Pixiu muncul tidak jauh dari lokasi kediaman klan Sa.
“Hmm..!! Saat ini hanya Tu Long saja yang sedang bermain-main dengan beberapa tetua klan Sa,” gumam Bai An.
Di tempat Tu Long, ia kini menyeringai kejam setelah menghancurkan tubuh tetua ke 3 hingga menjadi bubur.
“Hehe,, datanglah lebih banyak lagi, aku ingin bermain hingga puas,” teriak Tu Long.
“Heng,, hanya setengah abadi puncak saja kau sudah merasa sombong.”
Tetua Agung dan patriark klan Sa langsung muncul setelah mengatakan hal tersebut.
Tu Long semakin menyeringai. “Tentu aku sombong, daripada kalian yang menjadi seorang pengecut, melawan setengah abadi puncak saja harus mengerahkan puluhan tingkat Dewa Abadi,” kekeh Tu Long dengan nada mengejek.
Patriark klan Sa langsung marah dan akan menyerang Tu Long. Tapi tetua pertama menghentikannya.
“Biar aku dan para tetua yang membunuhnya, tidak ada yang namanya pengecut, yang ada hanya menang atau kalah,” kata tetua pertama melirik ke arah Tu Long dengan ganas.
Patriark klan Sa dan Tetua Agung mengangguk lalu melirik ke arah Lang Zai yang dari tadi diam duduk bersila sambil menuang arak untuk ia minum.
Patriark dan Tetua Agung langsung mengerutkan keningnya saat melihat kelakuan Lang Zai.
Tapi mereka diam saja karena mereka berdua terlihat meremehkan Lang Zai.
Tetua pertama bersama tetua kedua dan beberapa tetua besar lainnya langsung melesat ke arah Tu Long.
Tu Long langsung waspada, tapi tetap tersenyum.
“Apakah kau butuh bantuan saudara Tu Long?” Tanya Lang Zai santai.
“Kau hanya perlu duduk santai, itu adalah bantuan terbesarmu,” kekeh Tu Long langsung mundur 10 langkah.
Bom bom..!
“Hei,, aku masih bicara kalian sudah menyerangku,” dengus Tu Long langsung maju saat melihat salah satu tetua mengayunkan pedangnya.
“Cakar Pembelah Langit,” teriak Tu Long membentuk cakar dari energinya lalu melesat ke arah pedang energi yang kini melesat ke arahnya.
Bom..!!
Saat cakar dan pedang bertabrakan, cakar energi Tu Long retak dan pedang energi tersebut hancur.
__ADS_1
Cakar energi Tu Long tetap melesat ke arah tetua tersebut.
Dengan cepat 3 tetua besar lainnya membantu lalu menggabungkan kekuatan mereka.
“Tebasan Kehancuran,” teriak 4 tetua.
Pedang besar dari energi langsung tercipta dan melesat ke arah cakar Tu Long.
Bom..!!
Crak crak..!!
Piarr..!!
Kedua serangan energi langsung hancur. Tapi mereka berempat tidak sadar jika Tu Long sedang melesat ke arah mereka.
“Awas,” teriak tetua ke 4 untuk memperingati keempat tetua tersebut, tapi terlambat.
Tu Long mengayunkan tangan kanannya.
“Mati kau,” teriak Tu Long.
Dengan cepat salah satu tetua yang merasakan bahaya langsung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan serangan Tu Long.
Crash..!!
Tangan Tu Long yang berbentuk cakar langsung masuk ke dalam tubuh tetua tersebut.
Tu Long langsung menghancurkan jiwa tetua tersebut lalu menghancurkan tubuhnya.
“Tetua Ey,” teriak salah satu tetua besar dengan amarah yang besar saat melihat tetua Ey kini hancur menjadi bubur.
“Mati,” teriak Tu Long kembali kini mnyeringai.
Bam..!
Kepala tetua tersebut langsung hancur, Tu Long kembali melesat membunuh salah satu dari mereka hingga kini hanya tersisa satu.
Melihat ketiga rekannya mati, tetua tersebut langsung hilang kendali.
“Kau akan ku bunuh,” teriak tetua tersebut meraung.
Gerr..!!
Tetua tersebut langsung kehilangan jiwanya, ia langsung menyerang ke arah Tu Long.
Pedang tetua tersebut sangat cepat di sertai energi yang sangat jahat.
Tu Long dengan cepat mengayunkan tangannya.
Bam..!!
Tu Long langsung mundur dengan tangan mengeluarkan darah.
“Sangat kuat, inikah kekuatan pengikut Kaisar Dewa Jahat jika kehilangan Jiwa,” gumam Tu Long kembali mundur beberapa langkah.
Sementara tetua tersebut kembali menyerang ke arah Tu Long.
Tetua tersebut muncul di samping Tu Long dengan sembarang mengayunkan pedangnya.
Bam..!!
__ADS_1
Tu Long terlempar jauh hingga menabrak tembok klan Sa.
Saat Tu Long ingin bangkit, ia melihat pedang melesat ke arah. Hal itu membuat Tu Long mendengus dingin.
“Aku akan serius mulai sekarang,” kata Tu Long mengeluarkan kekuatan penuhnya.
Tangan Tu Long langsung terayun begitu saja.
Bam..!!
Tu Long dan Tetua tersebut sama-sama mundur satu langkah.
Dengan cepat Tu Long kembali menyerang tetua tersebut, sama halnya dengan tetua tersebut ikut menyerang.
Bam..!!
Bam..!!
5 menit berlalu, tetua pertama dan tetua kedua yang dari tadi menonton mulai bosan.
“Tetua pertama, kita bunuh saja mereka berdua langsung, kau bisa melihat jika keduanya terluka cukup parah,” kata tetua ke 2.
Tetua pertama langsung mengangguk lalu mereka bertiga bergerak ke arah Tu Long dan Tetua Besar.
Tapi saat mereka bergerak, mereka melihat tubuh mereka masih berdiri di tempatnya dan kepala mereka kini lama-lama jatuh ke bawah.
Buk..!!
Tetua ke 1, tetua ke 2 dan tetua ke 4 mati dengan mata melotot.
Mereka tidak tahu siapa yang membunuh mereka. Bahkan patriark dan tetua agung pun ikut membelalakkan matanya saat melihat kejadian di depan mata mereka.
Mereka tidak ada yang mengetahui siapa yang membunuh para tetua inti tersebut.
Mata mereka langsung tertuju ke arah Lang Zai dengan waspada.
Saat Patriark dan Tetua Agung melihat bercak darah di tangan Lang Zai. Mereka langsung mundur sejauh yang mereka bisa.
“Panggil leluhur Sa, dia orang yang setara dengan leluhur, mungkin dia juga yang membunuh leluhur Sa Rui,” teriak patriark Sa dengan panik.
Bagaimana tidak panik, jika ia tidak bergerak cepat. Mungkin ia akan mati hari ini, ia juga menyesal telah meremehkan Lang Zai.
“Siapa kalian sebenarnya? Apa masalahmu dengan klan Sa kami sehingga kau membunuh para tetua inti kami?” Tanya Patriark dengan sedikit hati-hati.
“Heng,, aku sudah bilang jika aku hanya ingin kompensasi karena anak itu telah menyinggungku, tapi kalian malah menyerang kami saat datang kesini. Jadi lebih baik aku hancurkan saja klan kalian,” kekeh Lang Zai.
Wuss..!!
“Apakah ada pesan terahir,” kata Lang Zai kini mencekik leher patriark klan Sa.
Uhmm.. Uhmm..!!
“Aku lupa jika aku sedang mencekikmu,” kekeh Lang Zai kemudian melanjutkan. “Lebih baik kau mati saja dari pada aku mendengar kata-kata basa basimu.”
Saat Lang Zai ingin mengeraskan tangannya.
“Tunggu tuan, kita bisa bicarakan ini baik-baik,” teriak Leluhur Sa datang bersama Tetua Agung dan satu orang wanita cantik.
“Heh,, mengapa aku harus mendengarkan mu,” dengsu Lang Zai ingin mengeraskan tangannya untuk membunuh Patriark klan Sa.
Tunggu..??
__ADS_1