
Kini penjaga yang memfitnah Bai An sadar mengapa sampai ia di tampar oleh sesepuh yang menjadi tangan kanan pemimpin kota tadi dan membela Bai An, ternyata Bai An bukan manusia biasa yang terlihat dari luar saja.
Bai An secara perlahan berjalan dan berhenti di depan penjaga tersebut, “Hmm,, siapa nama mu?” tanya Bai An.
“Nama ku Chu Yu, Tuan Muda,” kata Hong Chu gugup.
“Jika kau tidak ingin mati di pedang ku, beritahu aku kemana arah menuju Benua Hongcu?” tanya Bai An.
“Ke arah sana Tuan Muda,” Chu Yu langsung menunjukkan arah selatan, “Apa kau yakin?” tanya Bai An kurang yakin. “Be, benara Tuan Muda,”
Bai An mengangguk lalu mengayunkan tangannya membentuk sebuah panah dari energi yang tercipta.
slaass,,
“Kaa,, kau,,” ucap Chu Yu menunjuk Bai An dengan mata melotot kemudian kepalanya terjatuh lalu menggelinding.
“Aku kan bilang tidak membunuhmu menggunakan pedang, bukan tangan ku,” kekeh Bai An, “Salah kan diri mu yang mencari masalah dengan orang yang salah,” kata Bai An lagi, lalu berjalan ke arah selatan.
Beberapa hari kemudian.
Malam hari,
Bai An saat ini tengah duduk di depan api unggun, mereka telah berjalan selama 3 hari dan tidak menemukan kota atau desa, hanya hutan belantara, gurun tandus saja yang Bai An lewati.
Bai An juga sempat bertanya kepada Mu Xia'er, awalnya Mu Xia'er masih marah dengan apa yang di lakukan Bai An saat bertemu Xi Xing, tapi Bai An menjawab apa adanya tentang janjinya yang mana membuat Xia'er langsung luluh.
Bai An juga mengeluarkan Lang Zai, Pixiu, dan Bai Luan untuk menemani perjalanannya.
Wuss,,
“Tuan Muda, entah kenapa disini jarang sekali ada hewan buas atau hewan buruan, jadi kami menangkap ikan di sungai yang berada disana,” ucap Lang Zai dengan nada bersalah sambil menunjuk ke arah sungai.
Bai An mengangguk dan melirik Bai Luan yang asik tidur, entah kenapa Bai An merasa ada yang berubah dari murid nya itu, tapi Bai An tidak mengetahui apa yang berubah.
“Lalu dimana saudara Pixiu?” tanya Bai An tidak dapat merasakan aura dari Pixiu, “Oh dia sedang mencari kayu bakar Tuan Muda, tunggu sebentar,” jawab Lang Zai.
Lalu Lang Zai berjalan dan mendekati Bai Luan, “Hei, Luan'er bangunlah, kau ini kenapa setelah di tangkap oleh musuh menjadi pemalas sekarang,” dengus Lang Zai.
Bai An langsung terkekeh mendengar kata-kata Lang Zai.
“Umm,, kan aku ngantuk senior Lang,” jawab Bai Luan kini setengah sadar dan mengucek-ucek matanya.
__ADS_1
“Hoam, enak juga tidur disini,” gumam Bai Luan, “Enak enak, enak mata mu,” kata Lang Zai lebih kesal saat mendengar suara Bai Luan.
“Hehe,, guru saja tidak marah, kenapa kau selalu yang sekarang seperti orang tua dan guru ku.” Kekeh Bai Luan, merasa tidak tersinggung, karena selama tiga hari ini Bai Luan dan Lang Zai sering melakukan ini.
“Sudah sudah, jangan berdebat, lebih baik kita tunggu saudara Pixiu membawa kayu bakar atau langsung bakar saja ikan ini,” kata Bai An menengahi mereka berdua.
“Langsung bakar saja guru, aku lapar.” Kata Bai Luan yang mengelus-elus perutnya.
“Enak saja, tunggu saudara Pixiu dulu, dari kemarin kerjamu hanya tidur, tidak berlatih atau berkultivasi selama dalam perjalanan. Jadi kau tidak punya hak bicara ngerti,” Lang Zai langsung ngotot menunggu Pixiu.
Saat Bai Luan ingin membalas.
Wuss,,
Pixiu langsung datang membawa kayu bakar dan rusa di punggungnya.
“Wuah, senior Pixiu memang yang terbaik, tidak seperti senior Lang yang hanya membawa ikan, dan alasan tidak ada hewan buruan,” kata Bai Luan mengejek, ia sebenarnya tidak tidur, ia sedang berkultivasi dan begitulah cara Bai Luan berkultivasi dari dulu, yaitu tidur.
Lang Zai yang mendengar itu semakin kesal.
“Sudah kalian ini semakin lama semakin jadi,” kata Pixiu langsung melempar kayu bakar dan rusa tersebut.
Pixiu langsung mengeluarkan pisau lalu memotong-motong daging rusa tersebut dan di bantu oleh Bai An.
Tak lama, api unggun telah siap dan daging rusa kini siap bakar, mereka langsung berkumpul di depan api unggun lalu membakar daging rusa tersebut dengan santai.
Beberapa menit kemudian.
“Ah kenyangnya,” gumam Bai An dan melihat yang lain yang ikut puas.
“Guru, kapan kita melanjutkan perjalanan?” tanya Bai Luan.
Bai An melirik Bai Luan, “Kita istirahat dulu, karena selama tiga hari kita berhenti saat di perjalanan kemarin,” kata Bai An menjawab.
Mereka semua mengangguk mendengar kata-kata Bai An.
1 hari berlalu, saat ini Bai An bersama Bai Luan, Lang Zai dan Pixiu sedang melesat di pohon ke pohon, “Hutan ini lebih sepi dari tempat yang kita lewati selama 3 hari ini,” kata Bai An tiba-tiba berhenti.
“Benar Tuan Muda, aku juga merasakan itu dan merasa ada yang sedang mengintai kita saat memasuki hutan ini,” kata Lang Zai mengangguk dan merasakan ada yang sedang mengintainya.
Bai Luan dan Pixiu juga bisa merasakan hal tersebut.
__ADS_1
“Keluarlah, aku tahu kalian ada disana,” teriak Bai An saat melihat ada bayangan berkelebat.
Tak berapa lama beberapa orang berjubah hitam dengan lambang teratai dan lambang mereka hanya bunga kelopak mekar 1.
“Eehh,, kenapa mereka lemah sekali,” gumam Bai An saat melihat anggota teratai hitam sedang mengepungnya hanya memiliki 1 kelopak yang mekar.
“Kenapa kalian menghalangi perjalanan kami?” tanya Bai An berpura-pura heran.
“Jangan pura-pura, kau melewati area terlarang organisasi teratai hitam, kau tahu disini ada markas cabang organisasi teratai hitam, kembali dan lewati jalan lain,” kata salah satu dari mereka acuh dan mengusir Bai An dan yang lainnya.
“Ooh,, kebetulan sekali,” gumam Bai An menyeringai kejam.
Melihat seringai Bai An yang seperti mengejek angggota teratai hitam, salah satu dari mereka meraung marah, “Lancang sekali kau mengejek kelompok kami,”
“Dia belum pernah merasakan kematian,”
“Dia ingin di cincang,”
“Buat jadi budak di markas,”
“Bukan, kita buat dia persembahan untuk hutan ini,” semua kelompok teratai hitam malah berdiskusi.
Hal itu membuat Lang Zai dan Pixiu mau tertawa atau sedih melihat mereka semua.
Bai An hanya tersenyum saja, “Mari kita mulai pestanya,” kata Bai An lalu mengeluarkan pedangnya dan melesat ke salah satu dari mereka.
Slaass,,
Buk,,
Suara kepala terjatuh sangat jelas membuat anggota kelompok teratai hitam langsung melirik ke asal suara.
Tak lama.
“Berani sekali kalian membunuh anggota kami,” teriak salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk Bai An.
Slaass,,
“Akkkhh,,”
“Berani sekali kau menunjuk Tuan Muda ku,” ucap Lang Zai dengan nada dingin.
__ADS_1
“Ka,, ka,, kau, kalian akan mati semua,” “Serang mereka semua,” teriak orang yang tangannya putus.