Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Serangan tiba-tiba


__ADS_3

“Apakah kita akan menunggunya atau langsung berdiskusi saja Yang Mulia?”


Penguasa Hongcun melirik ke arah Jendralnya yang bertanya. “Kita tidak bisa mendiskusikan masalah kapan kita menyerang lebih dulu. Tapi kita harus menelusuri orang-orang yang berkhianat kepada kita. Aku yakin bukan hanya Klan Xio saja yang berkhianat. Tapi pasti ada beberapa dari orang-orang mu Patriark Gu, Patriark Sa,” kata Penguasa Hongcun sambil melirik kedua patriark yang kini berkeringat dingin.


“A.. Aku akan mengeceknya Yang Mulia, mohon beri aku waktu,” kata Patriark Sa dengan nada terbata-bata.


“Benar, beri kami waktu. Yang Mulia. Kami pasti akan menemukan siapa yang berkhianat di klan kami,” patriark Gu ikut membenarkan ucapan patriark Sa.


Pengauasa Hongcun tidak langsung mengangguk. Tapi ia melirik Panglima Liu Qiu.


“Hmm.. Aku rasa mereka berdua memang tidak tahu. Jadi ini bukan salah mereka jika benar ada seorang pengkhianat. Kau suruh saja langsung patriark Nu yang mencari informasinya. Klan Nu kan di bidang informasi dan mata-mata.”


Panglima Liu Qiu mengutarakan pendapatnya sambil melirik ke arah yang tidak jauh darinya. Karena ia merasa ada yang mengawasinya. Tapi ia tidak bisa merasakannya dan tidak merasa bahaya sedikitpun. Jadi ia kembali melirik Penguasa Hongcun.


“Hmm..!! Baiklah kali ini aku akan memaafkan kalian berdua. Tapi sebagai gantinya. Kalian berdua harus membunuh Patriark klan Xio dan tetua pertamanya. Aku juga menyuruh kalian kali ini harus mengerahkan semua orang di klan kalian,” kata Penguasa Hongcun menatap kedua patriark tersebut lalu menambahkan. “Apa kalian mengerti?”


“Mengerti Yang Mulia,” jawab kedua patriark tersebut dengan tegas sambil menghela nafas lega.


“Baiklah, kalian bisa menyuruh orang kepercayaan kalian untuk membawa semua orang-orang kalian dari Benua Hongcun,” kata Penguasa Hongcun.


Mereka berdua mengangguk lalu meminta izin pamit untuk langsung mengabari orang kepercayaan masing-masing.


Tok tok..!!


Setelah kepergian patriark Gu dan Patriark Sa. Terdengar suara ketukan dari atas.


“Kode,” jawab salah satu penjaga.


“Aku tidak mengerti,” jawab yang berada di atas.


Cklek..!!


Setelah membuka pintu terlihat Patriark Nu datang. Penjaga tersebut langsung mengangguk.


Setelah itu patriark Nu berjalan menuju ke lorong. Banyak sekali lorong-lorong membuat orang bingung, tapi patriark Nu sudah hapal jalan tersebut.

__ADS_1


Setelah cukup lama berbelok kiri kanan lurus. Patriark Nu telah sampai di tempat yang cukup luas dan di tengah-tengah ada meja bundar. Di meja bundar tersebut Banyak orang-orang kuat duduk termasuk Penguasa Hongcun.


“Nu Wen menghadap Yang Mulia,” kata Patriark Nu berlutut.


“Patriark Nu, aku telah mengirim pesan melalui batu komunikasi kepadamu. Apakah kau sudah melakukan yang aku katakan di dalam pesan?” Tanya Penguasa Hongcun dengan mata yang tajam.


Patriark Nu tidak takut. Malah ia tersenyum lalu berkata dengan tegas. “Sudah Yang Mulia. Saya mengetahui siapa saja para pengkhianatnya. Mereka adalah para prajurit rendahan yang kalah lalu di jebloskan ke penjara lalu menceritakan tentang kita yang akan menyerang Pulau ini. Anda tidak perlu khawatir mereka tidak mengetahui rencana kita yang sebenarnya adalah memancing.”


“Cukup, jangan di teruskan.” Kata Panglima Liu Qiu memotong ucapan Patriark Nu.


Penguasa Hongcun yang paham langsung membenarkan. “Jangan pernah ungkat rencana kita.”


“Baik Yang Mulia,” jawab Patriark Nu dengan tegas. Walau dalam hatinya ia benci perkataannya di potong. Apalagi oleh orang dari Benua yang berbeda.


Sementara Bai An mengerutkan keningnya. “Apakah mereka tahu kita di sini? Sehingga tidak berani meneruskan memancing apa?” Gumam Bai An langsung berpikir.


“Tuan muda, kau jangan terlalu banyak berpikir. Perang ya perang saja. Jika menang harus rayakan. Jika kalah ya mati. Gampang kan. Jika kau banyak berpikir itu akan terus membebanimu,” kata Tu Long yang sepertinya telah mabuk.


Wajah Bai An sangat jelek saat mendengar ucapan Tu Long, walau ucapannya yang terahir ada benarnya juga.


“Orang itu juga sepertinya menyadari keberadaan kita. Tapi tidak bisa menemukan dimana kita berada. Jadi Tuan muda tenang saja,” kata Tu Long sambil menunjuk ke arah Liu Qiu.


Untung saja Bai An saat ia mendengar jika Penguasa Hongcun akan mengirim mata-mata. Bai An langsung menghubungi Long Yuan. Tapi Long Yuan memberitahu ia di jalan menuju ke tempat Bai An. Sehingga ia mengirim pesan telepati kepada Tang Rou dan Lang Zai agar bergerak cepat menyuruh para assasins yang menjadi budaknya untuk bersandiwara di penjara.


Bai An juga tadi sempat mengeluarkan Tu We dengan bantuan Mu Xia'er agar keluar di luar markas musuh. Lalu menyuruh Tu We untuk mengikuti patriark Gu dan patriark Sa. Jika ada kesempatan Bai An menyuruh Tu We membunuh keduanya tanpa adanya keributan besar. Bai An juga mengeluarkan 3 budak lainnya yang akan mengikuti Tu We.


Kini Bai An telah mendengar semua apa yang di bicarakan oleh musuhnya. Tapi ia masih menunggu karena penasaran siapa yang akan di tunggu oleh Penguasa Hongcun.


Saat Bai An akan meminum araknya.


Tangan Tu Long bergerak cepat.


“Lari,” teriak Tu Long sambil memegang tangan Bai An.


Bom..!!

__ADS_1


Ledakan besar langsung menghancurkan markas bawah tanah tersebut.


Entah apa yang terjadi kepada Penguasa Hongcun, Panglima Liu Qiu, kelima jendral besar dan yang lainnya. Tapi yang pasti ada salah satu dari mereka terluka bahkan mati karena serangan tersebut sangat kuat. Bahkan membuat guncangan besar hingga membuat Pulau Donghan gempa beberapa detik.


Bai An dan Tu Long kini dalam kondisi lumayan parah. Jika Tu Long tidak bergerak cepat menarik Bai An, ia yakin jika Bai An akan langsung mati.


Ukkhh..!!


“Kamu tidak apa-apa Tu Long?”


“Apa Tuan muda melihat aku baik-baik saja,” dengus Tu Long, kini tangan kanannya hancur, tubuhnya sebagian terkena luka bakar karena melindungi Bai An.


“Ya aku salah. Kau bisa bangun aku tidak bisa bernapas karena kau berat,” kata Bai An tersenyum malu. Karena ia kini tepat berada di bawah Tu Long.


Tu Long langsung kesamping.


Bai An langsung duduk dan melihat kondisi Tu Long yang lebih parah dari dirinya. Tapi ia tidak memikirkan itu dulu. Ia memikirkan siapa yang menyerangnya.


“Siapa yang menyerang kita? Kenapa ia tidak muncul.” Tanya Bai An melihat sekelilingnya.


“Itu serangan monster ular, ia seperti memberi peringatan,” jawab Tu Long tidak terlalu tahu juga kenapa monster yang menyerangnya tidak muncul.


Tu Long menyebar penciumannya dan menduga jika monster tersebut menyerangnya lalu membawa kabur semua orang yang ada di markas tersebut.


Wuss..!!


Long Yuan dan Pixiu langsung muncul dengan wajah panik.


“Tuan muda, apa kau tidak apa-apa? Aku merasakan serangan tersebut melebihi tingkat terkuat di dunia ini.” Kata Long Yuan langsung membantu Bai An berdiri.


“Aku tidak apa-apa. Yang kalian khawatirkan itu Tu Long. Karena ia yang paling berjasa dalam menyelamatkanku,” jawab Bai An.


“Aku masih bisa berdiri, hanya saja aku butuh istirahat dan banyak daging manusia untuk menumbuhkan tanganku. Bila perlu bawakan arak yang banyak biar semakin cepat proses penyembuhanku,” kata Tu Long tersenyum lebar.


“Dasar licik,” kata Bai An, Long Yuan dan Pixiu secara terang-terangan.

__ADS_1


“Tidak apa-apa licik secara jujur,” jawab Tu Long santai.


-


__ADS_2