
“Kang Kung,, aku akan membalas apa yang telah kau lakukan kepada calon istriku," teriak Dhu Yan langsung melesat ke arah Kang Kung.
Kang Kung langsung tersenyum meremehkan, ia tidak tahu jika Dhu Yan kini memiliki tingkat kultivasi di atasnya.
Wuss..!!
Dhu Yan muncul sambil mengayunkan pedangnya ke arah dada Kang Kung.
Kang Kung yang belum menyadari itu dengan santai mengayunkan pedangnya juga.
Trank..!!
Crak..!!
Crash..!!
Tubuh Kang Kung langsung terbelah setelah pedangnya di hancurkan oleh Dhu Yan.
“Tidak,, Kung'er,” teriak seseorang pria yang terlihat sangat kuat, ya karena ia adalah yang terkuat memiliki kekuatan Dewa Biru ⭐ 1 Menengah.
Co Bek yang mengalihkan perhatiannya karena kematian cucunya tidak menyadari pedang Dhu San kini melesat dengan cepat.
Wuss..!!
Crash..!!
Ahkk..!!
Teriakan Co Bek terdengar keras, walau ia mampu menghindar tadi, tapi tangannya kini tinggal satu, karena tangan kanannya telah terpotong.
Dhu San yang melihat Co Bek kembali mengabaikan dirinya karena kesakitan langsung melesat ke arah Co Bek, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membunuh Co Bek.
Wuss..!!
Crash..!!
Tanpa menyadari apa yang terjadi, Co Bek langsung mati dengan tubuh terbelah dua.
Sementara orang-orang yang melihat itu hanya bisa menahan amarah, sebenarnya mereka dari tadi ingin membantu, namun ada sebuah aura menekan mereka hingga tak bisa bergerak.
Hal itulah yang menyebabkan Dhu San dan Dhu Yan dengan mudah membunuh musuhnya saat melakukan duel.
Tidak jauh dari lokasi Dhu San dan Dhu Yan, kini To Gel terlihat cukup sadis dalam membunuh orang-orang yang kekuatannya jauh di bawah dirinya. Hal ini To Gel sengaja lakukan adalah untuk mengurangi jumlah musuhnya dan juga tidak akan ada yang menjadi penghalang saat melawan musuh yang kekuatanya jauh di atasnya.
Tap tap...!!
Setelah menyelesaikan musuh-musuhnya yang lemah, kini To Gel telah berkumpul bersama Dhu San dan Dhu Yan.
“Kakak ipar,, kenapa kau bisa dengan cepat membunuh mereka semua? Padahal mereka semua banyak sekali,” tanya Dhu Yan dengan heran.
“Heh,, itu karena kakak ipar mu sangat kuat, jangan pernah meremehkan kelompok pembantai, karena suatu saat ia akan menjadi wakil pemimpin kelompok pembantai.”
__ADS_1
Bukan To Gel yang menjawab, melainkan Tu Long yang membantu To Gel agar namanya semakin baik di mata klan Dhu nanti.
Dhu Yan yang mendengar itu dengan polosnya mata Dhu Yan kini berbinar-binar menatap ke arah To Gel.
Sementara Dhu San hanya kagum dengan kekuatan menantunya, ia yakin jika melawan mereka semua maka ia bisa mati, tapi To Gel mampu membunuhnya tanpa masalah.
Untuk To Gel, ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tentu saja ia senang di sanjung-sanjung, tapi ia agak takut jika dirinya tidak di bantu tadi, mata To Gel melirik ke arah Bai An yang sudah membantunya.
Bai An hanya tersenyum sambil berkata. “Lawan kalian yang sebenarnya ada di sana, kalian bersiap-siaplah, mungkin mereka sudah tidak sabar menunggu kalian.”
To Gel mengangguk sambil menatap ke arah musuhnya, wajah para musuhnya sudah berubah memerah, jika di lihat dengan teliti maka Dhu Yan dan Dhu San akan tahu jika musuhnya terlihat di ikat agar tidak bisa bergerak.
To Gel, Dhu Yan dan Dhu San kini saling menatap satu sama lain.
Setelah mereka mengangguk, To Gel langsung melesat ke arah musuhnya yang memiliki kekuatan Dewa Hijau dan Dewa Biru, sementara Dhu San dan Dhu Yan melesat berdua, terlihat mereka akan bekerja sama untuk membunuh musuh-musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih tinggi.
To Gel tanpa menunggu lama langsung mengayunkan pedangnya, terlihat pedang To Gel sudah di aliri energi yang cukup besar.
Wuss..!!
Trank..!!
Musuhnya langsung mundur setelah menangkis, matanya sangat marah terhadap To Gel.
Sedangkan To Gel langsung tersenyum kecut saat tahu benang energi yang menjerat musuhnya kini terlepas.
To Gel kembali sadar setelah merenung, ia dengan reflek mengangkat pedangnya ke arah depan.
Trank..!!
Tanpa banyak kata, To Gel dan musuhnya langsung melesat kembali mengayunkan pedangnya.
To Gel dengan cepat menundukkan kepalanya sambil menebas ke arah perut lawannya, sementara lawannya menebas ke arah jantung To Gel.
Namun sebelum pedang musuhnya sampai ke arah jantung To Gel. To Gel tersenyum tipis, tangan To Gel dengan cepat melempar pedangnya.
Jlep..!!
Ukh..!!
Musuhnya langsung mundur sambil memegang pedang To Gel.
Saat To Gel melihat pedangnya di pedang, To Gel langsung bergumam. “Kena kau.”
Tangan To Gel dengan cepat melambai, terlihat sebuah benang energi yang sangat tipis di jari To Gel terhubung ke pedangnya.
Crash..!!
Bertepatan dengan musuhnya memegang pedang To Gel. Musuhnya secara spontan merobek tubuhnya sendiri, lebih tepatnya bergerak dengan sendirinya karena tangan musuhnya ikut terikat oleh benang energi To Gel.
Ukh..!!
__ADS_1
Musuhnya mati sambil melirik ke arah To Gel.
To Gel yang melihat itu hanya tersenyum tipis, setelah itu To Gel kembali melesat ke arah musuhnya yang masih di tahan oleh benang energi Bai An.
Bai An sengaja melepas mereka satu persatu agar To Gel melawan mereka satu persatu untuk memperkuat pondasinya, menurut Bai An belum saatnya To Gel melawan dua orang.
***
Tidak jauh dari To Gel, saat ini Dhu San dan Dhu Yan bertarung dengan cukup sengit, masalahnya, lawan mereka ada 4.
Terlihat pedang musuhnya muncul dari belakang Dhu Yan, Dhu San yang melihat itu dengan cepat mengayunkan tangannya untuk membantu cucunya.
Trank..!!
Baru saja Dhu San selesai menangkis, ia kini merasa krisis hidup karena dua tiga pedang mengarah dari arah yang berbeda-beda datang ke arah dirinya.
Dhu San dan Dhu Yan dengan cepat mengangguk. Setelah itu Dhu Yan menganyunkan pedangnya.
Saat Dhu Yan mengayunkan pedangnya, Dhu San langsung melompat ke arah pedang yang terayun.
Dengan sekuat tenaga Dhu Yan mengayunkan pedangnya untuk melempar kakeknya.
Wuss..!!
Dhu San baru terlempar satu meter, tangan Dhu San bergerak menarik tangan Dhu Yan, hingga keduanya terlempar.
Saat terlempar, Dhu San dan Dhu Yan saling membelakangi, kaki mereka saling mengaitkan, tubuh mereka berputar-putar terlempar ke arah musuh.
Dengan cepat Dhu San dan Dhu Yan mengayunkan pedangnya ke arah musuh yang kini diam karena tertegun melihat ke arah Dhu San dan Dhu Yan.
Crash..!!
Crash..!!
Crash..!!
Tubuh ketiganya terpotong menjadi daging cincang, mereka bahkan belum tersadar hingga kematian menjemput mereka.
Tap tap..!!
Dhu San dan Dhu Yan langsung mendarat dengan nafas sedikit terengah-engah.
Mata mereka berdua tertuju ke arah satu musuhnya yang tersisa yang saat ini sedang melarikan diri.
Dengan cepat Dhu Yan duduk sedikit berjongkok.
Dhu San langsung melompat ke arah tangan Dhu Yan yang sedang duduk berjongkok.
Tangan Dhu Yan yang sudah di aliri seluruh energinya yang tersisa langsung melempar kakeknya.
Wuss..!!
__ADS_1
Dalam sekejap Dhu Yan muncul di atas musuhnya dengan wajah menyeringai lebar.