
Ada apa patriark?” Tanya Bai An pura-pura tidak tahu tujuannya.
“Ehem..!! Jika anda mau kita bisa pergi bersama, tidak-tidak. Aku akan langsung jujur saja karena aku dan para tetua mungkin tidak mampu menghadapi serangan gabungan dari beberapa Ahli Suci yang menginginkan Arak Legendaris yang terahir jadi aku mengajak anda yang kebetulan di incar oleh mereka, mungkin dengan bergabungnya anda, beberapa ahli suci lain ingin bergabung membantu kita,” kata Patriark Klan Rubah.
Bai An tidak langsung menjawab, ia pura-pura berpikir keras akan ajakan tersebut.
Menyadari hal tersebut. Patriark Klan Rubah langsung mengerti dan berkata. “Anda bisa tenang, saya pasti akan membayar mahal bantuan anda ini, karena saya sadar jika mereka pasti mengincar klan saya lebih dulu sebelum bantuan tiba.”
“Tapi patriark, kenapa harus repot-repot meminta bantuan mereka berdua, terlebih lagi anda membayarnya lebih baik kita langsung pergi saja, paling-paling mereka berdua akan langsung mati lebih dulu saat keluar dari kota,” kata salah satu Monster yang memiliki kekuatan tingkat Jendral Emas ⭐ 2 Puncak.
“Benar mereka itu lemah, akan sia-sia kita meminta bantuan mereka berdua,” kata salah satu monster yang jauh lebih muda ikut merendahkan sambil mendengus dengan sombong.
Bai An yang mendengar itu ingin melambaikan tangannya. Tapi Jing Ling langsung bergerak lebih dulu mengayunkan tangannya.
Crash..!!
Crash..!!
Akhh..!!
Teriakan kedua monster yang Jing Ling potong tangannya sangat menyedihkan.
“Kau sekali merendahkan Tuan muda ku, maka kepalamu akan melayang,” kata Jing Ling dengan dingin.
Patriark klan Rubah maupun para ahli suci lainnya kini menganga tidak percaya, pasalnya mereka tidak mampu bergerak lebih dulu membantu Jendral mereka.
Kini Jendral mereka telah kehilangan kedua tangan mereka masing-masing. Ya walaupun mereka bisa menumbuhkan tangan yang hilang, tapi itu cukup memalukan bagi mereka yang merasa di permalukan.
“Kau,” tunjuk salah satu Monster ahli suci.
Namun dengan cepat patriak rubah begerak lalu memukul kepala tetuanya sambil berkata dengan dingin. “Diam, mulai sekarang kalian lebih baik diam dan di larang bicara tanpa seijinku.”
Setelah itu patriark rubah langsung melirik orang yang di belakang Bai An dengan hati-hati, ia cukup familiar dengan aura orang yang berdiri di belakang Bai An.
__ADS_1
“Tuan maafkan sebelumnya dengan tindakan tetua dan Jendral saya, saya pasti akan memberikan anda konpensasi atas penghinaan yang mereka lakukan kepada anda.”
“Tapi,” kata Jendral dan tetua tersebut secara bersamaan.
“Diam,” kata patriark rubah dengan dingin.
Bai An yang melihat itu tersenyum di balik tudungnya. “Sungguh seekor rubah, ia sangat pandai bersandiwara,” gumam Bai An.
Dengan cepat Bai An melambaikan tangannya. “Itu tidak apa-apa, saya bisa saja menolong patriark. Tapi patriark harus menyerahkan setengah harta yang anda punya dan harus mengikuti intruksi saya. Bagaimana?” Kekeh Bai An.
Patriark Rubah langsung menggertakkan giginya karena rencananya gagal oleh ulah tetua dan jendralnya. Awalnya patriark rubah berencana untuk membunuh Bai An dan orang yang di belakang Bai An jika mereka telah menang bertarung atau akan mengorbankan Bai An saat bertarung nanti dengan menyuruhnya lebih dulu maju melawan para ahli suci yang menghadang jalan mereka.
Tapi rencananya dapat tercium. “Hmm,, orang tua ini ternyata lebih licik dan pintar dari yang aku duga, aku kini tidak boleh menyinggungnya. Tapi jika ada kesempatan membunuhnya maka aku akan langsung membunuhnya, dan yang paling di khawatirkan adalah bawahannya ini, sepertinya aku tidak dapat mengalahkannya seorang diri,” gumam Patriark Rubah dalam hati.
“Baikah, ini adalah setengah dari harta saya, anda dapat menghitungnya lebih dulu,” kata patriark rubah kini menyodorkan cincin penyimpanannya.
Bai An langsung mengambilnya tanpa sungkan dan bergumam dalam hati. “Seandainya kau bukan kakeknya wanita bodoh iti, aku sudah membunuhmu rubah tua.”
“Terimakasih atas kebaikan hati anda patriark,” kekeh Bai An dan langsung memasukkan cincin permberian patriark rubah.
Tapi bagi patriark rubah dan tetua rubah, mereka langsung menggertakkan giginya dengan keras. Bahkan gertakan gigi mereka dapat di dengar oleh Bai An.
Tentu mereka paham maksud Bai An, mereka pergi lebih dulu artinya mereka harus siap-siap menyerahkan setengah pasukan mereka lebih dulu sebagai tumbal sebelum kedatangan Bai An. Bahkan mereka curiga Bai An mungkin tidak akan datang menolong mereka hingga mereka mati.
“Kau kurang ajar, tidak tahu terimakasih.” Tunjuk Tetua Rubah dengan amarah yang meledak-ledak.
“Diam,” teriak patriark rubah, ia kemudian menatap Bai An dan berkata sambil berusaha menahan kemarahannya juga. “Saya yakin anda adalah orang yang menepati janji, saya akan menunggu anda di luar bagian barat menuju Kota Monster.”
Setelah itu mereka langsung pergi tanpa menunggu jawaban Bai An.
Patriark Rubah yakin jika ia tetap berdiam diri, maka amarahnya yang sudah ia tahan akan langsung meledak-ledak.
Sementara Bai An kini terkekeh.
__ADS_1
“Tuan muda, kau sungguh licik. Aku tidak menduga akan hal ini,” kata Jing Ling sambil tersenyum kecil.
“Hehe, demi harta kita harus mencoba bertahan dari segala cobaan,” kekeh Bai An kemudian berjalan keluar dengan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Saat berjalan keluar Bai An menghubungi Tu Long melalui telepati jika ia harus menyerang perkumpulan gelap terlebih dahulu dan pancing keluar kota. Karena Bai An kini merasakan mereka telah kembali. Itu terjadi mungkin para anggota perkumpulan gelap dan beberapa ahli suci mereka mendengar Penguasa Kota bicara tadi.
Mereka kembali karena takut kelompok mereka akan ketahuan oleh Penguasa Kota. Maka dari itu Bai An menyuruh Tu Long memancing mereka keluar.
Saat Bai An menapakkan kakinya di luar pintu Pelelangan Naga dan Phoenix, ia langsung merasakan beberapa mata sedang mengintainya. “Heh,, mereka sudah tidak sabar menyerahkan harta mereka sehingga mengirim mata-mata. Mereka sungguh baik hati,” kekeh Bai An menyeringai kejam.
Jing Ling yang berada di belakang Bai An langsung bergidik ngeri mendengar tawa Bai An.
“Ayo kita keluar,” ajak Bai An kepada Jing Ling. Jing Ling langsung mengangguk tapi pandangan matanya beralih ke arah mata-mata dari Ras Elf. Jing Ling langsung menjadi dingin.
Tap tap..!!
Cukup lama mereka berjalan santai yang di ikuti oleh cukup banyak mata-mata dari berbagai ras yang ingin membunuh Bai An.
Saat sudah mencapai tengah kota, Bai An langsung tersenyum saat mendengar suara ledakan.
“Mereka sungguh kejam, padahal aku hanya menugaskan memancing target utamanya keluar, tapi sik botak itu tak segan-segan menghancurkan markas mereka,” gumam Bai An.
Setelah bergumam Bai An melirik Jing Ling, setelah mengangguk bersama.
Dengan cepat mereka menghilang dari tempat mereka berdiri.
Bahkan mata-mata yang selalu mengintai Bai An langsung terkejut. Padahal tingkat kultivasi mereka cukup tinggi, tapi mereka tidak bisa mengikuti pergerakan Bai An.
“Ayo kejar, jangan sampai kehilangan jejak,” teriak Iblis berkepala banteng dan beberapa mata-mata dari Ras lain secara bersamaan.
Mereka langsung bergerak cepat dari atap ke atap.
Sementara Bai An dan Jing Ling kini sudah sampai di depan pintu gerbang Kota Netral, bersamaan dengan sampainya Tu Long dan De Cang.
__ADS_1
“Tuan muda, mereka ada di belakang dan sangat banyak. Aku tidak menduga mereka sebanyak itu,” kata Tu Long dengan semangat.
Ayo nungguin ya? 🤣🤣