
Bai An kini langsung mengerti mengapa ia tidak bisa merasakan Energi Semesta Bai En.
Setelah melihat semua ingatan kakaknya Bai En, Bai An langsung memeluk kakaknya, Bai An tahu bagaimana menderitanya Bai En.
Bai En juga ikut memeluk adiknya, walau Bai En tidak pernah melihat adiknya dari kecil, ia tahu jika Bai An sudah menderita seperti dirinya.
Bai An juga ikut memberikan semua ingatannya kepada Bai En.
Setelah cukup lama melihat proses ingatan adiknya. Bai En langsung menghela nafas berat.
“Jika begitu, saat ini ayah, ibu, kakek, kakak, paman, dan semua anggota keluarga kita saat ini sudah di tangkap oleh Jal**g itu,” kata Bai En menggenggam erat tangannya menahan amarah.
Mendengar itu, Bai An juga ikut menahan amarah.
“Untuk saat ini, kita harus bertambah kuat dan membunuh semua bawahan mereka termasuk Zin Ho,” kata Bai An menahan amarah, karena Zin Ho berusaha membunuh kakaknya tadi.
“Tidak, Zin Ho memang pelayan ibu dulu, tapi saat ini ia terpaksa melakukan hal ini karena istri dan anaknya sedang di tahan oleh Ling Qie, sama halnya dengan Ba Dut, kakak dari Gong Tanru, karena hanya Ba Dut yang mengetahui ayah mereka di tahan, tidak seperti Gong Tanru karena ia tidak mengetahui ayahnya di tahan,” kata Bai En.
Mendengar itu, Bai An mengerutkan keningnya. “Apakah paman Gong mempunyai seorang kakak?” Tanya Bai An.
“Hmm..!! Dia mempunyai kakak bernama Ba Dut, yaitu penguasa kota Netral tempatmu dulu,” jawab Bai En.
“Darimana kakak tahu?” Tanya Bai An heran.
“Dari ingatanmu, walau Gong Tanru terlihat menyembunyikannya, tapi kakak tahu jika itu adalah Ba Dut,” jawab Bai En.
Bai An langsung menghela nafas berat.
“Walau begitu, tidak ada ampun bagi pengkhianat,” kata Bai An tetap ingin membunuh mereka semua.
“Hmm..!! Apa kau tidak sadar jika Zin Ho tadi hanya berpura-pura menyerang kita sekuat tenaga, jika ia serius mungkin kita semua bisa mati dalam sekejap, karena kekuatannya jauh di atas kita. Aku yakin juga untuk saudaramu Long Yuan masih hidup juga.” Kata Bai En mencoba meyakinkan adiknya.
“Tidak bisa, kita tidak boleh naif mulai sekarang. Bunuh saja yang pantas di bunuh,” kata Bai An keras kepala, lalu menambahkan. “Biarkan mereka tahu dan menyesal di neraka saja, jika mereka memang setia kepada ibu dan ayah, aku yakin jika mereka akan siap mati apapun resikonya.”
Mata Bai An sangat dingin saat ia mengatakan hal tersebut. Karena apa yang paling ia benci adalah seorang pengkhianat apapun alasannya.
Bai En hanya bisa mengiyakan adiknya. “Sifatmu sama dengan kakek dan ibu,” kata Bai En tersenyum hangat.
Bai An langsung tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Tak lama Bai An sadar akan sesuatu, ia langsung bertanya. “Jika kakak sudah hidup lama, terus kenapa tingkat kultivasi kakak masih berada di Dewa Kuning?”
“I.. Itu, hehe karena kakak sulit mendapatkan sumberdaya,” jawab Bai En menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa canggung.
Tapi Bai An melihat adanya kebohongan di ucapan kakaknya dan di matanya.
Bai An merasa kakaknya malas berkultivasi.
Tapi Bai An tidak mempermasalahkannya karena ia berniat memaksa kakaknya nanti untuk meningkatkan kekuatannya juga.
...___________...
Sementara di tempat Lang Zai, Pixiu, Tu Long dan Gi Lian.
Kini mereka merasakan kedatangan musuh dari berbagai arah.
Gi Lian seketika menjadi gugup.
“Kakak Lang Zai, Pixiu dan Kakak Tu Long, kenapa An Gege masih belum kembali? Apakah kita bisa menghadapi kepungan musuh?”
Mendengar banyak pertanyaan dari Gi Lian.
Lang Zai, Pixiu dan Tu Long langsung tersenyum percaya diri.
Gi Lian langsung mengangguk walau terlihat tidak terlalu percaya karena kekuatan Gi Lian lebih tinggi dari Tu Long.
Mungkin untuk Lang Zai dan Pixiu yang mengatakan itu, maka ia akan percaya.
Tak lama kemudian sebuah serangan anak panah beserta beberapa belati datang ke arah Tu Long seorang diri.
Wuss..!!
Tu Long yang merasa dirinya di incar langsung mendengus dingin.
Dengan cepat ia mengeluarkan pedangnya.
Trank trank..!!
Dengan santai Tu Long menghindar sambil menangkis beberapa belati dan anak panah.
__ADS_1
Setelah itu muncul puluhan ahli Dewa Abadi menggunakan jubah.
“Heng..!! Mengapa kalian diam, ayo kemari serang ayah, ayah sudah menunggu kalian dari tadi,” dengus Tu Long, kata-katanya juga mengandung ejekan.
Puluhan gabungan ketiga klan langsung mendengus.
Mereka semua tanpa pikir panjang langsung maju.
Wuss..!!
Saat 10 meter akan mencapai Tu Long. Tubuh mereka semua terpisah, ada yang tubuh mereka terpotong beberapa bagian, seperti kaki tangan dan punggung mereka, ada juga yang kepala mereka melayang.
Tu Long langsung cemberut melihat Lang Zai dan Pixiu lebih dulu bergerak membunuh mereka, padahal niatnya tadi menunjukkan kehebatannya di depan Gi Lian.
Sedangkan Gi Lian kini hanya cekikikan melihat raut wajah jelek Tu Long. Gi Lian berpendapat jika Tu Long hanyalah umpan, karena mulut Tu Long sangat cocok untuk memancing musuh.
Sedangkan ketiga patriark yang melihat puluhan tetua luar mereka mati begitu saja hanya santai dari kejauhan. Mereka belum bergerak karena yakin jika mereka bisa menang dengan membawa ribuan ahli Dewa Abadi.
“Suruh 100 tetua luar maju lagi, aku yakin energi mereka pasti akan terkuras habis, saat itu terjadi kita akan bergerak,” kata patriark Du melirik ke arah tetua inti.
Patriark Du juga melirik dengan hati-hati ke arah kedua patriark, ia tak ingin rencananya ketahuan jadi ia berpura-pura meminta pendapat.
“Bagaimana menurut patriark Qin dan patriark Mu?” Tanya Patriark Du.
“Hmm..!! Rencanamu cukup bagus juga, kami berdua akan mengirim 100 masing-masing tetua luar juga, jadi 300 tetua luar akan mengepung mereka,” kata patriark Qin dan patriark Mu bersamaan.
Patriark Du mengangguk lalu melirik ke arah tetua intinya untuk menjalankan perintahnya.
Tetua inti klan Du langsung bergerak memerintahkan 100 tetua klan Du begitu juga dengan patriark Qin dan patriark Mu memerintahkan tetua inti mereka untuk mengumpul 100 tetua luar.
Setelah itu 300 tetua luar ahli Dewa Abadi langsung maju.
Tapi mereka tidak menyadari jika Patriark Du kini tersenyum sinis, patriark Du sudah merencanakan ini jauh sebelumnya jika menyuruh tetua luarnya untuk tidak terlalu melawan musuh dan harus mundur jika dalam bahaya, tapi jangan sampai para tetua luar dari klan Qin dan klan Mu menyadarinya.
Di tempat Lang Zai, Pixiu, Tu Long dan Gi Lian kini sedang santai menunggu musuh mereka menyerang.
Walau terlihat santai, Lang Zai, Pixiu dan Tu Long terlihat merencanakan sesuatu.
“Bagaimana saudara Tu?,” tanya Lang Zai.
__ADS_1
“Hmm..!! Lebih baik langsung menyerang mereka, tapi ide ini ada baiknya juga,” kata Tu Long terkekeh kecil.
Tangan Tu Long kini sedang memegang bola kecil bewarna merah seperti Bom waktu.