
Tu Long langsung tersenyum bangga, lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Bai An dan Duan Du yang kini menatapnya.
Wajah Tu Long langsung berubah jelek saat melihat wajah mereka berdua yang terbilang polos dan pura-pura bingung, seolah-olah tidak mengerti maksud Tu Long.
“Kau kenapa Tu Long?” Tanya Bai An pura-pura bingung.
“Tidak ada,” kata Tu Long masih memasang wajah jelek, Tu Long lalu memandang ke arah jendral tersebut, jari telunjuk Tu Long langsung menembakkan energi ke arah dada jendral tersebut.
“Seraplah itu nanti saat di perjalananmu, energi yang ku tembakkan bisa meningkatkan kekuatanmu dengan pesat.” Kata Tu Long santai.
Jendral yang bernama Bo Thol langsung mengangguk senang, tapi ia langsung membeku saat mendengar suara ancaman dari Tu Long.
“Tapi jangan mencoba untuk melarikan diri atau berkhianat, jika itu terjadi, walau kau mati dan pergi ke neraka sekalipun aku akan pergi kesana untuk menyeret lalu menyiksamu selamanya,” kata Tu Long dengan suara yang sangat dingin.
Bo Thol langsung mengangguk patuh, setelah itu Bo Thol langsung melesat pergi setelah meminta izin.
Sementara Bai An, Duan Du dan Tu Long kini saling melirik terlebih dulu.
“Kalian berdua, lihat kondisi dua kerajaan yang lainnya lebih dulu, dan juga jangan ikut campur pertarungan mereka, ingat itu,” kata Bai An dengan santai.
Tu Long dan Duan Du langsung menghilang setelah mendengar perintah Bai An.
Bai An juga ikut menghilang, lalu muncul di kamar Mhi Ring yang masih asik mengobrol dengan adiknya Mhi Kir.
Dengan santai Bai An kembali duduk di posisinya yang sebelumnya.
***
3 Hari telah berlalu, tidak banyak yang terjadi selama tiga hari ini selain meningkatkan kekuatannya, dan sekarang Bai An kembali jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Tok tok..!!
Bai An langsung membuka matanya saat mendengar suara ketukan pintu.
“Masuklah,” kata Bai An dengan santai.
Tap tap..!!
Mhi Ring, Mhi Ris dan Mhi Kir langsung masuk setelah mendapat izin dari Bai An.
__ADS_1
Mereka bertiga langsung membungkuk sedikit tanda memberi hormat.
Bai An dengan santai melambaikan tangannya. “Jangan terlalu formal, aku tidak gila hormat,” kata Bai An.
“Hmm..!! Terimakasi Dewa, karena telah memberikan kami kekuatan,” kata Mhi Ris dan Mhi Kir bersamaan.
Jika Mhi Ris melihat wajah asli Bai An, mungkin ia akan menduga orang yang telah menyelematkan kerajaan ini dari kekacauan dulu adalah dirinya.
“Bagaimana?” Tanya Bai An melirik ke arah Mhi Ring.
“Semuanya beres, yang mulia Raja He Bhat telah memberikan sepenuhnya perintah padaku dan Panglima tertinggi untuk menggerakkan para jendral dan prajurit,” jawab Mhi Ring, lalu menambahkan. “Aku tinggal menunggu perintah dari anda saja.”
Bai An yang mendengar itu langsung bangun lalu melambaikan tangannya.
Wuss..!!
Bai An dan Mhi Ring, Mhi Ris dan Mhi Kir langsung muncul tidak jauh dari istana salah satu kerajaan musuh.
“Kau hanya perlu meyakinkan para penduduk ini, aku tidak peduli bagaimana caramu meyakinkan mereka agar bisa mendukungmu, karena jika kau mendapat dukungan dari para penduduk, maka para petinggi kerajaan akan kalah dari perang ini.” Kata Bai An santai melirik ke arah Mhi Ring.
Mhi Ring mengangguk senang, lalu melirik ke arah ayah dan adiknya.
“Lalu tugas mereka apa?” Tanya Mhi Ring.
Setelah itu mereka bertiga langsung pergi menjalani tugas mereka masing-masing.
Sementara Bai An yang telah menghilang kini muncul lagi tidak jauh dari tempat Duan Du yang tengah menyamar jadi pangeran kerajaan Air Keruh.
“Woe Woe,, aku juga seorang pangeran, walau aku pangeran terbuang tapi kalian jangan memandang rendah diriku,” dengus Duan Du berpura-pura marah kepada para pangeran, jendral dan Raja Kerajaan Air Keruh.
“Heng,, kau ini hanyalah sampah, jika ibu permaisuru tidak memaksa kau ikut kesini maka kau tak akan pernah bisa duduk di sini,” dengus putra mahkota.
Duan Du langsung menyeringai mengejek. “Hehe,, yang mulia saja tidak keberatan aku di sini, kenapa kau yang paling tidak terima jika aku di sini? Apa kau takut aku akan merebut tahta darimu,” kekeh Duan Du.
“Kau,,” kata putra mahkota sambil menunjuk ke arah wajah Duan Du.
“Apa,,” dengus Duan Du.
“Cukup..!!”
__ADS_1
Terdengar suara teriakan dari Raja Kerajaan Air Keruh.
“Apa kalian berdua tidak bisa diam lebih dulu, jika kalian berdua ingin berdebat maka di luar saja, terutama kau,” tunjuk Raja Kerajaan Air Keruh ke arah Duan Du.
Duan Du langsung terkekeh, Duan Du tahu jika pangeran ke 8 atau muka yang Duan Du pakai ini adalah orang baik yang sering di tindas oleh semua orang di kerajaan Air Keruh ini, hanya ibu permaisuri atau kakak dari ibunya adalah orang yang benar-benar tulus menjaganya.
Tap tap..!!
“Apa kau pikir bisa menunjuk anak ku begitu saja,” kata suara lembut muncul dari pintu depan.
Terlihat seorang wanita yang cukup tua namun masih cantik datang menatap ke arah Raja Kerajaan Air Keruh.
“Heng,, kenapa kau datang? Lebih baik kau kembali saja ke kediamanmu,” dengus Raja.
“Kau bicara begitu sekali lagi, aku tak akan segan-segan memerangimu,” dengus permaisuri tak mau kalah. “Kau mengira aku sekarang tidak memiliki prajurit dan pendukung yang cukup untuk menggulingkanmu.”
Pok pok..!!
Permaisuri langsung bertepuk tangan.
Tak menunggu lama, sekumpulan jendral, komandan, prajurit elit, dan prajurit biasa langsung berdatangan lalu berdiri di belakang permaisuri dan Duan Du, bahkan beberapa pangeran juga ikut berkumpul disana.
Mata Raja Kerajaan Air Keruh langsung melotot, ia kini berdiri bersama para pengikut setianya, bahkan pangeran mahkota tak kalah terkejut.
Duan Du langsung menyeringai melihat rencananya telah berhasil, ia kini melirik ke permaisuri dengan tatapan cukup kagum karena ibu permaisuri sangat cepat mengumpulkan pendukung.
“Kalian semua ingin memberontak,” teriak Raja sambil menatap ke arah permaisuri kembali berkata. “Jadi ini yang telah kau lakukan di belakangku makanya kau selalu berani melawan perintahku dari dulu, terlebih kau selalu mengutamakan anak sampah itu.”
“Siapa yang kau bilang anak sampah hah, walaupun ia terbilang tidak jenius dalam berkultivasi, namun kepalanya jauh lebih jenius dari semua orang yang ada di kerajaan ini,” dengus permaisuri berusaha membela Duan Du.
“Hehe,, ibu tenang saja, ibu sekarang sudah tidak perlu membela diriku lagi, karena mereka semua di mataku saat ini tak lebih dari sesongok mayat hidup,” kekeh Duan Du mengejek Raja Kerajaan Air Keruh dan semua pengikutnya termasuk para pangeran yang selalu menindas Pangeran ke 8.
Letupan emosi langsung meletus saat mendengar provokasi Duan Du yang menyamar jadi pangeran ke 8.
Duan Du langsung memberikan kode kepada ibu permaisuri.
Ibu permaisuri langsung bertepuk tangan 4 kali.
Pok pok pok pok..!!
__ADS_1
Seketika para jendral dan prajurit langsung membuat barisan menyerang dan bertahan.
“Semua bersiap, tunggu aba-aba dari pangeran ke 8,” teriak permaisuri dengan lantang.