Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Kabar Mengenai Kakek Yue'er.


__ADS_3

Malam hari. Bai An kini telah berkumpul bersama Luan'er, Liu'er, Yue'er dan Lin'er.


Yue'er dan Lin'er ditemukan sedang duduk memandang keindahan alam saat Bai An mencarinya siang tadi, lalu mengajak mereka berdua kembali namun Yue'er menolak. Karena masih ingin melihat pemandangan alam yang cukup indah.


Bai An hanya mengangguk menuruti dan menyuruh mereka kembali sebelum matahari tenggelam, Yue'er mengiyakan. Setelah itu Bai An kembali dan melihat anggotanya kini telah berkultivasi meningkatkan kekuatan mereka.


Setelah itu Bai An ikut berkultivasi untuk meningkatkan pemahamannya tentang Hukum Ruang dan Waktu yang kini baru ia pelajari.


Tak terasa matahari telah tenggelam, saat sedang fokus tiba-tiba Bai An membuka mata saat mendengar suara Yue'er yang membangungkannya.


"Gege!"


"Hmm ada apa Yue'er?" tanya Bai An heran.


"Aku lapar!" terlihat Yue'er tersenyum malu, namun tidak terlalu kelihatan karena wajah dinginnya.


Bai An mengangguk lalu menyuruh Bai Luan dan Fang Liu untuk berburu ayam hutan untuk makan malam.


Tak lama Bai Luan dan Fang Liu datang dengan beberapa heran buruan, "Guru, apakah kita langsung bakar?" tanya Bai Luan tanpa basa basi. Bai An mengangguk dan langsung beralih ke arah Fang Liu yang kini menunduk malu karena di tatap oleh kedua wanita cantik.


"Oh ya Yue'er, Lin'er. Perkenalkan ini Fang Liu murid kedua ku."


Mendengar itu Yue'er hanya mengangguk iya yakin mengapa Bai An mengambil anak tersebut menjadi murid karena pasti ada sesuatu yang tersembunyi pada bakat ini, walaupun ia hanya melihat Fang Liu anak biasa tanpa bakat.

__ADS_1


Sedangkan Lin'er heran mengapa Bai An mengambil anak biasa menjadi muridnya, "Paman Guru, bukankah adik kecil ini bakatnya biasa-biasa saja, mengapa Paman Guru mengangkatnya menjadi murid?" tanya Lin'er terang-terangan tanpa ada rasa malu.


Mendengar Lin'er yang terang-terangan bertanya Bai An langsung membuat mulut Lin'er berkedut-kedut. "Bakatnya jauh lebih mengerikan darimu Lin'er dan jangan nilai orang dari sampulnya."


Setelah Lin'er berkedut-kedut, ia kini terlihat memahami kata-kata Bai An. Namun tetap saja bagaimanapun ia berusaha tetap saja tidak bisa memahami kata-kata Bai An, dan ia kini menyerah.


Fang Liu hanya diam saja, ia kini memberanikan diri menatap Yue'er dan Lin'er dengan polos lalu memperkenalkan diri. Setelah acara perkenalan, Bai Luan langsung berteriak, "Guru daging bakar telah siap dimakan."


Mendengar itu Bai An dan yang lain ketempat dimana Bai Luan membakar Ayam dan kelinci.


Setelah makan malam kini Bai An melirik Fang Liu, ia ingin membuka segel yang menyegel dantian Fang Liu. Namun Bai An belum tahu caranya karena Shen Bai belum memberitahukan ia cara membuka segel tersebut.


Sedangkan Shen Bai kini entah pergi kemana, ia tiba-tiba pergi dari tadi siang. Setelah Shen Bai memberitahu kalau Fang Liu mempunyai bakat langka, tiba-tiba Shen Bai pergi begitu saja.


"Hmmm kau istirahat dulu Liu'er, carilah tempat yang nyaman untukmu beristirahat!"


Mendengar ucapan Bai An, Fang Liu mengangguk patuh, "Baik Guru."


Setelah Fang Liu memberi hormat kepada Bai An dan yang lain, ia langsung pergi.


Kini yang tersisa hanya mereka ber empat, Bai An lalu melirik Yue'er yang terlihat gelisah dari setelah selesai makan. Bai An heran mengapa tiba-tiba Yue'er begitu gelisah namun tadi ia tidak sempat untuk bertanya.


"Kamu kenapa Yue'er?, dari tadi An Gege lihat kamu selalu gelisah." Tanya Bai An yang cukup penasaran.

__ADS_1


"Aku tidak tahu An Gege, tiba-tiba saja aku merasakan hatiku gelisah, seperti takut kehilangan orang yang dekat denganku!" jawab Yue'er.


Bai An merenung sebentar lalu mencoba menghibur Yue'er, "Kamu tenang saja, kita tidak akan kehilangan orang-orang yang kita sayangi lagi, aku akan berlatih lebih keras lagi untuk melinsungimu!"


Mendengar itu Yue'er agak luluh karena ia sangat menyayangi Bai An dan takut kehingan Bai An, sampai-sampai ia mau merubah sikapnya menjadi dingin hanya untuk Bai An. Namun tetap saja rasa gelisah belum sepenuhnya hilang, itu membuat Yue'er heran pada dirinya sendiri dan berpikir apa yang sebenarnya terjadi?


Bai Luan dan Shen Linlin yang mendengar kata-kata dari Bai An kini mereka ikut bertekad dalam hati untuk berlatih lebih giat lagi agar tidak membebani Bai An suatu hari nanti dan tetap selalu berada disamping Bai An.


Bai Luan dan Shen Linlin meminta izin kepada Bai An untuk berlatih sebelum pagi tiba, Awalnya Bai An agak bingung mengapa mereka terlihat ngotot ingin berlatih. Tapi setelah ia ingat kata-katanya kepada Yue'er tadi Bai An langsung mengizinkan mereka berdua, asal tidak terlalu jauh.


Bai Luan dan Shen Linlin mengangguk lalu pamit pergi. Kini hanya Bai An dan Yue'er yang berada disana. "Gege aku merindukan kampung halamanku dan kakek, Ayah, Ibu beserta yang lainnya."


Melihat Yue'er yang tiba-tiba memeluknya dan berbicara kepadanya Bai An tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya berusaha menyemangati Yue'er agar tidak terlalu bersedih.


Tak lama tiba-tiba Shen Bai datang dan langsung berbicara dengan nada yang serius kepada Bai An lewat telepati, "An'er aku mendapat kabar dari Ayah mu!"


Melihat Shen Bai yang serius, kini Bai An meminta Yue'er untuk melepas pelukannya. Setelah melepas pelukan Yue'er kini Bai An melirik Shen Bai dengan serius.


"Ada kabar apa dari ayah?" tanya Bai An. "Jangan beritahu Yue'er tentang ini, karena ini tentang keluarganya, agar ia tidak terlalu khawatir dan menjadi nekad!" Ucap Shen Bai, Bai An langsung tegang lalu melirik Yue'er yang penasaran apa yang ia dan Shen Bai bicarakan. Namun Yue'ee terlihat tidak ingin bertanya lebih dulu.


"Lanjutkan sampai selesai Paman Bai!" balas Bai An. "Hmm Ayah Yue'er masih hidup, namun ia ditahan oleh orang-orang dunia luar dan kini Kakek dan ibu Yue'er bersahil selamat bersama beberapa anggota Kalnnya, Kini Kakek Yue'er berada di tempat ayahmu tinggal untuk berlindung."


Mendengar itu Bai An tegang, ia ingin pergi langsung kesana karena ia menyadari jika pasti akan terjadi perang disana. Namun tugasnya disini belum selesai. Bai An langsung bimbang antara memilih Keluarganya atau orang-orang benua rendah ini yang lebih membutuhkan pertolongan.''

__ADS_1


__ADS_2