Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Melepaskan Tetua Pertama Klan Dhe


__ADS_3

Dengan cepat patriark Xian melepas cincinnya tanpa banyak bicara dan maju memberikannya kepada Duan Du.


“I.. Ini Tuan muda,” kata Patriark Xian dengan tangan gemetar.


Dengan santai Duan Du mengambilnya.


Patriark Xian melihat perisai telah menghilang langsung membalik badannya melesat ingin pergi dari sini.


Namun sebuah suara kembali terdengar yang membuat ia diam.


“Siapa yang menyuruhmu pergi, urusan kita belum selesai,” kata Bai An tersenyum santai.


“Mungkin urusanmu dengan adik ku telah selesai, tapi urusan dengan ku belum,” kata Bai An kembali mengeluarkan senyum lebih lebar.


Kini tubuh patriark Xian tidak henti-hentinya bergetar.


Bahkan tanpa sadar celananya kini basah.


Semua orang yang melihat itu langsung jijik karena melihat orang tua kencing di celananya.


Bai An yang melihat itu biasa saja.


Perlahan Bai An melangkah santai ke tempat patriark Xian lalu memegang pundaknya.


Wuss..!!


Tubuh patriark Xian langsung merasa panas.


Akhh..!!


Teriakan patriark Xian membuat orang-orang langsung diam.


Mereka semua tak berani bersuara sambil menatap ke arah Bai An dengan pandangan ngeri.


Mereka semua tak tahu harus memanggil Bai An apa, kejam dan sadis sudah tidak dalam kategori untuk memanggilnya seperti itu, menurut mereka Bai An bahkan lebih dari kejam dan sadis.


Duan Du yang tahu apa yang Bai An lakukan langsung tersenyum lebar.


“Jika dalam hitungan 10 detik kalian tidak bubar, maka,” belum selesai Duan Du menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


Orang-orang yang menonton dari kejauhan sudah menghilang dan hanya menyisakan bekas tapak kaki mereka saja.


Kini yang berada di sana hanya Dhe Chi Ruan, Dhe Peng dan anggota klan Dhe yang mengikuti Patriark Dhe.


Ada juga beberapa sisa bawahan tetua pertama, namun saat ini mereka sudah di rantai oleh Duan Du.


Tak berapa lama setelah Patriark Xian selesai berteriak, ia kini menatap Bai An dengan penuh hormat, karena ia kini sadar telah menjadi budak Bai An.


“Xian Wei menyapa Tuan muda,” kata patriark Xian memperkenalkan dirinya.


Bai An mengangguk santai lalu melirik ke arah patriark Dhe Chi Ruan.


Setelah itu ia melirik ke arah adiknya sambil berkata. “Sisanya aku serahkan kepadamu,” kata Bai An langsung memegang pundak Xian Wei dan menghilang dari sana.


Duan Du kini melirik ke arah Dhe Chi Ruan sambil berkata.


“Apakah kau tahu kesalahanmu kepadanya?” Tanya Duan Du bertanya sambil menunjuk ke arah Dhe Peng.


Dhe Chi Ruan awalnya bingung, namun tak lama ia menghela nafas saat melihat wajah penuh dendam putra keduanya.


“Bukan aku yang membunuh ibumu maupun menyebabkan ia mati, ini karena ulah tetua pertama yang menugaskan ibumu melawan para bandit,” kata Dhe Chi Ruan lalu menambahkan. “Aku bahkan tidak tahu jika ibumu pergi, karena aku dalam pengasingan, dan saat keluar dari pengasingan aku mendapat kabar ibumu terluka hingga aku mencarinya.”


“Tapi yang sebenarnya membunuh ibumu adalah tetua pertama, ia sudah merencanakan ini dengan mengambil pedangku secara diam-diam sehingga tuduhan tersebut akan jatuh kepadaku.”


Mata Dhe Chi Ruan menatap ke arah tetua pertama dengan tatapan ingin mencabik-cabiknya.


Dhe Peng sama sekali tidak percaya, tapi ia melirik ke arah Duan Du lebih dulu apakah ucapan Dhe Chi Ruan itu benar atau bohong.


Duan Du dengan santai mengangguk sambil berkata. “Ia berkata jujur, tapi ia masih menyembunyikan beberapa kebenaran.”


Mendengar itu, tubuh Dhe Chi Ruan langsung menegang.


Sementara Dhe Peng kini meraung marah sambil berteriak.


“Cepat katakan kebenarannya, jika tidak aku akan mencincangmu.”


Dhe Chi Ruan mau tidak mau mengatakan kebenarannya.


“Sebenarnya aku bukan ayah kandungmu, aku dulu menemukan ibumu sedang mengandung dirimu dan membawanya karena ia terluka, sebelum ia mati dulu, ia menyuruhku memberitahu jika kau harus bertemu ayah kandungmu, saat ini ayah kandungmu adalah patriark klan besar di Daratan Naga Air, dan untuk kebenarannya kau harus pergi mencari tahunya sendiri,” kata Dhe Chi Ruan dengan sedikit enggan kehilangan Dhe Peng walau ia bukan putra kandungnya.

__ADS_1


Dhe Peng yang mendengar itu langsung lemas, ia sudah menduga ini dari awal jika Dhe Chi Ruan bukanlah ayah kandungnya.


Dhe Peng menduga itu saat ia melihat ibunya dan Dhe Chi Ruan tidak pernah tidur bersama dari ia kecil hingga ibunya mati.


Dhe Peng kini berjalan ke arah Dhe Chi Ruan lalu berlutut.


“Apa yang kau lakukan nak?” Kata Dhe Chi Ruan berusaha membangunkan Dhe Peng.


Namun Dhe Peng langsung berkata. “Aku minta maaf karena sudah menaruh dendam kepadamu selama ini dan mengira kau adalah orang yang membunuh ibuku, terlebih kau bukan ayah kandungmu, tapi kau tidak membedakan antara aku dan kakak, kau juga selalu melindungi ibu dulu saat aku masih kecil. Terimakasih.”


Dhe Peng menangis karena merasa bersalah, namun Dhe Chi Ruan sama sekali tidak marah, ia malah tersenyum karena kini putranya sudah tidak membencinya walau ia sudah tahu jika dari dulu putranya membencinya saat ibunya mati.


Kini tatapan mata Dhe Peng dan Dhe Chi Ruan mengarah ke arah tetua petama yang mulutnya sengaja di sumpal oleh Duan Du.


Duan Du menyumpal mulutnya karena tidak tahan mendengar suara teriakan tidak berguna tetua pertama.


Dengan cepat Dhe Chi Ruan membuka sumpal yang menyumpal mulut Dhe Tu.


“Apa yang kalian lakukan kurang ajar, jika kalian membunuhku maka Tuan ku akan menyiksa kalian dan membuat kalian menjadi persembahan kegelapan yang abadi,” kata Dhe Tu mengancam lalu tertawa seperti orang gila.


Duan Du yang mendengar itu langsung berkata. “Bunuh saja orang tidak berguna ini, mulutnya saja yang besar tapi tidak ada bukti sama sekali, heng,” dengus Duan Du.


Saat Dhe Peng dan Dhe Chi Ruan mengangguk sambil mengayunkan senjata mereka masing-masing sebuah suara terdengar.


“Jangan di bunuh, lepaskan dia atau kita akan kewalahan melawan Tuannya, karena menurutku ucapannya itu benar,” kata Bai An tiba-tiba muncul.


Dhe Peng dan Dhe Chi Ruan langsung menghentikan senjata mereka masing-masing tepat di leher Dhe Tu.


Dhe Tu yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha,, begitulah seharusnya, kalian seharusnya takut kepadaku juga, dan aku ingin kalian memotong kedua kaki tangan kalian lalu pergi dari sini,” kata Dhe Tu dengan sombong lalu menambahkan. “Jangan lupa harta yang kalian dapatkan berikan kepada ku.”


Tatapan mata Dhe Tu tertuju kepada Bai An dan Duan Du dengan seringai lebar.


Sementara Dhe Peng dan Dhe Chi Ruan bingung dengan Bai An yang kini ingin melepaskan Dhe Tu.


Mereka berdua melirik ke arah Bai An dan Duan Du yang tersenyum licik, saat melihat senyum licik tersebut.


Tubuh Dhe Chi Ruan dan Dhe Peng bergidik, tapi mereka juga ikut tersenyum sambil melirik ke arah Dhe Tu dengan tatapan iba.

__ADS_1


__ADS_2