
Han Chi yang mendengar kata-kata putranya yang sangat menusuk itu langsung tersenyum kecut, mungkin perkataan putranya ada benarnya, namun tetap saja langsung nenusuk kehati Han Chi.
"Kau akan mengerti apa yang guru rencanakan pada saatnya tiba Luan'er, cukup kau ikuti saja perintah guru dan lama-lama kau akan paham tujuan dari rencana guru."
Bai Luan hanya mengangguk dan langsung diam.
"Hmmm aku menyadari banyak mata-mata di penginapan ini, dan kau pasti menyadarinya juga dari tadi kan Luan'er!"
"Paman kembali dulu, nanti aku akan mengirim pesan dari telepati ke paman, sama seperti yang aku bicarakan ini melalui telepati!" ucap Bai An yang membuat Han Chi semakin ngeri melihat Bai An.
Han Chi kini melihat Bai An seperti hantu dan ia mundur selangkah demi selangkah, hal itu membuat gelak tawa bagi Bai Luan dan Lin'er, hanya Yue'er saja yang sedikit tersenyum tipis.
Menyadari kelakuannya ini, Han Chi langsung malu setengah mati dan tanpa permisi ia langsung keluar dengan cepat.
"Baiklah, apa kalian akan diam seperti ini?"
Menyadari petanyaan Bai An, mereka langsung mengerti lalu saat akan keluar, Bai An menyuruh Bai Luan membereskan tikus-tikus yang tadi mengintip, Bai Luan langsung mengangguk lalu keluar bersama Lin'er.
Saat ini kini hanya Bai An, Shen Bai dan Yue'er saja yang tersisa.
Bai An lalu melirik Yue'er yang masih saja berdiri, Yue'er yang menyadari tatapan dari Bai An berkata dengan dingin.
"Aku akan bersamamu disini An Gege!" setelah mengatakan itu ia langsung ke tempat tidur dan duduk diranjang yang terlihat empuk.
Bai An hanya menghela nafas panjang lalu berjalan kepojok dan mulai bermeditasi.
***
Saat ini diluar Bai Luan berjalan turun kebawah yang diikuti Lin'er, "Kenapa kau tidak istirahat saja Lin'er?"
"Tidak, aku mau ikut bersenang-senang bersamamu," ucap Lin'er yang langsung memeluk tangan Bai Luan, menyadari itu Bai Luan langsung menepisnya dengan memegang kepala Lin'er.
"Disini banyak orang, jangan seperti anak kecil, kau sudah beranjak dewasa sekarang."
__ADS_1
Mendengar kata-kata Bai Luan yang terlihat sok dewasa, Lin'er hanya mendengus kesal lalu berjalan mendahului Bai Luan dengan suara yang menggerutu.
Bai Luan langsung mengikuti dari belakang, saat mereka turun, mereka masih melihat banyak sekali orang yang sedang makan.
Tak lama setelah mereka mencari tempat duduk dan duduk disana, seorang pelayan lumayan cantik datang dengan sikap genit.
"Tuan Muda tampan anda ingin memesan apa?"
Mendengar suara pelayan tersebut yang mencoba merayu Bai Luan, membuat Lin'er semakin kesal lalu menatap pelayan itu dengan tatapan membunuh.
Pelayan itu langsung menjadi ciut dan merubah sikapnya, Lin'er langsung merasa bangga.
Bai Luan yang dari tadi melihat menggeleng lalu berkata, "Makanan terbaik tempat ini!"
Pelayan tersebut mengangguk dengan cepat dan langsung pergi.
Bai Luan menyadari banyak tatapan mengarah kepadanya, apalagi tatapan nafsu kepada Lin'er namun ia menghiraukannya, dan ia lebih fokus kepada aura membunuh dari 4 orang yang kini menatapnya dengan nafsu membunuh yang besar.
Walaupun mereka menahannya, Bai Luan dan Lin'er tetap bisa merasakannya karena mereka hanya pada tingkat Jalan Surgawi Puncak, dan hanya satu berada pada tingkat Raja Awal.
Tak lama, makanan datang lalu mereka pun memakannya dengan lahap, saat makan Bai Luan menyadari jika keempat orang tersebut keluar dari penginapan.
Bai Luan lalu menyebar energi spritualnya seluas yang ia bisa hingga mencakup seluruh area kota dan ia melihat keempat orang tersebut bersama orang yang ia kenal dan benci.
Orang itu adalah Tuan Muda dari Bangsawan Shi dan sedang bersama Tetua ketiga menuju ke arahnya.
Bai Luan pun tersenyum senang karena tidak perlu mencari, kini mereka sendiri yang datang sendiri, akhirnya kesabarannya terbayar dan apa yang di ucapkan Gurunya ada benarnya.
Sedangkan Lin'er sudah tidak peduli dengan dunia luar, ia terlalu asik dengan dunianya sendiri yang makan dengan rakus seperti orang kelaparan.
Saat Bai Luan mengalihkan pandangan ke arah Lin'er, ia tertegun melihat kelakuan wanita didepannya ini.
Saat Bai Luan ingin menegurnya, ia mendengar suara teriakan dengan nada yang sombong dan arogan.
__ADS_1
"Hei kau, berikan wanita yang bersamamu dan potong kedua tanganmu lalu pergilah dari sini, itu tanda pengampunan dariku!"
Bai Luan langsung menoleh ke arah asal suara dengan santai, ia diam tanpa membalas suara pemuda arogan tersebut.
Melihat ia tidak dijawab membuat pemuda itu kesal dan berteriak dengan lantang.
"Heiii brengsek, aku bicara padamu!" pemuda itu menunjuk-nunjuk Bai Luan dengan amarah, lalu ia melihat gadis cantik disebelah Bai Luan membuat air liurnya menetes.
"Aku ingin wanita ini menjadi milikku,"
Terdengar lagi ucapannya yang arogan lalu ia melangkah ke arah Bai Luan dan Lin'er.
Setelah sampai ia melirik Bai Luan sekilas, kini kemarahannya langsung mereda saat melihat gadis yang terlihat asik makan.
Bai Luan langsung tertawa dalam hati, "Nikmatilah penderitaanmu selanjutnya!" ucap Bai Luan dalam hatinya.
"Hai sayang, jika kau mau makanan yang lebih banyak aku bisa memberikanmu, apakah kau mau,"
"Dari pada kau bersama laki-laki miskin ini!" ucap pemuda tersebut arogan dan menunjuk Bai Luan yang terlihat santai.
Tetua ketiga yang dari tadi melihat Bai Luan cukup penasaran karena ia terlihat tidak sedikitpun jejak ketakutan pada dirinya saat melihat Tuan Muda Shi Shuwan, dan ia juga tidak bisa melihat tingkat kultivasi Bai Luan.
Itu membuatnya cukup khawatir karena takut mencari masalah dengan orang yang salah, namun ia berpikir tidak mungkin ada seorang pemuda yang melebihi tingkat kultivasi dirinya yaitu tingkat Raja Puncak.
Itu membuat Tetua ketiga berpikir mungkin Bai Luan adalah seorang pemuda biasa, bukan seorang kultivator.
Saat Tetua ketiga sibuk pada pikirannya ia mendengar suara teriakan.
"Aaaaacckkkk"
"Siapa yang berani memotong tanganku keluar kau bangsat!" ucap Shi Shuwan.
Shi Shuwan tidak menyadari tadi saat ia memegang tangan Lin'er dan menghentikan Lin'er yang lagi asik makan itu membuatnya sangat marah dan saat melihat pemuda yang berani menghentikannya makan ia langsung dengan cepat mengeluarkan pedangnya lalu memasukkannya lagi.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu jika Lin'er lah yang memotong tangan Shi Shuwan kecuali Bai Luan yang kini tersenyum senang dalam hatinya.
Lalu ia bergumam dalam hatinya, "Nikmatilah penderitaanmu mulai sekarang karena sedang mengganggu Serigala yang sedang makan!"