
“Hmm..!! Nanti saja, lebih baik kita menunggu pertandingan ahli dewa abadi terkuat di dunia ini,” kata Bai En.
Bai An langsung menatap adiknya Duan Du yang kini tidak berani menatapnya.
Bai An yakin jika Duan Du yang menghasut Bai En, entah apa yang akan mereka berdua rencanakan.
“Hmm..!! Baiklah, jika seperti itu kita akan kembali lebih dulu sambil membahas beberapa rencana apa yang akan kita lakukan setelah ini,” kata Bai An.
Setelah Bai En, Duan Du dan Tu Kul mengangguk, mereka berempat langsung pergi dari sana.
Beberapa saat kemudian.
Saat ini Bai An telah berkumpul bersama keluarganya.
“Hmm..!! Langsung saja aku akan memberitahu kalian langkah selanjutnya yang kita lakukan,” kata Bai An terdiam sesaat sambil melirik reaksi para saudaranya.
Setelah semuanya diam sambil mengangguk patuh.
Bai An kembali berkata. “Menguasai dunia ini, apapun cara kalian yang penting jangan melibatkan orang yang tidak bersalah.”
Mendengar itu Duan Du langsung bertanya.
“Apa ini karena turnamen antar dunia? Jika begitu kita akan merebut dunia setengah dewa terkuat nanti saat acara tersebut di adakan.”
Bai An mengangguk santai.
“Itu utamanya, tapi sebelum itu kalian bisa meningkatkan kekuatan kalian saat menguasai daerah, sekte, daratan atau apa yang kalian ingin lakukan, buat mereka semua tunduk kepada kita, carilah yang benar-benar setia.” Kata Bai An melirik ke semua saudaranya.
“Hmm..!! Apa dengan mengumpulkan mereka kita bisa menang melawan orang-orang di alam dewa?” Tanya Bai En terlihat serius, lalu kembali berkata. “Bukankah lebih baik kita mengumpulkan prajurit di alam dewa saja, karena di sana semuanya lebih kuat dari para kultivator di dunia setengah dewa ini.”
Bai An langsung tersenyum.
“Kakak akan melihatnya pada saatnya tiba mengapa aku selalu mengumpulkan banyak saudara maupun pasukan, bukan hanya di sini saja, melainkan di dunia yang sebelumnya aku datangi bersama para saudaraku, aku dan mereka mengumpulkan para pasukan.”
Mendengar ucapan Bai An, Bai En melirik ke arah Long Yuan, Lang Zai, Pixiu, Yu Fan dan Fanghu.
Mereka langsung mengangguk sambil tersenyum misterius.
Bai En langsung tersenyum kecut melihat jika mereka hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Baiklah setelah kalian istirahat dan pembagian beberapa harta yang telah aku kumpulkan selama ini, kita akan berpisah dan bertemu di Daratan Tengah.” Kata Bai An.
Setelah itu Bai An menghilang tanpa menunggu respon dari saudaranya.
Para suadara Bai An tidak terlalu memperdulikannya, mereka semua langsung pergi ke kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
1 Bulan berlalu, berita tentang kelompok pembantai menghancurkan kelompok misterius yang di duga orang-orang suruhan dari alam dewa kini masih terasa hangat di telinga para kultivator liar maupun beberapa kalangan.
Bahkan tidak sedikit yang ingin bergabung ke kelompok pembantai.
Salah satunya adalah pemuda yang pernah di ejek oleh orang-orang yang Bai An dan para saudaranya bunuh saat di arena.
Pemuda itu dulu pergi lebih dulu karena mendapat kabar jika ibunya jatuh sakit sehingga tidak menyaksikan pembantaian yang di lakukan oleh kelompok Bai An.
“Hei,, apa kau tak malu ikut mendaptar.”
Tiba-tiba ada seorang pemuda yang mengejek pemuda yang pernah ikut taruhan satu bulan lalu.
Nama pemuda yang di ejek adalah To Gel.
To Gel yang di ejek hanya diam saja, sehingga beberapa pemuda lain ikut mengejek To Gel.
“Lebih baik kau pulang dan urus ibumu yang sakit, daripada kau kesini membuat malu,” kekeh pemuda botak bertubuh besar.
Beberapa ejekan terus di terima To Gel, tapi ia hanya diam saja sambil menggenggam erat tangannya.
Ia tahu dirinya lemah dan pasti akan di hajar lagi seperti beberapa waktu lalu oleh sekelompok pemuda ini.
To Gel dengan santai melewati mereka sehingga para pemuda ini menjadi geram.
Mereka pun langsung pergi ke lokasi pendaptaran kedua.
Untuk pendaptaran kedua hanyalah orang-orang yang akan menjadi prajurit yang akan di pimpin oleh 100 kelompok pembantai.
Saat ini kelompok pembantai berjumlah 100, Yu Fan yang memegang kendali tidak ingin menambah lagi anggota kelompok pembantai dan hanya akan menambah para komandan beserta prajurit.
Setiap anggota kelompok pembantai akan memegang 10 komandan tergantung no mereka dan ratusan bahkan ribuan prajurit pilihan.
Untuk Kota Chen juga saat ini telah sepenuhnya di kuasai oleh kelompok pembantai, sekte kecil, menengah, klan-klan yang ada di Kota Chen juga telah tunduk, jika ada yang tidak ingin tunduk maka akan di usir, jika keras kepala maka akan di bantai habis tanpa sisa.
Saat ini Duan Du melihat pemuda yang ia lihat dulu saat ia bertaruh untuknya.
Tap tap..!!
Duan Du kini berjalan santai menuju ke arah To Gel sambil mengeluarkan senyum lebar di sertai mata berbinar-binar.
Bai An, Bai En dan Long Yuan dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Duan Du.
“Hei,, siapa namamu?” Tanya Duan Du dengan santai.
To Gel yang melihat wajah pemuda yang tak lain Duan Du langsung terdiam beberapa saat.
__ADS_1
“Na.. Namaku To Gel Tuan muda,” jawab To Gel dengan hormat.
“Hmm..!! Ingatanmu bagus juga,” kekeh Duan Du lalu kembali berkata. “Ikuti aku, kau tidak perlu mendaftar kesana.”
To Gel langsung membeku saat mendengar itu, entah ia mengungkapkan perasaan bagaimana saat ini, yang pasti ia berharap bisa menyembuhkan ibunya yang kini sakit-sakit_tan.
Setelah terdiam cukup lama dan melihat Duan Du sudah jauh, To Gel langsung berlari mengejar Duan Du.
Sementara para pemuda yang selalu mengejek To Gel mengintip langsung diam-diam mengikuti, tapi langkah mereka langsung terhenti.
Mereka tidak sadar jika sudah mengikuti Duan Du dan To Gel hingga ke klan kelompok pembantai.
“Jika kau melangkah lagi, maka kau dan seluruh keluargamu akan mati,” kata penjaga yang tak lain adalah mantan ketua perampok yang sengaja di jadikan penjaga oleh para saudara Bai An.
Dengan cepat para pemuda tersebut lari terbirit-birit saat sadar jika ia salah mengikuti orang.
Sementara Duan Du dan To Gel kini duduk.
Duan Du menatap To Gel dengan seksama lalu berkata.
“Kakak,, kenapa aku tak bisa melihat kelebihan orang ini?” Tanya Duan Du dengan lantang.
Bai An langsung muncul di samping Duan Du sambil menjitak kepalanya.
Pletak..!!
“Jangan berteriak, cukup bicara pelan saja aku sudah mendengarnya,” kata Bai An memarahi adiknya.
Sementara Duan Du memegang keningnya dengan wajah cemberut.
To Gel yang melihat itu tak bisa menahan diri lagi.
Ha ha ha..!!
Dengan cepat To Gel menutup mulutnya sambil berusaha menahan nafas karena tahu jika dirinya tadi telah lancang.
Bai An mengabaikan apa yang di lakukan To Gel.
Dengan santai Bai An melambaikan tangannya mengeluarkan 4 kantong berisi kristal berlian, di setiap kantong sudah ada no yang tertera.
Ada no 70, 512, 957, dan no 1.
Bai An juga mengeluarkan kartu yang berjumlah ribuan.
“Pilih 4 kartu yang menurutmu nomer-nomer yang tertera di kantong ini,” kata Bai An santai.
__ADS_1