Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Mendapat Asupan Energi Negatif


__ADS_3

“Kali ini tidak ada tempat kau berlindung lagi,” kata patriark Dhe dengan nada dingin.


Sebuah senyum lebar muncul di wajah patriark Dhe, ia langsung melesat ke arah tetua pertama yang berjarak 5 meter di depan.


Tetua pertama langsung mendengus lalu mengeluarkan token teleportasi sambil berkata. “Lain kali kita akan bertemu Dhe Chi Ruan.”


Patriark Dhe yang memiliki nama lengkap Dhe Chi Ruang langsung mengayunkan pedangnya dengan ganas saat melihat token teleportasi di tangan Dhe Thu.


“Mati,” teriak Dhe Chi Ruan.


Slash..!!


Bam..!!


Tebasan Dhe Chi Ruan hanya mengenai tanah tempat Dhe Thu berpijak.


“Kurang ajar, aku hanya mengenai lengannya saja,” kata Dhe Chi Ruan dengan kesal.


Lalu pandangannya beralih ke arah para pengintip dari kejauhan.


“Apa yang harus aku lakukan? Jika melawan ketiga klan secara sekaligus aku yakin akan kalah, terlebih energiku saat ini sudah tinggal setengah,” gumam Dhe Chi Ruan berharap orang yang tadi membantunya itu menghubunginya lagi.


Tapi beberapa saat Dhe Chi Ruan langsung tersenyum saat mendapat pesan telepati. Senyum cerah langsung keluar dari wajah Dhe Chi Ruan.


Sementara ketiga klan yang melihat pertarungan patriark klan Dhe dan tetua pertama telah berahir langsung saling melirik satu sama lain.


“Bagaimana jika kita membagi hasil, aku yakin di antara kita memiliki niat masing-masing,” kata patriark klan Xian.


“Hmm..!! Kalau aku menginginkan pusaka klan Dhe, aku tak menginginkan yang lain,” kata patriark klan Hu langsung ke intinya.


“Kalau aku menginginkan seluruh harta klan Dhe, kecuali harta pusakanya, karena itu sudah di inginkan oleh patriark Hu,” kata patriark klan Dha.


Patriark klan Xian mengangguk. “Aku menginginkan kediaman klan Dhe, jika begitu kita bisa bersatu membunuh Dhe Chi Ruan agar cepat selesai,” kata patriark klan Xian melirik ke arah kedua patriark.


“Setuju,” kata patriark Hu dan Dha secara bersamaan.


“Eeh eeh..!! Kalian jangan melupakan aku juga,” kekeh Bai An sudah tiba-tiba berada di tengah mereka.


Hal itu membuat ketiga patriark langsung melirik ke arah Bai An sambil memasang sikap waspada dan mengeluarkan senjatanya.


“Siapa kau?” Tanya Patriark Xian, walau ia melihat Bai An masih muda, tapi karena ia tidak bisa merasakan kehadiran Bai An membuat ia merasa Bai An adalah ahli tingkat tinggi yang sedang menyamar.


Berbeda dengan patriark Hu dan patriark Dha, walau mereka sempat waspada, itu karena mereka belum melihat Bai An, saat melihat Bai An yang merupakan anak ingusan.


Mereka berdua mendengus dingin.


“Nak,, pulanglah, tapi sebelum pulang tinggal satu lengan dan semua hartamu, itu adalah sebuah keberuntungan bagimu agar aku tidak membunuhmu,” kata patriark Hu dengan dingin.

__ADS_1


Bai An yang mendengar itu terkekeh kecil, sebuah keberuntungan bagi Bai An karena disini hanya patriark saja, mereka bertiga tidak membawa anggota mereka masing-masing.


Dengan cepat Bai An melirik ke arah Dhe Chi Ruan yang memanfaatkan kelengahan ketiga patriark karena pokus kepada Bai An.


Wuss..!!


“Mati,” teriak Dhe Chi Ruan menebas tepat di punggung belakang patriark Hu.


Crash..!!


Tubuh patriark Hu langsung terbelah dengan mata melotot seperti tidak menginginkan kejadian seperti ini.


Patriark Xian dan Patriark Dha langsung mundur, tapi mereka tidak sadar jika telah masuk perangkap.


Bam..!!


Saat mundur, tubuh patriark Dha lebih dulu menabrak sebuah perisai yang membuat ia kembali terdorong tepat ke arah Dhe Chi Ruan yang sudah mengayunkan tombaknya.


Dengan cepat patriark Dha mengayunkan pedangnya untuk melindungi dirinya.


Tapi bukan pedang yang patriark Dha ayunkan, melainkan sebatang kayu lapuk.


Crash..!!


Akhh..!! Lengan patriark Dha kini terpotong rapi, ia kini menatap ke arah Bai An dengan tatapan benci.


Sementara patriark Xian yang melihat semua kejadian tersebut termenung.


“Anak muda ini sangat kuat, aku bahkan tidak melihat ia mengganti senjata patriark Dha, dan jika ia mau mungkin patriark Dha bisa mati di tangannya, itu terbukti saat ia mengganti senjata patriark Dha,” gumam Patriark Xian kini menyesali dirinya yang telah datang kesini.


Dengan cepat patriark Xian berbalik dan menyerang sebuah perisai tipis yang di buat oleh Bai An.


“Aku harus melarikan diri dari sini,” gumam patriark Xian langsung melempar beberapa belati ke arah perisai tersebut.


Sementara patriark Dha kini melesat ke arah Bai An, karena terbawa emosi, patriark Dha melupakan Dhe Chi Ruan sudah berada di atasnya.


“Renungilah nasif mu Dha Lang,” kata Dhe Chi Ruan langsung menusuk tombaknya.


Jlep..!!


Tombak Dhe Chi Ruan langsung menantap dari atas kepala Dha Lang yang membuat semua isi kepala Dha Lang keluar, tak lupa darah terus muncrat.


Namun Dha Lang terlihat belum mati dan masih menatap dengan penuh kemarahan ke arah Bai An.


Bai An yang melihat itu langsung tersenyum kecil.


“Hehe,, aku merasakan energi negatif,” kekeh Bai An.

__ADS_1


Bai An langsung menjentikkan jarinya.


Wuss..!!


Sebuah energi berbentuk kelereng langsung melesat kedalam tubuh Dha Lang.


Pusshh..!!


Energi semesta Bai An langsung menyerap semua energi negatif di dalam tubuh Dha Lang dengan rakus hingga membuat Dha Lang kesakitan.


Akhhh..!!!


Teriakan menggema langsung menghentikan pertarungan.


Patriark Xian yang cukup dekat dengan teriakan itu langsung melirik ke arah patriark Dha yang kini tinggal tulang.


Wajah patriark Xian langsung memucat, ia melirik ke arah Bai An yang kini tersenyum senang.


Tubuh pariark Xian langsung bergetar hebat dan tak sadar ia menjatuhkan senjatanya.


Dhe Chi Ruan yang melirik ke arah patriark Xian melirik ke arah Bai An dengan sedikit takut, tentu saja ia juga takut saat melihat mayat Dha Lang kini hanya tinggal tulang.


Dhe Chi Ruan dan Patriark Xian baru pertama kali melihat kejadian seperti ini.


Saat Dhe Chi Ruan ingin bicara, sebuah teriakan terdengar.


“Kakak,, aku telah membawa orangnya kesini,” teriak Duan Du menyeret tetua pertama yang hanya tinggal tubuh, kaki dan tangan tetua pertama klan Dhe sudah tidak ada.


Melihat itu, lagi-lagi patriark Xian dan Dhe Chi Ruan bergidik ngeri.


“Apakah mereka masih manusia?” Tanpa sadar Dhe Chi Ruan dan patriark Xian bergumam secara bersamaan.


Bai An yang mendengar itu langsung tersenyum santai. “Tentu saja aku manusia, apakah kalian tidak melihatnya,” kekeh Bai An.


Tanpa sadar patriark Xian dan Dhe Chi Ruan mundur dengan tubuh berkeringat dingin.


“Ma.. Maafkan aku telah bicara lancang,” kata Dhe Chi Ruan menunduk.


“Santai saja,” kata Bai An melirik ke arah patriark Xian dengan wajah cerah.


Melihat dirinya di tatapan, patriark Xian menelan air liurnya.


Glek..!!


Tap tap..!!


“Langsung saja kakak, jangan menakut-nakuti orang,” kata Duan Du menyodorkan tangan kosongnya sambil berkata. “Berikan kami kompensasi karena kau kesini dengan niat jahat dan membuat kakak ku repot-repot turun tangan.”

__ADS_1


Dengan cepat patriark Xian melepas cincinnya tanpa banyak bicara dan maju memberikannya kepada Duan Du.


__ADS_2