Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Membunuh Para Assasins


__ADS_3

Saat melihat jumlah para assasin ini kurang lebih 700 an. Bai An langsung cemberut. “Ah..!! Anak panah ku hanya 200 an,”


Saat Bai An tak sengaja melihat ke arah samping kiri. Kebetulan ia melihat toko senjata dengan bangunan yang sangat tua dan terlihat rapuh. Mata Bai An langsung menjadi cerah.


“Keberuntungan selalu memihak kepadaku,” gumam Bai An langsung berjalan santai.


Tap tap..!!


“Permisi,, apakah ada orang di sini?” Bai An sedikit berteriak karena saat ia sampai ke dalam. Tidak ada seorangpun.


Cklek..!!


“Ah,, maafkan aku paman, aku tadi habis mengambil kayu bakar.” Seorang anak kecil berusia 14 tahun datang langsung meminta maaf lalu menambahkan.


“Selamat datang di toko senjata rapuh kami, silahkan pilih apa yang paman suka.”


Wajah Bai An terlihat suram saat di panggil paman dari tadi. Padahal umur mereka terpaut 3 tahun. dan kebetulan minggu depan umur Bai An menjadi 18 tahun.


“Panggil saja aku kakak. Aku kesini ingin membeli semua anak panah yang ada di toko ini. Apakah ada?”


Mendengar ucapan Bai An. Anak tersebut mengangguk dengan semangat.


“Tentu ada, tapi anak panah kami hanya terbuat dari kayu biasa. Tidak ada istimewanya dan ujungnya pun hanya di baluti besi karat. Apakah kakak tidak keberatan?”


Anak tersebut terlihat berharap Bai An akan membeli beberapa anak panahnya. Ia tidak ingin berbohong hanya demi uang.


Bai An tersenyum. “Kau sangat jujur, aku suka dengan kejujuranmu. Jadi bawa semua anak panah yang ada di tokomu ini. Aku akan membeli semuanya.”


“Hore,, kakak tunggu sebentar, aku ingin memanggil nenek ku, agar ia membantuku membawa semua pesanan kakak.” Teriak anak tersebut kegirangan.


Tap tap..!!


Tak lama kemudian.


Anak tersebut datang bersama seorang wanita tua. Entah mengapa saat melihat wanita tua tersebut. Bai An langsung meneteskan air matanya.


“Nenek Cen,, apakah ini kau?” Tanpa sadar Bai An bertanya kepada wanita tua tersebut.


“Maafkan aku nak. Aku bukan nenek Cen.” Jawab wanita tua tersebut dengan senyum lembut.


Seketika Bai An langsung tersadar dari lamunannya. “Ah..!! Maafkan aku nek, aku teringat oleh seorang yang telah mengasuhku dari bayi, tapi dia telah lama meninggal,” kata Bai An dengan sedikit parau.


Nenek tersebut hanya tersenyum. Walau ia tidak bisa membaca pikiran. Tapi ia bisa melihat ekpresi sedih di wajah Bai An.


“Kau adalah anak yang baik. Jika aku bisa meminta tolong, mohon bantu aku menjaga cucuku satu satunya. Aku bisa memberikan toko ini sebagai bayarannya. Karena sisa hidupku sudah tidak lama lagi ” Kata wanita tua tersebut sedikit lemah.


“Nek,, apa yang kau katakan. Aku tidak mau kehilangan nenek. Aku juga tidak mau kau pergi aku hanya ingin bersamamu. Karena hanya kau yang aku punya setelah ayah, ibu dan kakak meninggal.” Kata anak tersebut sedih. Ia sebenarnya mengerti arti ucapan neneknya. Tapi ia tidak ingin mengungkapkannya.


“Kau sudah dewasa. Nenek tidak akan bisa terus bersamamu. Jadi berpikirlah dewasa aku tahu kau mengerti ucapan nenek.”


Cukup lama nenek dan cucu tersebut bicara hingga Bai An cukup gelisah. Karena ia merasakan para assasin tersebut akan bergerak.


“Ehemm..!! Bisakah nenek dan adik kecil ini menunggu aku kembali baru kita bicara. Maaf bukannya aku tidak ingin mengganggu, tapi saat ini aku terburu-buru jadi aku akan meninggalkan ini dan menyuruh seseorang menjaga kalian.” Tanpa menunggu jawaban Bai An melambaikan tangannya mengambil semua anak panah tersebut dan meninggalkan kantong kecil berisi 100 kristal tingkat rendah.


Wuss..!!


Melihat Bai An menghilang nenek dan cucunya terpana. Lalu nenek tersebut mengambil kantong tersebut. Saat ia melihat isinya. Ia hampir saja mati jantungan.


Trak..!!

__ADS_1


Suara kantong tersebut jatuh kelantai berserta isinya. Saat cucunya melihat isinya, tentu ia juga cukup terkejut.


**


Di tempat Bai An.


Bai An kini sedang mengejar para assasins yang kini telah berpencar. Mereka kini telah menggunakan pakaian assasins mereka. Tapi ada menggunakan pakaian seperti para penduduk kota.


Bai An langsung mengeluarkan busurnya dan mengeluarkan 4 anak panah yang ia beli.


Dengan cepat menarik 4 anak panahnya.


Wuss..!!


Jlep..!!


Jlep..!!


Ke 4 anak panah tersebut langsung menacap di tungkuk leher belakang ke 4 assasins. Mereka semua mati seketika dengan mata melotot.


Dengan cepat Bai An melesat kembali mengejar para assasins.


Wuss..!!


Jlep..!!


Jlep..!!


“Awas,, ada musuh.” Teriak salah satu assasins tersebut kini menyadari teman-teman mereka telah berkurang.


Mereka semua berhenti sambil melihat sekeliling waspada.


Wuss..!!


“Awas..!!”


Jlep..!!


Jlep..!!


Teriakan tersebut datang terlambat. Karena anak panah tersebut telah berhasil menancap di leher ke 4 assasins tersebut.


“Keluar kau pengecut,” teriak assasins. Ia terlihat seperti pemimpinnya.


Untung area tersebut cukup sepi.


Dengan cepat lagi 4 anak panah melesat, kini dari arah yang berbeda. dan itu terus belanjut. hingga para assasins tersebut berkurang drastis.


Dari 300 orang menjadi 10 orang yang tersisa. Tapi 300 orang tersebut tidak berkumpul. Mereka semua berjarak 1 rumah agar tidak ada yang curiga. Tapi tetap saja bagaimanapun bersihnya mereka bekerja. Tetap ketahuan.


“Akhhh..!!”


Teriakan keras dari pemimpin assasins tersebut membuat Bai An keluar dengan senyum bahagia.


“Kau,,”


Baru saja pemimpin tersebut menunjuk Bai An. Anak panah langsung melesat ke arahnya dengan cepat. Tapi pemimpin assasins tersebut masih dapat melihatnya hingga ia menarik teman yang ada di sampingnya untuk di jadikan tumbalnya.


Jlep..!!

__ADS_1


Ukkhh..!!


Bai An memiringkan kepalanya saat melihat perbuatan pemimpin assasins tersebut. Ia kembali menarik busur panahnya karena masih ada 400 assasins yang akan ia kejar.


Wuss..!!


Trank..!!


Trank..!!


“Ohh senjata rahasia ya,” kata Bai An cukup terkejut melihat senjata rahasia berbentuk belati kecil melesat untuk menghancurkan 4 anak panah Bai An.


“Ingin melawanku dengan kecepatan anak panahmu.”


“Mati..!”


Teriak pemimpin assasins tersebut melempar senjata tersembunyinya.


Tidak hanya pemimpinnya. Para assasin yang kini berjumlah 8 orang mulai berpencar lalu melempar belati kecil ke arah Bai An.


Wuss..!!


Dengan cepat Bai An menarik busurnya sebanyak 10 kali, setiap Bai An menarik busurnya, 4 anak panah melesat.


Trank..!!


Trank..!!


Jlep..!!


Setelah itu Bai An zig zag untuk menghindari beberapa belati tersebut karena tidak ingin membuang anak panahnya sia sia. Saat berlari Bai An menarik busurnya kembali.


Wuss..!!


Jlep..!!


Jlep..!!


Hingga tersisa pemimpin assasins tersebut. Saat Bai An telah berdiri di belakangnya, ia dengan cepat menarik busurnya dan melesatkan anak panahnya. Tapi.


Trank..!!


Anak panah Bai An berhasil di hancurkan.


“Oohh,, aku lupa jika tingkat kultivasimu lumayan juga. Jadi anak panah kayu rapuh tersebut cukup lambat di matamu.” Kata Bai An menyeringai


Bai An mengeluarkan anak panah yang lebih kuat dari yang tadi ia pakai.


Merasakan bahaya. Pemimpin assasins tersebut langsung berinisiatif menyerang Bai An lebih dulu.


Lalu mengayunkan belatinya ke arah dada Bai An.


Tapi, karena ia kurang cepat.


Ia merasa keningnya telah menancap anak panah.


“Kau,, bagaimana bisa.” Kata pemimpin assasins tersebut mati dengan mata melotot seakan tidak percaya anak panah tersebut sudah menancap di dahinya.


“Tentu saja bodoh. Kecepatan kita berbeda jauh. Jika kekuatan kita setara kau bisa menyadari tanganku tadi.” Kata Bai An tersenyum lalu dengan cepat ia mengambil cincin penyimpanan pemimpin assasins tersebut dengan wajah bahagia.

__ADS_1


“Tang De,, kau bereskan mayat-mayat ini, tapi jangan lupa ambil semua barang beharga yang ada di seluruh tubuhnya termasuk pakaiannya. Itu lumayan juga.” Kata Bai An melalui telepati sambil terus melesat mengejar sisa-sisa assasins.


__ADS_2