
“Ya, saat ini kau bebas melakukan apa saja karena aku yakin kau bisa melindungi diri, terlebih aku juga sudah bisa melindungimu dari banyak masalah yang kau buat,”
Duan Du sama sekali tidak malu saat mendengar ucapan dari Bai An, ia malah terlihat semakin bersemangat.
“Kalau begitu kita akan kemana kakak?” Tanya Duan Du melirik ke arah utara dan barat.
Bai An memegang dagunya seolah berpikir, Duan Du yang melihat itu langsung cembrut.
“Baiklah, kau susul saja aku kak, aku akan ke arah barat, semoga saja ada kota besar disana atau klan-klan besar yang baik hati memberikan beberapa sebagian hartanya secara sukarela kepadaku,” kata Duan Du langsung melesat.
Bai An yang melihat tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
Tak berapa lama Bai An langsung melesat ke atas langit sambil menatap tajam ke arah utara.
“Ehh..!! Apakah Tuan muda menyadari keberadaan kita?” Tanya Mu Wen bertanya ke arah Mu San.
“Aku tidak tahu pasti ia menyadari kita atau tidak, tapi kita harus pergi dari sini sebelum ia semakin curiga, karena tugas kita hanya melindungi Tuan muda dari jarak jauh saja tampa di ketahui sama sekali,” jawab Mu San lalu menghilang.
Melihat itu Mu Wen ikut menghilang dari tempatnya.
Sementara Bai An yang melihat ke arah Mu San dan Mu Wen langsung bertanya kepada energi semestanya.
“Apakah kau yakin jika ada orang yang selalu mengawasi kita dari arah sana?”
Sebuah tulisan berbentuk energi langsung muncul di depan mata Bai An.
Setelah membacanya Bai An langsung bergumam. “Hmm..!! Mereka tidak ingin di ketahui olehku sehingga memilih pergi.”
“Tapi aku yakin jika merekalah yang memasang perisai untuk melindungiku beberapa hari lalu di kota San,” gumam Bai An kemudian melesat ke arah barat untuk menyusul Duan Du.
Tap tap..!!
Saat Bai An sampai di depan gerbang kota yang 10 kali lipat lebih besar dari kotan San, Bai An mencium bau harta yang cukup besar.
“Hehe,, anak itu sangat cepat menimbulkan masalah,” kekeh Bai An kemudian berjalan santai menuju gerbang kota yang ia tak tahu nama kota ini.
Tap tap..!!
Bai An berhenti saat sebuah suara penjaga menghentikannya dengan sapaan hormat.
Dengan santai Bai An melempar satu koin emas yang membuat semua penjaga gerbang melongo ke arah koin emas yang sedang melayang ke arah salah satu penjaga.
Tap..!!
Dengan sigap penjaga tersebut menangkapnya lalu melirik ke arah Bai An dengan tangan bergetar memegang koin emas.
Memang di kota besar ini koin emas terbilang hal yang wajar, namun bagi para Tuan muda besar tidak memakai biaya untuk masuk ke kota besar manapun.
__ADS_1
Hal itulah yang membuat penjaga kini merasa ketakutan karena mengira Bai An adalah Tuan muda dari klan besar atau murid salah satu dari Sekte ternama.
“Tu.. Tuan muda, anda ambil saja uang anda,” kata penjaga tersebut terbata-bata sambil menyodorkan koin emas tersebut kepada Bai An.
Namun Bai An dengan santai melangkah sambil melirik ke arah penjaga tersebut. “Ambilah untuk kalian makan-makan setelah selesai berjaga.”
Bai An langsung berlalu masuk membuat para penjaga tertegun beberapa saat, setelah itu mereka saling melirik satu sama lain sambil berkata. “Hehe,, kita bisa makan enak malam ini.”
Mendengar itu, para penjaga ikut mengangguk dengan bersemangat.
Sementara Bai An terus melangkah sambil merasakan jejak aura tipis yang sengaja Duan Du tinggalkan.
Tap tap..!!
Wuss..!!
Sebuah tombak nyasar melesat ke arah Bai An.
Dengan santai Bai An menghindar ke arah kanan.
Bom..!!
Tombak tersebut langsung menghancurkan salah satu tembok toko senjata.
Bai An melirik ke arah darimana asalnya senjata tersebut.
Tap tap..!!
Bai An muncul di tempat kerumunan orang-orang menonton.
Saat ini Duan Du tersenyum menyeramkan ke arah dua pria terlihat berumur 30 tahunan.
“Hehe,, Tuan muda apanya, melawan anak muda tampan seperti diriku saja tidak mampu,” kekeh Duan Du lalu melirik ke arah Bai An yang ikut menonton dirinya.
Duan Du kembali berkata. “Mungkin kau adalah seorang pecundang yang selalu mengandalkan nama klan mu untuk menindas orang lemah, jika seperti itu aku akan memberikanmu hukuman yang setimpal.”
Tangan Duan Du langsung dengan cepat bergerak ke arah salah satu kaki dari mereka berdua.
Crash..!!
“Akhh..!! Kurang ajar, berani sekali kau memotong kaki ku, aku akan membuat kau dan seluruh keluargamu menyesal karena berani menyinggung klan Dhe,” teriak pria yang kakinya di potong.
“Oohh..!! Rupanya hukuman yang aku berikan kurang nyaman untukmu,” kekeh Duan Du lalu mengayunkan tangannya melempar energi berbentuk pedang ke arah tangan pria yang yang tadi berteriak.
Crash..!!
“Akhh..!! Kau-kau,” tunjuk pria itu lagi kini menunjuk dengan satu tangannya.
__ADS_1
Duan Du lagi-lagi mengayunkan tangannya.
Crash..!!
Crash..!!
Akhh..!!
Suara teriakan kembali menggema, namun teriakan tersebut bercampur jerit ketakutan.
Pria tersebut kini tidak berani menunjuk atau mengancam Duan Du yang ia anggap orang gila.
Sementara pria yang dari tadi diam tak lain adalah adiknya kini sudah mengompol di celana.
“Ja.. Jangan siksa aku, kau lebih baik membunuhku,” kata pria tersebut ketakutan.
Mendengar itu Duan Du langsung mendapatkan ide.
Wuss..!!
Crash..!!
Kepala kakaknya langsung melayang, darahnya langsung muncrat ke berbagai arah dan kepala pria tersebut langsung mengelinding ke arah para penonton.
Perlahan para penonton mulai mundur dengan tubuh sedikit bergetar menahan rasa takut yang terus meneror mereka.
“Tentu saja aku bisa membebaskanmu tapi dengan satu syarat,” kekeh Duan Du. “Apakah kau ingin tahu apa syaratnya?”
Mendengar itu, hati Tuan muda dari klan Dhe yang bernama Dhe Peng itu langsung merasa tenang dan berharap syaratnya bisa ia lakukan asal ia bisa hidup.
Dengan cepat Dhe Peng mengangguk-angguk.
“Syaratnya cukup gampang, kau hanya pergi membawaku ke lokasi penyimpanan harta klan mu,” kata Duan Du melalui telepati.
Dhe Peng langsung membeku, karena jika ia ketahuan, maka ia sama saja dengan mati.
Pilih mati di sini atau pilih mati di tangan ayahnya adalah sama-sama menuju kematian.
Melihat Dhe Peng berpikir, Duan Du langsung terkekeh kecil.
“Kau dapat tenang karena aku dapat yakin jika tidak akan di curigai oleh klan mu,” kata Duan Du.
“A.. Apakah anda yakin Tuan muda?” Tanya Dhe Peng memastikan dengan penuh harap.
“Tentu saja, jika kau menjadi budak ku maka kau di pastikan akan keluar dari klan mu dan di anggap pengkhianat, tapi kau akan terus bertambah kuat jika mengikuti diriku dan dapat membalaskan dendam yang selalu kau simpen.” Kekeh Duan Du.
Mata Dhe Peng langsung melotot saat Duan Du mengetahui jika dirinya memiliki sebuah dendam yang selalu ia pendam selama ini.
__ADS_1
“Da.. Dari mana kau tahu aku memiliki dendam? Padahal aku selalu menutup rapat dan tidak ada yang mengetahuinya selain diriku?”