Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Pergi dari Hutan dan Segerombolan Monster Datang


__ADS_3

Mereka semua langsung mengalihkan pandangan ke arah Tu Long dan Fu Chen.


Kemudian Tu Long mengeluarkan pedang sedikit melengkung berbentuk aneh. Tentu saja Bai An langsung menyipitkan matanya dengan heran. “Dari mana dia mendapatkan pedang?” Itulah yang ada di dalam benaknya. Karena sepengetahuan Bai An. Tu Long tidak menggunakan pedang dan juga tidak mempunyai senjata.


“Apakah ibu,” gumam Bai An kembali, Bai An langsung menjadi yakin jika ibunya yang memberikan Tu Long sebuah pedang dan mengajarkannya cara bertarung teknik pedang.


Berbeda dengan Jing Ling yang matanya melotot. “Samurai, pedang terlangka bahkan di Dunia Dewa sekalipun,” gumam Jing Ling terkejut. Ia tahu itu karena nenek moyangnya yang berasal dari Dunia Dewa membuat beberapa buku kuno tentang senjata yang harus di waspadai. Salah satunya samurai yang di pegang Tu Long.


Melihat pedang melengkung yang terlihat sangat tipis sehingga mampu di buat menjadi ikat pinggang itu, Fu Chen langsung meremehkan.


“Pedang setipis ini satu kali hantam pasti langsung hancur,” kata Fu Chen dengan nada mengejek.


“Benarkan?” Jawab Tu Long santai. Kemudian melesat maju ke arah Fu Chen.


Melihat kecepatan Tu Long. Fu Chen cukup terkejut, dengan cepat ia menarik pedangnya tak mau kalah.


Tu Long dan Fu Chen secara bersamaan mengayunkan pedangnya ke arah titik lemah masing-masing.


Trank..!!


Saat pedang berbenturan cukup keras, pedang Tu Long yang lentur langsung bergeser ke bawah, arah gengangaman tangan Fu Chen.


Dengan cepat Fu Chen menarik diri sejauh 10 meter sambil melepas pedangnya.


“Pedang yang berbahaya, dia sangat kuat dan lentur,” gumam Fu Chen. Itu terbukti dari pedangnya yang sedikit retak saat berbenturan tadi. Dengan cepat Fu Chen mengeluarkan pedangnya lagi.


Tu Long langsung tersenyum mengejek. “Kau bilang pedangku akan hancur? Tapi kenapa aku malah melihat sebaliknya.” Kata Tu Long sambil mengusap kepalanya yang botak.


Bai An, Hei Niu langsung tertawa, saat melihat kelakuan Tu Long. Sementara Jing Ling langsung meyakini buku yang nenek moyangnya katakan jika pedang tersebut memang berbahaya. Lalu Jing Ling melirik ke arah Bai An. “Anak ini masih banyak menyimpan misteri, jika aku terus mengikutinya. Mungkin aku akan mampu menembus tingkatan yang sulit di tembus oleh kami para ahli Suci.” Gumam Jing Ling mengangguk penuh keyakinan.


Bai An sempat melirik Jing Ling sambil tersenyum samar.


Sementara di tempat Tu Long, kini ia menunggu Fu Chen bersiap lebih dulu.


Fu Chen yang melihat ke arah Tu Long berbeda pendapat, ia mengira dirinya di remehkan oleh lawan. Sehingga membiarkannya bersiap-siap.


Fu Chen langsung melesat maju. Pedangnya langsung di selimuti oleh energinya. “Pedang Elang,” “Tebasan Cakar Langit.” Teriak Fu Chen.

__ADS_1


Kecepatan tebasan Fu Chen menjadi 3 kali lipat.


Tu Long tak mau kalah, ia langsung mengalirkan energi ke pedangnya. Kemudian berteriak santai. “Teknik Gelombang.” “Tebasan mengikuti alur.”


Trank..!!


Bom..!!


Saat pedang berbenturan, pedang Tu Long meliuk-liuk seperti mengikuti alur arah angin, lalu membentur pedang Fu Chen, tapi tak berhenti di sana pedang Tu Long meliuk ke arah tubuh Fu Chen sehingga mengenai tubuhnya lalu terlempar begitu saja sehingga menyebabkan ledakan.


Tu Long langsung mundur beberapa langkah sambil melihat pakaiannya yang sedikit sobek akibat bilah energi pedang Fu Chen.


Sedangkan Fu Chen kini langsung memuntahkan cukup banyak darah. Untung saja ia dengan cepat memusatkan seluruh energinya ke badannya agar meringankan beban lukanya.


Fu Chen langsung bangun ia kini melirik Tu Long dan harus mengakui lawannya walau satu Bintang di bawahnya. Fu Chen juga merasa ia setara dengan Tu Long, dan terlebih lagi Tu Long di perkuat oleh teknik dan senjata yang tidak pernah ia ketahui.


“Aku harus mengulur waktu selama mungkin,” gumam Fu Chen dalam hati.


Tu Long tersenyum lebar, ia tak ingin menundan lebih lama lagi. Tu Long langsung bergerak cepat.


“Sialan, apakah ia tahu aku mencoba mengulur waktu,” kata Fu Chen mengutuk Tu Long dalam hatinya.


Tu Long langsung mengayunkan pedangnya. “Pedang Angin, Tebasan Tak Kasat Mata,” teriak Tu Long.


Wuss..!!


Slash..!!


Dengan mata melotot Fu Chen melihat kedua tangannya jatuh begitu saja. Dia benar-benar tidak bisa melihat ke arah mana tebasan Tu Long. Di karenakan pedang Tu Long terlihat seperti bayang-bayang.


“Ukhh..!!”


Fu Chen mundur sejauh mungkin, baru saja ia ingin mengambil nafas. Tu Long sudah muncul di depannya dengan pedang yang sudah terayun ke arah kepalanya.


“Jangan bunuh, ia orang baik,” kata Bai An.


Muncul di depan Fu Chen, tangan Bai An sangat cepat saat ia memasukkan pil penyembuh. Fu Chen ingin memuntahkannya, tapi tangan Bai An kembali memukul pundak Fu Chen yang langsung membuat pil tersebut jatuh ke tenggorokannya.

__ADS_1


“Ayo kita pergi dari sini,” ajak Bai An, ia merasakan ada ratusan monster yang mengarah ke tempat mereka. Bai An yakin jika mereka merasakan pertarungan Tu Long dan Fu Chen sehingga merasa penasaran.


“Hei Niu, ikat dia.” Perintah Bai An sambil menunjuk prajurit yang terlihat sekarat. Hei Niu langsung membuat tali dari energinya. Hal tersebut adalah hal yang biasa di dunia ini. Dengan cepat Hei Niu mengikatnya di sebuah pohon kecil.


Bai An langsung menyuruh Tu Long membawa Fu Chen, walau penasaran. Tu Long tetap mengangguk dan percaya jika Bai An pasti memiliki alasan yang berdampak baik sehingga membawa Fu Chen.


Bai An langsung menembakkan energinya ke arah Jing Ling yang kini terlihat sedikit teler. Tapi Jing Ling tetap sadar, Bai An dapat menyadari hal tersebut.


Dengan cepat mereka melesat dengan kecepatan penuh.


Tak lama, 10 Komandan dan 300 Monster datang dengan berbagai Tingkatan. Tingkatan yang terendah adalah Monster Biasa Dewa Langit Puncak dan yang tertinggi adalah Komandan Yang mempunyai Gelar, Yaitu Monster Tanpa Hati. Ia memiliki gelar ini karena ia membunuh tidak pandang bulu. Bahkan adik dan orang tuanya ia bunuh demi kekuatan. Tingkatannya adalah Kesatria Dewa Perunggu Bintang 2 Puncak.


Monster Tanpa Hati ini adalah komandan terkuat dari seluruh komandan yang ada di Gurun Kematian ini.


Monster Tanpa Hati tepat berhenti di depan prajurit yang di ikat. Tanpa menghiraukan keadaan prajurit tersebut ia langsung bertanya.


“Dimana manusia itu?”


Prajurit tersebut langsung terkekeh kecil lalu mendengus dingin. “Apa Jendral Darah yang menyuruhmu? Ciuh, Nona Pembantai kami sudah lebih dulu mengincarnya,” kata prajurit tersebut kemudian tertawa mengejek dengan lantang.


Ha..Ha..Ha..Ha..


Crash..!!


Bruk..!!


Kepala prajurit tersebut langsung terjatuh. Monster Tanpa Hati langsung melihat ke arah mana jejak manusia tersebut. Tapi ia tidak bisa merasakannya, karena saat Bai An bergerak, ia langsung menghapus jejaknya.


“Komandan Tanduk, cium ke arah mana bau mereka,” perintah Monster Tanpa Hati.


Tanpa melawan atau membantah. Komandan Tanduk langsung mengangguk lalu menciumnya, tak lama ia langsung menunuuk ke arah utara.


“Hmm..!! Kota Netral, manusia ini ingin melarikan diri ke Kota Netral,” gumam Monster Tanpa Hati. “Ayo cepat kita potong jalannya lewat sini. Jangan sampai ia masuk kota,” teriak Monster Tanpa Hati. Melesat ke arah berbeda dengan Bai An.


Semua Komandan dan Monster langsung mengikutinya.


Bai An masih belum mengetahui jika Semua Jendral Monster di sini semua saling berbebut kekuasaan dan pamor untuk menunjukkan siapa yang terbaik. Bahkan mereka tak segan-segan saling bunuh.

__ADS_1


Semua Monster Suci membiarkan mereka melakukan ini karena mereka juga ingin siapa yang terkuat dan menjadi generasi Monster Suci selanjutnya.


__ADS_2