Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Bertemu Pangeran ke 4


__ADS_3

"Siapa disana?"


Tiba-tiba dua penjaga bertanya dengan suara agak keras hingga didengar oleh orang berjubah hitam, yang mana membuatnya melirik asal suara.


Saat mendengar suara tersebut, pria berjubah hitam itu diam, beberapa saat setelah ia tidak mendengar suara lagi. Pria tersebut langsung melesat ke arah yang ia dengar tadi.


Wuuuussshh...


Tak.. Tak..


Pria berjubah hitam kini melihat dua pemuda sedang mengikat dua pria dewasa sekitar 35 tahunan dan membekap mulutnya.


"Siapa dua orang ini!"


Mendengar suara serak, dua pemuda melirik pria berjubah hitam dengan agak ragu-ragu.


"Jawab!"


Suara serak itu berteriak agak keras dengan sedikit tekanan hingga dua pemuda itu terlihat tertekan.


"Tu.. Tuan, dua orang ini tadi keluar dari rumah itu, hingga kami berteriak ke arahnya." Salah pemuda berkata dengan nada gugup, sambil menunjuk rumah kosong secara asal.


Pria berjubah hitam tersebut melirik ke arah yang di tunjuk pemuda itu, beberapa saat pria itu kembali melirik dua pemuda itu dengan teliti cukup lama. Tak lama ia mengangguk dan berkata, "Bawa dua orang ini ke penjara bawah tanah dan kembali ke barisan."


Setelah mengatakan itu kepada dua pemuda yang tak lain Bai An dan Bai Luan. Pria berjubah hitam itu pergi ketempat dimana ia berada tadi.


Beberapa saat sebelum pria berjubah hitam ketempat Bai An. Saat dua penjaga bertanya dengan suara agak keras, Bai An dan Bai Luan langsung memukul leher kedua penjaga tersebut hingga pingsan. Lalu melucuti pakaian mereka dan menggantinya dengan pakaian yang mereka kenakan. Begitupun sebaliknya, Bia An dan Bai Luan langsung mengenakan pakaian penjaga tersebut untuk menyamar.


Kembali ke saat ini...

__ADS_1


"Guru, kita bawa kemana dua orang ini?" Bai Luan langsung bertanya, karena ia tak tahu harus dikemanakan dua orang ini.


Bai An langsung berpikir, jika ia membunuhnya. Maka pria berjubah hitam tersebut pasti akan tahu karena menciun bau darah. Sehingga membuatnya curiga.


Setelah berpikir, Bai An langsung mengayunkan tangannya dan keluar dua butir pil bewarna putih kehijau-hijauan. "Ini pil apa Guru?" Tanya Bai Luan langsung, karena heran mengapa gurunya malah mengeluarkan pil. Padahal yang harus dilakukan adalah membawa atau berpikir cara menangani dua orang ini.


"Ini pil pelumpuh, agar saat dua orang ini nanti saat sadar, maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti melapor kejadian ini atau hal lainnya yang membuat rencana kita gagal." Gumam Bai An yang dapat di dengar oleh Bai Luan.


Bai Luan langsung mengangguk, kini ia tahu mengapa Bai An mengeluarkan pil tersebut.


Setelah memberikan pil kepada dua orang tersebut, Bai An lalu membawanya ke rumah kosong yang tadi ia tunjuk dan membuat sebuah formasi prisai. Agar tidak ada orang yang mengetahui jika ada penjaga yang telah dilumpuhkan disini.


Beberapa menit kemudian...


Kini Bai An dan Bai Luan yang sedang menyamar ikut berkumpul bersama para penjaga, Bai An kini mengetahui jika para penjaga ini sebenarnya adalah para prajurit-prajurit pengikut pangeran, dan beberapa penghianat lainnya yang di kekaisaran Xiao.


Untungnya lagi, Bai An dan Bai Luan tidak ikut dalam pemeriksaan, karena saat mereka datang. Pemeriksaan telah selesai, yang mana pada setiap tangan para penjaga ada sebuah tato untuk mengenali jika mereka bukan penyusup.


"Hei kalian berdua, kesini," salah satu jendral pengikut setia pangeran pertama memanggil Bai An dan Bai Luan.


Bai An yang mendengar itu menoleh ke asal suara, lalu melihat kiri kanan apakah yang dipanggil itu dirinya dan Bai An atau bukan. Setelah memastikan jika dirinya dan Bai Luan yang dipanggil, ia dan Bai Luan langsung ke tempat jendral berdiri.


"Ada apa jendral," tanya Bai An.


"Hmm apa kalian yang di katakan pangeran perrama, jika kalian pengikut pangeran ke empat yang berhianat kesini?" tanya sang jendral.


Bai An agak bingung sesaat, "Ia jendral, itu kami berdua," jawab Bai An, yang seperti menyadari sesuatu disini.


Jendral tersebut mengangguk, "Ayo ikut aku!"

__ADS_1


Mendengar itu, Bai An dan Bai Luan mengangguk lalu mengikuti perkataan Jendral tersebut.


2 menit mereka bertiga berjalan. Kini Bai An melihat seseorang pemuda yang masih muda, dapat terlihat ia seperti seumuran dengan Bai An. Bai An penasaran, siapa pemuda yang diikat dan digantung disebuah tiang kayu tersebut. Namun ia tidak ingin bertanya, itu bisa membuat jendral tersebut langsung curiga.


Sedangkan untuk Bai Luan, ia tetap diam. Walau dalam hatinya saat melihat pemuda tersebut, seperti ia terasa familiar dan pernah melihatnya, tapi dimana ia lupa akan itu.


"Pangeran ke 4. Ha ha... Coba kau lihat, para prajurit setiamu pun ikut menghianatimu dan mengikuti Putra Mahkota atau bisa disebut Calon Kaisar." Jendral tersebut berucap dengan nada mengejek sambil tertawa, ia kemudian menambahkan. "Kau itu masih anak kecil yang terlalu naif pangeran, sok sok ingin membela keadilan dan menjadi pahlawan, sungguh bodoh. Apa kau tidak tahu Calon Kaisar kami begini karena ia ingin menata ulang Kekaisar Xiao, agar menjadi lebih kuat dan berjaya dimasa depan."


Jendral tersebut mencerca pangeran ke 4 dengan kata-kata yang membuat Bai An dan Bai Luan sangat kesal, walau tidak mereka yang dicerca. Tapi secara tak langsung jendral tersebut ikut menyinggung Bai An dan Bai Luan yang ingin membasmi orang-orang luar, agar Benua Rendah tidak menjadi wilayah kekuasaan mereka, yang mana kedepannya akan menyebabkan rakyat sengsara.


Pangeran ke 4 kini mengangkat kepalanya dengan susah payah. Karena luka disekujur tubuhnya terbilang cukup parah, untuk tingkat kultivasi sepertinya akan membuatnya bisa bertahan selama beberapa hari saja.


Mata pangeran ke 4 menatap jendral tersebut dengan pandangan tajam. Seperti tidak takut dengan apa yang akan terjadi dengannya walaupun mati.


"Ho ho masih berani juga kau pangeran. Seandainya Pangeran pertama tidak melarangku untuk membunuhmu, aku pasti sudah membunuhmu saat menangkapmu dengan para pengikutmu sendiri yang berhianat." Jendral itu berkata dengan nada yang terdengar geram.


Cuiih..


Pangeran ke 4 meludah dengan pandangan jijik ke arah Jendral. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun dapat dilihat jika pangeran ke 4 juga sangat membenti jendral tersebut.


Tak lama, pangeran ke 4 melirik ke arah Bai An dan Bai Luan yang kini sedang tersenyum. Melihat hal itu, pangeran ke 4 heran, karena ia merasa tidak pernah mempunyai prajurit muda seperti itu.


Melihat kalau pangeran ke 4 sedang menatap dengan heran ke arah Bai An dan Bai Luan. Jendral tersebut langsung curiga dan saat ingin bergerak untuk menangkap Bai An dan Bai Luan.


Tiba-tiba Jendral itu merasakan dirinya seperti sedang melayang dan melihat tubuhnya kini sedang berjalan tanpa kepala.


Buukk..


Kepala Jendral tersebut jatuh lalu menggelinding.

__ADS_1


__ADS_2