Lahirnya Raja Para Dewa

Lahirnya Raja Para Dewa
Berahirnya Perang dan Menggemanya Nama Raja Para Dewa


__ADS_3

Sementara saat ini tatapan Bai An mengarah ke Wen Dongyu dalang dari semua penyebab dunianya kacau.


Wen Dongyu yang melihat tatapan Bai An menjadi ganas, karena ia tahu kemungkinan orang yang membunuhnya adalah orang di depannya ini.


Gerr..!!


“Hoho,, kau mengeluarkan wajah aslimu yang liar ternyata,” kekeh Duan Du terlihat ingin mencincang Wen Dongyun.


Bai An yang mendengar itu langsung menatap ke arah Bai An. Hal tersebut membuat Duan Du tersenyum kecut sambil mundur karena ia tahu jika kakaknya ini marah pasti akan menghajar atau menghukumnya.


Walau Duan Du tahu kakaknya ini tidak akan menyakitinya secara berlebihan, tapi Duan Du merasa tidak bisa melakukan apa-apa jika di hukum.


Setelah Duan Du mundur, Bai An kini menatap Wen Dongyun.


“Apa tujuanmu datang ke Alam Semesta kecil ini? Karena di lihat dari tingkat kekuatan kalian berdua, kemungkinan kalian setara prajurit elit bahkan komandan di klan besar maupun kerajaan di Alam Semesta Inti tertentu,” tanya Bai An langsung ke intinya.


Wen Dongyun yang mendengar itu tertegun beberapa saat, karena ia mengira orang-orang itu mengejarnya hingga ke tempat ini.


Wen Dongyun kini baru tahu jika Bai An sama sekali tidak mengetahui apa-apa sehingga ia langsung mendengus sambil mengalihkan pandangannya.


Bai An yang melihat itu langsung tersenyum jahat.


“Baiklah jika kau tak ingin bicara, aku akan membuatmu bicara dengan sendirinya,” kata Bai An menyeringai kejam.


Tanpa menunggu lama, Bai An langsung melirik ke arah tertentu.


Setelah melihat kelompok pembantai bertulis no 1.


“Hei kau no 1, kesini,” kata Bai An memanggil.


Tanpa memperdulikan musuhnya, no 1 langsung melesat ke tempat Bai An.


“No 1 disini Tuan Besar,” kata no 1 menunduk hormat.


“Kau tahu apa yang kau lakukan agar orang ini bicara dengan sendirinya bukan?” Kata Bai An tanpa basa basi.


No 1 langsung mengangguk paham karena hal ini sudah pernah di ajarkan oleh Yu Fan dulu termasuk anggota yang lainnya untuk menggali informasi.


Bai An langsung memasukkan No 1 bersama Wen Dongyun ke dalam dunia jiwanya.


Wuss..!!

__ADS_1


Setelah itu Bai An melirik ke arah Duan Du, Tu Long, Tu Khul, Long Gang dan We Kai.


“Kita bereskan mereka secepatnya, ingat bunuh yang pantas di bunuh,” kata Bai An langsung melesat ke atas.


Duan Du dan yang lainnya cukup paham maksud Bai An, yang di maksud Bai An adalah membunuh orang yang memiliki energi negatif berlebihan, hal tersebut harus di lakukan karena jika di biarkan hidup, ambisi mereka nantinya bisa membuat orang-orang menderita.


Terlebih lagi mereka yang memiliki energi berlebihan pasti akan menumbalkan orang-orang tak bersalah.


Kalau untuk orang yang memiliki energi negatif sedikit, itu bisa di hilangkan jika mereka di penjara dan di ajarkan cara menghilangkan perbuatan yang mereka lakukan dulu.


Orang-orang tersebut mungkin ada yang terpaksa melakukan hal tersebut, ada juga yang ingin menjadi kuat dengan cepat sehingga melakukan hal yang salah dan menumbuhkan energi negatif.


Jika mereka mau berubah dan berkultivasi dengan benar maka Bai An sudah menugaskan para bawahannya untuk membebaskan mereka jika energi negatif mereka telah hilang, jika belum maka mereka akan tetap di penjara sampai sesuatu yang membahayakan hilang.


Bai An juga paham jika mungkin ia di kira naif, namun setiap tahanan nantinya akan di selipkan segel budak agar para bahawan Bai An tahu jika mereka kembali berulah jika bebas dan kesempatan kedua tidak ada lagi untuk mereka.


Setelah Bai An melayang di udara, Bai An langsung menciptakan jutaan bahkan puluhan juta pedang energi.


“Renungilah perbuatan kalian di neraka,” kata Bai An dengan santai.


Sementara orang-orang yang ada di bawah melihat awan tertutup langsung melihat ke atas.


Musuh mungkin akan ketakutan, namun para bawahan Bai An maupun saudara hanya bisa tersenyum kecut karena mereka semua belum puas bertarung.


Salah satunya Long Yuan, walau ia kurang puas karena belum memburu orang-orang yang membunuhnya dulu, tapi ia hanya bisa tersenyum kecut dan cukup kaget karena kekuatan Bai An tidak bisa ia bayangkan.


Walau ia sudah menduga jika Bai An menyembunyikan kekuatannya, tapi ia tak menduga kekuatan Bai An sebesar ini.


Tanpa menunggu waktu lama, Bai An menjentikkan jarinya membuat pedang energi berjatuhan.


Wuss..!!


Jlep..!!


Jlep..!!


Jlep..!!


Musuh semuanya ada yang langsung mati, ada yang menjerit ada juga yang mencoba melarikan diri, namun tetap di kejar pedang energi yang Bai An ciptakan.


Sementara musuh yang tidak terbunuh hanyalah para prajurit, ada juga beberapa komandan dan jendral kini hanya bisa menelan ludah dengan kaki bergetar.

__ADS_1


Mereka yang tak bisa menahan rada takut terjatuh dengan senjata di lepas tanda menyerah.


“Berahir sudah, bagi yang selamat buang senjata kalian tanda menyerah, bagi yang masih memegang senjata akan langsung aku bunuh,” kata Bai An menatap ke bawah.


Tanpa menunggu, semua musuh langsung membuang senjata mereka jauh-jauh seolah senjata tersebut kematian bagi mereka, bahkan ada yang bersumpah tidak akan memegang senjata lagi selamanya.


Sementara para sekutu maupun bawahan Bai An langsung bersorak bahagia tanda kemenangan.


Tak lama Tu Long dan Duan kini saling memandang, setelah mengangguk bersamaan mereka berdua langsung berteriak.


“Hidup Raja Para Dewa.”


Mendengar itu, para bawahan Bai An ikut berteriak juga.


“Hidup Raja Para Dewa.”


“Hidup Raja Para Dewa.”


Suara tersebut menggema hingga para sekutupun ikut meneriaki Raja Para Dewa, bahkan orang-orang yang ada di luar arena ikut meneriaki hal tersebut hingga di dengar oleh para pengungsi yang kini berada di luar kota.


Mereka pun ikut meneriaki Raja Para Dewa.


Sementara di kediaman Bai An, semua keluarga Bai An tidak mendengar hal tersebut karena Bai An telah memasang sebuah formasi perisai disana agar ibunya dan semua keluarganya tidak dapat mendengar suaranya pertarungan.


Bai An tidak ingin hal yang merepotkan sehingga ia memasang perisai di kediamannya.


1 Minggu setelah perang besar.


Nama Raja Para Dewa tetap menggema bahkan ke seluruh Alam Semesta Kecil termasuk di dunia tempat Bai An di besarkan.


Entah siapa yang datang kesana menyebar berita, tapi nama Raja Para Dewa membuat semua hati orang-orang bertekad ingin seperti dirinya.


***


Sementara di kediaman Bai An.


Saat ini Bai An, Duan Du, Cen Tian, Liu Fang, Bai En, Tu Long, Long Yuan, Lang Zai, Hei Long, Xiong Zai, Huang Feng, Fanghu, Yu Fan, dan semua saudara maupun bawahan yang Bai An kenal kini duduk berlutut di depan seorang wanita.


Wanita tersebut tak lain adalah Ling Mei, di belakang Ling Mie semua keluarga Bai An ikut berdiri, namun pandangan mereka sangat kasihan terhadap Bai An dan para saudaranya.


“Katakan siapa yang memulai?” Tanya Ling Mei dengan nada kesal.

__ADS_1


__ADS_2