
“Hukum gravitasi terbalik,” gumam Bai An tidak bisa tidak terkejut.
Bai An menduga itu Hukum gravitasi terbalik karena ia sudah mengingat beberapa ingatan yang di kirim oleh Mu Xia'er dulu sewaktu ia masih di Alam Fana.
Walau belum pasti, tapi Bai An menduga ini Hukum gravitasi terbalik.
Dengan semangat Bai An kembali berlari, tapi saat ini terlihat Bai An berlari zig zag sambil maju lalu mundur beberapa langkah, lalu maju lagi.
Melihat ia kini sudah dekat dengan gubuk kecil tersebut, Bai An tersenyum karena dugaannya sama sekali tidak salah.
Bai An terus berlari zig zag dan maju mundur hingga ia sampai di depan pintu gubuk yang terlihat lusuh namun sangat kuat, Bai An memastikan jika ia menyerang menggunakan kekuatan penuhnya maka pintu gubuk yang lusuh ini tidak akan pernah hancur.
Saat Bai An ingin melangkah masuk, ia merasakan aura hangat yang menyelimuti hatinya, perasaan ini seperti Bai An pernah rasakan saat ia bertemu ayahnya.
Bai An merenung sesaat, kemudian melangkah masuk.
Cklek..!!
Wuss..!!
Bai An langsung menutup matanya saat membuka pintu gubuk lusuh tersebut, sebuah cahaya yang sangat terang langsung menerpa mata Bai An.
Saat Bai An membuka matanya.
Bai An langsung bingung, karena ia kini berada di tempat yang berbeda lagi.
“Hmm..!! Apakah gubuk kecil ini sebuah dimensi kecil lagi?” Gumam Bai An melihat sekelilingnya.
Terlihat hamparan padang rumput yang sangat luas, kemana Bai An memandang ia hanya melihat rerumputan yang alami tumbuh.
Entah kenapa Bai An tiba-tiba tersenyum, tak lama ia mengeluarkan air matanya saat merasakan ketenangan seperti ini.
Tanpa menunggu lama, Bai An langsung menjatuhkan dirinya.
Bruk..!!
Bai An langsung tertidur pulas tanpa memikirkan beban yang ia pinggul saat ini.
1 Hari telah berlalu, Bai An langsung tersadar saat mengingat para saudaranya yang masih di Hutan Berapi, walau para saudaranya kuat-kuat, tapi terlihat di wajah Bai An penuh kekhawatiran.
Saat Bai An bangun, ia menyadari ada yang salah di sekelilingnya.
“Hmm..!! Aku sedang di kepung oleh ratusan prajurit, terlebih lagi mereka hanya prajurit dengan tingkat Alam Fana,” gumam Bai An mengerutkan keningnya.
Tap tap..!!
__ADS_1
“Menyerahlah, kami sudah mengepungmu,” teriak salah satu orang berpakaian layaknya jendral.
“Benar, jika kau bekerjasama, maka kami tidak akan menyakitimu, kami hanya memastikan jika kau musuh atau bukan,” kata salah satu orang berpakaian sama dengan orang yang pertama kali bicara.
Bai An langsung mengangkat tangannya sambil mengeluarkan seutas senyum.
Bai An tersenyum karena orang-orang sama sekali tidak berniat jahat atau buruk, mereka bicara jujur.
Jika orang-orang ini melihat senyum tulus Bai An, mungkin mereka akan bingung, namun tidak ada yang bisa melihatnya karena Bai An masih menggunakan tudungnya.
Setelah melihat Bai An mengangkat tangannya, para prajurit langsung maju sambil membawa rantai.
Tap tap..!!
Bai An langsung di pasangkan rantai di tangannya, setelah itu, kedua jendral itu langsung mengerahkan para prajurit untuk kembali bersama-sama.
Dalam perjalanan Bai An yang mendengar pembicaraan mereka awalnya cukup bingung ini dunia apa? Karena rata-rata orang yang Bai An lihat adalah penduduk normal atau manusia biasa yang mati saat usia puluhan tahun. Bisa di sebut mereka bukan kultivator.
Namun saat merasakan energi Qi di sekitarnya, Bai An tahu jika ini bukan Alam Fana, mungkin bisa di sebut Alam Dewa.
Bai An bahkan menduga jika tempat ini adalah mungkin titik putih yang Bai An lihat di peta.
“Mungkin kah orang-orang ini tidak tahu caranya berkultivasi?” Gumam Bai An dalam hati.
Tap tap..!!
Semua prajurit langsung mengangguk senang, karena mereka terlihat kelelahan dan benar ada beberapa bagian dari mereka yang hampir pingsan.
Saat mereka istirahat, Bai An langsung berdiri lalu berkata kepada prajurit yang selalu menjaga dirinya.
“Tuan prajurit, bisakah aku pergi buang air, aku sudah tidak tahan,” kata Bai An memegangi alat sensitifnya.
Prajurit tersebut langsung melirik ke arah temannya, temannya hanya mengangkat bahunya, setelah berpikir sesaat, prajurit tersebut langsung berkata.
“Tunggu di sini, aku akan memberitahu jendral masalah ini agar kita tidak di hukum.”
Prajurit itu langsung pergi setelah ia melihat temannya mengangguk.
Tap tap..!!
Prajurit tersebut kembali bersama jendral yang pertama kali bicara kepada Bai An beberapa hari lalu.
“Hmm..!! Ikuti aku,” kata jendral tersebut setelah mengamati Bai An.
Tap tap..!!
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama jendral tersebut berhenti di sebuah aliran sungai yang airnya sangat jernih.
Bai An langsung maju setelah melihat isyarat dari sang jendral.
Saat Bai An melihat jendral tersebut melirik ke arah lain.
Wuss..!!
Aura yang mengerikan langsung mengguncang tempat tersebut, tidak hanya di tempat kejadian, bahkan aura tersebut di rasakan oleh para prajurit yang menangkap Bai An. Beberapa dari mereka langsung pingsan karena tak tahan menahan tekanan aura tersebut, beberapa yang mampu bertahan langsung mengeluarkan banyak darah.
Yang paling parah adalah jendral yang tidak terlalu jauh dari Bai An, ia kini berusaha untuk tidak tidur di padang rumput, saat ini ia sudah berlutut, jika ia tertidur maka ia akan langsung terluka parah.
Bai An yang kini memejamkan matanya berusaha untuk menekan auranya yang keluar.
Wuss..!!
Bom bom bom..!!
Tekanan dari aura Bai An langsung lenyap bersamaan dengan bunyi ledakan dari tubuhnya.
Bai An langsung tersenyum saat melihat kekuatanya yang kini meningkat pesat hanya dengan menghirup energi di sekitarnya.
“Jika yang lain kesini aku yakin tak menunggu waktu lama bagi kami untuk bisa melawan para Kaisar Dewa,” gumam Bai An bersemangat saat memikirkan para saudaranya yang akan meningkatkan kekuatan mereka juga.
Bai An rencananya setelah masalah ini selesai ia akan kembali membawa para saudaranya kesini lagi untuk meningkatkan kekuatan mereka.
Tap tap..!!
“Hei,, apakah kau tidak apa-apa?”
Saat mendengar sebuah suara, Bai An langsung tersadar dari lamunannya.
Dengan cepat Bai An melirik ke asal suara dan melihat jendral tadi kini berusaha berjalan dengan senjatanya yaitu tombak.
Bai An pura-pura bangun dan terjatuh sambil berkata.
“Apa tadi itu? Apakah ada orang kuat atau monster yang marah hingga mengeluarkan auranya?” Tanya Bai An pura-pura ketakutan.
Jendral tersebut menggeleng. “Itu adalah kemarahan dari seorang Dewa, aku baru pertama kali merasakan kekuatan mengerikan seperti ini, aku yakin jika itu benar-benar Dewa yang ada di dalam buku-buku kuno yang kami baca, mereka bisa terbang bebas seperti burung,” kata Jendral tersebut dengan bangga saat berbicara tentang Dewa.
Bai An langsung tersenyum saat mendengar itu, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan agar jendral tersebut tidak salah paham jika melihatnya.
“Memang kalian pernah melihat bentuk Dewa itu seperti apa?” Tanya Bai An sambil berusaha menahan tawa.
“Hmm..!! Bentuk Dewa sangat indah, mereka sangat tampan, bahkan ketampanannya tidak bisa di ucapkan oleh kata-kata, bahkan dewi pun begitu,” kata Jendral tersebut dengan suara yang tinggi.
__ADS_1
“Apakah bentuk Dewa itu seperti ini?”