
Bom,,
Duar,,
Jendral Teratai Hitam itu langsung terlempar, ia bisa melihat serangan tersebut. Namun ia benar-benar tidak siap.
“Uhh,, hoek, hoek,”
Setelah memuntahkan cukup banyak darah, ia ingin berdiri namun ia merasakan bahaya yang mana salah sedikit ia bisa langsung mati.
Sebuah pedang energi disertai petir melesat ke arahnya.
Dengan cepat Jendral tersebut mencoba menghindar, namun ia terlambat.
Bom,,
Wuss,,
Duar,,
Jendral Teratai Hitam lagi-lagi terlempar dan menabrak bangunan yang mana adalah markas mereka.
Bai An langsung tersenyum, “Kekuatan Elemen angin dan Petir jika di gabungkan sungguh mengerikan, padahal aku hanya menggunakan sedikit energi,” gumam Bai An.
Bai An langsung menyusul kemana Jendral tersebut terlempar.
Wuss,,
“Oh kau masih hidup rupanya,” kata Bai An terkekeh kecil saat melihat Jendral Teratai Hitam yang berusaha bertahan hidup.
Saat Jendral tersebut mendengar suara, ia langsung mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang menyerangnya.
“Kau, kau,” tunjuk Jendral tersebut yang tidak habis pikir.
Bom,,
Duar,,
Saat mendengar suara ledakan yang jauh lebih besar, Jendral tersebut tersenyum masam, ia kini sadar siapa yang membuat mereka pecah, itu ternyata ulah target yang akan mereka bunuh, namun sekarang merekalah yang akan menjadi terget.
“Bunuh aku,” kata Jendral tersebut kini tahu bahwa tidak ada kesempatan apapun untuk menang bagaimanapun ia berusaha.
Bai An langsung terkejut saat mendengar Jendral tersebut.
“Xia'er apa kita bunuh orang ini?”, tanya Bai An langsung.
“Bunuh saja, mereka semua yang menjadi pengikut Kaisar Dewa Kegelapan sudah dalam kendalinya.”
Bai An tanpa basa basi langsung mengayunkan pedangnya.
Slash,,!
Bai An juga mengeluarkan energi birunya untuk melahap energi kegelapan yang ada di dalam tubuh jendral tersebut.
Setelah ia selesai Bai An langsung bergerak ke arah Pixiu, ia melihat Pixiu sedang bermain-main dengan Jendral Teratai Hitam tersebut, ia melirik ke arah Lang Zai yang kini membantai para komandan dan anggota Teratai Hitam.
__ADS_1
Bai An tidak ingin kalah, ia langsung melesat ke arah 2 Komandan yang mengepung Lang Zai.
“Angin penghancur tingkat pertama,” teriak Bai An.
Sebuah pusaran langsung muncul, kemudian menghisap apa saja yang ia lewati kemudian menghancurkannya di dalam pusaran tersebut.
Melihat itu mata Bai An menjadi cerah, “Jurus ini lumayan juga,” gumam Bai An.
Banyak sekali anggota Teratai Hitam yang terhisap oleh serangan Bai An, para Komandan yang melihat hal tersebut langsung menggabungkan kekuatan mereka untuk menghancurkan pusaran angin yang Bai An buat.
Bom,,
Saat menyerang pusaran angin tersebut, awalnya para komandan menjadi lega, namun mereka tiba-tiba membeku karena pusaran tersebut kini semakin besar.
Bai An terkekeh, “Tentu saja semakin besar, karena energi kalian ikut di hisap untuk membuatnya semakin besar bodoh,” gumam Bai An.
Para komandan tersebut kini semakin panik, Lang Zai yang melihat itu tersenyum kecut, karena ia ingin bermain-bermain juga dengan mereka tapi Bai An datang mengganggu mainnya.
Wuss,,
“Tuan Muda, kau duduk saja dan tonton pertunjukan ini, biar aku dan saudara Pixiu yang bermain-main,” kata Lang Zai dengan nada mengeluh.
Bai An yang mendengar itu langsung tersenyum masam, “Jangan terlalu lama, karena ini sudah hampir pagi dan kita akan langsung melanjutkan perjalanan,” kata Bai An serius.
Lang Zai langsung mengangguk kemudian berteriak, “Saudara Pixiu, cepat selesaikan.”
Bai An langsung melesat kesana kemari mengayunkan pedangnya untuk membunuh musuh-musuhnya.
Namun saat ia ingin membunuh Komandan terahir yang hidup. Mu Xia'er langsung berkata. “Jangan bunuh orang ini.”
Komandan yang terlihat pasrah itu bingung, mengapa ia belum mati, tak lama ia membuka matanya dan melihat pedang Bai An berhenti di lehernya yang mana membuatnya berkeringat dingin.
“Kenapa kau menghentikanku Xia'er?”, tanya Bai An heran.
“Dia adalah pengikut Yu Fan yang sedang menyamar,” jawab Mu Xia'er yang mana membuat dahi dan alis Bai An terangkat.
Saat Bai An akan bertanya kepada Mu Xai'er. Mu Xia'er langsung berkata, “Kau tanya saja dia An Gege.”
Melihat Komandan yang kini berkeringat dingin. Bai An langsung yakin, karena jika itu Anggota asli Teratai Hitam, mereka tidak terlalu takut akan kematian atau jika takut mereka pasti berpikir cara kabur.
Namun Komandan di depannya ini hanya pasrah, takut namun diam tidak banyak bicara.
“Huuff,, kapan kau mulai bergabung dengan Kelompok Teratai Hitam?”, tanya Bai An.
Komandan itu langsung tertegun, “Apa ia tahu aku mata-mata?”, pikir komandan.
Wuss,,
Wuss,,
“Tuan Muda, kenapa kau tidak membunuhnya?”
Lang Zai yang baru sampai ketempat Bai An langsung bertanya, sedangkan Pixiu hanya diam saja.
Bai An diam saja saat mendapat pertanyaan, ia memandang komandan tersebut dengan teliti dan menemukan hal yang menarik.
__ADS_1
“Kau ikut kami,” kata Bai An langsung melesat.
Komandan tersebut tertegun, saat mendengar itu dan melamun beberapa saat sampai suara dingin Lang Zai terdengar.
“Apa yang kau lamunkan, cepat berangkat, jangan membuat kami menunggu.”
Komandan tersebut langsung berdiri kemudian melesat menyusul Bai An.
Lang Zai berada di belakang, sedangkan Pixiu berada di samping komandan tersebut.
Komandan itu hanya tersenyum kecut, ia tadi sempat berpikir akan melarikan diri, namun melihat ia di jaga ketat, ia hanya mengutuk nasipnya.
Wuss,,
Wuss,,
Bai An, Lang Zai, Pixiu dan komandan tersebut langsung masuk melaui jendela penginapan.
Saat ini komandan tersebut hanya diam dengan tubuh bergetar saat di tatap oleh tiga orang yang cukup mengerikan menurutnya.
“Buka topengmu, aku tahu kau mata-mata yang sedang memata-matai Kelompok Teratai Hitam,” kata Bai An.
Lang Zai dan Pixiu langsung merasa bingung.
Sedangkan komandan tersebut langsung tertegun, ia diam saja dan tidak berani membuka identitasnya sembarangan.
Saat ucapan Bai An tidak di respon, Lang Zai langsung geram.
“Apa kau belum pernah merasakan siksaan yang lebih menyakitkan dari neraka,” ancam Lang Zai.
Komandan itu langsung berkeringat dingin, ia langsung membuka topengnya yang mana membuat Lang Zai dan Pixiu terperanjat.
Bai An yang melihat itu sudah menduga dari awal, langsung bertanya. “Apa saudara Yu Fan yang menyuruhmu?”
Komandan tersebut langsung tertegun, ia langsung mengangkat kepalanya.
“Dari mana kau mengenal kakak ku?”
“Tuan Muda sedang bertanya kau harus menjawab, bukan balik bertanya,” kata Lang Zai dengan dingin, namun ada sebuah senyum tipis di wajahnya.
Komandan tersebut langsung menganguk patuh dan berkata, “Kakak ku tidak pernah menyuruhku, namun aku sengaja menyusup untuk menemukan jawaban bagaimana cara menghilangkan segel yang menyegel kekuatannya dan cara menghapus segel budaknya,” jawab komandan tersebut.
Bai An langsung mengangguk.
“Siapa namamu?”
“Yu Fen,” jawab Yu Fen langsung saat mendengar pertanyaan Bai An.
Mendengar itu Bai An langsung memberitahu bagaimana ia bertemu Yu Fan sampai bagaimana ia menghapus segelnya dan kini menjadi pengikutnya. Bai An juga bercerita Yu Fan kini sedang mengumpulkan kekuatan.
Mendengar cerita Bai An. Yu Fen langsung menangis dan ingin berlutut kepada Bai An, namun sebuah tekanan langsung membuatnya berdiri kaku.
“Jangan pernah berlutut, kepada siapapun kecuali orang tua dan gurumu,” ucap Bai An dingin.
Yu Fen langsung mengangguk patuh.
__ADS_1