
Chu Jia langsung terdiam, tak lama ia tersenyum sambil berkata. “Kau harus janji akan membawa hadiah yang membuatku bahagia.”
Bai An mengangguk yang terlihat seolah dapat di percaya sehingga Chu Jia menghela nafas bahagia lalu berlari memeluk Bai An dan mengecup pipinya.
Setelah itu Chu Jia berlari keluar bersama Beruang Putih.
Walau terlihat ceria, Bai An dapat melihat kesedihan dimata Chu Jia, tapi ia mencoba untuk tetap tidak terlihat sedih dimata Bai An.
Bai An hanya bisa menghela nafas berat lalu menghilang dari sana.
Tak lama Bai An muncul di depan Duan Du dan Tu Long, mereka berdua terlihat asik bermain bersama beberapa hewan buas yang telah mereka jinakkan.
Dapat terlihat jika semua hewan buas tersebut sangat tersiksa batinnya yang telah di paksa main tanpa henti.
Bai An hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tersebut. “Hei kalian berdua, berhenti menyiksa mereka, ayo kita berangkat,” kata Bai An menyadarkan Duan Du dan Tu Long.
Duan Du dan Tu Long langsung melirik ke arah asal suara. “Kakak, kau lama sekali,” dengus Duan Du.
“Benar kau lama sekali,” balas Tu Long dengan kesal.
Bai An hanya bisa menggeleng tanpa ingin membalas ucapan keduanya, dengan cepat Bai An melambaikan tangannya.
Seketika sebuah lubang putih muncul. “Ayo kita pergi,” ajak Bai An tanpa basa basi.
Duan Du dan Tu Long langsung membawa sama-sama satu hewan buas yang mereka jinak, hal itu membuat Bai An mengerutkan keningnya.
“Apa yang akan kalian lakukan dengan membawanya?” Tanya Bai An kemudian tersadar. “Jangan bilang kalian akan menyuruh mereka berbuat onar?” Kata Bai An kembali bertanya.
Hehe..!!
Duan Du dan Tu Long hanya cengengesan, kekuatan kedua hewan buas ini setara dengan Tu Long.
Duan Du menjinakkan Macan yang kini berubah menjadi kecil dan Tu Long menjinakkan burung Gagak merah yang terlihat menyeramkan walau persi kecil.
__ADS_1
Bai An hanya bisa menghela nafas saat melihat wajah polos keduanya. “Baiklah ayo kita pergi, jangan di tunda lagi, karena aku takut akan ada badai ruang dan waktu saat sampai ruang kehampaan nanti.”
Bai An langsung masuk yang di ikuti oleh Duan Du, lalu menyusul Tu Long.
Wuss..!!
Bertepatan dengan lenyapnya mereka, Mu Xia'er muncul sambil bergumam. “Semoga kau kembali dengan cepat dan selamat Gege.”
Wajah Mu Xia'er terlihat berlinang air mata saat melihat kepergian suaminya, Mu Xia'er tahu jika ia bertemu Bai An, ia pasti akan marah, entah apa yang terjadi, yang pasti Mu Xia'er tidak ingin kehilangan Bai An. Hal itu cukup membingungkan dirinya.
Mungkin itu karena masalah Mu Xia'er yang kecewa Bai An telah menodai putri musuh ibunya.
Sampai saat ini juga Mu Xia'er tidak tahu jika ia di kerjai oleh mereka bertiga, jika tahu maka Mu Xia'er pasti semakin marah.
Setelah cukup lama berada di sana, Mu Xia'er kembali menghilang.
***
Sementara jauh di alam semesta ketiga, saat ini Hu Qia sedang duduk menyendiri di kamarnya.
Hu Qia terlihat murung, pikirannya jauh ke tempat dimana saat-saat ia bersama Bai An, saat mengingat itu, tiba-tiba Hu Qia tersenyum sendiri, ia cukup bahagia bersama Bai An walau hanya sesaat.
Tapi saat mengingat ia di nodai dengan paksa, Hu Qia memasang wajah menyeramkan dan berniat akan membalas.
Hal itu terus terjadi, yang membuat ayah Hu Qia, Penguasa Alam Semesta Ketiga bingung melihat ekspresi wajah putrinya yang selalu berubah-ubah.
“Apa putriku menjadi gila gara-gara sampah itu,” gumam Hu Xiao masih belum menyadari kesucian putrinya telah di renggut oleh orang yang ia maksud sampah, jika Hu Xiao tahu, maka ia pasti akan mengejar Bai An seluruh alam semesta dimanapun ia bersembunyi walau harus berahir melawan Penguasa Semesta terkuat pertama dan kedua sekalipun.
Hu Xiao saat ini tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa pasrah untuk saat ini, ia tahu betul sipat putrinya ini, jadi ia langsung pergi setelah melihat keadaan putrinya.
***
Kembali ke Bai An, Duan Du dan Tu Long.
__ADS_1
Satu bulan telah berlalu, saat ini mereka bertiga terlihat melesat dengan kecepatan penuh Tu Long di dalam ruang hampa.
Selama satu bulan ini tidak ada terjadi halangan apapun, semua berjalan lancar.
Hingga pandangan mata Bai An melihat cahaya berkedap kedip. Hal itu membuat Bai An bersemangat, ia langsung dengan cepat menembakkan benang energi untuk mengikat Duan Du dan Tu Long.
Bai An langsung melesat dengan kecepatan penuhnya, siluet Bai An langsung menghilang mengimbangi kecepatan cahaya.
Wuss..!!
Bai An langsung menembus cahaya putih yang tak lain pintu gerbang dimensi.
Setelah keluar, pandangan mata Bai An, Duan Du dan Tu Long langsung mengarah kebawah.
“Walau energi disini seolah tidak ada, tapi alam disini jauh lebih alami dan udara lebih sejuk untuk di hirup,” kata Bai An menarik nafas lalu menghembuskannya.
“Aku merindukan tingkah bar-bar'nya,” kata Duan Du langsung mengingat Shen Linlin.
“Kau aku,” kata Tu Long menggaruk kepalanya tidak tahu memikirkan siapa sehingga mengingat adik angkat Bai An yang wanita. “Aku merindukan Gi Lian, tapi apakah Lian'er ada di sini?” kata Tu Long melirik ke arah Bai An.
Bai An langsung mengangkat bahunya. “Dulu aku menyuruhnya untuk pergi ke salah satu tempat yang cocok untuknya berlatih meningkatkan kekuatannya, setelah itu menyuruhnya mengembangkan klannya lalu ke alam dewa jika bisa.” Jawab Bai An dengan jujur.
Tu Long langsung bersemangat, Tu Long yakin jika Gi Lian pasti datang kesini, walau Gi Lian dingin terhadapnya, tapi Tu Long tahu jika Gi Lian menaruh hati terhadap dirinya, Tu Long yakin akan hal itu.
Saat ini Bai An masih belum tahu ia ada di alam dewa yang mana? Karena alam dewa itu cukup luas yang di pisahkan oleh suatu dinding penghalang yang sama seperti dunia kecil tempat Bai An besar dulu.
Alam dewa sebenarnya satu, tapi karena penghalang inilah yang membuat alam dewa terbagi menjadi 3, alam dewa terkuat dinamakan Alam Dewa Emas, di susul Alam Dewa Perunggu, lalu Alam Dewa Rendah.
“Jika di lihat dari energinya, mungkin saat ini kita berada di Alam Dewa Perunggu kak,” kata Duan Du lalu menambahkan. “Apa kita akan langsung ke Alam Dewa Emas atau bermain lebih dulu?”
Mendengar pertanyaan Duan Du, Bai An menyeringai kecil. “Tentu saja aku tahu alasan kau bertanya seperti itu, jadi kita bermain lebih dulu agar bisa membuat kau senang dan berhenti mengeluh,” jawab Bai An.
Duan Du dan Tu Long seketika terkekeh kejam. “Hehe,, semoga semua pengikut musuh keluargaku ada disini agar aku bisa membantai mereka semua,” kata Duan Du dengan kejam.
__ADS_1
“Benar, Tuan muda telah menganggapku keluarga, jadi musuh keluarga Tuan muda musuhku juga,” lanjut Tu Long ikut-ikutan. Tapi wajah Tu Long kini seolah ingin menelan musuh hidup-hidup.